
Byur. Klontang.
Guyuran air beserta embernya jatuh dari langit cerah. Ratih mendongak ke atas.
"Ups, Maaf! Gue gak sengaja." ujar seorang gadis dari balkon lantai 2 ditemani beberapa gadis terkikik melihatnya, yang semuanya tak dikenal Ratih. Jelas sekali jika itu di sengaja.
Ratih hanya menghela napas sejenak dan masuk kembali ke gedung sekolah. Tubuhnya yang basah kuyup menjadi perhatian di sepanjang koridor. Semua orang berbisik memandangnya.
"Lo lihat gak link-link yang dibagiin di platform siswa?"
"Iya. Tapi, gue masih gak percaya kalo cewe sebaik dia kaya gitu."
"Come on, ini abad 21! Yang kaya gitu gak ngagetin. Banyak kali yang lebih lacur dari dia."
"Gue juga punya temen model kaya dia. Depannya aja sok suci padahal juga jual diri. Mana dia main deketin Izriel lagi!"
"Hush! Ada orangnya tuh! Hih! Ngapain dia basah-basahan?"
"Alah biarin aja. Emang siswa misqueen beasiswa kaya dia bisa apa? Habis nyemplung got kali. orang miskin kan tinggalnya dimana-mana!"
"Jijik banget dia ngotorin satu sekolah sama air got!"
"Sembarangan aja lo kalo ngomong. Bisa aja dia bukan siswa beasiswa tapi sekolah di sini dibayarin sugar daddy-nya."
"Hahahaha. Bener juga lo."
Ratih dapat mendengar semua perkataan mereka dengan jelas. Sangat mudah menebak siapa yang mereka bicarakan. Tapi, apa gunanya menyangkal. Toh, hanya buang-buang tenaga dan usaha.
"Kamaratih! Kenapa badanmu basah semua?! Lihat lantainya jadi kotor." Seru seorang guru matematika.
"Maaf, bu. Nanti saya bersihkan."
"Bersihkan sekarang! Diluar gak ada hujan, gak ada angin! Main air dimana kamu? Kamu pikir ini sekolah kakekmu apa?!"
"Iya, maaf bu. Akan segera saya bersihkan setelah ganti baju."
"Gak! Bersihkan sekarang. Lagian siapa suruh kamu main air. Air di sekolah ini juga bayarnya pake uang! Malah dibuang-buang. Cepat bersihkan sekarang. Atau saya laporkan kamu ke kesiswaan biar beasiswamu dicabut."
"Iya, saya bersihkan sekarang."
Ratih segera pergi mengambil pel di toilet karyawan belakang gedung utama. Dia sedikir bersyukur negara ini negara tropis, jadi dia dapat berjalan di bawah sinar matahari sambil berjemur sedikit saat keluar dari pintu samping.
Rezha yang tak sengaja lewat terkejut dengan kondisi Ratih yang tengah basah kuyup sembari menenteng perlengkapan untuk mengepel lantai.
Segeralah ia memotret itu dan mengirimkannya ke grub chat gengnya. Tak butuh waktu lama untuk menunggu respon anggota grub lain. Izriel yang juga melihat gambar yang dikirimkan Rezha, ia pun berjalan menuju tempat yang ada di gambar itu.
"Bang!" Panggil Rezha saat melihat Izriel. "Liat itu kak Ratih. Katanya disiram dari lantai 2 sama anak IPS-2. Sekarang lagi ngepel lantai."
Izriel hanya memandangi gadis itu.
"Nggak dibantuin, bang? Kasian kedinginan. Mana mukanya pucet lagi."
Byur!
Ember bilas yang Ratih bawa ditentang oleh seseorang.
"Maaf, ya. Gue gak liat ada OG di sini." Ujar orang itu dengan nada mengejek. Orang itu adalah salah satu pengikut Ratu. Ratu sendiri menyeringai menatapnya.
"Cari uang yang rajin, ya! Jangan taunya cuma jual diri aja!" Tukas pengikut lain Ratu.
Ratih hanya tak menghiraukannya dan lanjut membersihkan tumpahan air pel yang menggenang. Siswa yang ada di sekitar mereka bergumul dan menonton kejadian tersebut.
"Bang, kok malah diem aja? Gak kasian sama kak Ratih?"
__ADS_1
"Kenapa gak lo aja yang bantuin kalo kasian?"
