
"Bagaimana laporan bulan ini?" Seseorang berdiri menghadap jendela besar yang berhadapan langsung dengan matahari terbenam di ruangan gelap yang. Karena cahaya matahari yang terang dan kemerahan menerpanya langsung, hanya terbentuk sebuah siluet tubuh seorang yang memakai mantel panjang.
Pria yang baru saja masuk itu menunduk dengan penuh hormat kepadanya. "Nona Kamaratih dibuli di sekolahnya. Beliau sempat jatuh dari tangga. Diduga karena didorong. Tapi, tidak ada bukti ka-"
BRAK!!!
"DIBULI?! DIDORONG DARI TANGGA? KAU PASTI SEDANG BERCANDA DENGANKU! BAGAIMANA BISA?!?!" Pria itu tersentak kaget.
"Ma-masih belum diketahui secara pasti, tapi ada yang bilang karena seorang siswa yang populer dekat dengannya." Jawabnya dengan tergagap.
"SISWA YANG MANA, HAH?! Biar kuberi dia pelajaran!"
"Sis-siswa itu adalah Izriel Albert Vianden."
Tak ada reaksi. Pria itu mencoba mendongak memeriksa apa yang dilakukan tuannya.
"Kemasi semua barangku. Kita pulang malam ini."
"Ta-tapi, bagaimana dengan tim? Setidaknya perlu sebulan untuk mengatur agar tidak ada kekacauan."
"Kau berani membantahku?"
"Mana mungkin saya berani.. Tuan besar pasti akan marah."
"2 minggu."
"Baik, akan segera saya siapkan." Pria itu buru-buru pergi dengan terbirit sebelum majikannya mengamuk lagi.
***
Setelah kejadian jatuh dari tangga, Teman-teman Ratih lebih protektif padanya. Ia tak pernah ditinggal sendirian lagi. Jika sibuk setidaknya akan ada satu dari mereka yang bergantian menjaganya. Ratih tentu juga risih dengan tingkah temannya yang memperlakukannya seperti anak kecil. Tapi, karena kejadian terakhir kali tidak bisa dibuktikan siapa yang mendorong Ratih, mereka menyerah dan terus mengawasi Ratih.
Alhasil, kejadian pembulian berkurang drastis. Karena para pembuli tidak bisa lagi mendekati Ratih. Hanya tinggal kejahilan kecil yang mengganggu seperti mengotori barang Ratih, membuang tas dan buku Ratih, dan menyebarkan rumor-rumor buruk tentangnya. Tapi, semua itu mudah diatasi. Reputasi baik Ratih hampir 3 tahun bersekolah tidak bisa dicemarkan begitu saja dengan rumor buruk yang tidak bisa dibuktikan. Lagipula yang menggosip tentang hal itu hanya orang-orang yang cemburu akan dirinya.
Selain itu, Izriel juga selalu ada di dekat Ratih. Setiap kali dia memberisikan tas, loker atau bukunya, Izriel selalu ada di dekatnya dan membantunya. Ratih sendiri biasa saja seperti semua itu adalah hal yang alami. Teman-teman Izriel juga senang saat Izriel berubah dan jadi lebih ramah sekarang. Jadi, mereka juga ikut membatu untuk menjaga Ratih, termasuk dari teman-teman Ratih yang ingin menjauhkan Izriel dari Ratih.
Para pembuli berserta otak pelakunya, kebakaran jenggot karena semakin sulit untuk membuli Ratih dengan semua penjaganya. Itu membuat mereka semakin jengkel dengan Ratih.
Seperti kali ini, mereka diam-diam mengambil buku Ratih dari lokernya pagi-pagi dan membuangnya di parit sekat taman. Saat Ratih baru tiba di sekolah, dia melihat buku yang familiar dan memungutnya. Saat tahu itu adalah bukunya, di hanya menghela napas.
Jadi, dia mengambilnya dan membawanya ke tempat dengan cahaya terang dan menjemurnya di sana. para murid yang baru berdatangan ke sekolah mengamatinya yang tengah menjemur buku. Ada yang menatap hina, iba, hingga jijik. Sekelompok gadis lalu mendatangi Ratih. Mereka berbisik-bisik mencurigakan. Izriel yang baru datang dari tempat parkir melihat itu, menghampirinya.
Dia membantu Ratih menjemur buku-bukunya. Membuat para gadis itu langsung pergi dari sana. Ratih membiarkan Izriel membatunya.
"Terima kasih." Ujar Ratih setelahnya.
"hm."
"Apa ada lagi?" Tanya Ratih pada Izriel yang masih tidak beranjak dari hadapannya. Sebenarnya Ratih tahu alasan Izriel tak langsung pergi setelah menolongnya. Tapi, dia tak bisa menahan diri menggoda Izriel untuk jujur.
"Gue anter lo ke kelas." Jawab Izriel jujur. Ratih sedikit kecewa, gagal membuat Izriel gugup seperti dulu, saat Izriel terlalu gengsi untuk menunjukkan perasaannya.
