Choose

Choose
Episode 9


__ADS_3

Semoga karya ini dapat mengibur para pembaca.


Terimakasih ^^


***


    Di sebuah kebun, terlihat dua orang gadis cantik asyik bercerita di bawah pohon apel. Mereka asyik tertawa dan bercanda. Sang kakak asyik bercerita tentang pangeran pujaan hatinya. Begitu juga sang adik, tak mau kalah.


    “Kakak jatuh cinta sama Kay. Orangnya baik, lembut, dan bisa mengerti perasaan orang.” ujar Linda penuh semangat.


    “Aku juga suka Igo, Kak. Walaupun sikapnya dingin, sepertinya dia perhatian banget!” komentar sang adik.


    “Kalau gitu, mulai sekarang kita harus berusaha dekat dengan mereka.”


    “Iya. Ngomong-ngomong kak, kelihatannya mereka sayang sama adik mereka. Bagaimana kalau kita nyari simpati mereka lewat adiknya?”


    “Setuju!” Linda menyetujui usulan adiknya, Ninda. “ Nin, seminggu lagi kan ada acara di rumahnya kepala desa. Katanya sih dalam rangka ulang tahun anaknya. Gimana kalau kita ajak Kay dan Igo?”


    “Boleh juga Kak.”


***


Di sebuah kamar yang berukuran 3x3 meter, terlihat seorang gadis manis sedang tertidur dengan pulas. Lalu tiba-tiba, gadis itu terbangun dari tidurnya. Tidur untuk mengembalikan stamina yang terkuras habis karena demam. Dengan tubuh yang masih terasa lemas, gadis itu bangkit dari tidurnya.


    Ia melihat ke sekeliling kamar itu. Kemudian, ia membuka pintu kamar itu dan keluar. Saat keluar dari kamar, ia mencari-cari sosok Kay dan Igo. Namun, tidak ada tanda-tanda dari kedua makhluk tersebut.


    Gadis manis yang tak lain dan tak bukan adalah Ruki, memastikan kalau Kay dan Igo tidak meninggalkannya seorang diri di tempat yang tidak dikenalinya. Ruki kembali ke kamar dan mencari tas milik Kay dan Igo.


    Ruki menarik nafas lega. Ruki keluar dari kamar dan kembali mencari sosok Kay dan Igo. Tak lama kemudian, seorang gadis cantik bak bidadari menegur Ruki dari belakang dan membuat Ruki terkejut.


    “Kamu udah bangun? Nama aku Linda. Kamu mencari Kay dan Igo ya?” tegur Linda sekaligus memperkenalkan dirinya.


    “I-iya. A-aku Ruki.” Ruki merasa gugup karena terkejut melihat Linda yang tak dikenalnya.

__ADS_1


    “Mereka ada di kebun. Pasti kamu sayang sekali sama kakak-kakakmu itu ya? Mereka juga sayang sama kamu lho! Buktinya, mereka merawat kamu waktu kamu demam!”


    ‘Kakak???’ pikir Ruki tak percaya. “Iya,” jawab Ruki singkat dan datar.


    Linda mengajak Ruki ke kebun untuk mencari Kay dan Igo. Selama diperjalanan, Linda bercerita banyak hal pada Ruki. Ruki merasa canggung dengan sikap Linda yang SKSD alias Sok Kenal Sok Dekat dan bersikap seperti orang yang telah mengenal Ruki selama bertahun-tahun. Padahal Ruki dan Linda baru saja bertemu.


    Ruki hanya merespon semua pembicaraan Linda dengan senyuman dan kata-kata ya, tidak, atau mungkin. Sementara, di dalam pikiran Ruki, Ruki memikirkan tentang alasan Kay dan Igo mengakuinya sebagai adik. Ruki tidak bisa membayangkan kalau Kay dan Igo benar-benar kakak kandungnya. Pasti menderita banget….


    Sesampainya di kebun yang hanya ditempuh lima belas menit dengan berjalan kaki, Ruki mencari-cari sosok Kay dan Igo. Begitu juga dengan Linda yang tidak mau ketinggalan. Linda mencari sosok Kay dan Igo dengan arah yang berlawanan dengan Ruki.


    Tak lama kemudian, Ruki mendengar teriakan dua orang cowok yang memanggil namanya. Teriakan dua orang cowok yang tidak asing lagi bagi Ruki. Ruki celingak-celingukan untuk mencari sosok kedua cowok itu.


    Ruki menemukan sosok Kay dan Igo di atas pohon apel. Ruki berlari mendekati pohon apel yang dipanjati oleh Kay dan Igo. Dari atas pohon, Kay dan Igo tersenyum sambil melirik Ruki yang berada di bawah.


    “Kamu bisa naik? Apa perlu kami bantu, nona manis?” sindir Kay dengan gaya playboy-nya yang tidak ketulungan lagi.


    “Aku bisa sendiri kok!” balas Ruki tidak mau diremehkan.


