CINTA ARMAND

CINTA ARMAND
Bab 4 [HARI PERTAMA YURI]


__ADS_3

Yuri berlari kecil mengimbangi langkah kaki Armand untuk pergi kekantor, kini keduanya sudah sampai didepan mobil bersiap untuk masuk dan berangkat. Namun tiba-tiba Armand menghadap kearah Yuri, "Kamu berangkat sendiri, ini handphonemu disitu sudah ada alamat kantorku".


Yuri mematung dan melihat kearah handphone nya, "Bagaimana bisa kamu membuka handphone ku, ini kan ada sandinya".


" Heh Untuk apa aku membuka handphone bututmu itu, aku saja tidak tau sandinya apa" Ledek Armand. "Dihandphone kan ada google maps, cari saja alamatnya disitu, handphonemu punya aplikasi itu kan?. Tulis saja Aldrich Central Company's" Lanjutnya sembari membuka pintu mobil dan ingin masuk.


"Eh tu-tunggu" Sergap Yuri.


"Apalagi?"


"A-aku tidak punya uang untuk naik bis" Ucap Yuri dengan malu.


"Aku tidak peduli, cari caralah untuk bisa sampai disana tepat waktu. Kau ingat apa yang kukatakan semalam?" Tanya Armand.


Yuri menggeleng "Ma-maaf semalam kamu mengatakan apa?".


Armand menghembuskan napasnya dengan kasar. "Astaga harini aku terlalu banyak bicara " Kesal Armand. Untung saja ia sudah tertarik dengan perempuan ini, kalau tidak, sudah ia habisi perempuan kecil ini.


"Kamu sangat menginginkan pekerjaankan? Kalau kau sangat menginginkannya cukup laksanakan saja perintah yang aku mau" Armand langsung masuk dan menutup pintu mobil dengan kasar, dan melajukan mobilnya dengan cepat, bisa-bisanya sepagi ini ia sudah emosi.


Yuri membuka handphone nya mencari alamat kantor laki-laki itu, tiba-tiba ada sebuah pesan yang masuk.


Unknown sent a message


Kutunggu dikantor dan masuk saja keruanganku, jangan kabur kalau kamu masih ingin hidup!


Astaga ini pasti laki-laki tadi. Yuri belum tahu siapa nama Armand, sudah ia duga pasti laki-laki itu berhasil membuka handphone nya kalau tidak dibuka bagaimana dia mendapat no handphone Yuri, ingin sekali ia menangis sekencang-kencangnya.


Yuri langsung berlari secepat mungkin, untungnya jarak kantor Arman tak begitu jauh. Keringatnya mulai bercucuran, ia bisa saja kabur dan pergi menemui keluarganya. Namun Armand sudah memgancamnya, ia tak mungkin berani mengambil resiko, lagipula ia disuruh untuk bekerja. Aneh sekali pikirnya, ada apa dengan laki-laki itu? Semalam dia menculiknya dan mengatakan dia tertarik padanya, Yuri kira ia akan dijadikan bahan pemuas nafsu oleh laki-laki itu atau akan dijadikan bahan siksaan. Tapi malah menyuruh ia bekerja untuk Armand, dan yang lebih anehnya lagi, laki-laki itu memberi baju kerja sebagai Office Girl.


Yuri berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang terengah-engah, keringat yang sudah sedari tadi membasahi dahi, ia sapu dengan telapak tangannya. Ia melihat kearah toko yang ada kaca disampingnya, nampak sekali baju yang ia kenakan sedikit kekecilan yang menampilkan lekukan indah tubuhnya.

__ADS_1



...----------------...


"Minso, kakakmu kemana? Kenapa tidak kembali-kembali lagi kesini untuk menemui mama? Dan pulang kerumah bersama." Tanya Yuna sudah pulih dari sakitnya.


"Noona sedang bekerja, dia sudah diterima bekerja di perusahaan yang besar dan terkenal itu ma" Jawab Minso sumringah. Minso senang sekali kakaknya sudah bekerja, sebelumnya ada seorang laki-laki bertubuh jangkung nan tampan mengirim pesan untuk Minso, laki-laki itu berpura-pura sebagai Yuri.


"Semalam Noona mengirimi ku sebuah pesan, kalau dia tidak bisa kesini dulu karena ada urusan penting dari pekerjaan barunya. Dan biaya perawatan mama sudah dilunasi bos Noona pagi tadi." Lanjut Minso yang masih dengan senyumannya.


