
Hosh. Hosh.
Suara tarikan nafas berat menderu dari bibir mungil Ratih. Sesekali ia menoleh ke belakang memastikan tidak ada yang mengikutinya.
Ia berlari tak tentu arah di gang-gang kecil. Tadinya ia ingin pergi sebentar membeli sekotak susu di swalayan terdekat dari sekolah sambil berjalan-jalan sendirian setelah pulang sekolah. Tapi, siapa sangka ia akan bertemu dan diganggu preman jalanan. Alhasil ia berlari dari preman-preman itu. Untungnya, ia membawa semprotan merica.
Bruk.
Ia menabrak sesuatu hingga jatuh terpental. Tidak, itu adalah seseorang. Raih langsung mendongak. Seorang cowok dengan seragam sama seperti dirinya.
"Lari kemana cewek itu? Sialan! Mata gue masih perih."
"Eh, liat tuh ceweknya."
Mendengar suara mereka Ratih langsung bangkit ketakutan. Ia menoleh pada cowok di depannya.
"Tolong..." ucapnya lihir di sela tarikan nafas yang sesak.
Cowo itu langsung maju ke depan.
"Pergi!" titahnya dengan suara rendah mengancam pada preman-preman yang mengejar gadis itu.
"Wah, ada yang mau sok jadi pahlawan nih, bro!"
Menunjuk dengan dagunya, memberi isyarat untuk menyerang. "Hajar!" Seru preman itu.
Bak. Buk. Bak. Buk.
Hanya suara baku hantam yang terdengar. Hingga kedua preman itu menyerah dan terkapar di tanah.
"Ma-makasih." Ucap Ratih pada cowok di depannya.
"Hm."
Ratih lalu jatuh terduduk. Dengan menahan sakit di perutnya. Cowo itu berbalik lagi saat hendak pergi. Dia masih berdiri membatu mengamati gadis di depannya. Melihat wajah pucat pasi gadis itu, akhirnya cowok itu berjongkok.
"Lo gapapa?"
"Kh. Ma-af. B-bis-sa min-ta t-to-long an-terin sampe.. de-pan gang?" Pemuda itu membantu Ratih berdiri dan menuntunnya dengan perlahan. "Ma-maaf. Ngerepotin. Ngomong-ngomong namamu siapa? Namaku Kamaratih" Tanya Ratih dengan suara yang masih merintih tersengal menahan sakit.
Cowok itu memandang Ratih sesaat, lalu menjawab, "Izriel."
Ratih lalu tersenyum masih dengan wajah pucatnya. "Namamu bagus. Kita satu SMA. Kamu kelas berapa?" Ratih berbasa-basi dengan nafas yang masih ngos-ngosan dan rasa sakit yang ditahan.
"XII IPA 1."
"Oh, iya? Aku kelas XII Bahasa. Mungkin karena itu kita gak pernah ketemu."
"Sudah sampe." mereka sudah berdiri di depan gang.
"Makasih ya." Ratih tersenyum. Wajahnya semakin pucat hingga Izriel tak tega meninggalkannya.
"Rumah lo dimana?"
"Rumahku di Pattinum Palace Recidence. Kenapa?
"Gue anter."
"Oh, ga usah. Bentar lagi juga udah dijemput."
Di depan mereka, mobil sedan hitam mewah keluaran terbaru tiba-tiba berhenti.
__ADS_1
"Nona! Nona dari mana saja?" Sorang pria berjas hitam keluar dari mobil menghampiri Ratih. "Saya cari di sekolah ga ada. Nona jangan kabur-kaburan dari bodyguard lagi. Kesehatan nona dijaga juga, tolong."
"Maaf, mas Rendi." Ratih meminta maaf sambil tersenyum.
"Non! Wajah nona kok pucat! Nona gak lupa minum obat, kan?"
"Gak kok, mas." Ratih lalu menoleh ke belakang pada Izriel. "Makasih ya.. Udah nyelametin aku dari preman-preman itu dan antar aku sampe sini."
"Hm." Izriel lalu berbalik untuk pergi.
"Tarik mudur semuanya! Nona sudah ketemu." terdengar Rendi bicara lewat telepon.
Izriel tak habis pikir siapa nona muda kaya raya ini. Mereka satu angkatan tapi, kenapa tidak pernah bertemu.
Bruk.
Terdengar suara sesuatu yang besar jatuh. Izriel buru-buru menoleh dan mendapati gadis tadi jatuh pingsan.
