Choose

Choose
Capther 3 - Declare a war


__ADS_3

Setelah dirawat di rumah selama 2 hari Ratih sudah bosan dan memaksa untuk pergi sekolah. Tentu mamanya ingin ia berhenti sekolah. Tapi, sang mama selalu kalah di depan anak gadis satu-satunya itu. Akhirnya dengan beberapa syarat, sang mama memperbolehkan Ratih untuk masuk sekolah.


"Inget! Gak boleh keluyuran kaya kemarin lagi! Pulang sekolah langsung hubungin mas Rendi! Pergi kemanapun harus ditemani. Di luar sekolah harus ditemani bodyguard. Mama titipin kamu ke Shella dan kepala sekolah. Kalo terjadi sesuatu sama kamu, mereka yang bakal mama hajar." Dwi, mama Ratih mengulang lagi apa yang dikatakannya pada putrinya kemarin.


Mereka sedang duduk bersebelahan di meja makan untuk sarapan pagi.


"Ih, kok gitu sih ma? Kan mereka gak salah. Ratih yang salah."


"Ya, biar kamu gak sembrono lagi. Jadi hukumannya yang terima Shella, kepala sekolah sama si Rendi."


"Ratih janji gak akan ceroboh lagi. Maaf selalu buat susah mama yang tiap hari harus kerja."


"Ratih, kalo kamu sakit, mama yang sedih. Denger kabar kamu pingsan dan keadaanmu memburuk, hati mama kaya diirisin kecil-kecil. Mama jadi merasa gagal menjadi orang tua."


"Gak, ma. Ratih minta maaf untuk kecerohohan Ratih. Dan Ratih juga berterima kasih karena kasih sayang mama untuk Ratih yang tak terkira." Ratih memeluk mamanya yang tengah duduk di sebelahnya di meja makan.


Setelah selesai makan, Ratih langsung berpamitan untuk berangkat sekolah diantar oleh Rendi dan para bodyguard. Setelah Ratih berangkat sekolah, barulah mamanya berangakt ke kantor bersama sekertaris dan supirnya.


Setelah sampai di dekat sekolah, Ratih meminta untuk di turunkan agak jauh dari sekolah. Rendi tentu saja menolak, karena keadaan fisik Ratih masih belum sembuh benar.


"Mas, Rendi tenang aja. Ini cuma 100 meter dari gerbang. Kaya jalan dari kamarku ke taman belakang rumah. Kalo aku gak kuat, aku udah minta kursi roda ke mama." Rendi tampak menimbang-ninbang lagi. "Oke, mas Rendi liat aja dari mobil. Kalo aku kesandung langsung tolongin aja." Ratih terkekeh dengan kata-katanya sendiri.


"Baik. Nona hati-hati di jalan." Rendi memuka pintu untuk Ratih. Ratih ingin tertawa, apa yang ditakutkan butlernya itu di perjalanan sejauh 100 meter?


Mobil sedan Ratih bersembunyi di balik pepohonan rindang dan tanaman hias di pinggir trotoar jalan. Jadi, hampir tak terlihat, kecuali oleh pejalan kaki. Tapi, karena kawasan sekolahnya memiliki kompleks hutan buatan sendiri yang mengelilinginya dan sepi pengunjung, trotoar itu jarang dilewati pejalan kaki dan kawasan ini jauh dari pusat kota, jadi tak ada yang melihat mereka. Jangankan pejalan kaki, murid sekolah di situ, semuanya menggunakan kendaraan pribadi, atau paling tidak diantar sampai depan lobi gedung utama sekolah.


Di sekolah, Ratih langsung disambut oleh para sahabatnya.


"Ratih!" Tiara memeluk Ratih yang baru duduk di bangkunya.


"Emang sudah gapapa badanmu kok udah masuk hari ini?" Tanya Shella sembari duduk di kursi sebelah Ratih.


"Sudah gapapa. Aku kangen kalian kalo kelamaan di rumah."


"Tiara juga kangen Ratih." Tiara semakin mengeratkan pelukannya pada Ratih. "Ratih udah sarapan? Nanti gak usah kek kantin. Makan bekal sama Tiara aja dibagi dua."


