Choose

Choose
Episode 11


__ADS_3

Kenangan indah akan selalu tersimpan di hati


Ingatan tabu menyelimuti kehidupan


Saat Sang Surya bersinar, hari baru berganti


Semua akan terus berjalan tanpa henti


Pagi pun tiba dengan pancaran sinar mentari yang terasa hangat. Di pagi ini, Ruki sibuk mempersiapkan barang-barang miliknya dan memasukkannya ke dalam tas. Sebelum pamit ke Igo, Kay, Ninda, Linda, dan ibunya Linda dan Ninda, Ruki sarapan bersama ibunya Linda dan Ninda.


Saat memperhatikan sekelilingnya, Ruki tidak menemukan sosok Kay dan Igo. Linda dan Ninda juga. Ruki menanyakan keberadaan Kay dan Igo kepada ibunya Ninda dan Linda.


“Oh, Nak Kay dan Nak Igo…. Mereka pergi ke rumah kepala desa untuk menemani Linda dan Ninda. Kabarnya sih anak kepala desa mau mencari calon istri dan upacara pernikahannya pun diadakan bersamaan dengan acara ulang tahunnya. Kalau misalnya Ninda atau Linda yang terpilih, kan ada Nak Kay dan Nak Igo. Mereka tinggal mengatakan kalau mereka yang akan mempersunting Ninda dan Linda. Maka, anak Kepala desa itu tidak bisa memilih Linda dan Ninda.” cerita ibunya Linda dan Ninda.


“Oh,” Ruki hanya meng-oh-kan.


Lalu, Ruki kembali ke kamar dan memasukan barang-barang Kay dan Igo ke tas dan meninggalkan sepucuk surat di atas tempat tidur untuk Linda, Ninda, dan ibu mereka. Setelah itu, Ruki bergegas menuju ke rumah kepala desa untuk menemui Kay dan Igo.


Sesampainya di rumah kepala desa, Ruki mencari sosok Kay dan Igo di antara kerumunan banyak orang. Sewaktu sibuk mencari Kay dan Igo, tiba-tiba Ruki menabrak seorang cowok yang kira-kira berumur 20 tahunan. Ruki meminta maaf ke cowok itu dan kembali mencari Kay dan Igo.


Akhirnya, Ruki menemukan Kay dan Igo yang berdiri di kerumunan paling depan. Selain melihat Kay dan Igo, Ruki juga melihat Linda merangkul lengan kiri Kay dan Ninda merangkul lengan kanan Igo. Ruki mendekati Kay dan Igo, kemudian menarik lengan kanan Kay dan lengan kiri Igo.


Kay dan Igo terkejut dengan kehadiran Ruki. Apalagi karena Ruki menarik lengan mereka menjauhi Linda dan Ninda. Ninda dan Lina terkejut dengan kelakuan Ruki.


Saat Kay dan Igo berada di dekatnya, Ruki berbisik ke mereka. “Maaf, tapi aku mau ikut kalian sebagai teman, bukan pesuruh! Bolehkan?!”


Mendengar bisikan Ruki, Kay dan Igo saling berpandangan. Lalu mereka tersenyum dan mengangguk. Kay mengusap gemas kepala Ruki. Sedangkan Igo meledek Ruki dengan sebutan “BODOH”.


Tiba-tiba, tangan Ruki ditarik oleh seorang cowok menuju ke tempat anak tunggal kepala desa seharusnya duduk. Ternyata cowok yang menarik Ruki adalah anak kepala desa yang ia tabrak saat mencari Kay dan Igo. Kemudian, cowok itu mengumumkan kalau ia memilih Ruki sebagai calon istrinya.


Igo dan Kay terkejut mendengarkan pernyataan itu. Apalagi Ruki yang tidak pernah membayangkannya bahkan menduganya sekalipun. Ruki melepaskan tangannya dari genggaman anak kepala desa itu dan menjauhinya.


“Maaf, aku nggak bisa!” tolak Ruki agak tenang.


“Kenapa? Kamu wanita yang selama ini aku cari!” kata anak KaDes itu, Acan.


“Tapi, aku nggak suka sama kamu!”


“Rasa suka akan tumbuh seiring berjalannya waktu!” ujar Acan mengeras.


“Mana bisa! ASAL TAU AJA ya! AKU SUKA ama ORANG LAIN!!” teriak Ruki kesal karena dipaksa.


“Belum tentu orang itu suka sama kamu kan!?!!” tutur Acan.


Mendengar ucapan dari Acan, Ruki terdiam. Kay dan Igo pun mendekati Ruki dan menggandeng tangan Ruki.


“Sorry dulu ya! Dia ini tunangan kami!!” tukas Kay.


