
"Ada apa lagi ini?" Tanya Gokter Huda pada Ratih dan Izriel. Dibelakangnya ada siswi mungil tadi dan Mariza juga Shella.
"Izriel luka, dok."
"Duduk, sini!" perintah Dokter itu. "Luka kenapa ini?"
"Hiks. Hiks." gadis itu menangis lagi.
"Lho, kenapa kamu yang nangis? Dia yang berdarah?"
"Itu, salah saya Dok. Hiks. Hiks."
"Salahmu? Maksud kamu apa Reva?"
"Saya tadi minta tolong Ratih yang lebih tinggi dari saya ngembilin buku di rak perpustakaan. Saya ga tau kalau tangga di perpustakaan lapuk. Ratih jatuh dan Izriel nolongin. Karena bukunya jatuh semua, Izriel tertimpa buku -buku. Apa saya akan dikeluarkan dari sekolah?"
"Diem! Lo gak akan keluar dari sekolah! Keluar sana, berisik!" Gadis itu terkejut dengan bentakan Izriel.
"Jangan bentak dia dong. Bukannya aku sudah setuju untuk tanggung jawab."
Izriel langsung menarik Ratih mendekat ke arahnya. "Yaudah nih! obatin!" Izriel memejam dan menyodorkan dahinya ke arah Ratih.
"Bi-biar aku yang tanggung jawab! Aku yang salah." ujar Reva terbata sembari mendekat pada Izriel.
"Lo, keluar dari UKS atau keluar dari sekolah sekarang?" Suara rendah penih intimidasi dicampur dengan tatapan tajam Izriel membuat gadis itu bergidik dan mundur seketika.
"Udah, gapapa kok. Biar aku aja."
"Te-terima kasih, Kamaratih."
"Panggil Ratih aja, biar pendek."
"I-ya Ratih, kalo gitu aku permisi dulu."
"Ayo, cepetan obatin!" titah Izriel pada Ratih. Dokter Huda yang melihatnya hanya menggelengkan kepala, sembari membawa kotak P3K untuk Ratih.
Ratih dengan hati-hati membersihkan darah dari wajah Izriel dan mengobatinya. Mata Ratih fokus pada luka yang ada di pelipis Izriel, sementara mata Izriel fokus pada wajah Ratih.
Memandang wajah itu dari dekat dengan seksama. Mata sayu dan dalam setiap kali memandang sesuatu seperti menyerap apapun yang ditatapnya, bulu mata dan alis tebal berwarna kecoklatan, membuatnya menyadari jika rambut Ratih tidak hitam legam. Hidung kecil tapi mancung itu, tak tampak seperti hidung orang asia tenggara. Lalu, bibirnya yang kemerahan dan lembab itu tak tampak diwarnai alias alami. Belum lagi wajahnya yang kuning langsat bersih dan pori-pori rapat. Sayangnya mata itu tertutup kontak lensa. Jika dapat melihat mata kemeasan seperti elang itu, pasti akan jadi pemandangan yang sempurna. Izriel segera menepis semua pikirannya tentang wajah Ratih. Sebelum yang lain, yang berada di ruangan ini menyadari jika ia meatap gadis di depannya tanpa berkedip.
Yah, walaupun semua itu percuma karena semua menyadarinya kecuali Ratih yang fokus pada luka Izriel. Apalagi Shella dan Mariza yang memandang tidak suka dengan tatapan Izriel pada Ratih yang ambigu.
"Astaga! Izriel, kamu kenapa?" Teriak seorang gadis dari arah pintu. Dia berlari ke arah Izriel dan mendorong Ratih menjauh dari Izriel. Untung saja Ratih baru saja selesai mengobati Izriel.
"Lepas!" Izriel langsung menepis kasar tangan Ratu daat mencoba menyentuh wajahnya.
