
Cahaya matahari kini mulai muncul menyinari mata dua insan yang masih tertidur pulas. Yuri yang masih memeluk hangat tubuh Armand membuka matanya dengan perlahan.
"Mmmhhh, ah sudah pagi" Ucap Yuri dengan suara seraknya sambil merentangkan tangannya, kepalanya masih terasa sakit akibat meminum-minuman beralkohol semalam. Ia melihat Armand yang masih tertidur pulas disampingnya, yang membuatnya sedikit kaget. Yuri melihat kedalam selimut apakah ia masih berpakaian apa tidak. "Huhh, hahh masih berpakaian dengan lengkap" Ucapnya lega lalu melihat kearah Armand lagi. Ia baru teringat kejadian semalam.
"Ahh tidak" mulut Yuri terbuka lebar akibat teringat kejadian itu. Ia tidak sengaja muntah dimulut Armand , yang membuat laki-laki itu juga ikut muntah dibuatnya.
"Oh tidak kenapa denganku semalam!? Ishhh dasar bodohh" Ucapnya lagi dengan kesal.
Yuri meraih handphone nya dan melihat ada pesan dari Minso adiknya, sepertinya Minso mengkhawatirkannya. Sudah dua hari ia tak pulang kerumah gara-gara Armand, Yuri langsung membalas pesan adiknya tersebut dan dengan alasan mengatakan, ia akan pulang hari ini karena semalam ia sangat sibuk dan tertidur dirumah Sanna teman barunya karena rumah Sanna tidak terlalu jauh dari kantor.
Yuri kemudian membangunkan Armand. "Bangun"
Yuri menggoyangkan tubuh Armand agar laki-laki itu terbangun, namun dia masih tertidur. Yuri agak heran kenapa dahi Armand mengeluarkan keringat dan terlihat sekali mimik wajahnya seperti ketakutan, sepertinya dia sedang bermimpi buruk. Yuri yang baru tahu bahwa Armand sedang bermimpi buruk itupun langsung menggoyang-goyangkan tubuh Armand sembari menepuk-nepuk pipinya.
...****************...
"Aaaaaa Kakakkkkk!!!!". Teriak Armand memanggil Kakaknya.
"Kan apa aku bilang! Ayo kita pulang" Kata Aiden.
"Tenanglah Armand, aku akan mengobatimu tapi hentikan dulu tangisanmu. Setelah kita keluar dari hutan ini, aku akan membelikan eskrim kesukaanmu. " Ucap Aiden.
"Haa! Kakakkkk! Jangan tinggalkan aku Hiksss! Kakakkkk!!!"
"Aiden kau begitu jahat"
Orang itu membawa Armand ketempat rumah gubuk nan lusuh, sebuah lentera yang menyala, menerangi ruangan rumah tersebut, terlihat seorang perempuan yang diikat.
Napas Arman tak karuan, melihat perempuan itu yang tak sadarkan diri. Apakah perempuan itu meninggal? Siapakah perempuan itu? Pikir Armand.
"Tuan tolong lepaskan istri saya" pria dewasa itu memohon dengan tangisannya sambil mencium kaki pria berjubah dan bertopeng itu
__ADS_1
Terlihat sekali pria yang bersimpuh itu dipenuhi dengan luka yang masih segar dan dipelipis alisnya yang robek. Pria berjubah dan bertopeng itu langsung menembak kepala pria itu tanpa ampun.
Dor! Dorr!.... Dor!
Suara tembakan itu membuat Armand syok dan menangis sejadi-jadinya, ia sangat ketakutan, kedua mata kecilnya dengan jelas melihat pria itu terkapar tak bernyawa dihadapannya sendiri. Dan satu orang suruhan dari sang pria bertopeng itu mengangkat perempuan itu dan membawanya keluar.
Pria itu lalu menghampiri Armand "Kau mau juga, Aiden pasti suka" Pria itu menyodorkan pistol kearah kepala Armand, yang membuat Armand langsung berteriak.
...****************...
