Choose

Choose
Chapter 5 - Peace


__ADS_3

Ratih tengah duduk di dekat jendela dengan buku di tangannya. Sementara Mariza sedang tidur di bangsal kedua setelah jendela. Dokter yang berjaga sedang duduk di kursinya. Hanya ada 3 orang di dalam UKS.


Izriel yang ingin mampir dan mengintip mengernyit melihat situasi ini. Saat menatap Ratih untuk kedua kalinya, Ia hampir terjungkal terkejut karena Ratih menatapnya balik. Akhirnya, ia memutuskan untuk masuk.


"Kok kamu ke sini? Kamu sakit juga?" Tanya Ratih.


Saat menatap mata itu, entah mengapa ia merasa tidak bisa berbohong. Mata sayu itu seakan dapat melihat ke sisi terdasar dari dirinya.


"Nengokin Lo."


Dokter sekolah yang berjaga langsung melihat ke arah Izriel dengan ekpresi terkejut yang konyol. Izriel langsung melirik tajam ke arah pria itu.


"Aku ga papa kok." Ratih tersenyum dengan manis andalannya.


"Dan kenapa malah dia yang tidur?" Izriel mengirim pandangan mengintrogasi ke arah dokter itu.


"Ah.. Itu.." Dia melirik ke arah Ratih. membuat Izriel ikut melihat ke arah Ratih yang masih mempertahankan senyuman manisnya.


"Mariza cuma mau mastiin aku gak keluar dari UKS. Pak dokter cuma bertugas jaga. Aku yang minta tolong beliau tidak menegur Mariza. Karena aku yang makin repot kalo dia bangun. Ngomong-ngomong, terima kasih sudah peduli denganku. Tapi, sepertinya kamu datang bukan cuma untuk itu."


"Maksud lo?" Tanya Izriel dengan wajah datar.


"Waktu itu di bawah pohon juga sama." Izriel tetap memandang Ratih lurus. Ia tahu maksud Ratih. dan Ratih sangat tajam dalam menilai seseorang.


"Kalo gue nanya, apa lo bakal jawab?"


"Kalau itu... tergantung." Izriel mendekat ke Ratih, sembari mengangkat sebuah kursi dari depan dokter jaga ke depan Ratih dan duduk di sana.


Izriel berhadapan dengan Ratih dan menatapnya lekat. Jujur, ia sangat penasaran dengan yang disembunyikan oleh wajah ramah yang selalu tersenyum tanpa beban hidup itu. Ia bahkan mulai ragu, apa senyum itu asli atau palsu.


"Kenapa lo nyembuyiin semua identitas lo. Bahkan gue gak bisa nyelidiki siapa lo sebenernya."


"Bukannya itu hal yang gak sopan, mencari tahu privasi orang lain? Apa anak orang kaya punya hobi stalking?" Alis Izriel berkedut.


"Emang lo bakal jawab, kalo gue tanya siapa lo?"


Ratih hanya tersenyum, tidak menjawab.


"Dia pasti juga tahu siapa lo." Tunjuk Izriel pada dokter yang duduk di tempatnya sembari berpura-pura tak mendengar percakapan mereka.


"Siapa aku, kamu akan tahu nanti. Tolong bantu aku menjalani hidup damaiku sedikit lagi? Aku tahu kamu bukan tipe yang akan menggosip tentang apa yang kamu lihat saat kita pertama bertemu."


"Hidup damai? Jadi, dibuli adalah definisimu tentang kehidupan yang damai?"


"Setiap orang mengambil batas dari sudut pandangnya sebagai batas dari dunia."


"Schopenhauer." Dokter itu ikut menyahut. Izriel langsung melirik padanya dengan tajam. Tapi, dokter itu tetap berpura-pura seakan tidak mendengar atau mengatakan apapun sebelumnya.


"Jadi, maksud lo gue berpandangan sempit?"


"Aku gak bilang seperti itu. Tapi, tolong mengertilah kalau kehidupan damaiku ini tidak ada hubungannya dengan kamu. Jadi, berpura-puralah tidak melihat seperti sebelumnya." Izriel terperanjat. 'Jadi, gadis ini tahu aku mengawasinya?'


Izriel mendengus dan pergi dengan menggebrak pintu keras. Mariza pun terkejut dan terbangun dibuatnya.


"A-ada apa?"


"Kamu sudah bangun? Sekarang waktunya ke kelas. Ayo, pergi!" Ratih tersenyum pada Mariza yang masih belum sepenuhnya terjaga.


"Nona.." Panggil Dokter itu pada Ratih.


"Jangan panggil aku seperti itu."