"Hah benarkah? Baik sekali orang itu. Yuri sangat beruntung mendapatkan bos baik hati seperti itu. Apakah bosnya tadi kesini?" Ucap Yuna sembari bertanya.


"Tidak, hanya diwakili sama Pak Han. Orang itu sangat tampan sepertiku ma" . Yuna hanya terkekeh mendengar perkataan dari anak bungsunya itu.


"Memangnya Yuri bekerja di perusahaan apa?" Tanya Yuna.


"Al-- alrich hmm apa ya tadi cen---tral arich, ahh aku lupa ma."


Yuna mengernyitkan alisnya, sepertinya nama perusahaan yang anaknya katakan itu terdengar tidak asing di telinganya.


...----------------...


"Sudah tau kan pekerjaanmu apa disini?"


Yuri hanya diam, mulutnya sangat kaku untuk berkata-kata.


"Kau bisu?"


"Emm ak-aku sudah tau Pak" Jawab Yuri.


Armand tersenyum sinis. "Perkenalkan namaku Armand Beldig, cukup panggil Armand kalau kita sedang berdua seperti ini jangan panggil Pak, aku tidak suka kamu menyebutkan kata itu dihadapanku kecuali memang ada orang selain kita, dan aku sudah tahu namamu".

__ADS_1


Yuri mengangguk patuh.


"Ahh sekarang bereskan ini dan bersihkan debu-debu yang menempel itu" Ucap Armand sambil menunjuk lemari yang penuh dengan dokumen-dokumen penting nya.


Armand beranjak dari tempatnya kemudian ia melepaskan jas dan membuka dua kancing kemejanya, dan langsung merebahkan tubuhnya ke atas sofa yang empuk sembari memejamkan matanya. Jas mahal itu Armand lempar sembarang yang membuat Yuri sedikit terkejut dan membelakkan matanya.


Setelah Yuri mengambil beberapa peralatan pembersih dan kemudian ia melakukan tugasnya sebagai Office Girl, ia juga butuh waktu untuk mengambil peralatan pembersih itu dan juga butuh sedikit perjuangan, beberapa kali ia bertanya kepada karyawan yang lain untuk bisa mendapatkan peralatan itu. Sampai-sampai ia hampir tersesat, karena bangunan ini sangat lah besar dan luas, Yuri selalu mengumpat, perusahaan apa ini? Besar sekali.


Yuri melakukan tugasnya dengan baik, namun tiba-tiba sepasang tangan memeluk pinggang Yuri dengan erat, sehingga membuat Yuri sangat kaget.


"Astaga!"


"Tu-tu--tuan Pak Armand kenapa ini?!" Gagap Yuri.


Armand hanya diam menikmati hangatnya tubuh Yuri, Yuri yang gelabakan berusaha melepaskan tangan Armand dari tubuhnya.


Klak...


Pintu itu terbuka, seketika mata Armand terbuka namun masih memeluk Yuri yang sedari tadi ingin melepaskan tangannya.


"Ha oh astaga" Ucap Han dengan malas.


Mata Yuri membelalak, ia mematung seketika.


Armand memelas dan melepaskan tangannya dari pinggang Yuri, Yuri pun langsung pergi keluar sembari membungkuk kan badannya.


"Kamu selalu saja menggangguku Han" Marah Armand.


"Sebelumnya, kenapa tidak dikunci dulu pintunya. Aku kan tidak tau" Bela Han.


"Yaa! Kau apakan gadis itu? Sampai-sampai kulihat tadi dia sangat ketakutan denganmu? Kasian sekali dia, sudah diculik lalu dipekerjakan olehmu, katanya kau tertarik" Han memgomel dengan nada jengkel.

__ADS_1


Armand yang sudah muak dengan mulut Han yang tidak berhenti untuk berbicara, menutup mulut Han dengan tangannya. "Kau bisa diam tidak! kalau kau masih terus saja mengomel, kulempar kau dari gedung ini sampai tubuhmu hancur berkeping-keping" Balas Armand dengan nada tak kalah jengkel.


"Ahhh mulut dan bibirku sudah mati rasa karena terlalu banyak mengeluarkan kata-kata hari ini" Lanjutnya lagi dengan nada yang sudah lelah.


__ADS_2