
Liana tertidur dalam tangisnya, ia begitu lelah. Mungkin inilah jalan takdir yang harus ia tempuh. Hidup dalam pernikahan bersama orang yang pernah melukai cinta dan hatinya.
Pagi pun menyapa Liana bangun dengan sisa-sisa tangisnya semalam, bergegas ia bangkit dari tempat tidur merenggangkan otot-ototnya sebentar kemudian ia berjalan menuju kamar mandi. Baru kali ini Liana bangun kesiangan, tidak seperti hari- hari biasa meskipun sedang berhalangan namun ia selalu bangun lebih awal.
Usai mengguyur tubuhnya dengan air, Liana pun merasa sedikit rileks. Hari ini jadwalnya sift siang jadi ia tidak perlu buru-buru untuk berangkat ke Rumah Sakit. Setelah berpakaian Liana bergegas menuju dapur, perutnya sudah minta untuk diisi.
"Selamat pagi Bu," sapanya pada sang ibu yang sedang mempersiapkan sarapan.
"Pagi sayang, udah enakan?"
"Sudah bu, Ayah mana?"
"Sudah berangkat 30 menit yang lalu."
"Ayah sibuk banget sih bu, seharusnya ia sudah pensiun nikmatin hasil kerja keras."
"Ia, mungkin setelah Indra yang mengambil alih tanggung jawab kantor dan juga kamu," balas ibu Aisyah.
"Aish ..."
"Kenapa? ada yang salah dengan perkataan Ibu?"
"Nggak ada sih," balasnya.
Ibu Maya juga Liana menikmati sarapan berdua, mereka larut dengan pikiran masing-masing. Memang Liana tidak suka makan sambil bercerita, sejak kecil sudah diterapkan ayah dan ibunya sebagai bentuk menghargai makanan.
"Apa hari ini sibuk?" tanya ibu Maya pada sang putri setelah selesai membereskan sisa makanan tadi.
"Nggak sih bu, Lia hari ini sift siang," balasnya.
"Kita fitting kebaya yuk," ajaknya.
"Terserah Ibu sih,"
"Ya sudah Ibu telfon mertuamu dulu," ucap ibu Maya kemudian berlalu dari hadapan Liana yang sedang menatapnya kesal.
Selesai menelpon calon besannya ibu Maya bergegas membersihkan diri kemudian bersiap- siap, rencananya hari ini mereka akan ke butik dan mencari cincin lamaran.
Tit ... Tit ... Liana membunyikan klakson panjangnya.
"Ada apa sih Li?" ucap ibu Maya saat memasuki mobil.
"Lama banget dandanya," ledek Liana.
"Yah biar cantik dan Ayah makin cinta sama Ibu," balasnya.
"Ya deh!"
Liana pun menjalankan mobil miliknya menuju butik langganan sang ibu, disana sudah ada ibu Maya yang menunggu.
__ADS_1
Kedua wanita paruh baya itu pun sibuk memilih kebaya yang akan Liana kenakan diacara pertunangannya dengan Indra, sedangkan Liana hanya duduk dan menjadi manekin hidup untuk kedua wanita itu.
"Li, bagaimana dengan yang ini?" Entah itu kebaya yang keberapa, dengan langkah malas Liana mendekati sang ibu kemudian meraih kebaya gold berpayet itu kemudian masuk kedalam ruang ganti.
"Aduh calon mantu Ibu panglingin," ucap ibu Aisyah ketika melihat Liana keluar dari ruang ganti.
Ibu Aisyah pun melakukan panggilan pada sang putra agar ia segera menuju butik.
"Mohon maaf ya Indra nggak bisa ke sini katanya lagi sibuk, semua urusan ini ia serahkan pada Liana saja," ucapnya setelah sambungan telepon dari sang putra berakhir.
"Gak papa jeng,"ucap Ibu Maya menanggapi.
Indra tidak bisa menampik rasa bahagianya kala sang ibu mengirim beberapa foto Liana saat mengenakan kebaya yang akan mereka pakai saat lamaran. Namun sayang, wajah sendu Liana membuat Indra menarik lagi senyumannya. Ia belum bisa meyakinkan hati Liana untuk menerimanya kembali.
Sepulang dari butik Liana menghempaskan bobotnya pada sofa lalu memijit kepalanya yang berdenyut. Kedua wanita yang menemaninya hari itu cukup menguras tenaganya ia tak habis pikir usia mereka sudah tidak muda lagi tapi semangat belanjanya bak abg saja.
"Bu Lia ke kamar dulu," ucapnya kemudian meraih beberapa paper bag. Sepertinya mandi akan sedikit membantu merilekskan tubuhnya sebelum ia berangkat ke Rs.
Ting ... sebuah pesan singkat masuk ke aplikasi hijau milik Liana saat ia baru saja keluar dari kamar mandi. Ia hanya menengok sebentar kemudian beralih ke meja rias guna mengeringkan rambutnya.