“Kalau kamu macem-macem, kamu berurusan ama kami!!” ancam Igo.


“Tapi, dia kan adik kalian!” seru Linda tidak terima.


“Maaf, tapi kami terpaksa bohong! Dia sebenarnya bukan adik kami!” ungkap Kay.


Tanpa pikir panjang, Kay dan Igo membawa kabur Ruki. Waktu hendak keluar dari perkarangan rumah Pak KaDes, Ruki meminta Kay dan Igo untuk langsung ke kebun dengan berbisik pelan. Kay dan Igo pun menurut.


Sesampainya di kebun, Ruki menunjuk sebuah pohon. Mereka pun mendekati pohon yang ditunjuk oleh Ruki. Saat melihat dahan tertinggi dari pohon itu, Kay dan Igo tertegun sejenak karena mendapati tiga tas yang menggantung pada dahan itu. Ketiga tas itu merupakan tas Ruki, Igo, dan Kay.

__ADS_1


Kay dan Igo saling berpandangan. Mereka tidak percaya kalau Ruki yang menggantungkan ketiga tas itu di dahan pohon tertinggi. Waktu mengalihkan pandangan ke arah Ruki yang berada di belakang mereka, Kay dan Igo tidak mendapati sosok Ruki. Tak lama kemudian, sebuah tas jatuh dari atas pohon. Dengan refleks, Kay dapat menangkap tas tersebut.


Ruki memanggil Igo dan menjatuhkan sebuah tas yang menjadi milik Igo. Dengan lihai, Igo menangkap tas miliknya. Kay dan Igo kembali bersiap-siap untuk menangkap satu tas lagi yang belum dijatuhkan oleh Ruki.


Namun, Ruki hanya diam dan tersenyum sambil memegang satu tas yang belum ia jatuhkan. Ruki mengambil ancang-ancang dan…. Hupp…. Ruki melompat dari atas pohon dan mendarat dengan selamat di atas tanah. Kemudian, Ruki menarik tangan Kay dan Igo untuk segera pergi meninggalkan desa. Soalnya, kalau sampai mereka tertangkap, bisa jadi ruwet deh masalahnya.


Sewaktu mereka memasuki jalan besar, mereka melihat sebuah mobil carry pengangkut barang-barang yang hendak menuju ke kota. Kay segera memberhentikan mobil itu dan meminta agar diperbolehkan menumpang di mobil itu. Sopir itu pun memperbolehkan Kay dan yang lainnya naik ke mobil yang dikendarainya itu asalkan Kay memberikan sedikit uang sebagai tanda jasa telah ditumpangkan.


Mau nggak mau, Kay memberi uang pada sopir itu dan mengajak Igo dan Ruki untuk segera menaiki mobil itu. Tak lama kemudian, mobil carry pun melaju dengan cepat meninggalkan desa kecil dan juga penduduk desa yang mengejar mereka.


***


Sebuah mobil carry berjalan hampir dua hari penuh. Pada siang hari yang terlihat mendung, mobil carry itu berhenti di sebuah mini market. Ruki, Igo, dan Kay turun di mini market itu. Mobil carry yang dinaiki oleh mereka pun kembali melanjutkan perjalanannya setelah memastikan kalau Kay, Igo, dan Ruki telah turun dan membawa semua barang-barang milik mereka.


Ruki, Kay, dan Igo memasuki mini market itu untuk membeli sedikit makanan, sabun, pasta gigi, dan beberapa kebutuhan lainnya. Sewaktu keluar dari mini market itu, tiba-tiba Ruki melihat Ryu. Dengan cepat Ruki berlari ke arah Ryu dan berteriak memanggil namanya.


“Ryu!!! RYU!!!” teriak Ruki berusaha memanggil Ryu.  Namun, Ryu tidak menoleh ke arah Ruki. Pandangan Ryu seperti tertuju ke arah lain.


Dari belakang, Kay dan Igo mengejar Ruki yang berlari dan terus memanggil nama Ryu. Beberapa saat kemudian, langkah Ruki terhenti karena melihat seorang gadis cantik jelita dan berpenampilan anggun mendekati Ryu. Gadis cantik itu tersenyum pada Ryu. Kemudian, Ryu menaiki motor harley-nya dan mengidupkan mesin harley itu. Gadis cantik yang berada di samping Ryu menaiki motor itu. Lalu, harley yang dikendarai Ryu melesat dengan cepat dengan membonceng si gadis cantik.


Ruki kembali berteriak memanggil nama Ryu, berharap kalau Ryu dapat mendengarnya. Namun itu sia-sia. Bayangan Ryu tidak tampak lagi oleh penglihatan mata. Ruki terduduk dan menangis. Airmata deras mengalir membasahi pipi Ruki bagaikan air terjun.