"Kamu kok jahat gitu sih! Aku ini khawatir sama kamu." Ratu langsung melrik tajam pada Ratih. "Apa karena cewe murahan ini?" Ratu mendorong bahu Ratih keras, yanng untung saja Ratih tak jatuh karenanya.
"Woy! Yang murahan itu lo! Cabe busuk yang gak laku di pasar!" Mariza langsung berdiri di depan Ratu sambil menunjuk wajahnya.
"Woah, tukang pukul langsung maju nih, ngelindungin upik abu! Udah murahan, penjilat lagi!"
"Apa lo bilang!"
"Lo gak denger? Tukang pukulnya budek nih!"
"Mar, Shel, ayo pergi dari sini." Ratih menggangdeng keduanya sebelum terjadi baku hantam. Ratih memandang Dokter Huda sambil menunduk isyarat meminta maaf. Dokter Huda balas tersenyum masam padanya kerena meninggalkan orang paling merepotkan di ruangannya.
"Lari aja lo sana! sadar diri dong, lo bisa sekolah di sini karena belas kasihan yayasan!" Ratih mengabaikan Ratu yang masih saja memprovokasi mereka. Meski provokasi murahan itu tak bekerja padanya, tapi tidak dengan Mariza yang sudah menggulung lengan kemejanya.
Izriel yang melihat Ratih yang pergi dari sana, juga ikut pergi.
"Sayang, mau kemana?" Ratu langsung bergelayut manja di lengan Izriel. Izriel yang sudah habis kesabaran sekali lagi menepis tangan itu dengan kasar.
"Jangan pengang-pengang! Bau busuk lo jadi nempel semua kan?" Izriel langsung melepas blazer yang beberapa hari lalu dikembalikan Ratih itu dan membuangnya di tempat sampah depan UKS. "Menjauh dari gue, sebelum gue buat lo menjauh dari hidup gue dengan cara yang lebih kasar!" tunjuk Izriel tepat di depan mata Ratu.
"UGH!" Ratu menggeram dan menghentak-hentakkan kakinya pergi.
"Waduh! anak jaman sekarang bar-bar semua." Dokter Huda berguman. "Kecuali nona Ratih kayanya." Tambahnya setelahnya.
Saat sampai di kelas, teman segeng Izriel terkejut dengan luka di dahi Izriel.
__ADS_1
"Perasaan tadi lo pergi gapapa dah? Napa balik udah gak utuh lagi muka lo?" Tanya Rafael.
"Mana blazer lo? lo pinjemin pujaan hati lagi?" Kali ini Ikhsan yang beratanya. Jika Izriel kembali dalam keadaan tak utuh begini, pasti ada sangkut pautnya dengan Ratih.
"Gua buang!" bentaknya melampiaskan kejengkelannya.
"Widih galak amat habis ketemu pujaan hati. Napa? ditolak?"
"Apaan sih lo! Blazer gua terkontaminasi bau cabe-cabean"
"Hah? Lo habis ketumpahan sambel? Lo balik ke kantin lagi?" Tanya Romi.
"Hah!" Izriel mengela napas keras dan memakai headphonenya .
"EH! Kayanya karena ini deh!" Ikhsan membukakan sebuah percakapan di handphonenya.
"Lisa nih siapa, San?"
"Ga penting itu! yang penting isi chatnya."
[Ikhsaaannn]
[San]
[San]
[Ada apa, cantik?]
[Gausah bnyk gombal! jwb prtanyaan gw! Izriel bneran pcran sm ank BHS itu?]
Lalu ada foto Izriel tengah memeluk Ratih di tengah buku berserakan di perpus.
[Kalo iya knp? klo nggk knp?]
[kalo iya gue bakal singkirin cwe tu dr skolah ini. bila perlu dari planet ini.]
[Gk takut sluruh kluarga lo di-banned Izriel dari dunia ini?]
selanjutnya tak ada jawaban
"Trus maksudnya cabe-cabean?"
"Ratu kali."
