CINTA ARMAND

CINTA ARMAND
Bab 15 [FASHION SHOW 2]


__ADS_3

Acara sebentar lagi akan dimulai, Aiden tengah bersiap-siap diruangan pribadinya. Senyum di bibirnya tak henti terukir, ia sangat bahagia hari ini dan bisa-bisanya ia terus saja memikirkan gadis itu.


"Oke, sudah siap sekarang. Kau tampak sangat berkharisma Aiden. Ahh! Aku sudah tidak sabar bertemu dengannya, sebentar lagi dia akan datang ck!" Ucap Aiden kepada dirinya sendiri sembari tersenyum miring.


Brak!!


Bughhh!!


Secara tiba-tiba seseorang mendobrak pintu dan langsung meninju rahang Aiden dengan cukup keras, sampai-sampai Aiden tersungkur dilantai. Aiden hanya tertawa. "Ckk hehh haha, ternyata kau datang juga"


Armand menarik kerah baju Aiden dengan kasar "Shh dimana Yuri?! Dimana gadis itu! Cepat katakan!!"


"Woww ayolah santai lah jangan terburu-buru, aku juga tidak melakukan apa-apa kepada pacarmu haha."


Bughh!


Satu bogeman mentah langsung mendarat ke rahangnya kembali, Armand sudah sangat murka sekarang.


"Dimana dia?!"


Aiden yang sedikit oleng dengan pukulan yang diberikan oleh adiknya itu menatapnya.


"Hanya satu saja yang ku minta darimu Armand, aku ingin kau datang ke fashion show ku dan duduk dengan tenang, hanya itu saja apakah sulit? Aku tidak meminta apapun lagi padamu apalagi harta ataupun warisan, itu semua kuberikan kepadamu dan aku tidak meminta sepeserpun darimu. Aku hanya ingin kau hadir, dan persetan semua masa lalu yang kita alami waktu itu."


Bugh!


"Persetan katamu heh! Aku cuma bertanya dimana gadisku sekarang! Dan aku sudah tidak peduli dengan itu!" Bentak Armand.


"Jangan berlagak kau juga menjadi korban waktu itu, cepat katakan dimana Yuri?!" Emosi Armand sudah tidak terbendung, matanya memerah, cengkramannya menguat, dan giginya menggertak menahan amarah.


Namun secara tidak langsung dadanya tiba-tiba menjadi sesak dan sulit untuk bernapas. Oh tidak! Jangan lagi. Jangan sampai penyakitnya kambuh kembali, Armand melepaskan cengkramannya dengan kasar dan pergi menjauh seraya mengambil obat disaku celananya, dengan cepat ia membuka bungkusan obat itu lalu menelannya tanpa minum, seperti membuka bungkusan permen lalu memakannya dengan cepat.

__ADS_1


Aiden hanya menatap kepergian Armand dengan diam, tatapan Aiden sulit untuk diartikan.


"Ahh yaa! Tentu saja, gadis itu harus aku dapatkan." Gumam Aiden dengan senyum miringnya, tersirat dari matanya kalau ia akan melakukan suatu rencana yang susah sekali untuk ditebak.


"Ahh astaga kenapa denganmu?" Hana asisten Aiden nampak sangat terkejut melihat tuannya yang babak belur.


"Bagaimana ini 3 menit lagi akan dimulai" ujarnya lagi.


"Tidak apa-apa biarkan aku seperti ini, anggap saja fashion." Aiden langsung bergegas pergi dan meninggalkan asistennya itu.


...****************...


Sesak didada Armand masih sangat terasa, namun ia tahan dan masih sibuk mencari keberadaan Yuri, ia sangat khawatir.


Armand berjalan kearah depan dan ya! Ia menemukan Yuri yang duduk didepan sana, tanpa ba bi bu Armand langsung menghampirinya dan menarik tangan Yuri dengan kasar.


Armand terus saja menariknya menjauh dari acara itu. "Ada apa ini? Lepaskan!"


Armand tidak menggubris ucapan Yuri dan terus saja menariknya kemudian mereka masuk kedalam mobil.


Sekarang mereka sudah berada didalam mobil, sejenak suasana hening terjadi. Armand mengatur napasnya agar tidak sesak, ia mengambil botol yang berisikan air putih dan meminumnya.


Yuri yang masih kebingungan tentang apa yang terjadi padanya hari ini hanya terdiam khawatir melihat Armand, sepertinya hari ini adalah hari sial baginya. Ia baru memikirkan sekarang, bisa-bisanya ia mau dibawa oleh Aiden dan patuh melakukan apa yang laki-laki itu mau. Dengan mengganti pakaiannya dan duduk disana melihat fashion show laki-laki yang baru dikenalnya.


Secara tiba-tiba Armand menjambak rambut Yuri dengan kasar yang membuat Yuri kaget dan menangis.


"Bisa-bisanya kau mau mengikuti laki-laki bajingan itu!" bentak Armand.


"A.. A Lepaskan hiks"


"Kau seharusnya bekerja untukku! Bukan untuknya!" Emosi Armand yang belum mereda secara tidak sengaja membenturkan kepala Yuri ke dashboard mobilnya sampai-sampai Yuri menjadi pingsan dibuatnya.

__ADS_1


Armand langsung terdiam mematung karena ulahnya, ia langsung menarik Yuri kedekapannya dan berusaha menyadarkan gadis itu.


"Sayang bangun maafkan aku tidak sengaja hiks" Armand menangis karena ulahnya itu, ia terus menepuk-nepuk pelan pipi Yuri namun tidak ada hasilnya. Ia langsung bergegas kerumah sakit untuk membawa Yuri yang pingsan itu.


Sesampainya dirumah sakit dan menunggu beberapa jam disana Yuri sudah tersadar namun dia tidak ingin berbicara kepada Armand, karena ulahnya tadi yang membuat Yuri hampir kehilangan nyawanya.


Ditempat lain disebuah ruang pribadi dokter, Armand sedang berada ditempat itu sambil duduk mendengar penjelasan dari dokter itu, dia adalah teman semasa sekolahnya. Untung saja Armand mempunyai teman seorang dokter yang cantik dan baik hati, namanya Valleri.


"Dia syok dan kau membenturkan kepalanya ke dashboard dan dia tambah syok Armand, bisa-bisanya kau melakukan kekerasan terhadap wanita"


Armand menarik napasnya dan mengeluarkannya dengan lelah. "Sudah kukatakan aku tidak sengaja, lagipula salahnya sendiri membuatku seperti tadi." Ucap Armand membela diri.


"Baru kali ini aku melihat kamu menangis" Ejek Valleri.


"Dia calon istriku"


"Kalau dia itu calon istrimu jangan berbuat seperti tadi, jangan sok-sok an menjadi malaikat pencabut nyawa." Ucap Valleri dengan nada kesal.


"Untung saja kepalanya baik-baik saja" ujarnya lagi.


"Perlukah dia dirawat?" Tanya Armand.


"Tidak, cukup istirahat saja dirumah. Jangan buat dia ketakutan karena ulahmu." Pesan Valleri.


...**************...


Mereka kini sudah berada dirumah Armand tepatnya dikamarnya, dan gadis itu masih diam seribu bahasa.


"Kamu istirahat lah, aku akan kekantor sebentar dan akan kembali secepat mungkin. Besok kamu harus masuk." Yuri sama sekali tidak merespon apa yang Armand katakan.


Cup!

__ADS_1


Kecupan ringan mendarat halus dikening Yuri.


"Aku pergi"


__ADS_2