
Yuri sudah siap dengan seragam kerjanya sembari mengambil tasnya dan hendak bergegas untuk pergi, namun baru beberapa langkah kakinya melangkah Yunna ibu Yuri memanggilnya dan menghampirinya "Yuri!"
Yuri hanya berdehem lalu berkata "Kenapa ma?"
"Kakimu masih belum sembuh tolonglah jangan bekerja dulu hari ini." Pinta ibunya.
"Ah tidak ma, aku tidak enak dengan pak Armand. Luka ini akan sembuh dengan sendirinya, mama tidak perlu khawatir" Ucap Yuri sambil melihat kakinya yang nampak sekali masih menggunakan perban karena Yuri hanya menggunakan sandal.
"Ya baik lah hati-hati" Ucap ibunya dengan pasrah.
Yuri mengangguk dan berpamitan, lalu ia berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Astaga naga!" Yuri berteriak kaget ketika mendapati seorang lelaki asing kini tengah berdiri dihadapannya, dengan menampakkan senyuman manis serta penampilannya bak seorang pangeran, sungguh tampan. Lamunan Yuri seketika tersadarkan oleh ibunya.
"Ada apa!?" Ucap Yunna dengan nada khawatir seraya menghampiri anaknya. "kamu terluka lagi?' Lanjutnya.
Yuri hanya terdiam dan menunjuk kearah lelaki itu, dan ibunya pun mengikuti arahan telunjuk Yuri dan agak sedikit tersentak.
"Ohh emm anda sedang mencari siapa tuan?" Tanya Yunna ibu Yuri.
"Kapan lelaki ini berdiri didepan pintu rumahku? Siapa dia.?" Batin Yuri.
Lelaki itu masih tersenyum manis dan menundukkan sedikit tekuknya tanda ia memberi hormat. "Selamat pagi, aku ingin menjemput Yuri" Ucap lelaki itu sembari memandang Yuri yang masih agak kebingungan.
"Ohh apakah kamu suruhan dari pak Armand?" Tebak Ibu Yuri.
"Ah ya benar sekali" Jawab lelaki itu dan tak lepas dengan senyum di bibirnya.
Astaga benar Yuri baru ingat sekarang, semalam Armand mengajaknya untuk pergi bersama kekantor. Dan pasti ini adalah suruhan Armand, mungkin Armand sedang sangat sibuk jadi dia menyuruh lelaki ini untuk menjemputnya, pikir Yuri.
Yuri menghembuskan napas leganya. "Aku baru ingat kalau pak Armand akan menjemputku, pak Armand pasti menyuruhnya untuk menjemputku" Ucap Yuri kepada ibunya.
__ADS_1
"Oh ya? Oh baguslah, ayo cepat nanti kamu akan terlambat. Hati-hati dengan lukamu ya, mama sangat mengkhawatirkanmu" Ucap Yunna sambil memeluk anaknya itu.
"Iya mamaku sayang, dah aku pergi dulu" Pamit Yuri.
"Ayo" Ucap lelaki itu.
****************
Ditempat lain, Armand sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia sudah tidak sabar ingin bertemu Yuri. Ia melihat kearah jam tangannya. "Ah sedikit terlambat"
Matanya kembali fokus kearah jalan, untung saja jalanan kearah rumah gadis itu cukup sepi jadi ia bisa dengan leluasa melajukan mobilnya dengan cepat.
Ngoshhh!
Mata tajamnya tak sengaja melihat sekilas kearah mobil silver yang melaju itu, namun ia tidak terlalu peduli dengan itu, matanya kembali fokus kejalanan.
Sesampainya dirumah Yuri, Armand membuka pintu mobilnya dan menutupnya, ia berdiam sejenak mengambil napas dan menghembuskannya, bisa-bisanya ia menjadi gugup seperti ini.
Armand mengetuk pintu.
Clek!
"Ya, oh tuan kenapa anda kemari?" Tanya ibu Yuri.