"Anda tahu maksud saya.."


"Ya, aku tahu. Biarkan saja, dia tidak akan mengatakan apa-apa." Dokter itu menunduk dan memasang wajah khawatir.

__ADS_1


"Apa gue kelewatan sesuatu?"


"Sudah sadar? Ayo, ke kelas sekarang." Ratih mengalihkan. Ia menarik Mariza dari atas bangsal untuk turun.


***


Setelah kejadian di UKS, tak terjadi apa pun. Izriel menahan dirinya untuk melupakan Ratih, tapi tak bisa. Dia terus saja penasaran dengan gadis itu. Aneh dan lain dari pada yang lain. Diam-diam ia mencuri pandang ke arah Ratih yang tak sengaja lewat, atau bahkan mencarinya dan mengawasinya dari jauh. Ia mungkin melakukan itu secara tidak sadar. Tapi, ada orang lain yang selalu memergokinya memandang Ratih. Itu adalah Ratu.


Ratu yang geram dan cemburu tak tahan akan hal itu dan kembali menjahili Ratih. Ia yang selama ini cari perhatian saja selalu diabaikan bagaimana mungkin ia terima jika gadis lain dipandang seperti itu?


Dia mengumpulkan para pengikutnya dan penggemar Izriel untuk sama-sama menjahili Ratih. Mulai dari mengisi tas Ratih dengan tikus saat dia tidak ada, merobek- robek dan membuang isi tas Ratih. Hingga yang paling parah, di tempat-tempat yang tidak diawasi CCTV dan kawan-kawan Ratih, mereka akan menyerang secara verbal. Saat Ratih ketoilet dia disiram, saat berjalan dijegal, saat pelajaran di luar kelas ia juga selalu dijahili.


Hingga yang terparah adalah kali ini. Ada orang yang mendorongnya dari tangga saat ia akan turun. Akhirnya dia jatuh dari tangga. Izriel dan beberapa teman-temannya, yaitu Bayu, Alex, Rezha dan Jordan, yang berada di dekat kejadian terkejut dan berlari kearah Ratih ketika melihatnya jatuh dari tangga. Suasana yang ramai tak bisa membuat Ratih mengatakan jika dia didorong. Itu sama saja dengan menuduh sembarangan karena dia bahkan tidak tahu siapa yang mendorongnya. Dan tangga itu adalah sudut mati pengawasan CCTV.


"Lo gapapa?" Tanya Alex khawatir. Ratih tersenyum padanya. Ia mencoba berdiri, tapi kakinya sakit sekali. Menyadari Ratih yang kesakitan, Izriel langsung berlutut dan mengangkatnya bridal style.


"Tolong turunkan. Aku bisa jalan."


"Gak usah banyak ngomong. Berdiri aja gak bisa."


Ratih pasrah di tangan Izriel. Tak jauh dari sana, seseorang yang sudah pasti otak dari kejadian itu kebakaran jenggot dengan tindakan cowok yang dipujanya.


Saat Ratih dibawa ke UKS dengan digendong oleh Izriel, dokter jaga menatap mereka cengo. "Bukankah beberapa hari yang lalu mereka bertengkar? dan sekarang mereka menunjukkan sikap yang begitu intim."


"Dokter Huda, maaf merepotkan lagi. Saya terkilir."


"Kenapa lagi sekarang?" Ratih tak menjawab. Ia lalu melihat ke arah Izriel yang sedang menurunkannya dengan lembut ke bangsal. Dokter Huda berlutut di depan Ratih yang duduk. Izriel langsung melepas blazernya dan menyelimuti kaki Ratih hingga ke bawah lutut karena rok seragam sekolah yang panjangnya sampai lutut.


"Jatuh dari tangga." Jawab Izriel yang membuat Ratih memandangnya tak suka. "Kenapa? Benerkan?"


Mendengar itu dokter Huda langsung mengeluarkan pnselnya dari saku. Ratih yang melihat itu langsung mengambil ponsel Dokter Huda.


"Jangan! Saya cuma perlu diobati."


"Lapornya nanti aja. Obatin dia sekarang. Lex, bilang teman-temannya, nih cewe didorong dari atas tangga." Teman-teman Izriel yang dari tadi bingung dengan atmosfer di antara 3 orang di depan mereka. Mereka berbicara sesuatu yang hanya mereka yang tahu.


"Aku tidak pernah bilang aku didorong dari tangga."


"Dan gue gak sebodoh itu bakal percaya kalo lo bilang lo kepleset terus jatuh."


"Aw!" Ratih terkejut ketika Dokter Huda memeriksa kakinya.