"Cobain bekalku juga! Dijamin enak." Sahut Mariza semangat.


"Eh! Jangan!" Tiara kembali menyela. "Makanannya Mariza ga sehat. Makan sama aku aja!"


"Makanan lo aja yang ga enak. Sayur semua. Mana gak ada rasanya lagi."


Ratih terkekeh mendengar perdebatan kedua sahabanya. Alex yang duduk tak jauh dari sana ikut tersenyum mendengar ke-4 sahabat itu.


"Duh! Udah deh! Emang Ratih gak bawa bekal? Biasanya mas Rendi selalu siap sedia 'kan?" tanya Shella.


"Iya. Mas Rendi sudah siapin bekalku. Kalian gak perlu khawatir aku kelaparan-"


"Ohh, jadi ini yang namanya Kamaratih Puspita Kamecwara?" Ratu dan gengnya tiba-tiba memasuki kelas XII Bahasa sambil berkacak pinggang. "Pantes aja kelas XII Bahasa baunya busuk, ternyata ada gembel di sini."


"Apaan, nih? LX?" salah satu pengikut Ratu yang namanya Manda mengangkat tas milik Ratih. "Gak pernah gue lihat LX ngeluarin desain kaya gini."


"Lo lupa ya? Nih cewe beasiswa, mana bisa beli tas LX? Paling juga barang KW beli di pasar loak." jawab satu lagi pengikut Ratu, Bunga. Namanya tak seindah tingkah lakunya.


"Oh, iya!" Manda melempar tas milik Ratih ke sembarang arah.

__ADS_1


Brak! Mariza menggebrak meja dan berdiri. "Lo mau cari ribut!?" geramnya tepat didepan muka Ratu.


Tiara langsung mengambil tas Ratih yang dilemar Manda di lantai. Sementara Shella hanya diam menahan sumpah serampah di ujung lidahnya. Ratih mengernyit heran melihat 3 orang gadis yang sama sekali tidak ia kenal tiba-tiba datang dan menghinanya.


"Heh! Cewek jadi-jadian! Jauh-jauh sana! Risih gue." Ratu mendorong pundak Mariza keras. Tapi, Mariza hanya terdorong sedikit dan kakinya masih lurus di tanah. Tubuh Mariza sangat tinggi untuk ukuran gadis Indo. Tingginya sekitar 170 cm dan dia ramping dan kuat.


Mariza langsung mencengkram bahu Ratu dengan tangan kirinya sebagai balasan.


"A-aw!" Ratu merintih kesakitan. "Lo gila apa?! Dasar gorila! Lepasin gue atau gue laporin polisi." lanjutnya sambil mencoba melepas cengkraman kuat tangan Mariza di bahunya. Tapi, Mariza semakin memperkuat cengkraman tangannya hingga Ratu semakin berteriak kesakitan.


"Ide bagus. Kita liat siapa yang bakal rugi?"


Melihat Tiara dan Shella yang tak melakukan apapun, Ratih berdiri dan memegang pergelangan tangan Mariza.


"Udah, Mar. Berhenti." Ratih melihat ke sekeliling dan sudah menjadi pusat perhatian. Bahkan anak kelas lain yang lewat depan kelas berhenti dan bergerombol untuk menonton.


"Udahlah, Mar. Gue berasa jadi binatang di kebun binatang diliatin banyak orang. Lo jangan jadi binatang juga kaya mereka dong." Tambah Shella pedas. Ratu melotot semakin marah bercampur kesakitan.


"Ha, Ha." Tawa Mariza sinis. Dia langsung mendorong Ratu sekali sentak hingga jatuh terkulai. "Cewe lemah kaya lo gak usah kebanyakan gaya. Gue gak takut mau lo lapor polisi 'kek, mau lapor bonyok lo 'kek. Gue gak peduli. Jadi, enyah dari sini sebelum gue tendang lo keluar di depan semua orang di sini."