"Nona!" Rendi panik Nonanya tiba-tiba pingsan. Izriel pun tampak khawatir. "Terima kasih sudah menolong nona." Ujar Rendi pada Izriel lalu pergi mengangkat Ratih ke mobil.
Izriel masih tidak habis pikir dengan kejadian aneh yang berlangsung cepat ini. Daripada pusing, ia melanjutkan jalannya ke tempat tujuannya.
***
"Lo lama banget sih."
Izriel masuk ke sebuah bengkel kecil yang dihuni beberapa anak sebayanya dan seragam yang sama. Bengkel itu depenuhi coretan di dinding, perkakas dan suku cadang motor, tak lupa dengan motor-motor sport mahal. Yang menghuni 12 anak termasuk Izriel. Ada yang sedang main catur, ada yang sedang merawat motor, ada yang hanya duduk sambil mendengar musik dari headphone, ada yang tiduran di sofa dengan penutup mata, yang lain duduk sambil mengobrol.
"Ini ditanya malah diem aja."
"Lo gak dikejar sama predator, kan?"
"Predator? Rom, lo ada-ada aja. Mana ada hewan buas di tengah kota."
"Hahaha.. Predator." Yang lain tertawa mendengar julukan dari Romi untuk para fanatik Izriel.
"Lex," panggil Izriel pada salah satu temannya.
"Apa?" Seorang pemuda yang sedang mengelus body motornya menoleh pada Izriel yang tengah duduk.
"Tau yang namanya Kamaratih?" Sontak semua meghentikan kegiatan masing-masing dan menoleh ke arah Izriel.
"Gua gak salah denger, kan? Si Izriel nanyain cewe!" Romi bertanya pada Bayu dan Bima yang duduk di depannya.
"Apa ini keajaiban dunia yang ke-8?" Sahut Bayu.
Alex langsung berjalan dan duduk di depan Izriel. "Kalo yang lo tanyain Kamaratih Puspita Kamecwara temen sekelas gue, jelas gue tau. Emang ada apaan?"
"Gak. Cuma nanya karna penasaran."
"Setau gue Kamaratih cewe yang manis, cantik, matanya coklat terang itu, kan?" Tanya Billy pada Alex.
"Cewe paling cantik sesekolah itu, kan? Gue gak lupa sama dia satu-satunya cewek yang gak jatuh ke mulut buayanya Billy." Ujar Ikhsan.
"Woi! Mulut siapa yang lo bilang buaya. Lo sama aja kali."
"Iya. Gak cuma Ratih yang kebal sama mulut buaya Billy. Tapi temen-temennya juga. Mariza, Shella sama Tiara." Jawab Alex.
"Heh? Ada geng cewe yang kaya gitu juga?" Izriel bertanya dengan sebelah alis terangkat, seakan tak percaya kata-kata mereka.
"Cewe kayak mereka emang langka di sekolah kita. Tapi, jujur nyebut mereka geng kurang tepat." Alex membetulkan. "Mereka bener-bener sahabat yang punya kepribadian beda-beda. Mereka gak mandang status sosial juga." Lanjut Alex.
__ADS_1
"Mereka juga terkenal kebalikan dari Ratu and the gang. Mereka gak punya repuasi yang buruk dan selalu ramah ke semua orang. Tapi, Ratih yang paling sulit ditebak. Gak ada yang tau seperti apa keluarganya dan status sosialnya. Murid di sekolah kita yang elit, tempat ngumpul anak-anak konglomerat gak akan nerima temen dari entah-berantah sembarangan. Selama 2,5 tahun juga gak ada yang tau siapa Ratih itu. Bahkan teman-temannya seakan nutupin siapa Ratih. Mereka juga anak konglomerat dan bangsawan di Indonesia." Tambah Billy.
"Ada yang bilang kalo Kak Kamaratih itu murid beasiswa biasa yang kebetulan beruntung sekolah di SMA kita." Rezha salah satu dari 4 anak kelas 11 ikut nimbrung.
"Beasiswa? Gue jadi makin penasaran." Izriel menyeringai mengingat kejadian tadi, rasanya tak mungkin jika Kamaratih ini adalah murid beasiswa setelah melihat kejadian tadi. "Apa dia punya semacam penyakit?" Tanya Izriel lagi pada Alex setelah mengingat salah satu bodyguard Ratih menyinggung soal obat.