"Ga perlu repot-repot."
"Ga usah banyak ngomong. Ayo!" Tanpa ba-bi-bu, Izriel langsung menggandeng tangan Ratih dan menariknya masuk ke gedung sekolah.
"Terima kasih lagi."
"Ga usah banyak terima kasih. Santai aja." Izriel lalu pergi dari depan kelas 12 Bahasa.
"Sampe kapan dia akan lakuin ini?" Tanya Mariza pada Shella. Dia yang Mariza maksud adalah Izriel. Akhir-akhir ini tingkah Izriel menjengkelkan teman-teman Ratih. Karena cowo most wanted sekolah ini terang-terangan memerhaikan Ratih lebih.
"Gue juga gak suka lihatnya. Bukannya dia tunangannya yang itu?"
__ADS_1
"itu?" Mariza tak mengerti apa yang Shella maksud.
"Ah! yang itu ya? Tiara baru inget. Tapi, kenapa dia masih deketin Ratih?" Tiara menyahut.
"Itu Siapa sih?" Mariza masih belum paham.
"Kalian ngomongin apa?" Pertanyaan Ratih tang tiba-tiba datang mengejutkan mereka.
"Aduh Ratih, ngagetin aja. ngomong-ngomong, gimana bisa anak itu nganterin kamu ke kelas?"
"Izriel? Kita cuma kebetulan ketemu di depan gerbang. Mungkin karena ketularan kalian, yang makin lenget sama aku, dia juga ikutan."
"Oh, iya! Aku lupa harus jemput kamu di depan gerbang." ujar Mariza.
"Udah. ga perlu. Mereka gak akan berani nyakitin aku."
"Itu kalo selama kamu di dekat kita. Kalo kamu mau melawan, kita ga akan se-overprotektif ini."
"Iya, maaf. Tapi, kalian tahu kan. aku ga bisa lakuin itu."
"hah~"
"Ya, kami tahu."
***
Saat sudah sampai di kelas, Izriel disapa oleh beberapa kawannya. Yaitu Ikhsan, Romi, dan Rafael. Mereka duduk di bangku yang saling berdekatan.
"Bro, lo beneran gak suka sama Ratih?" Tanya Rafael frontal.
Izriel tak menjawab. Ia hanya memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan yang sama berulang kali.
"Zriel, Lo kalo suka ngaku aja kali. Gak ada yang rugi juga. Malah bagus kalo lo bisa ngumumin ke seluruh warga sekolah. Biar ga ada yang bully Ratih lagi." Lanjut pemuda berambut brunnete, bertindik di sebelah telinga, alias Rafael.
"Gue setuju sama mereka, Zriel. Kenapa lo gak jujur aja sih?" Romi ikut berkomentar.
"Harus, gue bilang berapa kali, sih? Gue gak lakuin ini karena gue suka cewek itu."
"Trus apa dong? setelah ngikutin dia kemana-mana. Jagain dia kalo sendirian, bantu bersihin barang dia, sampe suruh anak-anak bantu jaga dia dan ngawasin dia."
"Jangan lupa, cari tahu dan baca buku-buku kesukaan Ratih diem-diem." Izriel mengernyit ke arah Romi yang menambahkan komentar tersebut. "Bener, kan? Tiap di kantin kalian berdua bicarain hal-hal ribet yang kita bahkan gak ngerti. Lo pingin ngerti dia sampe segitunya 'kan?"
"Tumben lu pinter, Rom? Sekolah dimana?"
"Sekolah di Zimbabwe, sama monyet kaya lu!"
Rafael langsung mengeplak kepala Romi, kesal. Dan berlanjutlah keributan mereka di kelas. Hingga guru datang dan menghukum mereka untuk berdiri di depan kelas selama pelajaran.
Seusai pelajaran, seperti biasa Izriel ke kantin bersama teman-temannya.
"Bro! disini!" Teriak BIlly yang tengah menunggu di kursi yang biasa mereka gunakan. Mereka sering makan beramai-ramai dan menempatkan Iziel di tengah-tengah untuk melindunginya dari para predator yang mengincarnya.
Tak mengindahkan panggilan Billy, Izriel menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok seseorang hingga tertinggal oleh teman-temannya ynag lain.
"Nyari siapa tuh anak?" Tanya Rasya si kacamata dari kelas IPA 2.
"Biasa.. Siapa lagi kalo bukan si pujaan hati." Jawab Rafael sekenanya.
"Ohh.." Mereka sudah mengerti maksud si belasteran itu. Karena beberapa-hari terakhir mereka juga bantu untuk menjaga Ratih atas perintah Izriel. Ya, Izriel meminta tolong dengan nada memerintah, seperti biasa.
"Gue gak liat Shella sama temen-temennya dari tadi." Tambah Rasya.
"Mungkin mereka sibuk kali."
