
Apa kenangan itu hanya bayangan semata?
Apa kenangan yang tersimpan di memori ingatan tidak pernah terjadi?
Apa perasaan suka bisa dihilangkan dan dihapus dengan mudah?
Apa setiap detik yang dilalui dengan orang yang disukai bisa lenyap?
Tidak, aku tidak mau hal itu terjadi!
“Hoammm…” seorang cewek bangun dari tidurnya. Ia menatapi dirinya di cermin. Rasanya ia belum percaya dengan apa yang selama ini terjadi dalam hidupnya. Cewek yang tak lain adalah Ruki merasa kalau yang dialaminya saat itu hanyalah mimpi.
Ruki mengambil sebuah pakaian yang tertata rapi di dalam lemari. Kemudian, ia masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia menata rambutnya agar terlihat lebih rapi.
Ruki keluar dari kamarnya dan berjalan-jalan ke taman belakang untuk menghirup udara segar. Ruki duduk di bangku panjang gazebo sambil menikamati keindahan tumbuh-tumbuhan yang tumbuh disekitarnya.
Tiba-tiba gerimis pun mulai berjatuhan dari langit. Ruki bergegas memasuki kediaman keluarga Renalfa sebelum dirinya diguyur air hujan. Ruki berlari. Namun, tanpa sengaja, kakinya menyandung batu dan…. Buukkk!!! Ruki terjatuh.
Dengan ajaib, di seluruh tubuh Ruki tidak ada luka akibat jatuh. Malahan, ia menimpa seorang cowok tinggi, cakep, keren, dan potongan rambutnya mirip Moe di komik Rising Moe. Cowok itu meringis kesakitan.
Ruki segera berdiri dan menolong cowok yang asing baginya itu sambil meminta maaf. Cowok itu tersenyum. Ia menatapi Ruki.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya cowok itu lembut.
“Nggak kok. Maaf ya.”
“Kenapa lari?”
“Habisnya gerimis! Aku takut basah karena kehujanan!”
“Oh…. Nama kamu siapa?”
“Ruki.”
“Kenalin, aku Zeal!”
“Sepupunya Kay sama Igo?”
__ADS_1
“Bukan! Teman baik mereka!”
“Oh. Mau ketemu sama mereka?” tanya Ruki.
“Ya,” jawab Zeal singkat, padat, dan jelas. Lalu, tanpa sengaja Zeal melihat kalung yang melingkar di leher Ruki. Kalung emas dengan kunci emas sebagai leontinnya. “Kalung itu punya kamu?”
“I-iya,”
“Kamu tau artinya?”
“Kunci menuju ingatan untuk keluarga aku!”
“Hah???”
“Ng-nggak kok. emang apa artinya?”
“Aku kira kamu tau! Aku iseng aja nanya! Masuk bareng yuk!”
“Ok!”
Ruki dan Zeal memasuki kediaman keluarga Renalfa. Salah seorang pelayan meminta mereka untuk ke ruang makan. Ruki dan Zeal pun langsung menuju ke ruang makan.
Di ruang makan, Ruki duduk di antara Kay dan Igo. Tepatnya di depan Ryu. Zeal duduk di samping Ryu. Nenek Eva menyambut kedatangan Zeal dengan ramah. Nenek Eva gembira sekali melihat Zeal.
Ruki terus memandangi Ryu. Namun, sepertinya Ryu tidak menyadari kehadiran Ruki. Ryu tetap cuek dan tidak peduli. Bahkan ia tidak menanggapi cerita Zeal, Kay, dan Igo.
Zeal yang menyadari tidak adanya respon dari Ryu pun menegur Ryu sambil tertawa kecil. “Ryu, kok kamu diam aja? Jangan-jangan kamu malu karena aku cerita masa kecil kita dulu? Aku jadi inget waktu kecil kamu cengeng, pengambek lagi! Kamu juga selalu kalah kalau berantem sama Kay ama Igo!”
“Sekarang semua udah berubah! Aku beda dengan diriku waktu kecil dulu!” tutur Ryu dingin.
Mendengar kata-kata Ryu, Ruki terkejut. Ruki menatapi Ryu tak percaya. Ia melihat sosok Ryu yang berbeda dengan Ryu yang selama ini ia kenal. Ryu yang ada di hadapan Ruki saat ini adalah Ryu yang memiliki hati, tatapan, cara bicara, dan penuturan kata yang sedingin es.
“Memang semua orang bisa berubah. Tapi, apa kenangan yang dilalui seseorang dengan orang-orang yang menyayanginya bisa dirubah?” komentar Ruki berusaha untuk tenang dan tidak menangis.
Ryu terkejut mendengar ucapan seorang cewek yang ada di hadapannya. Ryu lebih terkejut lagi melihat sosok cewek itu yang tak lain adalah Ruki. Ruki dan Ryu saling bertatapan mata sejenak. Lalu, Ryu mengalihkan pandangannya dan tersenyum sinis.
