CINTA ARMAND

CINTA ARMAND
Bab 6 [CINTA PANAS]


__ADS_3

"Jadi mulai sekarang, ini tempatmu eh tempat kita hehe, disini kita bisa beristirahat sejenak sembari menunggu suruhan" Sanna memberikan semacam alat pendengar untuk Yuri. "Pakai ini, nanti seseorang akan memanggilmu untuk membereskan sesuatu atau membuatkan minuman yang mereka inginkan. Dan kamu disuruh untuk membantu dibagian mana? Apakah sudah dikasih tahu sama pak Han?" Tanya Sanna.


Yuri menyerngitkan sebelah alisnya. "Pak Han itu siapa?". Ia bertanya balik.


"Loh, kamu tidak tahu sama pak Han? Lalu dengan siapa kamu bisa bekerja disini?" Sanna berbalik bertanya.


"Sama pak Armand". Jawab Yuri dengan polosnya.


Sanna tersentak kaget. "Haa sa-sama pak Armand?".


"Iya memangnya kenapa? Apa ada yang salah?"Tanya Yuri sembari memegang tangan Sanna dengan khawatir.


"Emm biasanya untuk penerimaan karyawan, itu sama pak Han dan pak Han yang mengurus semuanya. Aku jarang sekali melihat pak Armand, dia selalu berada didalam ruang kerjanya." Ucap Sanna.


"Oh ya, malah aku tidak tahu siapa pak Han hehe. Memangnya kenapa dengan pak Armand?. " Yuri kembali bertanya.


"Pak Armand itu pemilik perusahaan ini, sikapnya begitu dingin. Dia tidak terlalu suka berbaur sama karyawannya sendiri, makanya kebanyakan orang yang bekerja disini lebih mengenal pak Han dibanding pak Armand, karena pak Armand itu orangnya sangat tertutup. Pak Armand juga sempat disangka tidak suka dengan perempuan, karena memang jarang sekali dia jalan dengan perempuan, sempat terdengar rumor kalau pak Han dan pak Armand menjalin hubungan yang spesial, tapi aku yakin pak Armand itu laki-laki normal yang masih menyukai perempuan, yaa aku yakin itu". Sanna menjelaskan sosok Armand dengan begitu rinci seraya sesekali berbisik.


Bagaimana bisa Sanna mengetahui Armand sampai segitunya.


"Oh ya bagaimana kamu bisa diterima kerja oleh pak Armand "Tanya Sanna dengan penasaran.

__ADS_1


"Ohh emm ak--" Ucapan Yuri seketika terhenti karena adanya panggilan dari seseorang dari alat pendengarnya.


"Yuri, keruanganku sekarang!" Alat pendengar itu berbunyi, seseorang itu memanggil Yuri. Ia tahu ini adalah Armand.


Yuri meneguk salivanya dengan perlahan, ia sangat takut.


"Ada yang memanggil namaku, aku harus bekerja dulu."Ucap Yuri dengan kaku, kemudian beranjak untuk pergi.


...----------------...


Tok! Tok! Tok!


Yuri membuka pintu dengan sangat hati-hati. Ia mengintip terlebih dahulu, kemudian ia melihat kondisi ruangan yang beberapa menit lalu masih rapi seketika menjadi sangat berantakan. Mata Yuri terbuka lebar tidak percaya, bagaimana bisa seberantakan ini, ia lalu melihat kearah Armand yang sudah terbaring diatas sofa dengan tangan yang terluka.


Ia langsung menghampiri Armand dengan perasaan yang sangat khawatir. "Astaga, kenapa dengan dirimu?".


Ia dengan cepat mencari kotak P3K, Yuri sempat kewalahan mencari kotak tersebut namun akhirnya ia berhasil menemukannya. Yuri mengangkat tangan Armand keatas pahanya dengan hati-hati lalu membersihkan luka itu. Yuri dengan telaten membersihkan sisa serpihan kaca yang masih menempel ditangan Armand.


Setelah selesai mengobati luka itu, Yuri memegang dahi Armand dengan telapak tangannya. "Hah suhu tubuhnya sangat hangat" Ucap Yuri sembari beranjak mengambil handuk kecil yang sudah ia basahi kemudian meletakkannya kedahi Armand.


Namun tiba-tiba saat Yuri ingin meletakkan handuk kecil itu, tangannya langsung disergap oleh Armand lalu seketika menarik tangan Yuri untuk mendekat, secara tak langsung tubuh Yuri pun ikut mendekat dan menimpa tubuh Armand, mata mereka saling bertemu.

__ADS_1


Armand menatap Yuri dengan sayu, nampak sekali rahang tegas Armand terlihat begitu indah. Yuri meneguk salivanya dengan susah payah, ada sesuatu yang secara tiba-tiba menggerayangi tubuhnya.


Seketika Armand langsung memeluk tubuh Yuri dengan erat, Armand menyembunyikan wajahnya ke leher jenjang Yuri dengan lembut. "Tolong diam sejenak jangan melawan, aku ingin menenangkan diri". Armand berbisik, terdengar jelas suara napas Armand yang begitu berat.


Yuri hanya mematung tak berani bergerak, jantungnya masih berdegup dengan kencang. Terasa sekali bibir Armand mengecup hangat leher Yuri dengan lembut, pelukan Armand semakin erat, nampaknya laki-laki itu sangat nyaman.


Armand kemudian tertidur, Yuri berusaha mencoba melepaskan pelukan itu. Seketika Yuri tak sengaja batuk, alhasil suara batuk tersebut membuat Armand terbangun dari tidurnya.


Armand mengigit kecil leher Yuri dengan gemas, yang secara tak langsung Yuri mengeluarkan suara yang sedari tadi tidak ingin Yuri keluarkan.


"Aakhh!" Yuri tak sengaja terdesah, suaranya membuat mereka seketika mematung.


Mata Armand seketika terbuka, sesuatu dengan cepat menggerayangi tubuhnya. Armand menatap manis ke arah Yuri." Aku ingin kamu" Ucap Armand dengan suara seraknya, kemudian mengecup sekilas bibir Yuri.


Yuri yang mendapat perlakuan itu dengan cepat mendorong dada bidang Armand dan beranjak untuk bangun, namun tangan Armand menahannya.


"Heh lepaskan aku, lepaskan! Aaa aku tidak mauu" Rengek Yuri yang minta ingin dilepaskan.


Armand tersenyum melihat tingkah Yuri yang menurutnya sangat menggemaskan. Bisa-bisanya ia tersenyum manis, hanya karena melihat Yuri yang merengek meminta untuk dilepaskan.


"Aaakkhhh sayang!" Teriak gemas Armand yang terlihat seketika sangat bahagia mendengar rengekan Yuri tersebut, bisa-bisanya perempuan mungil ini membuatnya kembali tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2