CINTA ARMAND

CINTA ARMAND
Bab 5 [TRAUMA YANG MENGHANTUI]


__ADS_3

Jantung Yuri masih berdegup tak karuan. Menurutnya tadi, itu adalah kejadian yang paling gila yang pernah ia alami dihidupnya.


"Astaga, astaga untung saja ada yang masuk tadi, kalau tidak aku bisa diperkosa oleh laki-laki itu" Ucap Yuri bersyukur.


Ia terus saja mengusap dadanya berharap jantungnya kembali berdegup dengan tenang, ia terus melangkahkan kakinya dan tidak tau harus kemana, tapi ia harus menjauh dulu untuk sementara waktu dari Armand.


Matanya terus saja melihat kearah belakang, takut laki-laki itu akan menangkapnya dari belakang. Namun kemudian, Yuri tak sengaja menabrak seseorang.


Bruk!!!


"A astaga maafkan aku, aku tidak sengaja" Ucap Yuri sembari membantu orang itu berdiri.


"Aduh. Eh Iya tidak apa-apa" Jawab orang itu.


"Apa kamu terluka? Ada yang sakit? Ah sungguh aku benar-benar tidak sengaja tadi" Tanya Yuri dengan khawatir. Namun matanya teralihkan dengan baju yang dikenakan orang itu, seperti baju yang ia kenakan sekarang.


"Mmm iya gak apa-apa, tak usah khawatir" Jawab orang itu lagi sambil tersenyum.


"Oh iya, kamu karyawan baru ya? Soalnya aku baru lihat kamu" Tanyanya lagi.


Yuri menganggukkan kepalanya. "Iya, baru masuk hari ini".


Orang itu mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya. "Ah iya, perkenalkan aku Sanna. Aku Office Girl disini sama se--" Ucap Sanna sembari melihat baju yang dikenakan Yuri sama sepertinya. "--- perti denganmu, sekarang kita jadi teman ya?" Lanjutnya yang langsung merangkul Yuri dengan akrab dan mengajaknya pergi.


...----------------...


"Armand ada yang ingin aku bicarakan denganmu, serius" Ucap Han.


Armand hanya mengangkat kedua alisnya tanpa membalas ucapan dari Han.


Han menghembuskan napasnya secara perlahan. "Aiden menghubungiku"


Arman hanya tersenyum miring. "Apa katanya?".


"Dia ingin menyembuhkan trauma yang kamu alami selama ini, dia ingin meminta maaf" Ucap Han dengan hati-hati.


"Haha aku tidak percaya dengan ucapannya, Han apakah kau percaya dengan bajingan itu?" Tanya Armand sambil tertawa, namun tawanya menyiratkan kebencian dan sakit yang mendalam. Armand kembali mengingat kejadian mengerikan itu, setiap ia mendengar nama Aiden diucapkan. Armand berusaha tenang agar tak ketakutan, entah kenapa ketakutannya memuncak.


"Han, bolehkah kamu keluar dulu. Aku ingin menenangkan pikiranku dulu." Ucap Armand berusaha untuk masih tenang.


Han mengangguk kikuk dan serba salah, ia sudah tau apa yang harus ia lakukan. Han berdiri dan mengambilkan obat penenang, ia langsung menaruh itu dimeja.


"Sebelum itu, kamu minum obat dulu. Maafkan aku telah mengatakan kata itu, tapi kamu harus tahu butuh beberapa Minggu untuk aku bisa mengatakan ini. Tapi menurutku ini saat yang tepat." Han menunggu Armand untuk meminum obatnya terlebih dulu.


Setelah Armand meminum obatnya, Han pun keluar.


...----------------...

__ADS_1


Armand kecil menyusuri hutan yang lebat itu, untuk mencari suara tembakan dan anjing yang terluka tadi. ia semakin masuk kedalam hutan, tiba-tiba Aiden menarik tangannya.


"Ayo kembali, kita harus pulang!" Aiden menarik paksa tangan Armand.


Namun Armand melawannya. Armand langsung berlari mencari sumber suara tersebut, Aiden dan Armand berkejaran, mereka semakin masuk kedalamnya.


Langkah kaki kecil Armand terhenti karena salah satu kakinya tak sengaja menginjak sesuatu yang membuat dirinya terjatuh dengan cukup keras, dan membuat tubuhnya terluka dan kaki kecilnya terkilir.


"Aaaaaa Kakakkkkk!!!!". Teriak Armand memanggil Kakaknya.


Aiden melihat adiknya terluka seperti itu, lalu membantunya dengan hati-hati. "Kan apa aku bilang! Ayo kita pulang" Kata Aiden.


Aiden menggendong Armand ke bahunya. Armand yang masih berusia 7 tahun sedangkan Aiden yang berusia 9 tahun menangis karena tak tahu jalan pulang, Aiden sudah berjalan mengitari seluruh hutan namun tak mendapat jalan untuk keluar.


Aiden yang sudah kelelahan sembari menangis tak tahu harus berbuat apa-apa itu segera menyandarkan Armand didekat pohon yang masih menangis karena kesakitan.


"Tenanglah Armand, aku akan mengobatimu tapi hentikan dulu tangisanmu. Setelah kita keluar dari hutan ini, aku akan membelikan eskrim kesukaanmu." Ucap Aiden sembari menenangkan adiknya itu tak lupa ia menyapu air matanya.


Tak terbayangkan oleh keduanya, secara tiba-tiba ada seseorang yang melemparkan anjing yang Armand ingin tolong itu kearah mereka dan nampak sekali binatang itu sudah mati. Mereka berdua berteriak sangat ketakutan, Aiden yang sangat histeris tak sengaja berlari meninggalkan Armand disitu.


