Choose

Choose
Chapter 2 - Curious


__ADS_3

Seperti biasa suasana makan siang di kantin sangat berisik. Ditambah lagi dengan adanya geng pemuda tampan paling menonjol di sekolah juga berada di sana. Tentu saja lengkap 12.


"Itu ka Tiara, ka Mariza sama Ka Shella, kan?" Tanya Rezha pada Alex.


"Iya. Kenapa?"


"Tumben Ratihnya nggak ada." sahut Billy. Mendengar nama Ratih disebut, Izriel menoleh ke sumber perhatian teman-temannya.


"Nih anak. Denger nama Ratih sekali udah langsung noleh aja." Ikhsan yang berada di samping Izriel mencibir.


"Lo ga beneran suka sama Ratih, kan?" Tanya Billy penasaran.


"Cuma penasaran."


"Btw, lo belum jawab pertanyaan gue, Lex. Ratihnya mana?"


"Hari ini dia gak masuk. Katanya sakit." Alex melihat Izriel yang memerhatikannya. Dia mengingat cerita Izriel kemarin. Jujur, ia juga penasaran kenapa Izriel tiba-tiba bertanya apa Ratih punya penyakit. Setelah dipikir-pikir, itu masuk akal juga.


"Bang, ayok tanyain ke mereka." Ajak Rezha pada Alex. Ia memberi kode dengan melirik ke arah Izriel yang tampaknya juga penasaran.


"Ha~h." Alex menghela napas sesaat, lalu menjawab, "Kuylah."


"Kuy, bang ikut juga." Rezha langsung menarik Izriel ikut juga. Izriel menurut.


"Eh! Gua ikut juga!" Ikhsan dan Romi yang dengar ikutan.


"Ngapain mereka?" Tanya yang lain pada Billy.


"Mau nyamperin temen-temennya Ratih, nanyain Ratih."


"Lo gak ikut juga?"


"Mereka udah nolak gue. Yakali gue masih ngejar."


"Buaya juga punya harga diri ternyata. Setelah tipu muslihatnya ketauan, malu buat tipu-tipu lagi."


"Heh! perawan cupu diem aja ya!"


Mendengar kalimat ejekan Billy yang benar-benar membuat salah paham, teman-temannya menatap jijik.

__ADS_1


"Tobat, Bill. Tobat. Akhirat sudah dekat."


Mengabaikan keributan di belakang, Alex, Ikhsan, Rezha dan Izriel mendekati meja Tiara dkk.


"Hai, cewe-cewe cantik! Boleh gabung, gak?" sapa Ikhsan dengan sengaja tebar pesona. Mariza, gadis cantik nan jangkung melirik tajam.


"Gak!" Sela gadis itu dengan cepat, padat, dan tajam. 


"Galak bener, sih. Awas cantik-cantik klo galak gak punya pacar lho."


"Gak butuh kalo modelnya kaya lo. Lo pada udah punya kursi disono napa malah ke sini?" Mariza masih bertanya dengan nada jutek.


"Shel." panggil Alex. "Boleh gabung bentar, gak? Gue mau tanya sebentar." Shella melihat ke arah teman-temannya seakan berbicara lewat telepati apa mereka diijinkan untuk duduk di meja itu. Shella lalu melirik ke arah Izriel dan menyadarkan teman-temannya kalau mungkin ada sesuatu yang benar-benar penting. Mereka lalu mengangguk sepakat.


Keempat pemuda yang memerhatikan ketiga gadis yang tengah berbicara lewat telepati, menatap heran.


"Iya, boleh." jawab Shella pada akhirnya. Meski merasa risih dengan tatapan dari penjuru kantin penuh rasa penasaran.


"Inikah bahasa kodenya para cewe?" tanya Rezha pada Ikhsan sambil berbisik.


"Setelah lo berguru sama gue, dijamin bakal ngerti semua jenis bahasa kode cewe." jawab Ikhsan sambil berbisik pula. 