“Kenangan memang nggak bisa dirubah! Tapi kalau dilupakan bisa kan!?” balas Ryu.
Ruki tertegun mendengar kata-kata yang dilontarkan Ryu. Saat itu, Ruki melihat sosok Ryu yang ditutupi bongkahan es yang tebal. Tidak ada pandangan ramah mata Ryu yang seperti dulu. Senyuman yang hangat pun tidak ada. Ruki mengalihkan matanya dari sosok Ryu ke piring makanannya.
__ADS_1
Suasana pun menjadi hening. Mereka makan dengan tenang. Sekali-kali, Kay dan Igo curi-curi pandang ke arah Ruki untuk memastikan keadaan Ruki. Zeal asyik mengobrol dengan nenek Eva dengan suara yang pelan.
Setelah selesai makan, Ryu permisi pergi duluan dari ruang makan. Kay dan Igo juga pamit ke nenek Eva dan mengajak Ruki dengan alasan untuk menyelidiki keberadaan keluarga Ruki. Zeal mengikuti Kay, Igo, dan Ruki dari belakang tanpa disadari oleh mereka.
Kay, Igo, dan Ruki mengikuti Ryu sampai ke depan sebuah tempat kursus piano. Ryu menunggu seseorang keluar dari tempat kursus piano itu. Ruki menghampiri Ryu dan berbicara serius dengan Ryu.
“Ryu, kenapa kamu jadi seperti ini?” tanya Ruki mengharap jawaban dari Ryu.
“Bukan urusan kamu!” jawab Ryu ketus.
“Dulu kamu bilang, kita nggak akan berubah satu sama lain kalau ketemu lagi! Kamu ingetkan waktu kita terpaksa pisah karena situasi?!” nostalgia Ruki.
“Aku nggak ingat!! Aku juga NGGAK PERNAH KENAL ama KAMU!!!” bentak Ryu kasar.
“Kamu bohong kan Ryu?! Kenapa kamu jadi seperti ini sih Ryu?”
“Aku benci sama kamu! Aku ingin menghapus kamu dari kehidupan aku! Kamu nggak ada artinya lagi buat aku! Aku juga udah nge-lupain kenangan yang nggak penting tentang kamu! Jadi, mending KAMU MINGGAT dari HADAPAN AKU!!!”Ryu mendorong Ruki hingga terjatuh.
Ruki menunduk sambil menahan airmata yang hendak keluar membasahi pipinya. Ruki berdiri dan menatapi Ryu kesal. “Aku bakalan balikin Ryu! Ryu yang selama ini selalu tersenyum ke aku! Aku nggak akan nge-lepasin kamu sampai kamu benar-benar kembali jadi Ryu yang selama ini aku kenal!!!” janji Ruki.
PLAKK!! Sebuah tamparan mendarat di pipi Ruki. Ruki meringis kesakitan sambil memegangi pipi kirinya dan menatapi Ryu tak percaya. Ryu diam dan membalas tatapan Ruki dengan tatapan tajamnya.
Tiba-tiba, tubuh Ruki gemetaran. Airmatanya mengalir deras. Ruki ketakutan. Bayangan masalalunya yang terkunci sedikit terbuka. Ruki melihat seorang cowok yang selama ini dirindukannya. Cowok itu berdiri di samping seorang wanita yang terlihat cantik. Lalu, tiba-tiba bayangan itu sedikit demi sedikit menghilang.
“Tunggu!! Ja-jangan hilang…. A-aku… aku mau kalian! Aku mau tau siapa kalian! Kenapa aku nggak bisa ingat apa-apa tentang kalian?” kata Ruki lirih sambil menahan tangisnya.
Ryu hanya diam melihat keadaan Ruki saat itu. Kay dan Igo berusaha untuk segera menyadarkan Ruki. Namun, hal itu sia-sia. Sewaktu cewek yang ditunggu-tunggu oleh Ryu keluar dari tempat kursus piano, Ryu dan cewek yang tak lain adalah Carties pergi tanpa mempedulikan Ruki. Apalagi Kay dan Igo.
Ruki menangis saat Ryu pergi dengan Carties. Dalam bayangannya saat itu, Ruki melihat seorang anak laki-laki dan seorang wanita pergi meninggalkannya sambil tersenyum. Potongan ingatan masa kecil Ruki mulai terbuka. Ruki menangis tersedu-sedu.
Seorang cowok muncul dan langsung mendekap tubuh Ruki erat. Seperti memeluk tubuh anak kecil yang kedinginan. Ruki terkejut. Rasanya, ia ingat dengan pelukan cowok itu. Ruki tidak bisa melihat wajah cowok yang memeluknya. Cowok itu terus-menerus mengeratkan dekapannya. Lalu, Ruki pingsan karena tidak bisa mengontrol emosinya.
***
Hai, mohon maaf author sudah lama tidak update, dikarenakan kondisi yang tidak mendukung.
Mohon saran yang membangun ya untuk author.
Semoga bisa menghibur pembaca.
__ADS_1
Terimakasih.
^^