"Bawa Yang Mulia Kanjeng Ratu lo pada keluar dari sini, para pengikut setia!" Shella dengan dingin menatap tajam kedua pengikut Ratu, Bunga dan Manda. Mereka yang merasa terintimidasi segera mengikuti perintah Shella, membantu Ratu berdiri dan membawanya keluar.


Di bawah tatapan elang yang menusuk dari Mariza, Ratu mati kutu tak dapat bergerak. Tubuhnya tanpa sadar mengikuti Manda dan Bunga yang membawanya pergi. Dia lalu berteriak-teriak.


"C-ce-cewe murahan simpenan om-om kaya lo gak berhak deketin Izriel! Denger! Gue bakal cari tahu siapa lo, dan hancurin seluruh keluarga lo!" Ratu berteriak dengan gagap seperti orang kalap.


Katiga sahabat Ratih langsung mengambil ancang-ancang memulai pertarungan. Ratih segera menghadang ketiga sahabatnya.


"Udah-udah! Biarin aja! Kalian kok kasar benget sih?" Keluh Ratih setelah Ratu dan pengikutnya pergi. Mereka masih jadi pusat perhatian.


"Ratih, kamu juga harus lawan. Jangan diem aja. Kalo kita gak ada gimana?" Shella benar-benar tak mengerti jalan pikiran sahabatnya satu ini. Kadang dia tidak memperhatikan dirinya sendiri. Dia memang orang baik, tapi bukan orang bodoh, dan tentu saja tidak mudah ditindas seperti ini. Shella semakin cemberut saat Ratih saat Ratih hanya balas tersenyum.


"Ratih! Jangan senyum aja dong!"


"Iya, Ratih. Shella bener." Mariza menatap Ratih serius. Begitupun dengan Tiara yang seperti memohon.


"Tenang aja. Semuanya akan baik-baik aja. Dia gak akan sebodoh itu mau nyakiti aku. Aku yakin sekolah ini punya sistem yang gak begitu buruk buat mengatasi bullying."


Kawan-kawan Ratih benar-benar tidak puas dengan jawaban Ratih. Mereka terus protes dengan sikap Ratih yang terlalu santai dan baik pada orang yang menyakiti dirinya.


Tak jauh dari situ, beberapa anak kelas lain berkumpul karena keributan. Diantaranya ada Izriel dan beberapa teman se-geng-nya. Mereka datang karena mendengar ada keributan yang dibuat oleh Ratu di kelas bahasa. Dan tentu Izriel dapat menebak apa yang terjadi. Ia juga teringat kembali pada sosok gadis dengan mata keemasan yang berwajah pucat pasi dan berkeringat dingin. Sosok lemah yang sangat mengusik pikirannya akhir-akhir ini.


Setelah dilihat kembali, wajahnya terlihat normal. Meski lakunya seperti gadis lemah yang tidak bertenaga, tatapannya dalam dan tidak dapat diremehkan. Memerhatikan gadis dengan kepribadian langka seperti ini mengasyikan. Izriel mulai mencoba bermain tebak-tebakan, kira-kira apa yang dipikirkan gadis itu. Dan hal menarik apa lagi yang akan ia ketahui mengenai dirinya.


***


"Mana temen-temen lo?" Tanya seseorang tiba-tiba. Ratih langsung mendongak ke arah siswa yang sedang berjalan ke arahnya.


"Maaf, siapa ya?"


Izriel menciming pada gadis bermata coklat di depannya. Gadis itu lalu tertawa.


"😄 .. Maaf bercanda. Izriel kan?"


"Mata lo.." Izriel ingat jika 4 hari lalu warnanya berbeda. Kali ini warnanya coklat, sedang 4 hari yang lalu keemasan seperti mata elang.

__ADS_1


"Oh ini. Karena mencolok jadi ditutupi aja. Ada apa nyari temen-temenku? Ada yang kamu suka?" Sekali lagi Izriel memasang wajah masam. Membuat Ratih terkikik geli sekali lagi.


"Ekspresimu jangan gitu dong. Temen-temenku gak seburuk itu kok. Kadang memang bar-bar, tapi aslinya baik kok."


"Bukan itu masud gue."