"Tahan sedikit. Tulangnya geser." Ratih merapatkan rahangnya, tangannya secara tidak sadar meraih lengan Izriel yang ada di sampingnya, sementara Dokter Huda mengurut dan mengembalikan pergelangan kakinya seperti sedia kala. Izriel yang dipegang lengannya hanya diam dan melihat kaki Ratih yang terlihat bengkak dan dipijat.


Teman-teman Izriel yang menyaksikan itu sedikit terkejut dengan sikap-sikap kecil, namun lembut yang di lakukan Izriel pada Ratih. Setidaknya mereka tahu, bahwa Ratih adalah gadis pertama yang mendapat perlakuan seperti itu dari Izriel, selama mereka mengenal cowo dingin itu.


Dokter Huda lalu menoleh pada teman-teman Izriel. "Minta es batu di freezer koperasi sekolah untuk kompres!"


"Biar gue aja." usul Rezha, lalu berlari keluar dengan segera.


"Ratih, mana?" Shella yang baru datang bersama Mariza dan Tiara.


"Bener Ratih didorong dari atas tangga?" Tanya Tiara pada Ratih. Ratih hanya tersenyum, dia tidak bisa berbohong pada teman-temannya.


"Siapa orangnya?" Clara sudah mengeluarkan hawa membunuh yang kuat.


"Aku juga gak tahu. Kamu tenang aja, aku gapapa."


"Ratih, kali ini aku gak akan denger omonganmu. Mar, tolong suruh orang periksa CCTV. Tiara, jaga Ratih. ada yang harus kuhubungi."


"Tunggu! Shel-" Shella sudah keluar dari UKS. Dia segera turun dari bangsal. Izriel yang geram dengan tingkah Ratih yang tidak memerdulikan dirinya sendiri langsung mendorong dan menindihnya di atas bangsal.


"Jangan, sekali-sekali turun dari sini." Semua yang menyaksikan di ruangan itu tercekat dengan pose intim itu. Namun, saat memandang sorot mata intimidatif, yang tak bisa diganggu gugat dari Izriel, membuat mereka tak bisa berkomentar. Orang yang tidak tahu, pasti akan mengira mereka berciuman. Lebih mengejutkan lagi, Ratih memandangnya lurus dengan perasaan tak suka yang jelas. Tak ada ketakutan maupun kecanggungan di matanya.


"Aku berterima kasih dan menghargai kekhawatiranmu. Tapi, tolong jangan melampaui batasmu. Mariza, tolong aku." Mariza segera tersadar dan menyingkirkan Izriel paksa dari atas Ratih. Karena tenaga Ratih takkan cukup untuk menyingkirkan Izriel sendiri.

__ADS_1


Kriet. Semua menoleh ke arah pintu yang terbuka. Rezha tengah membawa sekantung es batu kebingungan dengan suasana di ruangan ini.


"A-ada apa?" Tanya Rezha melihat semua orang memandang ke arahnya.


"Lo, ganggu aja." ujar salah seorang teman Izriel, yaitu Bayu.


Ratih turun di bantu oleh Mariza. Mariza memapah Ratih sampai ke luar ruangan. DI sana Shella tengah menelpon seseorang.


"Halo, Mas Randie. Lama banget ngangkatnya. Ini Shella. Ratih jatuh dari tangga. Ya. Karena-" Ratih menjauhkan telepon Shella dari telinganya. Ratih menggeleng pada Shella.


Terdengar dari seberang memanggil-manggil Shella.


"Halo, MAs. Ini Ratih. Nanti jangan di jemput. Ratih gapapa, cuma keseleo karena kelpeset. Ratih mau pulang sama Shella." Ratih langsung memutus sambungan telepon.


"Gue bener-bener gak ngerti arti hidup damai lo." ujar Izriel yang tengah bersandar di ambang pintu UKS.


"Aku gak minta kamu untuk mengerti. Dan tolong jangan lakukan hal seperti tadi. Aku tidak suka." Ratih berjalan kembali ke arah UKS. Mariza masih dengan sigap menuntunnya.


"Hidup damai apa? Ratih, kenapa kamu bohong sama mas Randie?" tanya Shella yang kebingungan pada Ratih.


"Kalo kalian mau cari tahu, aku gak akan cegah. Tapi, jangan kasih tahu orang rumah. Itu cuma nambah masalahku."


Shella tak bisa berkomentar lagi. Setidaknya Ratih mengijinkannya menyelidiki ini. Jadi, jika benar terbukti nanti, dia yang akan ambil tindakan. Saat itu tiba, menyembunyikan kejadian ini dari keluarga Ratih akan sia-sia. Karena Shella sudah memutuskan untuk menyeret siapapun yang mencelakai Ratih ke neraka.


