CINTA ARMAND

CINTA ARMAND
Bab 3 [DICULIK]


__ADS_3

"Ini biaya perawatan mama" Minso menyerahkan kertas itu ke Yuri.


3 juta won! Mata Yuri langsung terbelalak tidak percaya, mahal sekali. Ia tidak mempunyai uang sebanyak itu, bagaimana cara untuk membayarnya.


"Bagaimana ini Noona, kita pastinya tidak mempunyai uang sebanyak itu? Apalagi kamu baru saja mendapat pekerjaan"


Yuri yang mendengar kata baru saja mendapat pekerjaan dari mulut sang adik tiba-tiba tersentak, lagi-lagi matanya mulai memanas


"Mmm kamu tenang saja, biar aku yang mengurus semuanya. Kamu fokus sekolah dan rawat mama saja ya" Ucap Yuri menyakinkan.


Yuri sangat kebingungan, bagaimana ia bisa membayarnya. Uang tabungannya juga tak akan mencukupi, hanya setengahnya saja, Yuri harus memutar otak.


 


Yuri berjalan dengan tatapan yang kosong, harus kemana ia meminjam uang. Ia terus saja berjalan menyusuri trotoar jalanan yang sudah sepi, karena ini sudah larut malam. Kakinya tak henti untuk melangkah dengan sedikit mempercepat langkahnya agar sampai kerumah untuk mengambil beberapa baju Minso dan sekaligus mandi.


Tak sadar sedari tadi Yuri sudah diikuti oleh sesosok pria dewasa bertubuh besar.


Srakk!


"Aaaa...!" Teriak Yuri.


pria tu dengan cepat menyekap dan menutup mulut Yuri dengan kain hitam yang sudah diberi obat bius, perlu menunggu beberapa menit sampai obat bius itu bereaksi. Dengan kesadaran yang masih ada, Yuri berusaha untuk melawan.


Ini tidak bisa, tenaganya kalah saing dengan orang ini. Siapa orang ini? Kenapa dia menyekapnya? Pikir Yuri.


Yuri diseret dengan kasar dan dimasukkan kedalam mobil.

__ADS_1


Obat bius itu sudah bereaksi, Yuri sudah pingsan. Tak ada perlawanan lagi, pria itu menjalankan mobilnya dengan cepat.


Mobil itu berhenti tepat didepan sebuah rumah yang besar nan mewah, pria itu membuka pintu mobil dan mengangkat Yuri ala bridle style.


Pria itu membawanya masuk kedalam rumah itu dan membaringkannya ke atas ranjang. Pria itu langsung menjauh dari kamar tersebut meninggalkan Yuri dengan tangan dan kakinya yang masih terikat dan mata yang tertutup.


"Tuan" Panggil pria itu sambil membungkukkan tubuhnya. "Gadismu sudah ada dikamar" lanjutnya.


Armand yang sedari tadi mengerjakan aktivitasnya berhenti sejenak menatap pria itu dengan tatapan dingin. "Kerja bagus" ucap Armand.


 


"Ishh aduh kenapa mataku tertutup kain? Aww kepalaku sakit sekali, dimana aku? Hah ishh tanganku sakit sekali" Ucap Yuri sambil berusaha melepaskan ikatan tali yang terikat kencang ditangan mungilnya. Yuri berteriak meminta tolong dan menangis, dia tau ini tidak akan berhasil tapi ia ingin saja.


"Tolong aku! Siapapun itu! Hiks aku ingin pulang!" Teriak Yuri.



"Diam lah, kamu aman disini" Ucap Armand yang sudah pengak mendengar teriakan Yuri.


Teriakan Yuri berhenti, mencari arah ke sumber suara yang bergema tadi. "Apa kau penjahat? Kenapa kau menculikku? Apa salahku? " Ucap Yuri dengan histeris.


"Kenapa mataku ditutup seperti ini hikksss, tolong jangan buat hidup ku tambah menderita hikkss" Lanjutnya.


Armand menghampiri Yuri dan mendekatkan wajahnya kehadapan wajah Yuri dan memiringkan sedikit kepalanya sembari menatap manis ke arah bibir Yuri.


"Diam, kalau kamu tidak diam, akan ku robek mulutmu!" Bisik Arman.

__ADS_1


Seketika Yuri langsung diam, menyisakan tangisan yang tak kunjung reda ia sangat ketakutan.


Armand menjauh dan kembali duduk disamping Yuri.


"Aku sudah tau tentangmu dan masalah yang kamu alami sekarang ini, kamu mungkin bertanya-tanya kenapa aku sampai menculikmu seperti ini. Jawaban yang tepatnya ialah aku tertarik denganmu" Ucap Armand.


"Hiks to-tolong jangan buat hidupku tambah berantakan" Ucap Yuri yang masih terisak.


"Kau ingin pekerjaan kan?" Tanya Armand.


"Kalau kamu menginginkannya cukup diam dan laksanakan perintah yang aku mau, akan ku gajih dengan bayaran yang kamu mau berapa pun itu. Mulai besok kamu akan bekerja untukku sekarang, hanya denganku. " Lanjutnya dengan nada yang dingin namun menekan.


Armand membuka kain yang masih menutupi mata cantik Yuri, ya! mata cantik itu perlahan terbuka, cahaya remang-remang itu perlahan menerangi mata Yuri. Terlihat sangat jelas laki-laki tampan yang sedang berdiri dihadapannya, napas Yuri tiba-tiba tidak beraturan. Tatapan laki-laki itu sangat tajam dan dingin, walaupun begitu tampan tapi menurutnya menakutkan.


"To-tolong bawa aku pulang, adikku pasti sedang sangat cemas menungguku" Pinta Yuri.


Armand tersenyum miring."Tenang saja, sudah ku atur semuanya, kamu tidur disini, persiapkan dirimu besok. Bajumu kerja mu ada dilemari" Ucap Armand kemudian dia keluar dari kamar tersebut.


Yuri mematung tidak mengerti, apa yang telah terjadi? Bagaimana mungkin ia dipertemukan dengan laki-laki tampan dan menyeramkan itu. Untuk apa dia menculiknya, apa jangan-jangan ia akan dijadikan pelacur atau ia akan dijual kepada sugar daddy-sugar daddy yang haus akan nafsu? Ah tidak. Yuri menggeleng-gelengkan kepalanya, ia harus kabur dari tempat ini sekarang.


Yuri langsung berjalan menuju pintu dan ingin membukanya, namun pintu itu susah sekali terbuka. "Ihh kenapa susah sekali? Hah apa ini dikunci? Astaga bagaimana ini?" Histeris Yuri.


"Astaga aku akan gila kalau hidup seperti ini hiksss" Lanjutnya sambil menendang pintu tersebut.


Mau tidak mau Yuri harus bermalam dikamar ini. Ah! Yuri baru ingat dengan handphonenya, dimana orang itu menaruh tasnya. Ia mencari-cari disekitar kamar tersebut, namun tidak ada apa-apa.


"Oh ya didalam lemari" Yuri langsung menghampiri lemari itu dan membukanya. "Haaa!"

__ADS_1


__ADS_2