"Ya, aku ngerti. Cuma becanda kok. Mereka lagi sibuk sama hal lain. Mariza sebentar lagi turnamen yang terakhir sebelum persiapan ujian kelulusan. Dia harus latihan ekstra. Tiara dipanggil guru mungkin untuk mentoring olimpiade adik kelas bulan depan. Shella masih rapat KOMDIS. Sebelum masuk semester 6 mereka masih mau nyelesain tanggung jawab mereka." Izriel memandang Ratih tanpa berkedip. Ratih memiringkan kepalanya.


"Ada lagi?" Izriel tak menjawab.


Puk. Puk.


Ratih menepuk tanah di sebelahnya mengisyaratkan Izriel untuk duduk di sebelahnya. Tapi, Izriel tetap tak bergeming dan hanya berdiri memandang Ratih.


"Aku lupa kalau kamu orang kaya. Pasti ga mau duduk di tempat kotor." Alis Izriel berkedut. Dia tak mengatakan apapun dan langsung duduk.


"😅" Ratih kembali terkekeh karena Izriel. Izriel tak pernah ditertawakan seperti ini bahkan 3 kali dalam kurang dari 10 menit.


Keadaan kembali tenang saat Ratih kembali fokus pada bacaannya. Izriel mengintip buku bacaan Ratih.


"Beyond Good and Evil. Friedrich Nietzsche." Izriel sedikit tersentak ketika Ratih berujar tiba-tiba. Izriel berpaling saat Ratih menatapnya. Ratih menyadari semua tingkah canggung pemuda di sampingnya itu dan semakin gatal untuk menggodanya.


"Lo suka buku berat kaya gini?"


"Nggak kok. Ini ringan, gak sampe setengah kilo." Jawab Ratih asal. Jujur, dia tak pernah melakukan hal jahil seperti ini. Tapi saat melihat wajah lempeng Izriel, tergoda dirinya untuk mencoba membuat cowok itu tertawa atau sekedar tersenyum.


Lagi, seorang saja, mencoba mengejeknya berkli-kali. Izriel langsung menoleh dan menatap gadis itu dengan kerutan curam di dahinya. Ratih lagi-lagi tersenyum, balas menatapnya.


'Seumur idup gue gak pernah diketawain dan permainin kaya gini.'


"Maaf becandaku receh. Senyum dikit dong. Sayang wajah gantengmu kalo gak pernah senyum."


"Siapa bilang gue gak pernah senyum?"


"Aku. Barusan." Izriel menghela nafas panjang. Gadis ini benar-benar mengejeknya dengan semua candaan itu. Tapi, entah mengapa ia tidak merasa marah meski merasa jengkel.


"Ha~h. Udahlah." Izriel menghela napas. Ia mencoba untuk relax. Air mukanya terlihat lebih santai sekarang. "Bagunin gue kalo bel bunyi."


"Ya.. 😊" Ratih tersenyum dan menjawab singkat. membiarkan seorang pemuda asing duduk dan memejamkan mata di sampingnya.


Sementara 2 Remaja itu berbincang dengan akrab, beberapa mengamati mereka dari sebuah jendela di lantai 3 gedung sekolah.


"Kayanya Izriel bener-bener suka sama Ratih XII Bahasa."


"Lo jangan sembarangan ngomong. Mau di potong tuh lidah sama Izriel?"


"Lo seharusnya ikut kemarin. Si Ratu sama gengnya ngelabrak Ratih. Dan Izriel yang datangnya telat, liatin Ratih dari jauh. Dan tuh! Dibawah mereka lagi berduaan dibawah pohon."


"Wah, gak nyangka penyakit 'anti cewe'-nya Izriel sembuh juga. Lex! Sini deh, liat!" Alex hanya melihat kebawah dengan diam. Sangat lama diam. Lalu pergi dari situ.


"Napa tuh anak?"


"Entah."


Ratu yang tak sengaja lewat juga melihat kejadian itu. Matanya seakan terbakar dan suara bergemeletuk tersedengar dari mulutnya yang terkatup rapat. "Sepertinya peringatan gue masih terlalu lembek buat lo. Liat aja selanjutnya."

__ADS_1


__ADS_2