"Lho gimana sih, Bang? Nanti gue lagi yang jadi pahlawannya bukan lo. Gak nyesel lo?"
"Apa hubungannya?" Izriel acuh. Lagi pula ia hanya penasaran pada gadis itu. Dan gadis itu tidak mau melawan, jadi untuk apa Izriel melawannya untuk gadis itu?
Rezha sendiri tak mengerti dengan jalan pikiran Izriel. Jadi, dia memilih untuk memotret kejadian itu dan meminta tolong pada Alex untuk memanggilkan teman-teman Ratih.
"Lo, berani banget nyuekin gue?" Manda mendorong bahu Ratih kencang. Untung saja ia tidak jatuh karena lantai licin. Ratih menatap mata Manda. Manda langsung meraih pipi Ratih dan mencengkramnya kuat. "Berani juga lo natap mata gue? Ngajak ribut?" Ratih tetap acuh. Sikapnya benar-benar membuat Manda marah. Manda langsung mengangkat tangan berniat menampar Ratih.
Ratih sama sekali tak berkedip bahkan saat tangan itu mendarat di pipinya. Izriel terkejut karena gadis itu tidak mengelak meskipun bisa.
"Heh! Sebaiknya, lo tahu posisi lo di sini. Jangan main jilat dan cari muka di depan anak-anak orang kaya." Manda masih melanjutkan cibirannya sambil menoyor-noryor kepala Ratih.
Rezha tidak tahan lagi menunggu Izriel beraksi dan melangkah maju untuk membantu Ratih. Namun, dia kalah cepat dengan Izriel yang tahu-tahu sudah menyingirkan tangan Manda dengan kasar.
Tak lama bel berbunyi tanda saatnya masuk kelas. Tapi, masih tisak ada yang meninggalkan tempat itu. Para siswa malah berkumpul semakin ramai saat melihat ada Izriel di sana.
"Sudah bel, kenapa masih ngumpul di sini?! Masuk kelas sana!" Guru matematika yang tadi menghukum Ratih kembali untuk mengecek apa Ratih sudah selesai membersihkan lantai saat akan ke kelas. "Ya ampun, Kamaratih! Bukannya ngelaksanain hukuman, malah nambah kotor sekolah! Kenapa ini lantainya makin becek semua?"
"Maaf bu." Ratih menundukkan kepala meminta maaf.
"Kalian kenapa masih ada di sini? Ayo cepet ke kelas sebelum pelajarannya mulai!" Guru itu langsung bicara dengan lembut di depan Ratu dan Izriel. "SEMUANYA, BUBAR!" Teriaknya lantang kemudian. Para siswa tak lagi berani berkumul di situ. Mereka segera pergi ke kelas masing-masing.
Suasana di tempat itu makin canggung. Ratu tidak tahu jika Izriel akan datang dan membela Ratih. Apa lagi Izriel tengah menatap mereka dengan penuh permusuhan.
"Ayo, kalian juga kembali ke kelas! Biar Ratih lanjutin hukumannya." Tak ada yang memerhatian teguran wanita itu. Ratu dan para pengikutnya hanya memandang ketakutan ke arah Izriel. Sementara Izriel sengaja mengabaikan guru itu.
Drap. drap. drap.
Terdengar beberapa orang berlari mendekat. Mereka adalah Tiara, Shella dan Mariza.
"Aduh, kok malah ke sini semua? Ini sudah bel masuk." Guru itu masih mempertahankan nada lembutnya. "Mau ibu hukum?"
"Ratih, kamu kenapa?" Mereka mengabaikan peringatan guru itu. dan langsung bergegas ke arah Ratih.
"Hatch!" Ratih menjawab dengan bersin.
"Aduh, Ratih. Kamu harus jaga kesehatan. Kok malah dibiarin basah badanmu." Ujar Shella sembari berniat melepas blazernya. Namun, kalah cepat dengan Izriel yang sudah memakaikan blazernya di pundak Ratih.
"Ganti baju sana!" Perintah Izriel.
"Terus, lantainya?" Izriel melempar pel pada Manda.
"Biar yang nendang embernya, yang bersihin."
"H-hah? Kok jadi gue sih? Bu Susi.." Ia menrengek pada guru itu.
"Izriel.. ini kan tugasnya petugas kebersihan.." ujar wanita itu membela Manda.