__ADS_1
"Zriel, kayanya Ratih sama temen-temennya gak ada deh."
"Oh.." Izriel langsung berbalik tidak jadi duduk.
"Lo mau kemana?"
"Balik."
"Fix, dia suka sama.. siapa namanya? Ratih? YA! Ratih!"
"Udah jelas keliatan kalo itu! Orang tiap hari nyamperin dia terus kalo makan di kantin. Mana tadi pagi ngaterin dia ke kelasnya lagi!"
"Wah, momen langka nih! Harus dijadiin hari libur nasional!" tukas Billy semangat.
Izriel hanya mengabaikan ocehan mereka. Karena dia tak merasa memiliki perasaan khusus pada Ratih. Gadis aneh yang tak mau membela diri saat direndahkan tak akan cocok dengan dirinya. Tapi, tetap saja rasa penasaran terus menghantuinya. Ia ingin tahu lebih dalam tentang gadis itu.
Saat Izriel melewati jendela perpustakaan, Izriel melihat Ratih mengambil sebuah buku di rak paling tinggi dengan menaiki tangga kayu. Izriel secara otomatis menoleh ke arahnya dan mengawasinya. Tapi, ada yang tidak beres dengan tangga itu. Saat sudah diteliti, ternyata tangga itu lapuk. Izriel segera berlari masuk ke perpus.
"AAAAAA!!!!!" Izriel langsung meraih, menangkap tubuh Ratih yang jatuh dan memeluknya dari buku-buku yang berjatuhan dari rak paling atas.
BRUUUKKK
"Ada apa?!" Beberapa pustakawan yang datang karena mendengar keributan datang bersama siswa-siswa yang keberulan ada di sana.
"Astaga! Kalian gapapa?" Para pustakawan khawatir dengan keadaan 2 siswa yang baru saja tertimpa buku-buku.
"Ka-kamaratih! Kamu gapapa? Ma-maaf gara-gara aku-" seorang gadis dengan mata berkaca-kaca yang berdiri tak jauh dari Ratih langsung bersimpu di depan Ratih.
"Kamu!" Ratih melihat Izriel yang melindunginya dari buku-buku yang berjatuhan.
"Lo itu gak bisa apa gak kenapa-napa sekali aja?" Tanya Izriel dengan jengkel. Tapi, dia langsung terperanjat saat Ratih menangkup wajahnya dan mendekatkan wajahnya padanya. "Ngapain sih?" Izriel melengos untuk menghidari tatapan mata itu dari dekat.
"Kamu luka!"
"Gue gapapa."
"Ta-tapi berdarah!" Baru kali ini Izriel melihat gadis yang biasanya tenang walau jatuh dari tangga sepanik ini. Matanya yang biasanya berisi kepalsuan memancarkan kekhawatiran yang tulus.
Para pustakawan dan siswa makin panik setelah melihat darah yang menetes dari dahi Izriel. Karena Izriel sosok yang penting dan di segani di sekolah.
"Iz-Izriel, mari saya antar ke UKS. Kamu harus diobati." Ujar salah satu pustakawan perempuan.
"Ratih! Kamu gapapa?" Mariza dan Shella langsung mendatangi Ratih yang tengah terduduk.
"Aku gapapa tapi," Dia melihat ke arah Izriel yang ditarik salah satu pustakawan keluar.
"Kamaratih! maaf ini salahku. Gimana ini? apa aku akan keluar sekolah?" Gadis mungil tadi menangis tersedu-sedu.
"Apa maksud lo?" Izriel yang baru saja menepik tangan pustakawan yang menyeretnya bertanya pada gadis itu.
Gadis itu langsung bertekuk lutut di hadapan Izriel sembari memohon. "Maaf.. maaf.. ini salahku. Aku minta tolong Kamaratih ngambil buku di rak. Tolong jangan keluarkan aku dari sekolah." Melihat gadis yang menangis sambil memohon di kakinya dengan lebay, membuat Izriel jengkel.
"Emang gue itu sebrengsek apa sih di mata murid-murid? Yakali gue main depak siswa dari sekolah hanya karena masalah pribadi!"
"Udah, gapapa. Kamu ga akan keluar dari sekolah." Hibur Ratih pada gadis mungil yang tengah tersedu itu. "Ya, kan?" Lanjutnya sambil mendongak pada Izriel yang tengah berdiri.
"Ya, tapi lo yang harus tanggung jawab." tunjuk Izriel pada Ratih.
"Hah? Apa maksud lo?!" Marizalah yang marah mendengar ucapan Izriel.
"Lo, harus rawat gue!" Izriel mengabaikan Mariza dan menunjuk wajah Ratih.
"Baik, aku ngerti."
__ADS_1
"Bagus!" Izriel lalu menggandeng Ratih ke UKS. Melewati banyak siswa yang menyaksikan mereka. Termasuk Ratu. Dia sangat marah ketika melihat Ratih yang bergandengan dengan Izriel.