"Emang kalian mau nanya apaan sih? Pake acara minta ijin duduk bareng?" Shela masih berperan sebagai moderator bertanya. Karena bahaya jika ada playboy seperti Ikhsan duduk di tempat yang sama dengan gadis segalak Mariza. Bisa ngamuk dia. Mariza yang sangat tidak ramah dengan laki-laki, sangat membenci dan sangat menghindari jenis-jenis seperti Billy dan Ikhsan.


"Kamaratih gak masuk?" Tanya Izriel. Sontak Mariza, Tiara dan Shella terkejut. Seorang Izriel yang anti perempuan sampe beredar rumor gak suka perempuan, sedang menanyakan sahabat mereka. Mereka lagi-lagi berbicara dalam bahasa kode yang hanya diketahui oleh perempuan. 


Setelah saling memandang, Shella menjawab. "Dia sakit. Bukannya lo juga tahu?" lanjutnya bertanya pada Alex. 


"Iya, kita cuma mau tanya dia sakit apa. Barangkali kalian tahu karena kalian lebih sering bareng dia." Alex menggaruk tengkuknya yang tak gatal. 


"Emang kenapa kalian nanyain Ratih?" Alex bingung harus menjawab apa. Karena ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya. Ia melirik ke arah Izriel yang sepertinya benar-benar penasaran. Ia tak bisa asal jawab Izriel tertarik dengan Ratih. Dirinya bisa dihantam oleh kawannya itu. 


Saat berusaha memikirkan alasn yang tepat, Ratu and the gang datang dengan muka tebal mereka. Muka tebal tanpa malu sekaligus muka tebal karena make up. 


"Hey. Ada apaan nih? Seru bener!" Dengan senyum, menggoda Izriel, ia duduk di sebelah Izriel menggeser paksa Rezha yang duduk di samping Izriel. Tak lupa ia melirik tajam ke arah Shela dan kawan-kawannya. Ratu lalu merangkul lengan Izriel dan bergelayut manja. Izriel langsung melepasnya dengan kasar hingga ia kesakitan. "Aw! Jahat banget sih."


Memutar otak dalam sepersekian detik melalui uluran waktu berkat interupsi dari Ratu, Alex kemudian menjawab. "Gue penasaran kenapa Ratih sering sakit padahal dulu dia fit banget sampe jadi tim inti basket. Dia juga absen di hari-hari tertentu dengan alasan sakit."


"Eh, Alex. Ternyata lo tertarik sama cewe kismin beasiswa? Tipe lo gak banget, tau gak sih? Tapi, jangan bawa-bawa my babe Izriel dong. Bisa turun pamor 'kan dianya?" Para pengikutnya menyerukan persetujuan.

__ADS_1


Mariza mencimingkan matanya menatap tajam ke arah Angel dan Alex. "Itu bukan urusan lo. Lagian kenapa kalian harus tau? Dan kenapa juga kita harus ngejawab ke-kepo-an lo pada!" Ujar Mariza menjawab pertanyaan Alex dengan memandang permusuhan pada semuanya sama rata.


"Denger, ya! Tiara gak suka kalian tanya-tanya soal Ratih hanya karena rasa penasaran gak jelas dan gak manfaat." Tiara yang jarang terlihat marah, ikut marah. 


"'Tiara gak suka kalian tanya-tanya bla, bla, bla..' sok imut banget si lo!" ejek Ratu dengan menirukan gaya bicara Tiara. Tapi, tetap saja tak ada yang memedulikannya. 


Izriel semakin penasaran dengan Ratih. Teman-temannya benar-benar menyayanginya dan menjaganya seperti harta karun yang berharga. Bahkan cenderung overprotective. 


"Kalo urusan kalian itu doang, kita pergi aja. Bye!" Shela berdiri diikuti oleh kedua teman-temannya. 


"Kemarin gue nolongin Kamaratih." Izriel tiba-tiba berkata, membuat mereka berhenti. "Dia pucet dan kesakitan, lalu pingsan. Ada laki-laki yang umurnya kira-kira hampir 30-an yang jemput dan bawa dia pergi. Dan hari ini dia gak masuk. Gue cuma khawatir."