"Aaaaa....." Armand berteriak lantas membuka kedua matanya, napasnya tidak karuan, ia sangat ketakutan.
Tangannya menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. Ia tidak begitu mengingat kejadian itu dengan detail tetapi kejadian itu membuatnya sangat trauma dan selalu teringat.
Kata-kata terakhir yang keluar dari mulut pria itu membuat napas Armand memburu dengan ketakutan sekaligus marah.
Ingatannya yang begitu minim, membuat kepalanya terasa sangat sakit sekarang. Yuri yang sangat khawatir dengan keadaan Armand lalu memeluknya, berharap dengan pelukan nya membuat Armand sedikit lebih tenang. Kali ini Yuri merasa bahwa dirinya sangat bersalah terhadap Armand.
"Aiden" Kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat Yuri heran.
"Siapa dia?" Tanya Yuri.
"Dia kakakku, dia membuatku seperti ini, tapi aku tidak mengingat dengan lebih jelas kenapa aku sangat membencinya dan ketakutan melihatnya" Jelas Armand.
"Yang aku ingat dia meninggalkan ku lalu pembunuh itu menyebutkan namanya, hanya itu yang aku ingat dan membuatku trauma melihatnya" Lanjutnya.
...****************...
Sekarang Armand sudah berada di ruangan pribadinya, ia mengerjakan pekerjaannya dengan seperti biasa. terlihat ia begitu sibuk sekarang.
Kali ini Yuri tidak ada disampingnya, dia meminta izin untuk tidak bekerja hari ini karena ingin menjenguk mama dan adiknya. Armand meminta Yuri untuk tinggal bersamanya dan Yuri terpaksa mengikuti kemauan dari Armand. Dan Yuri terpaksa berbohong lagi kepada keluarganya, bahwa ia akan menyewa kamar kos didekat kantor Armand
__ADS_1
Klak!..
Seseorang membuka knop pintu lalu duduk dihadapan Armand yang tengah sibuk dengan pekerjaannya dan tidak memperdulikan orang itu dihadapannya.
"Armand" Panggil orang itu dengan nada serius.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Armand dengan dingin, matanya masih fokus ke layar komputer tersebut.
"Ckk Kau tidak berubah dari dulu" Ledek orang itu.
Armand tidak merespon.
"Hmmm aku mau kau datang ke fashion show ku nanti" Lanjutnya.
Armand masih tidak mau merespon dan masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Cihh aku tidak tahu kenapa kau sangat membenciku dan sangat takut terhadapku? Apa karena aku waktu itu meninggalkanmu? Oh ayolah aku juga panik waktu itu, kita sama-sama masih kecil, umur kita tak beda jauh. Aku sudah meminta tolong kepada polisi untuk menyelamatkanmu, dan sekarang kau masih bisa hidup sampai sekarang kan. Kau sangat beruntung kakek member- ----"
"DIAM!!!" Armand mengebrak mejanya dengan keras,.
"CUKUP KALI INI SAJA KAU MENGGANGGUKU AIDEN!!!" Amarah Armand membludak dan rasa takutnya seketika hilang.
Bukk!..
Armand langsung membogem mentah rahang Aiden dengan cukup keras, sampai-sampai Aiden tersungkur kelantai.
Aiden memegang ujung bibirnya yang berdarah ia hanya tersenyum dan beranjak.
"Masih saja seperti ini hehe, jangan lupa untuk datang, bawa Yuri juga aku ingin bertemu dengan adik ipar"
Armand terkejut mendengar nama Yuri dari mulut Aiden, Aiden melangkahkan kakinya untuk pergi dari ruangan tersebut dan kemudian Armand menarik keras kerah baju Aiden dengan emosi yang masih memuncak. "Jangan ganggu Yuri ku" Tekan Armand dengan napas yang membara.
__ADS_1
Aiden masih stay dengan senyumnya lalu berkata."Bermimpilah agar bisa bahagia" Aiden melepaskan tangan Armand dari kerah bajunya dengan kasar kemudian pergi dengan begitu saja.