
"Hannn!" Armand berteriak memanggil Han sembari memasuki ruangan Han yang sedari tadi begitu tenang.
Nampak sangat jelas Han berada di ruangan itu, Armand langsung menarik kerah kemeja Han dengan kasar dan langsung membogem pipi Han dengan keras
Bugh!
"Dimana Yuri?"
"Astaga apa yang kamu lakukan Ar!? Lepaskan dulu" Han dengan kasar melepaskan cengkraman tangan Armand dari kemejanya.
"Arggh" Armand melepaskannya kemudian terduduk, ia berusaha mengatur napasnya.
"Tolonglah tenanglah sedikit" Ucap Han yang berusaha menenangkan sahabatnya itu meskipun ia juga harus meredam emosinya juga, bisa-bisanya ia langsung dibogem mentah oleh Armand, padahal ia tidak tahu menahu. Ingin sekali ia menghabisi anak ini.
"Dimana Yuri?"
Han mengusap wajahnya dengan kasar seraya memegang bibirnya yang sedikit berdarah akibat ulah Armand.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, kenapa kau tidak bersama dengannya?" Han kembali bertanya.
"Kamu yang menjemput Yuri kan?"
"Hah mana aku tahu, kau saja tidak memberitahuku harus menjemputnya, gila!" Ucap Han dengan nada kesal.
Armand menyandarkan tubuhnya dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Arrrgghhhhh! Aiden bajingan!"
Han duduk, dan memperhatikan Armand. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kalau kau kesana aku khawatir traumamu akan kembali."
Armand hanya terdiam "Mana obatku?". Han menaikkan alisnya, ia sudah tahu apa yang akan Armand lakukan. "Tidak, itu akan---"
"Sekarang!" Tekan Armand.
Satu-satunya cara untuk membuatnya agar tetap tenang adalah meminum obat, Armand sudah jengah melihat obat-obatan itu. Makanya ia menyuruh Han untuk menyimpan dan memberikan jadwalnya untuk meminum obat tersebut, Armand sangat tidak menyukainya.
"Aku harus kesana menjemput Yuri lalu kembali secepat mungkin." Lanjutnya.
__ADS_1
Han membuang napasnya dan kemudian beranjak dari duduknya, ia mengambil beberapa obat dan memberikannya kepada Armand sesuai dengan resep yang diberikan dari dokter pribadinya.
"Minum ini dulu sekaligus, lalu bawa satu obat ini, kuharap obat ini akan membantumu"
Armand meminum beberapa obat itu terlebih dahulu kemudian ia mengantungi satu obat lagi untuk berjaga-jaga. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun ia kemudian beranjak pergi, Han yang melihat itu hanya menahan emosinya dan tidak berhenti bergumam.
"Hufftt Astaga, sabar Han. Ishh aww, semoga orang gila itu cepat sembuh. Bisa-bisanya aku mendapat kekerasan seperti ahh dasar manusia. Kalau kau tidak sakit seperti ini, sudah lama ku copot kepalanya, ahhh astaga dasar orang gila" Cerocos Han sambil memegang tepi bibirnya yang terluka.
...****************...
"Namaku Aiden" Ucap Aiden yang tengah fokus menyetir.
"Ganti lah pakaianmu segera dan pakailah dress ini, dress itu lebih cocok dikenakan olehmu" Laki-laki itu memberikan kotak cantik dengan pita besar ditengahnya yang didalamnya berisikan dress berwarna burgundy.
Yuri yang nampak sangat kebingungan membuka isi kotak itu.
Wahh memang benar ini sangat cantik, Yuri terpesona melihat dress itu.
Laki-laki itu menoleh kebelakang. "Aku kakak Armand" ujarnya kemudian menoleh lagi kedepan.
Mata Yuri seketika terbuka lebar, apa? Armand ternyata memiliki seorang kakak!
"Kita sekarang akan pergi ke fashion show ku, dengan cara ini adikku mau pergi ke fashion show ku" Lanjutnya lagi.
"Ba-bagaimana bisa? Ma-maaf tuan sebelumnya mungkin perkataan ku kali ini tidak sopan. Aku dan pak Armand tidak mempunyai hubungan apa-apa, jadi ak-aku hanya sebatas karyawan biasa yang bek--"
"Kau adalah kekasihnya, aku tahu itu." Potong Aiden.
"Persetan dengan alasannya mempekerjakan mu diperusahaannya, padahal dia tertarik padamu." lanjutnya lagi.
Yuri hanya terdiam seraya mencerna baik-baik perkataan dari laki-laki itu.
"Sudah diciumnya berapakali? Ckk! Dia memang seperti itu orangnya, mungkin kau perempuan kesepuluh yang dia jadikan karyawan hanya untuk memenuhi hasratnya" Perkataan Aiden itu lantas membuat hati Yuri begitu sakit hati, dipikir-pikir apa yang dikatakan kakak Armand itu ada benarnya juga.
__ADS_1
Mobil itupun berhenti tepat disebuah gedung besar nan megah.
Aiden membuka pintu mobil tersebut bersama dengan Yuri.
"Cepatlah ganti pakaianmu, nanti kusuruh seseorang untuk merias wajah cantikmu itu. Ahh itu dia, Hana tolong ini."
Wanita itu menghampiri mereka berdua.
"Baik tuan"
...****************...
"Arghhhh sialan, bisa-bisanya bajingan itu terus saja mengusik kehidupanku"
Napasnya begitu memburu menahan emosi, sangat jelas Armand begitu membenci Aiden.
Srett!
Armand mengerem mobilnya secara mendadak dan langsung membuka pintu mobilnya dengan amarahnya yang membludak.
Disisi lain Yuri yang sudah cantik mengenakan dres tersebut masih terdiam memikirkan perkataan yang Aiden ucapkan tadi. Apakah memang benar seperti itu? Kalaupun itu benar rasanya jahat sekali, hidup Yuri yang tadinya semakin membaik karena mendapat pekerjaan seketika menjadi runyam. Berarti selama ini ia hanya dijadikan pemuas nafsu bos nya sendiri, mata Yuri sudah tidak tahan menahan air matanya.
''Hikss jahat sekali, untung saja ada kakaknya yang memberitahuki niat jahat dari laki-laki sialan itu hikss aku harus berhenti bekerja untuknya dan segera menjauh darinya"
Entah apa yang dipikirkan Yuri, ia dengan gampangya percaya saja dengan ucapan orang yang baru ia kenal beberapa jam yang lalu, sungguh diluar dugaan.
Aiden yang sudah siap lalu mengajak Yuri duduk dikursi yang sudah disiapkan untuk melihatnya fashion show nanti.
"Kuharap kau menikmatinya, duduklah disana dan tersenyumlah saat aku tampil nanti" Ucap Aiden yang begitu manis.
Yuri hanya terdiam dan tersenyum, matanya begitu kosong karena memikirkan hal tadi.
"Sudahlah usaplah air matamu itu, aku tidak mau gadis cantik sepertimu menangisinya, akan aku kasih dia pelajaran."
Yuri tidak terlalu menggubris perkataan dari Aiden, ia memilih untuk diam dan duduk sambil menikmati fashion show kali ini.
__ADS_1