Masuk akal jika Izriel khawatir, meski dia terkenal cuek. Seorang gadis yang ditolongnya tiba-tiba pingsan dan dibawa pergi seseorang. Tentu ia akan merasa bertanggung jawab jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Itulah yang terpikirkan di benak Shella.


Shella langsung berbalik, "Ratih sekarang gapapa. Tadi pagi dia telfon gue. Terimakasih juga udah nolong temen gue." Shella lalu berjalan mendekati Izriel dan berhenti lurus di seberang meja tempat duduk Izriel. Ia berkata, "Tapi, gue harap lo jangan terlalu deket sama Ratih. Kasian dianya." dia melirik Ratu memberi kode bahwa para fans agresif milik Izriel bisa menyakiti Ratih.


Melihat dirinya dilirik tajam, Ratu berdecih sambil menyeringail "Cih!"


Setelah itu Shella pergi diikuti kedua temannya dari belakang. Setelah urusannya selesai, Izriel langsung menarik diri, dia berdiri dan pergi dari kantin. Meninggalkan Ratu yang memanggil-manggil namanya. 


"Alex!" Panggil Ratu pada Alex. Angel kesal melihat Izriel yang tak seperti biasanya. Bagaimana mungkin seorang Izriel yang selalu menolak semua perempuan, bahkan dirinya yang notabenenya cewek super cantik dan kaya, tiba-tiba bertanya tentang cewek entah-berantah. "Coba sekarang lo jelasin apa yang terjadi! Gimana bisa Izriel kenal sama cewe ga jelas itu?! Udah miskin, jelek, penjilat lagi!"


"Gua gak perlu dan males jelasin ke lo. Dan, penjilat? Jangan ngatain orang lain di depan gue. Jadi makin jijik 'kan gue liat muka lo!" Alex merendahkan suaranya geram, menahan amarah mendengar omelan gadis tak tahu diri satu ini. Alex tak pernah merasa sebenci ini pada seseorang selama hidupnya. Tapi, setiap kali lihat melihat tingkah gadis satu ini, ia merasa eneg dan jijik. Selama ini ia tak ingin menunjukkannya, tapi kali ini kebenciannya jelas terlihat. 


Semua yang dapat mendengar mereka terkejut dengan sikap Alex yang biasanya dewasa dan ramah, menjadi seperti ini. Ratu melotot dan wajahnya merah padam karena marah.


"Kalo bukan penjilat apa, dong? Terkenal banget sok suci dan ngedeketi Mariza and the gang. Padahal sekolah aja masih beasiswa!" 


 "Sebaiknya lo liat juga di belakang lo! Mana yang penjilat?" Setelah melempar pandangan pada para pengikut Ratu, Alex langsung melenggang pergi. Tidak tahan lagi menjadi pusat perhatian di kantin. Apa lagi dirinya sedang adu mulut dengan perempuan paling terkenal di sekolah. Sangat memalukan menurutnya.


"Ikhsa~n." Ratu memanggil playboy sekolah itu untuk meminta pembelaan.


"Tante-tante girang. Lebih cantikan kak Ratih kali." Desah Rezha pelan.


"Apa lo bilang?!" Ratu memastikan kembali pendengarannya, menatap Rezha marah. Rezha hanya mengendikan bahu.


"Sorry, ya Ratu. Lo hapus make up lo dulu, ok? Trus ngaca. Muka lo tebel banget soalnya." Rezha terkekeh mendengar perkataan Ikhsan. Playboy satu ini paling anti ngehina perempuan, hanya buat mainan aja. Tapi, kali ini perkataan Ratu berhasil membuatnya kesal.


Setelah keempat pemuda itu pergi, gunjingan sana sini memenuhi kantin hingga ke sudut. Ratu memang pembuat onar paling terkenal di sekolah. Caranya menyarak siswa juga tidak cerdas. Untung saja orang tuanya kaya raya. Seorang pejabat sekaligus pengusaha. Mereka selalu menggunakan kekuasaan untuk menutup mulut setiap korban yang di hakimi Ratu. Hanya orang-orang tertentu yang berani bersikap tidak sopan padanya.

__ADS_1


Ratu adalah sosok antagonis yang paling terkenal di sekolah.


__ADS_2