Mereka mangut-mangut setuju dengan kesimpulan masuk akal Ikhsan. Dulu, setiap kali Ratu datang pada Izriel, Izriel akan menghindar dengan sekuat tenaga, atau mengumpan temannya pada gadis itu. Sejak Izriel dekat dengan Ratih, Ratu semakin berani untuk menyentuh Izriel. Membuat Izriel ekstra jengkel dengan kelakuannya.
***
"Mom, Dad, I'm home." ujar Izriel yang melewati orang tuanya. Hari sudah lumayan larut, dan Izriel baru saja kembali.
"Welcome back sweety." seorang wanita cantik dengan wajah manis dan kulit eksotik menyambutnya di ruang tamu utama setelah masuk melalui pintu utama.
"Darimana saja kamu baru pulang sekarang?" tanya pria paruh baya dengan wajah kaukasia dan mata biru serta rambut pirang platinum, yang duduk di sofa panjang sambil berpangku tangan. Mereka adalah orang tua Izriel.
"Dari rumah temen." jawab Izriel singkat.
"Oh, goodness! what happened with your forehaed, sweety?!" Ibu Izriel yang baru saja menoleh menyadari ada luka di dahi putra semata wayangnya itu.
"Izriel! Apa yang kamu lakukan hari ini! Kamu masih berkelahi! Kamu berani bohong pada Dad?!" Pria itu langsung membentak Izriel.
"Whatever! I'm tired!" Izriel melengos melewati kedua orang tuanya. akan berjalan menuju tangga berbentuk Y terbalik yang besarnya hampir setengah ruangan itu.
Sang ayah yang marah atas ketidak sopanan putranya itu berdiri dan menarik kerah putranya.
"How dare you, behaving like this in front of your parents!"
"Honey, let's lissen to his explaination. calm down, please." Sang ibu memegang tangan suaminya yang mencengkram kerah putranya.
Izriel sama sekali tak takut dengan tatapan marah dan mengintimidasi dari ayahnya. Ia malah menatap balik dengan ekspersi malas.
Dengan bujukan sang istri, ayah Izriel mengendurkan cengkraman itu.
__ADS_1
"Now, explain yourself!"
"I was just helping my.." Izriel memberi jeda sejenak untuk mencari kata yang tepat. "friend." penjelasan berakhir dengan satu kalimat. Tn. Vianden semakin marah dan geram dengan tingkah putranya ini. Ia kembali mencengram kerah putranya.
"Explain to me properly!" ujarnya dengan nada rendah yang ditekan.
"Just ask the guy you sent to spying on me! I'm tired and dizzy. I have to go to school tomorrow." Izriel menepis tangan ayahnya.
"You unfilial son!" Teriak sang ayah pada putranya yang menyingkurinya.
"Sweety, do I have to call a doctor for you?"
"No need mom. I'm fine."
"but.."
"I'm fine. really."
Chu.
ia memberikan ibunya kecupan di pipi lalu pergi dari tempat itu.
"Indra!" Teriak sang taun besar Vianden dengan lantang.
"Ya, Tuan." Seorang pria dengan setelan hitam formal tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Bukankah aku sudah menyuruhmu menyuruhmu untuk mengawasinya?! Dia berkelahi dengan siapa lagi?!"
"Siap, tuan. Tuan muda tidak berkelahi sama sekali akhir-akhir ini, kecuali beberapa minggu yang lalu dengan preman jalanan yang mengganggu seorang teman satu sekolahnya."
"Lalu, dari mana saja dia baru pulang sekarang? dan darimana lukanya itu?"
"Tuan muda dari rumah temannya. dan luka itu ia dapat saat di sekolah karena menolong seorang temannya."
"Temannya yang mana?"
"Namanya Kamaratih. Anda mungkin belum pernah bertemu. Dia adalah teman baru Tuan muda yang diselamatkan tuan muda dari preman beberapa minggu lalu. Siang tadi gadis itu jatuh saat dari tangga di perpustakaan dan tuan muda melindunginya dari buku yang berjatuhan."
