
Crang!!!
Ciuman mereka seketika terlepas.
"Woah astaga!" Ucap Minso sembari ia menutup matanya dengan kedua tangan. "Omoo apa yang aku lihat barusan" Lanjutnya.
Mereka berdua seketika menjadi kikuk, Yuri beranjak dari tempatnya dan menghampiri Minso dan segera menjauh dari kamar, Armand yang terlihat biasa saja kembali merebahkan tubuhnya. "Aishh malu sekali" Batin Yuri.
"Minso! Ap- apa yang kamu li-lihat barusan?" Tanya Yuri dengan kikuk.
"Ohh aa apa? Aku? Lihat apa? Ahh tidak ada" Ucap Minso tak kalah kikuk. "Oh emm aku mencari botol keramik ta-tapi tidak menemukannya makanya aku kekamar Noona, aku hanya menemukan botol kaca, aku a-ku tidak melihat apa-apa" Lanjutnya.
Yuri yang sedari tadi tersipu malu langsung berjalan kearah dapur dan mencari botol yang dimaksud Minso. "Ini kah?"
"Ahh I-iyaa itu, ya sudah aku pergi dulu" Minso dengan cepat mengambil botol tersebut lalu pergi.
Napas Yuri tidak karuan, ia takut Minso akan menceritakan kejadian barusan kepada mama nya, tidak banyak pikir Yuri kemudian menyiapkan makanan untuk Armand.
Yuri membawa makanan tersebut kekamarnya dan tidak sengaja menginjak serpihan kaca yang membuat kakinya terluka, untungnya makanan yang ia bawa tidak terjatuh. "Awww"
Yuri lupa kalau Minso tadi menjatuhkan botol kaca tersebut, Armand yang kaget melihat itu langsung beranjak meskipun kepalanya masih terasa sakit, iamenghampiri Yuri dengan khawatir.
"Yuri" Armand mengambil piring itu dan menaruhnya kesembarang tempat dan mengangkat tubuh Yuri ke atas kasur. Armand melihat luka itu yang masih ada tersisa beling kaca tersebut, kemudian mencabutnya dengan perlahan. Darah terus mengalir dari luka itu, Armand yang sangat khawatir itu segera merobek kemejanya dan menutup luka Yuri.
"Awwww sakit"
"Dimana kamu menyimpan obat luka?" Tanya Armand.
"Dikamar mandi ishh"
Armand beranjak dan mengambilnya, sebelumnya ia membersihkan lantainya terlebih dulu agar tidak membahayakan yang lain.
__ADS_1
...----------------...
"Pakailah baju ini, maafkan anakku tuan telah membuatmu tadi khawatir " Yunna memberikan kemeja mendiang suaminya kepada Armand.
"Ah iya tidak apa-apa, harusnya aku yang meminta maaf sudah merepotkan kalian, terimakasih bibi." Ucap Armand dengan sopan.
Mereka kini sedang berada diruang makan, terlihat Yuri yang masih menahan sakit. Sementara Minso hanya terdiam dan tertunduk merasa sangat bersalah, Armand yang kini masih menggunakan kemejanya yang sudah robek kemudian meminta izin kepada Yunna untuk mengganti pakaian.
Setelah mengganti pakaian dan sudah rapi, Armand kembali duduk namun kepalanya kembali terasa berat.
"Ah ya diminum dulu teh ginseng ini, ini buatan bibinya Yuri. Semoga setelah minum itu rasa stress mu bisa hilang." Ucap Yunna.
Armand mengambil cangkir yang berisikan Ter tersebut dan meminumnya.
"Dan isi dulu perutmu sebelum kamu pergi, aku ingin kekamar dulu. Minso ayo ikut mama" Lanjut Yunna ibu Yuri.
"Hmm".
Yuri hanya terdiam dengan tatapan yang kosong sambil sesekali mengelus kakinya, ia masih teringat dengan kejadian beberapa menit yang lalu.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Armand.
Yuri tidak merespon pertanyaan dari Armand.
"Hei" Panggil Armand.
"Hei!!"
"Astaga! Ahh bikin Kaget saja." Kaget Yuri.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Armand kembali bertanya.
"Ah tidak ada" Yuri menatap Armand dan baru tersadar dengan kemeja yang Armand kenakan. "Ah ini kan kemeja ayahku, kenapa kamu memakainya?"
__ADS_1
"Ibumu yang memberikan kemeja ini padaku"
Yuri masih mematung .
"Memangnya kenapa? Tenang saja aku akan mengembalikan kemeja ini kepada ayahmu, lagi pula ini sedikit kekecilan."
"Tidak usah" Ucap Yuri.
Armand menaikkan sebelah alisnya sambil menyuap makanannya.
"Lagipula ayahku sudah meninggal" Yuri menundukkan wajahnya lalu mendongakkan kepalanya keatas untuk menahan air matanya agar tidak keluar, Armand hanya terdiam.
"Emm lebih baik aku pulang dulu, besok aku akan kesini lagi untuk menjemputmu" Armand beranjak dari tempat duduknya dan pergi begitu saja.
Yuri menatap kepergian Armand dengan kesal. "Baru juga ingin bercerita tentang ayahku, kenapa dia langsung pergi? Dasar menyebalkan" Batin Yuri.
"Mana tidak tahu berterimakasih, seenaknya pergi begitu saja ishh menyebalkan." Kesal Yuri.
"Kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak begini" Yuri memegang dadanya.
...----------------...
Sekarang Yuri sudah berada di kamarnya sambil memainkan handphone.
Ting!
Yuri mengernyitkan alisnya karena ada pesan dari nomer yang tidak dikenalnya masuk. "Ha siapa ini?'
Unknown send a message
Hallo mungkin kamu belum mengenalku tapi aku sudah tau denganmu, besok aku akan menjemputmu, berpakaianlah dengan cantik
Yuri tidak membalas pesan itu, menurutnya mungkin orang yang mengirim pesan tersebut salah kirim atau hanya sebatas iseng saja. Mana mungkin secara tiba-tiba ada seseorang yang mau menjemputnya besok dan menyuruhnya untuk berpakaian dengan cantik! Yang ia ingat dalam pikirannya hanyalah ajakan dari Armand, mungkinkah itu Armand? Tetapi mana mungkin Armand mengatakan hal yang seperti itu kalau hanya sebatas pergi bekerja saja.
__ADS_1
"Aaahhh kenapa terlalu dipikirkan sih, oh otak tolong bekerjasama lah jangan membuat aku menjadi banyak pikiran, Ahh lebih baik ku hapus saja pesan ini"