Armand menaikkan sebelah alisnya."Aku ingin menjemput anakmu bibi." Ucap Armand dengan senyumannya. "Untuk berangkat bersama" Lanjutnya.
Yunna agak kebingungan. "Bukankah kamu sudah menyuruh bawahanmu untuk menjemput anakku?" Yunna kembali bertanya.
Armand seketika terdiam mematung, rasanya ia tidak ada menyuruh ataupun memberitahu Han untuk menjemput gadis itu, karena hanya Han orang satu-satunya yang dipercaya oleh Armand.
"Apakah bibi tahu yang menjemput Yuri itu orangnya seperti apa?" Tanya Armand. "Apakah Han?" Lanjutnya lagi dengan mimik wajah yang khawatir.
__ADS_1
"Ohh, tingginya kurasa sama sepertimu, dan aku tidak terlalu ingat bagaimana wajahnya yang jelas dia tampan sepertimu" Ucap Yunna sembari mengingat penampilan lelaki itu. "Emm sepertinya iya" Jujur saja Yunna tidak tahu dengan rupa Han yang seperti apa, karena waktu itu hanya Minso saja yang pernah bertemu dan Minso mengatakan Han itu sangat tampan, mungkin menurut Yunna Han adalah orang yang menjemput anaknya tadi.
Armand tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya sekarang, ia segera pamit dan pergi.
Armand melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia kemudian merogoh handphone dan menelpon seseorang.
"Arggh kenapa tidak diangkat sialan"
Armand menelpon Han beberapa kali namun yang ia dapatkan hanya panggilan tak terjawab, ia melempar handphonenya kesembarang tempat dan menarik frustasi rambutnya karena ia begitu khawatir.
"Aku harap bukan Aiden yang menjemputnya" Ucap Armand yang sedari tadi menahan emosinya, ia berusaha untuk tetap berfikir secara positif semoga saja memang benar Han yang membawa Yuri.
Armand memutuskan untuk kekantor dulu berharap akan bertemu dengan Han dan Yuri. Diperjalanan Armand kembali mengingat mobil berwarna silver itu, apakah salah mencurigai mobil itu, pikir Armand.
...****************...
Disisi lain, laki-laki itu terus saja melajukan mobilnya dengan cepat tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Yuri yang merasa suasananya sudah mulai sedikit canggung berusaha mencairkan suasana dengan berbasa-basi.
"Emm aku ingin tahu namamu siapa?" Tanya Yuri yang duduk dibelakang laki-laki itu.
Laki-laki itu tampak tidak menggubris pertanyaan dari Yuri, dia hanya diam dan masih fokus menyetir. Yuri hanya memutar bola matanya dengan kesal bisa-bisanya pertanyaannya tidak digubris, apakah pertanyaannya kurang sopan?
Mata Yuri sekilas melihat mobil yang melaju berpapasan dengan mobil yang ia tumpangi. Seperti tidak asing baginya, seperti mobil Armand, tapi dipikir-pikir menurutnya mobil seperti itu ada banyak diluaran sana, tidak mungkin hanya Armand saja yang mempunyai mobil itu, tapi kenapa matanya langsung tertuju kepada mobil itu. Ah tanpa banyak pikir Yuri berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya dan tidak terlalu peduli.
Yuri yang sadar jalan yang mereka lalui bukan jalan menuju kantor, ia pun kemudian kembali bertanya. "Apakah ini jalannya? Sepertinya kamu salah belok, seharusnya kearah sana" Ucap Yuri menunjukkan jalan yang mereka lalui tadi.
"Tidak, ini memang jalan yang benar biar kita cepat sampai dan kamu tidak akan terlambat" Jawab laki-laki itu.
"Ohh seperti itu, ada benarnya juga" Yuri hanya mengangguk-angguk dan kemudian kembali terdiam.
"Namaku Aiden"
__ADS_1
...****************...