"Seorang gadis?"
"Iya nyonya."
"Apa mereka punya hubungan khusus? Izriel tidak pernah berteman dengan gadis sebelumnya."
"Tuan muda bilang, gadis itu hanya teman. Gadis itu juga sering terlibat masalah."
"Apa? terlibat masalah?"
"Sejak Tuan muda Izriel dekat dengannya, dia selalu dibully di sekolah. Jadi, mungkin Tuan muda kasihan dan selalu menolongnya. Gadis itu 1 kelas dengan sahabat Tuan muda, yaitu tuan mud Alex putra dari tuan Russel. Jadi, sekarang mereka berteman. Kejadian tdai tuan muda bilang di sengaja. Dan seminggu yang lalu gadis itu juga ditolong tuan muda saat didorong dari tangga lantai 4."
"Anak-anak jaman sekarang sangat menyeramkan." komentad nyonya Vianden.
"Selidiki gadis itu! Aku ingin tahu seperti apa dia. Mungkin saja dia punya niat tersembunyi dengan mendekati putraku."
"Saya, sudah melakukannya tuan." dia lalu mengeluarkan sebuah map kertas berwarna coklat dan memberikan itu pada majikannya. Tn. Vianden membuka dan membacanya. "Kamaratih Puspita K. Namanya tertulis seperti itu di semua dokumennya. di semua dokumen data diri siswa, Tertulis bahwa ibunya seorang ibu rumahtangga biasa. dan ayahnya dokter. Mereka bercerai 1 tahun yang lalu. Ia juga punya seorang kakak yang juga seorang dokter. Dan dia bersekolah dengan beasiswa. Tapi, anehnya ada yang setiap tahun mengirim uang untuk membayar biaya sekolahnya. Hanya data itu yang saya temukan di kesiswaan dan beberapa hari setelah bertemu Kamaratih, Tuan muda juga sempat mencari tahu tentang dirinya. Tapi, tak menemukan apapun."
Ayah Izriel menatap foto 3×4 yang terjepit dengan klip bersama dengan lembaran data diri itu.
"Honey, bagaimana jika Izriel menyukai gadis itu? Bukankah kita sudah terlanjur melakukan perjanjian dengan keluarga Narasimhamurti?"
"Tidak. Izriel tidak bodoh. Dia pasti tahu kalau gadis ini mencurigakan. Lagipula dia masih muda. Cinta monyet itu sudah biasa."
"Tuan, nyonya, apa saya perlu menyelidiki lebih dalam?"
"Untuk saat ini, tidak perlu. Awasi saja jika terjadi hal yang janggal segera lapor padaku."
"Baik, Tuan " Pria itu membungkuk hormat, lalu beranjak pergi meninggalkan majikannya.
Sementara itu, Izriel yang baru selesai mandi menatap ponselnya yang bergetar. Terdapat satu pesan masuk dari Rezha. Pesan itu berisi foto dirinya yang tengah menatap intim gadis yang tengah mengobatinya.
Siapapun yang melihat ini, Pasti akan langsung tahu ada siratan kehangatan dan rasabpenasaran di mata Izriel.
__ADS_1
Izriel malah mengabaikannya dan terus menatap gambar wajah gadis itu. Pose itu kembali mengingatkannya dengan wajah gadis itu yang ia tatap dengan sangat dekat siang tadi. Entah karena belum pernah menatap seorang gadis sedekat itu, atau memang tidak pernah menatap gadis dengan seksama sebelumnya, Tapi Izriel merasa gadis itu memiliki wajah cantik yang berbeda dari gadis biasanya.
Izriel mebaringkan tubuhnya yang lelah di atas kasur luas yang empuk. Tak butuh waktu lama baginya untuk jatuh terlelap ke dunia mimpi.