"Sebenernya, siapa mas Rendi? Kakaknya Ratih?" Tanya Rezha yang sudah ketinggalan banyak hal.


"Ya, dia kakakku." Jawab Ratih dengan senyum ramah andalannya saat melewati Rezha.


"Izriel," panggil Shella pada pemuda tampan berdarah campuran itu. Izriel hanya menoleh sebagai jawaban panggilan itu. "Gue harap lo jauhin Ratih. Dia gak pernah ngalamin hal kaya gini sebelum ketemu sama lo. Lo pasti tahu semua cewe yang deket atau pernah lo tolong berakhir seperti ini. Jadi, jangan kepoin Ratih lagi."


Mendengar itu, Izriel sedikit tersinggung. selama ini dia tak pernah mengambil insiatif untuk mendekati cewek. Hanya para cewek aja yang selalu mencari kesempatan untuk dekat denganya. Dan tentu saja harga dirinya tercoreng saat mendengar kata "kepo" yang kesannya murahan sekali. Tapi, memang benar dia penasaran dengan Ratih. Tapi, kata kepo konotasinya sedikit menyakiti harga dirinya.


"Denger ya! Terakhir gue nemuin Ratih beberapa minggu yang lalu setelah dia disiram dari lantai 2. Dan gue nolongin dia itupun karena kebetulan lewat. Setiap kali ketemu, dia gue tolongin dari masalah. Saat dia gak di dekat gue pun dia juga tetep dibuli. Jadi, jangan ngatain gue ngepoin cewek aneh itu. Lagian, Ratih sendiri juga ga peduli. Kenapa mesti lo yang peduli? Temen lo itu cewe aneh yang nganggep hidup dibuli adalah hidup yang damai. Dia bisa ngelawan, tapi lebih milih diam." Izriel mengakhiri dialog terpanjang yang pernah ia ucapkan dan pergi dari sana.


"Hidup damai? Ratih, sesulit apa situasimu, sampai gak mau keluargamu tahu kamu dibuli?" tanga Shella dalam gumaman, tapi masih dapat di dengar Izriel yang melewatinya.


"Itu tadi kalimat terpanjang yang pernah gue denger dari bang Izriel." ujar Rezha


"Lo, gatel pingin digampar sama Izriel, ya?" Jorda yang menyahut.


"Bro, apa maksud lo tentang "hidup damai"nya Ratih?" tanya Alex pada Izriel mengabaikan percakan bodoh Jordan dan Rezha.


"Dia sembunyiin identitasnya karena ingin hidup damai. Yang jelas gue ga tahu siapa dia, dengan semua penyelidikan dari jaringan gue sampe sekarang."


"Karena jaringan lo cukup luas dan kuat, untuk sekedar cari tahu data lengkap semua murid yang ada di sekolah ini, jadi lo pikir dia dari keluarga yang cukup berpengaruh untuk sekedar ngusir para pembuli itu."


"Hm."


"Tapi, dia lebih milih untuk diem aja, gitu?"


"hm."


"Dia pasti punya pertimbangan dan privasi yang orang lain gak perlu tau." ucapan Alex memang benar. Dia juga mengingat gumaman Shella beberapa saat yang lalu.


"Gua tau. Jadi, gue harap kalian gak ceritain ini ke siapapun. Gue gak mau dibilang tukang gosip. Udah cukup gue dibilang stalker dan kepo."


Teman-teman Izriel yang ada di situ, Bayu, Rezha, Alex dan Jordan terkikik mendengarnya. Izriel langsung melirik tajam ketika ditertawakan.


"Siap, bro." Jordan yang menjawab, mencoba mengalihakan kemarahan Izriel


Di sisi lain, dia makin penasaran dengan Ratih. Apalagi setelah mendengar yang didigumamkan oleh Shella.


'Sebenernya siapa lo? Dan masalah apa yang mengganggu lo sampe nutupin identitas lo? Kenapa lo bisa selalu senyum sesantai itu kalo emang hidup lo lebih berat dari pada dibuli?'


Seperti kotak pandora yang semakin dilarang untuk dibuka, semakin penasaran seseorang akan isinya. Izriel kini mengalami dilema yang sama. Dia tak pernah sepenasaran ini dengan hidup seseorang, sampai mau mencapurinya. Tapi, Gadis bermata amber seperti elang itu berhasil membuatnya sangat penasaran hingga melanggar semua kebiasaannya.

__ADS_1


__ADS_2