"Terus kenapa Ratih disuruh ngepel?"
"I-Izriel, Kamaratih salah karena dia udah bikin sekolah kotor. Jadi, dia ibu hukum. Ini untuk kebaikan dia, biar tahu tanggung jawab."
"Kalo gitu cewe ini juga harus tanggung jawab karena udah sengaja nendang ember orang lagi ngepel lantai. Bukannya dia juga harus didik sopan santun. Lagipula buat apa Ratih menerima hukuman karena salah orang lain. Apa saya harus bawa masalah ini ke rapat komite sekolah? Siswa menerima hukuman karena dibuli?"
"A-apa? Dibuli?"
Rezha mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan rekaman saat Ratih disiram dengan dari lantai 2. Video itu sudah tersebar ke seluruh sekolah dan dibagikan berkali-kali oleh para siswa.
"Apa-apaan ini?!" Mariza langsung maju.
"Mereka harus keluar dari sekolah ini." Shella langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
__ADS_1
"T-Tunggu! Tunggu! Keputusan tidak bisa dibuat seperti itu. Mereka memang melakukan hal yang tidak terpuji, tapi tidak bisa langsung di keluarkan. Biar ibu bicara dengan guru BK mereka."
"Cuma BK? Jadi, cara ibu seperti ini? Saya bisa langsung protes ke yayasan. Kebetulan juga, ada anaknya pemilik yayasan di sini." Shella melihat ke arah Izriel. Izriel tak menunjukkan penolakan atau keengganan ketika namanya disebut. Ibu Susi semakin panik, karena anak yang ada di video itu adalah anak dari anggota DPRD tingkat 2.
"Jangan, dong! Kasian orang tua mereka. Saya urus masalah ini di kesiswaan. agar mereka dapat hukuman. Jadi, kalau bisa jangan ada yang keluar dari sekolah."
"Tapi-"
"Sudah, Shella. Ikuti keputusan terbaik dari Bu Susi aja."
Shella langsung diam. memandang permusuhan ke arah Ratu.
"Kalau begitu, saya ingin menuntut satu hal lagi."
"A-apa itu?"
"Semua yang terlibat harus dihukum, termasuk biang masalahnya."
"Iya-iya. ibu ngerti. Sekarang kalian masuk ke kelas dulu."
Ratih dan kawan-kawannya lalu pergi. Namun, Izriel masih tetap di tempatnya.
"Masih ada lagi, Izriel?" Tanya Bu Susi. Izriel menatap Ratu dengan mata dinginnya yang mengintimidasi.
"Iz-Izriel. Kamu kena-"
"Bersihin!" Ujurnya menatap Manda dengan mata dingin dan merendahkan. Manda tak berani mendongak. dia Hanya menunduk gemetaran.
***
"Ratih, sekarang ke UKS, istirahat!" Perintah Tiara dengan berkaca-kaca memandang Ratih.
Ratih baru saja selesai ganti baju oleh raga. Beruntung sebentar lagi mereka olah raga. Mereka ketinggalan 1 jam pelajaran dan sebentar lagi jam pelajaran olah raga dimulai.
"Tiara, aku bakalan makin kedinginan kalo ada di dalam ruangan. Biarin aku senggaknya berjemur di bawah matahari."
"Olah raga hari ini basket, jadi pasti di lapangan indoor."
"Ratih, sebaiknya kamu istirahat. Guru olah raga sudah tahu kondisimu. Jadi, sabaiknya kamu istirahat biar gak nge-drop lagi."
"Ok, aku ngerti."
"Mariza, anter Ratih ke UKS."
"Udah, gak perlu. Aku bisa-"
"Ratih! Kalo kamu gak pasrah aja waktu dibuli, kita juga gak bakalan seprotektif ini. Sekarang, kamu pergi sama Mariza."
"Ayo, Ratih!" Mariza langsung menyeret Ratih ke UKS.
Saat Istirahat makan siang, Izriel mengirim pesan pada Alex.
[Lex, Kamaratih di kelas?]
[Gak, kenapa?]
[Lo tau dia dimana?]
[Tadi dibawa ke UKS.]
[Ada apa?]
Pesan Alex tidak dijawab.
__ADS_1
"Dasar!"
Alex hanya bisa mendengus kesal dengan kebiasaan sahabatnya ini yang selalu seenaknya sendiri dan cuek.