Kay dan Igo yang tidak tega melihat keadaan Ruki, saling berpandangan. Kemudian, Kay dan Igo mendekati Ruki. Ruki tidak mempedulikan Kay dan Igo yang berada di sebelahnya. Ruki terus menangis tiada henti. Airmatanya tidak mau berhenti mengalir.


Tes… tes… tes…. Drreessss!!! Hujan pun mulai turun dengan deras. Kay dan Igo mengajak Ruki untuk segera berteduh. Tapi, Ruki tidak mendengarkan perkataan Kay dan Igo. Sedikit demi sedikit hujan yang turun dengan deras membasahi seluruh tubuh Ruki, Kay, dan juga Igo.


Kay dan Igo tetap berada di samping Ruki yang menangis tersedu-sedu tanpa menghiraukan hujan yang mengguyur mereka. Setengah jam kemudian, isak tangis dan airmata yang mengalir di pipi Ruki mereda. Ruki menjadi sedikit lebih tenang.


Melihat Ruki yang sedikit lebih tenang, Kay dan Igo mengajak Ruki untuk berteduh. Ruki terkejut melihat Kay dan Igo yang basah kuyup karena menemaninya. Ruki mengikuti ajakan Kay dan Igo untuk berteduh.


Kay mengajak Ruki dan Igo berteduh di sebuah warung siomay yang terletak tak jauh dari tempat mereka saat itu. Mereka mengganti pakaian mereka yang basah di toilet yang ada di dalam warung siomay itu secara bergiliran. Setelah itu mereka memesan masing-masing satu porsi siomay dengan teh hangat.


“Dasar bodoh! Kamu kok nggak pakai jaket?! Udah tau udara dingin, habis kena hujan juga!” ceramah Igo.


“Maaf, tapi aku nggak punya jaket.” ungkap Ruki sambil tersenyum.


Igo melepas jaket miliknya dan memakaikannya ke Ruki.


“Makasih ya.” ucap Ruki ke Igo.


Igo terdiam dan kembali duduk. Ia pun mulai menyantap siomay di piringnya dengan santai. Sementara Kay asyik memikirkan sesuatu di dalam kepalanya. Sangking asyiknya, Kay tidak menyadari kalau beberapa siomaynya diambil oleh Igo. Waduh, kacau deh….


“Hei Kay, kamu nggak pa-pa? Hellow…” tutur Ruki sambil melambai-lambaikan tangannya ke muka Kay.


Namun, tidak ada reaksi dari Kay.


Igo mengambil sebahagian besar siomay di piring Kay. Kemudian, Igo berdiri di belakang Kay dan menepuk pundak Kay dengan keras. Dalam sekejap, Kay terkejut. Igo kembali ke kursinya dan menikmati porsi siomay yang lebih banyak dari sebelumnya.


“Kamu sakit Kay?” tanya Ruki agak cemas.


“Nggak.” jawab Kay sambil tersenyum. Kay pun kembali menyantap siomay-nya. Waktu melihat piring siomay-nya, Kay terkejut melihat piringnya yang hanya menyisakan dua potong siomay. Kay menatap Igo dan piring siomaynya.


Ruki yang menyaksikan kelakuan Kay dan Igo berusaha menahan tawanya yang terasa hampir meledak.


“Woi Igo, kamu ngambil siomay di piringku ya!?!!” tanya Kay yakin dengan jutek. “Balikin!!!” pinta Kay yang kemudian mengambil piring siomay Igo.


Igo kembali merebut piring siomaynya dari tangan Kay. “Salah sendiri, siapa suruh BENGONG!!!” sindir Igo ketus.

__ADS_1


“Ah, diam kamu!” Kay tidak terima dengan sindiran Igo.


Ruki tertawa geli melihat kelakuan Kay dan Igo yang seperti anak kecil. Kay dan Igo menatapi Ruki dengan jutek. Mereka marah karena Ruki menertawakan mereka. Ruki meminta maaf ke Kay dan Igo. Kay membisikan sesuatu di telinga Igo. Kemudian, Igo mengangguk.


“Ki, aku boleh tanya sesuatu ama kamu?” tanya Kay serius.


“Apa?” Ruki balik bertanya.


“Apa cowok tadi itu, cowok yang kamu suka?”


“Iya, namanya Ryu! Dia selalu ngasih semangat ama dorongan ke aku waktu aku masih tinggal ama keluarga angkatku. Dia orang yang bisa buat aku tersenyum ama tertawa lepas. Aku suka ama dia!” cerita Ruki semangat.


