CINTA ARMAND

CINTA ARMAND
Bab 2 [RENCANA ARMAND]


__ADS_3

Arman terus menatap perempuan mungil yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.


"Aku ingin dia, dia menarik, akan ku jadikan dia sebagai pendampingku" ucap Armand tiba-tiba


"Hah apa? Coba diulang lagi? pendamping?" Tanya Han sambil menaikkan sebelah alisnya.


Tatapan mata Armand teralihkan ke Han " Maksudku karyawan" ucapnya dingin.


Brakk...


Tranggg!!!!


Mata Armand dan Han teralihkan dengan suara cangkir kopi yang terjatuh itu.


"Astaga" Kaget Han.


"Kenapa dia? Astaga itu minuman yang kita pesan Ar, terjatuh" Lanjut Han dengan tampang yang masih kaget.


"Ahkkk !!" Kaget Yuri


"Awww ishhhhh"


"Astaga maafkan saya, saya tidak sengaja" ucap pelayan itu dengan rasa bersalah sekaligus khawatir. pelayan itu langsung membantunya dengan melap kemeja Yuri dari bekas tumpahan minuman tersebut.


"Astaga kulitmu memerah akibat kopi ini, tunggu biarkan aku ambil obat" Lanjut pelayan tersebut.


"Tidak, ti-tidak usah" Potong Yuri.


"Dasar bodoh" Gumam Armand yang terus memperhatikan.


Pelayan itu hanya menatap khawatir kearah Yuri.


"Apa, tidak. Ini harus diobati" Keukeuh pelayan tersebut.


Yuri segera bangkit dan meninggalkan pelayan tersebut. Ia keluar dari Caffe tersebut sambil mengelap tumpahan kopi itu dikemejanya.


Tanpa Yuri sadari sedari tadi, ada sesosok mata elang itu yang terus memperhatikannya, dia Armand.


"Han" Panggil Armand.


"Apa?" Ucap Han.

__ADS_1


"Bantu aku untuk mencari informasi tentang gadis mungil itu"


"Mungil yang mana? Mungil yang itu" Ucap Han sambil menunjuk anjing peliharaan seseorang pengunjung Caffe itu.


Armand menepuk dahinya frustasi.


"Tidak, bodoh" Kesal Armand. " perempuan itu" Tekan Armand


"Ya, aku sudah memfotonya. Sudah kuduga kau akan tertarik dengannya" Ucap Han


Han memang sangat tau dengan Armand.


...----------------...


Yuri berjalan dengan santai menyusuri lorong rumah sakit. Dengan kantong kresek yang dibawanya, ia harus menutupi kesedihannya dan berpura-pura sudah diterima kerja.


Sesampai didepan pintu, ia berhenti sejenak. Menarik napasnya dan membuang napasnya dengan tenang.


"Tersenyum lah Yuri jangan perlihatkan wajah sedih mu" Gumam Yuri.


Klak!


"Minso" Panggil Yuri.


Yuri lalu mengalihkan pandangannya, nampak sekali dikasur itu, Yuna mamanya yang tertidur juga. Sambil memeluk baju mendiang ayah Yuri yang sudah meninggal.


Terlihat sekali mama Yuri sangat mencintai Jung soek ayah Yuri dan Minso.


Trauma Yuna menyebabkan kesehatan mentalnya hancur, kejadian itu tidak akan pernah hilang dari ingatan Yuna. Sudah 3 minggu mereka berada dirumah sakit, karena sebelum kejadian 3 minggu lalu trauma mamanya kembali menyerangnya dan itu sangat mengkhawatirkan sampai-sampai dia ingin menyakiti dirinya sendiri.


Untungya sesudah 3 minggu perawatan dirumah sakit kesehatan mental Yuna mulai membaik, namun yang membingungkan bagi Yuri ialah bagaimana caranya untuk membayar biaya perawatan mamanya.


"Noona, kau sudah disini? Apa sudah lama?" Minso terbangun dari tidurnya sambil mengucek-ngucek mata sipitnya itu.


"Baru saja" ucap Yuri. "ini kubawakan makanan untukmu dan yang ini untuk mama" Lanjutnya.


"Untukmu?" tanya Minso.


"Ahh aku sudah makan diluar, sekarang kamu makan. Simpan ini dulu untuk mama" kata Yuri.


Minso sepertinya tidak terlalu percaya dengan ucapan Yuri bahwa dia sudah makan, Minso mengambil dua buah mangkok dan membaginya menjadi dua. Lalu ia menyodorkan mangkuk satunya untuk Noona nya itu.

__ADS_1


"ini untukmu, aku tau kau belum makan jadi makanlah"


Mata Yuri memanas, ingin sekali ia menangis. "ahh darimana kamu tau aku belum makan, aku sudah makan jadi makanlah ini habiskan, kamu pasti lapar menungguku kan? Jadi makanlah" ucap Yuri menyakinkan.


"Sudahlah Noona makanlah ini juga, kalau aku makan semuanya ini, pasti tidak akan habis"


"Minso" Tekan Yuri


Minso tidak menggubris panggilan Noona nya itu, ia terus memakan makanan yang tadi dibawakan Noona nya. Seketika ia mulai tersadar dengan baju Yuri yang kotor.


"Noona kemejamu kenapa kotor seperti itu? Apa yang terjadi? Apa interview mu lancar?" Tanya Minso khawatir.


"Emm tadi Noona minum kopi setelah selesai interview dan-- handphone ku berbunyi, setelah ku angkat itu dari perusahaan yang Noona lamar tadi dan--- Noona diterima dan besok sudah mulai bekerja" Alasan Yuri.


"Terus noda dari kemejamu darimana?" Tanya Minso.


"Noona kaget dan tidak sengaja menumpahkan kopi dikemeja Noona hehe" Lanjut Yuri.


Minso hanya menggangguk percaya dan senang mendengar Noona nya itu sudah diterima bekerja. "Lain kali Noona harus hati-hati ya, aku tidak mau Noona ku terluka"


Yuri tersenyum dan mengangguk " iya".


...----------------...


Saat ini Armand sudah berada di ruangannya, ia merebahkan tubuh nya ke atas sofa, ia membuka kancing kemejanya sampai habis. Memperlihatkan dada bidang dan perut six-pack yang begitu menggoda kaum wanita.


Ia menarik napasnya dengan berat lalu mengeluarkan dengan kasar.


"Kenapa dengan diriku? Aku terus memikirkan gadis mungil itu, dimana dia sekarang?" Gumam Armand.


"Arggh ahhh aku harus memilikinya. Hah ada apa denganku?" Armand menarik rambutnya dengan frustasi, ia heran dengan dirinya sendiri.


Kenapa ia begitu terobsesi untuk memiliki gadis tersebut.


Armand langsung bangkit dan mengeluarkan handphone nya, lalu menelpon seseorang.


"Han apa kamu sudah mendapatkannya?"


''''''''''


"Ha apa sudah" Mata Armand langsung berbinar.

__ADS_1


''''''''''


"Besok kita culik dia" Seringai Armand.


__ADS_2