
BRAK!
"Aku sudah lelah menjelaskan semua ini. Kalau kamu mau cerai, yasudah. Ayo kita bercerai!" Suara teriakan seorang wanita terdengar sayup-sayup dari balik pintu kamar.
Di dalam kamar yang tertutup, seorang gadis menunduk menahan tangis. Jujur saja ia sudah lelah dengan semua ini. Setiap hari isi rumah ini hanya pertengkaran. Rumah besar ini dingin dan gelap.
Tok. Tok. Tok.
Gadis itu membuka pintu. Wanita paruh baya dengan mata sembab dan wajah yang tampak menua berdiri di depannya.
"Ratih sayang, maafin mama. Kita pergi aja sekarang."
"Iya, ma."
Sang mama membantu Ratih untuk mengemas barang-barangnya. Mamanya sebenarnya ingin meninggalkan semua barang Ratih yang di berikan papanya. Tapi, Ratih menolak. Ia membawa semua buku-buku dari papanya. Dan semua hadiah yang ia terima dari papanya.
Setelah selesai, mereka berjalan keluar dari rumah besar dan megah itu. Papa Ratih ternyata duduk di ruang tamu. Ratih menghapiri papanya. Dia bersimpu dan mencium tangan papanya. Lalu pergi bersama ibunya setelah mengucap salam pamit.
__ADS_1
Sang papa diam-diam menitikkan air mata.
Tak lama setelah perginya istri dan anaknya, tiba-tiba 2 orang pria datang.
"Dan! Lo udah gila ya?!"
"Roy, tenang dulu dong. Jangan asal teriak-tariak."
"Buat apa lo ke sini, b@n9s4t!" tunjuk sang tuan rumah pada pria yang dipanggil Roy.
"Buat jelasin semuanya. Kalo gue sama Dwi itu gak ada hubungan apa-apa."
"Udah gue bilang, gue salah masuk kamar. Waktu itu gue mabuk berat. Dwi biarin gue tidur di situ sebentar. Dan lo dateng di saat Dwi mau bangunin gue."
"Gue gak bisa percaya omong kosong player kaya lo! Dan gue tau, lo itu dari dulu cinta mati sama Dwi sampe jadi b@j1ng@n kaya gini."
"Gue akuin, gue emang b@j1ng@n. Tapi, seenggaknya percaya sama istri lo, Dwi! Gue emang cinta sama dia, tapi gue gak akan rusak kebahagiaan dia. Inget itu!" Roy pergi meninggalkan kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
"Dani, gue tau lo kecewa. Dan selama ini lo udah cemburu sama kedekatan Dwi dan Roy. Tapi, Dwi gak mungkin khianatin lo. Mereka cuma sahabat. Dan lo terlalu posesif sampe buta sama kebenaran yang kasat mata."
"Udah! Gue gak mau tau lagi. Gue udah kirim surat cerai yang udah dia dan gue tandatangani. Sekarang tinggal nunggu sidang aja."
"Gue yakin lo akan nyesel dengan keputusan lo ini, Dan. Gue pamit. Assalamualaikum."
Sepeninggal mereka berdua, Dani duduk termengung. Dia takut. Dia takut kalau Ratih bukan anaknya. Dia juga takut kalau dia sebenarnya salah. Tapi, dia tak dapat melupakan malam itu.
Setahun yang lalu.
Awalnya ia hanya cemburu seperti biasa. Ngomel-ngomel dan protes tentang kedekatan Dwi dengan sahabatnya. Dwi dengan senyum manisnya, menghibur dirinya dan mengucap kata cinta berulang di telinganya. Hingga ia takut karena kata itu terlalu mudah keluar dari mulut isterinya. Apalagi dengan kata-kata Angel yang selalu mengusik dirinya, dan menjadi bahan bakar api cemburu yang semakin membesar.
Awalnya ia tak ingin percaya sampai ia melihat Roy sahabatnya memeluk istrinya di atas kasur hotel dalam keadaan mabuk.
Setiap hari ia bertengkar dan tak hanya sekali dua kali setelah kejadian itu ia memergoki istrinya berduaan bersama sahabatnya.
Dengan berat hati, meski cinta, ia harus melepas isterinya. Ia tak ingin lagi merasakan sakitnya. Sakitnya dikhianati.
__ADS_1
***