“Kenapa kamu ninggalin dia?” tanya Igo ingin tau.


“Aku terpaksa.” jawab Ruki dengan raut wajah yang sedih.


“Gara-gara ortu-nya ya?!” tebak Igo tepat sasaran.


Ruki mengangguk pelan.


“Apa kamu mau ketemu ama si Ryu itu?” Kay menanyakan pertanyaan yang membuat Ruki berfikir lebih dari dua kali.


Ruki tidak yakin kalau ia bisa bertemu dengan Ryu. Ruki yakin kalau untuk bertemu dengan Ryu adalah hal yang sulit. Yang membuat hal itu sulit adalah orangtua Ryu. Namun, rasa rindu yang ingin ketemu Ryu membuat Ruki harus memikirkannya berulang-ulang.


Ruki tertawa kecil. “Apa mungkin aku bisa ketemu sama Ryu?! Aku yakin itu bakal sulit!” Ruki putus asa.


“Bisa kok! Itu hal yang mudah!” kata Igo penuh percaya diri.


“Tapi ada satu syaratnya! Mungkin syarat ini bakal berat banget!” ultimatum Kay.


“Apa?” tanya Ruki dengan wajah yang serius.


“Kamu harus pura-pura untuk jadi anak orang kaya! Bilang aja kamu terpisah dari ortu kamu waktu kamu kecil karena diculik ama ortu angkat kamu! Nama kamu pun harus diubah!”


“Kenapa?!” Ruki tidak setuju kalau namanya diubah.


“Apa Hina Rukiaya Kyrana itu nama panjang yang dikasih ama ortu angkat kamu?” tanya Igo.


“Iya,”


“Harus diubah jadi Ruki Azra! Kalau nggak, kamu nggak bakalan bisa ketemu sama Ryu.” cerocos Kay.


Ruki berfikir sejenak. Rasanya, hatinya menolak syarat yang diajukan oleh Kay dan Igo. Namun, keinginannya untuk bertemu dengan Ryu sangat kuat.  Kedua hal itu membuat Ruki bingung memilih.


Akhirnya, Ruki memutuskan untuk bertemu dengan Ryu. Setelah Ruki merasa mantap dengan keputusannya, Kay dan Igo mengajak Ruki ke butik untuk membelikannya beberapa pakaian mahal. Lalu, Kay dan Igo membawa Ruki ke salon untuk mengubah penampilan Ruki. Igo meminta penata rias di salon itu untuk merapikan rambut Ruki dan membiarkan rambutnya tetap panjang sepunggung.


Sedangkan Kay meminta agar make-up yang dipoleskan pada wajah Ruki tidak terlalu tebal atau tipis dengan warna yang alami dan tidak menor atau mencolok. Ruki yang penampilannya diotak-atik hanya diam dan pasrah. Karena proses pengubahan penampilan Ruki memakan waktu lama, Ruki tertidur pulas.


Sejam kemudian… salah satu penata rias membangunkan Ruki. Saat Ruki membuka matanya, ia terkejut dengan pantulan bayangan dirinya sendiri dari kaca. Tidak percaya akan sosoknya setelah dirias. Kay dengan kebiasaan playboy-nya yang udah stadium empat memuji dan mencoba merayu Ruki. Igo memukul kepala Kay dan mengajak Ruki untuk bertemu dengan Ryu.


Kay mengurus pembayaran di kasir, Kay, Igo, dan Ruki keluar dari salon itu. Igo menelepon seseorang lewat handphone-nya. Handphone keluaran terbaru yang baru pertama kali ini dilihat oleh Ruki.


Kemudian, Kay dan Igo mengajak Ruki ke sebuah restoran elit. Di restoran itu, Kay dan Igo mengajarkan cara menggunakan garpu, sendok, dan pisau makan. Igo sengaja memesan steak untuk mengajari Ruki cara memotong daging dengan menggunakan pisau dan memakan daging yang telah dipotong dengan menggunakan garpu.


Sementara Kay memesan nasi goreng special dan mengajari Ruki makan dengan sendok dan garpu. Ruki berusaha agar ia bisa menyantap steak yang ada di hadapannya dengan garpu dan pisau. Namun, Ruki harus memakan waktu lama untuk memotong steak itu dan menyantapnya. Sedangkan kalau menggunakan sendok dan garpu untuk menyantap nasi goreng sih lancar-lancar aja.


Setelah makanan yang mereka pesan habis, mereka keluar dari restoran dan menaiki sebuah Mercedes-Benz hitam yang dikemudikan oleh seorang sopir. Lalu, mobil itu melaju di jalan raya menuju ke sebuah kediaman.

__ADS_1


***


__ADS_2