    Ruki berusaha memanjati pohon apel itu. Namun, sekuat apa pun Ruki berusaha, ia tidak bisa menaiki pohon itu karena kondisi fisiknya yang masih lemah. Igo melompat dari pohon apel itu dan mendekati Ruki.


    Ruki hanya diam tertunduk setelah mendengar omelan dari Igo.


    Igo menundukkan badannya sehingga menyerupai pose seperti kuda-kudaan. “Cepet injak punggung aku!” perintah Igo.


    “Ta-tapi, kamu?” Ruki ragu-ragu karena takut kalau Igo akan merasa kesakitan setelah punggungnya diinjak.


    “Udah jangan banyak bacot!! Injek aja! Nanti Kay narik kamu dari atas!” perintah Igo dengan membentak.


    Di atas pohon, Kay menuju ke dahan yang rendah sehingga bisa menjangkau tangan Ruki nantinya. Kay pun menyuruh Ruki untuk segera menaiki punggung Igo.


    Tanpa pikir panjang lagi, Ruki berdiri di punggung Igo dan mengulurkan tangannya ke arah Kay. Kay segera menarik tangan Ruki sehingga Ruki dapat mencapai dahan yang ditempati oleh Kay.


    Setelah memastikan Ruki telah aman berada di atas pohon, Igo kembali memanjati pohon apel itu dan menaiki dahan yang berada di dekat Kay dan Ruki. Ruki menghampiri Igo yang ada di dekatnya dan meminta maaf sambil membersihkan bekas pijakannya di punggung Igo.

__ADS_1


    “Maaf ya, Go! Sakit?” ucap Ruki khawatir.


    “Nggak! Kamu kan nggak pake high-heals! Aku juga nggak ngerasain apa-apa! Badan kamu ringan sih! Lagian aku beda ama kamu! Aku ini lebih kuat dari kamu! Aku juga cowok!” tukas Igo sambil menatapi Ruki dengan tatapan meremehkan.


    “Satu lagi yang belum disebutkan Igo! Udah tugas cowok buat nge-jagain dan nge-lindungi cewek! Karena itu, kami ini punya kewajiban buat jagain kamu!” tambah Kay sehingga membuat raut wajah Ruki sedikit terkejut.


    “BOHONG!” Ruki mengucapkan perkataan yang membuat Kay dan Igo tersentak. “Nyatanya, kalian selalu aja nyiksa aku! Tiga benda penting aku aja nggak dibalikin sampai sekarang! Kalian nganggep aku sebagai budak kalian selama kalian nahan tiga benda penting itu kan!!”


    “I-iya sih,” Kay gagap.


    Igo mengusap gemas kepala Ruki. “Dasar bodoh!”


    “Satu hal lagi! Kenapa sih kalian bilang ke Linda kalau aku ini adik kalian?” tanya Ruki dengan suara yang kecil.


    “Kalau nggak gitu, kita nggak bisa dapet tempat tinggal sementara di sini!” bisik Kay. “Untuk sementara, kamu ngaku aja kalau kami ini kakak kandung kamu! Bilang aja ortu kita udah tiada!”


    Ruki mengangguk pelan.


    Setelah perbincangan selesai, Kay dan Igo kembali memetik buah apel yang telah matang dan memasukkannya ke dalam keranjang yang berada di dahan paling bawah. Ruki juga membantu Kay dan Igo.


***


Di sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu, terlihat sebuah keluarga kecil tanpa kepala keluarga menikmati makan malam bersama tiga orang tamu mereka. Sang ibu menanyakan berbagai macam pertanyaan kepada dua orang tamu yaitu, Kay dan Igo.


    Kay dan Igo terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh ibunya Linda dan Ninda. Kay dan Igo saling berpandangan. Sementara itu, Ruki menatapi Kay dan Igo. Ibunya Linda dan Ninda berencana menjodohkan kedua putrinya dengan Kay dan Igo.


    Mendengar rencana ibunya Linda dan Ninda, Kay dan Igo menelan ludah dan menatapi Ruki. Kay dan Igo meminta pertolongan dengan kode mata ke Ruki. Ruki yang menyadari maksud Kay dan Igo akhirnya menyela pembicaraan ibunya Linda dan Ninda.


    “Maaf Bu, bukannya ibu tidak bisa menikahkan mereka sekaligus?! Kay dan Igo kan kakak-beradik! Ninda dan Linda juga saudara kandung, kan Bu?!” protes Ruki.


    “Bukan! Ninda dan Linda tidak bersaudara! Mereka juga sebenarnya anak angkat ibu. Mereka bukanlah saudara sedarah!” jelas ibunya Linda dan Ninda yang ternyata merupakan ibu angkat Linda dan Ninda.


    “O… oh….” Ruki tak percaya dan hanya bisa meng-oh-kan.

__ADS_1


    “Bagaimana tawaran ibu, Nak Kay dan Nak Igo?” tanya ibunya Linda dan Ninda meminta kepastian.


    “Maaf Bu, tapi kami belum siap. Beri kami waktu untuk berfikir ya, Bu.” pinta Kay berusaha meyakinkan ibunya Linda dan Ninda.


__ADS_2