Ting ... posel itu kembali berbunyi, Liana segera meraih benda pipih itu yang tergeletak di atas kasur.
[Nomor tak dikenal: Assalamualaikum, gimana jalan-jalannya dengan ibu?]
[Maaf nggak bisa nemanin, lain kali akan saya usahakan]
Sedangkan seseorang yang telah mengirim pesan pada Liana terlihat gusar pasalnya pesan yang ia kirim sudah dibaca namun belum juga dibalas. Menit kemudian ia memberanikan diri untuk menelpon.
Liana yang melihat ada telepon masuk pun meraih ponselnya, ia mendesah pelan kemudian menggeser icon berwarna hijau.
📞 Liana : "Assalamualaikum,"
📞 Indra : "Wa alaikum salam, maaf mengganggu,"
📞 Liana : "Gak papa,"
📞 Indra : " Lagi dimana?"
📞 Liana : "Siap-siap ke RS,"
📞 Indra : "Saya anter yah, tunggu beberapa menit!"
Indra pun memutus telepon secara sepihak membuat Liana sedikit kesal.
"Bu, Lia berangkat dulu," ucapnya sambil mengetuk pintu kamar sang ibu namun tidak juga ada jawaban.
Liana pun mencari kesana kemari keberadaan sang ibu namun tidak juga menemukannya. Saat mendekati pintu utama indra pendengaran Liana menangkap suara yang sedang mengobrol. Liana pun segera membuka pintu untuk memastikan yang ia dengar. Rupanya sang ibu yang tengah berbincang dengan Indra di teras depan.
"Eh, itu Lia nak Indra," ucap Ibu Maya saat Liana muncul dari balik pintu.
__ADS_1
Hanya senyum hangat yang Indra berikan, tatapannya tertuju pada gadis cantik dihadapannya yang terbalut seragam khas perawat dengan make up tipis dan jilbab yang menutup rambutnya. 'Spek bidadari, betapa indah ciptaan Tuhan' pikirnya dalam hati.
"Maaf menunggu lama," ucap Liana pasalnya tatapan Indra membuatnya sedikit risih.
"Emmm ... gak papa, yuk berangkat," Indra pun membuyarkan lamunannya kemudian berpamitan pada ibu Maya begitu juga dengan Liana.
Keheningan pun tercipta, Indra memilih fokus pada jalanan yan sedikit macet sedangkan Liana fokus pada ponsel miliknya, ada pesan berentet yang harus ia balas dari sahabatnya Maya.
"Li," ucap Indra memecah keheningan.
"Mmm ... iya," Namun pandangannya masih pada ponsel miliknya.
"Apa kamu merasa terbebani dengan perjodohan ini,"
Mendengar pertanyaan Indra, Liana pun mengangkat wajahnya menoleh pada Indra yang masih fokus pada jalan raya.
"Awalnya sih, tapi saya pikir ini sudah takdir kita," jawabnya.
"Apa kamu menyesal menerima?"
"Untuk apa menyesal, kita coba jalani,"
"Ini bukan ajang coba-coba,"
"Saya tahu, tapi apa salahnya kita berdamai dengan takdir Ndra! kita jalani perjodohan ini, pernikahan ini meskipun tidak seperti pernikahan yang lainnya."
"Maksud kamu?"
"Yah, seperti pernikahan yang memang saling mencintai, saling mengharapkan."
"Tapi saya mencintai dan mengharapkanmu Li."
Lia hanya bungkam setelah mendengar ungkapan hati Indra, ia tidak tahu mengapa hatinya sedikit ngilu.
"Saya ingin pernikahan kita atas landasan cinta, dan saya akan minta ke Ayah untuk menunda pernikahan ini sampai kamu betul-betul mencintai saya!" ucap Indra tegas.
"Jangan! bukankah cinta akan tumbuh dengan kebersamaan?"
Ada sedikit senyum terpatri diwajah Indra saat mendengar ucapan Liana. Tidak terasa mobil yang ia kendarai tiba di depan RS.
"Terima kasih," ucap Lia saat mobil milik Indra berhenti tepat di depan gerbang RS.
Indra hanya membalas dengan anggukan.
"Beri saya waktu," ucap Liana sebelum turun dari mobil Indra.
Indra kembali melajukan mobil miliknya saat Liana sudah memasuki gerbang RS, ada rasa yang sedikit menghangat di dalam sana. Rupanya menaklukkan hati gadis itu tidak sesulit yang ia pikirkan. Liana dengan kedewasaannya menyikapi sebuah masalah membuat Indra semakin yakin jika pernikahannya kelak akan bahagia. Indra berjanji akan meberikan segenap jiwa dan raganya hanya untuk Liana.
T.B.C
__ADS_1