"Haa! Kakakkkk! Jangan tinggalkan aku Hiksss! Kakakkkk!!!" Teriakan Armand yang menggema keseluruh hutan, sekelibat sedikit terdengar oleh kedua orang tuanya, Mario dan Kenna yang sedari tadi mencari mereka dihutan tersebut.


"Sayang apa kamu mendengarnya?" Tanya Kenna dengan sangat mengkhawatirkan kedua anaknya.


Mario yang sudah sangat takut itu, segera berlari mencari kearah suara teriakan yang mereka dengar tersebut.


Mereka terus berlari dan tak sengaja menabrak Aiden yang juga sedari tadi berlari


Brukk!!


"Hahh Aiden, Aiden dimana adikmu?" Tanya Kenna dengan khawatir.


Aiden hanya menangis ketakutan.


"Aidenn!" Teriak Kenna sambil menangis.


"Kenna berhenti membuat anakmu semakin menangis! Lebih baik kita cari Armand segera!"


Mario yang panik mengambil handphone nya dan ingin menelpon bantuan namun nihil, tak ada sinyal.


"Kenna, bawa Aiden keluar dari hutan ini dan telpon polisi untuk meminta bantuan. Cepat!" Ucap Mario.


"Karena sepertinya harinya sudah mulai gelap, akan aku cari dulu Armand sendiri, ayo cepat pergi!" Suruh Mario.


Kenna mengangguk dan pergi sembari menggendong Aiden yang masih menangis ketakutan.


Kenna sudah menelpon polisi dan ia sudah berada didalam mobil sambil menenangkan Aiden.

__ADS_1


"Mama hikss Armand sangat nakal, sampai-sampai dia menyakitiku, sampai tanganku terkilir hikkks sakit sekali, dia juga meninggalkanku" Ucap Aiden berbohong.


"Mana mungkin adik kecilmu itu melakukan seperti itu Aiden'' Ucap Kenna.


Aiden langsung memperlihatkan tangannya yang terkilir itu dan ya! Kenna sangat terkejut melihatnya.


"Astaga sayang kenapa tangan mama baru sadar, tanganmu berdarah. Tunggu dulu mama ambilkan obat." Kaget Kenna.


Polisi sudah datang dan melakukan pencarian.


Sementara itu ditempat yang berbeda, Armand yang sedari tadi menangis tiba-tiba digendong oleh seseorang. Karena harinya sudah gelap Arman tidak bisa melihat itu siapa, Armand terus saja menangis.


Orang itu membawa Armand ketempat rumah yang lusuh dan tak terawat hanya sebuah lentera yang menyala, menerangi ruangan rumah tersebut. Disana juga ada seorang perempuan yang diikat, perempuan itu sangat lusuh dan kotor sepertinya sudah lama dia diculik oleh orang ini.


Arman tidak mengetahui siapakah orang yang menggendongnya kini, karena dia memakai sebuah topeng dan memakai jubah hitam serta ada sebuah pistol ditangannya.


Napas Arman tak karuan, melihat perempuan itu yang tak sadarkan diri. Apakah perempuan itu meninggal? Pikir Armand.


...----------------...


Semenjak kejadian itu mama Armand tidak begitu menyukainya, lebih dingin dan tidak peduli dengannya. Dia hanya mementingkan Aiden, menyayanginya, mencintainya, dan terus menyemangati Aiden dengan penuh kasih sayang.


Padahal korban yang sebenarnya adalah Armand. Beberapa tahun Armand menyimpan luka dan traumanya dan memilih untuk diam, sampai dimana umurnya menginjak ke 17 tahun, Armand berusaha untuk mengakhiri kehidupannya. Namun digagalkan oleh Han, Han adalah orang satu-satunya yang tahu kisah Armand yang sebenar-benarnya.


Sampai diusianya kini, yang sudah memasuki umur yang ke 29 tahun, Armand hanya diam dan menyuruh Han untuk tetap diam, karena menurut Armand tidak ada gunanya menjelaskan fakta yang sebenarnya kepada orang yang sudah membenci, menurutnya hanya membuang air liur saja.


Armand memegang kepalanya, ia merasakan kepalanya serasa ingin meledak.


Kenapa obat yang ia minum tidak ada reaksi apa-apa.


"Aaaaaa!!!! Aaaaaa!!!! Bajingannnn!!!" Teriak Armand seraya mengumpat.


Cranggg!!


Armand memukul dengan kuat pigura kaca yang tidak bersalah itu dan membuatnya pecah berantakan.


"Arrhghhhhhhh Sialann" Teriaknya lagi.


Seketika tangan Arman mengeluarkan darah segar, napas Armand tidak karuan. Ia begitu marah dan tidak dapat mengontrol emosinya, sementara emosinya yang lain juga tidak terbendung, ia menangis, ia ketakutan.


"Hiksss Arrggghhhhh Hikss, aku ta-takut" Sembari teriak suara Armand kemudian bergetar, hatinya sangat amburadul.


Armand kembali berteriak, dan menghancurkan beberapa furniture dan melempar komputernya dengan emosi. Ia terus berteriak, ia terus memukul dinding.


Sampai saat dimana ia sudah lelah dan terbaring di atas sofa, ruangannya kini sangat berantakan, Armand yang mulai emosinya sedikit mereda mengambil alat pemanggil untuk memanggil seseorang supaya membersihkan ruangannya itu.


"Yuri, keruanganku sekarang!" Tegas Armand dengan nada yang lelah.

__ADS_1


__ADS_2