"Penyakit? Gue gak tau. Tapi dulu dia sempet ikut eskul basket dan masuk di tim inti. Tapi, tiba-tiba dia keluar di awal tahun ajaran lalu. Katanya mau fokus UN. Tapi, sejak saat itu dia jarang ikut olahraga karena katanya sakit. Guru olahraga juga gak pernah bilang dia sakit apa. Tapi, karena sekarang lo nanyain itu, gue jadi ikut penasaran. Emang kenapa tiba-tiba nanyain Ratih?"
Butuh jeda waktu yang lama sebelum Izriel menjawab pertanyaan Alex. Hingga Romi betanya duluan.
"Lo suka sama Ratih? Atau sekedar tertarik dan penasaran?"
"Tadi, gue nolongin dia dari preman, trus dia pingsan. Untung dah ada yang jemput dia tadi." Izriel tak menceritakan detilnya karena malas. Dan juga sepertinya ia harus menyembunyikan apa yang dilihatnya tadi. Bukan haknya untuk membeberkan apa yang diketahuinya. Bergosip bukan hobinya.
Romi langsung merangkul Alex. Dan mengajaknya menjauh. "Lex, jarang dia nanyain cewe. Kita comblangin, yuk!" serunya sambil bebisik.
"Pokonya jangan nyoblangin Ka Ratih sama bang Billy. Gua ga rela." Rezha tiba-tiba ikut nimbrung.
"Gue sebenernya mau aja kalo kalian bantuin. Tapi, kalo nanti Izriel marah atau temen-temennya Ratih marah gue yang repot. Lagian, Ratu and the gang mungkin bakal cari masalah sama Ratih. Gue kasian. Dia anaknya kalem udah gitu baik."
"Kalo itu, gue pasti bantuin."
"Gue juga bang. Siap membantu."
Romi dan Rezha melakukan hi 5 tanda sepakat. Alex hanya menggeleng.
"jangan coba-coba kalian ngerencanain hal bodoh!" Seru Izriel membuat ketiga orang itu berjingkat terkejut.
"Ng-nggak kok. Apaan sih?"
"Ih, sok tu banget sih lo, bang? Hehe.. Hehe.."
Alex bertepuk jidat melihat tingkah bodoh mereka yang tak bisa bohong.
***
Sementara itu, Rendi mondar-mandir di koridor rumah sakit. Menjaga nonanya, menghubungi bosnya, dan menyelsaikan administrasi rumah sakit.
"Dokter, gimana keadaan Nona?" tanya Rendi pada dokter yang sudah paruh baya tapi, masih tetap awet muda.
"Nona, dijadwalkan untuk cuci darah besok pagi. Tapi, sepertinya harus dimajukan. Ren, kamu sudah hubungi Nyonya?"
"Sudah, dok. Mungkin sebentar lagi sampai. Siapkan saja cuci darahnya. Nyonya pasti setuju."
"Baiklah kalau begitu."
Setelah keluar dari ruangan dokter, ponsel Rendi berdering.
"Ya, nyonya. Nona sudah berada di kamar rawat di bagian penyakit dalam. Gedung barat kamar paviliun mawar. Ya, nyonya."
Rendi segera kembali ke kamar Ratih. Di depan pintu sudah berdiri 2 bodyguard bertubuh gempal, berjas hitam.
Dia masuk dan memandang nona muda yang dilayaninya itu. Masih sangat muda, tapi sudah menderita. Perceraian orang tuanya juga baru kelar beberapa bulan yang lalu.
Beberapa saat kemudian terdengar bunyi pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya yang cantik dan modis memasuki ruangan. Dia langsung berlari ke arah bangsal Ratih dan menggenggam tangan Ratih.
"Ratih." panggilnya lembut. Ratih membuka matanya perlahan. "Sayang, cuci darah hari minggu dimajukan hari ini, ya sayang.. Yang kuat. Mama carikan donor ginjal secepatnya. Bertahan sama-sama ya, sayang.."
"Mama tenang aja. Ratih gapapa kok." Ratih tersenyum lembut ke arah mamanya. Sang mama langsung menitikkan air mata. "Mama kok nangis, sih? Ratih gapapa kok."
Sang mama langsung memeluk putri bungsu tercintanya. "Kamu masih gak mau cerita ke kakakmu? Mama gak akan protes kalo kamu mau sembunyiin dari papamu."
__ADS_1
"Gak ma.. Cukup kita aja yang tahu. Mereka gak perlu tahu." Ratih tersenyum lagi pada mamanya. Senyumnya yang indah dan tenang itu membuat mamanya merasa semakin sakit hati. Sakit hati dengan mantan suaminya. Bagaimana mungkin pria itu masih meragukan bahwa Ratih adalah anaknya.