
"Apaan sih, kalian bisa tidak nggak rusuh dulu. Semua mata liatin kita tau gak sih," bisik Liana pada teman-temannya.
"Cieh, malu-malu," goda Maya pada Liana.
Jam menunjukkan pukul 9 malam acara reunian semakin meriah, Liana dan sahabatnya masih menikmati hidangan yang disediakan, sepasang mata itu masih mengawasi gerak-gerik gadis berhijab itu. Ada kerinduan dari sorot mata itu, rindu keceriaan gadis itu.
"Oke, acara reunian kita lanjutkan dengan persembahan musik, bagi teman-teman yang ingin menunjukkan bakat nyanyinya silahkan menuju panggung, bagaimana dengan donatur acara ini, bapak Indra Lesmana Prawira." Ucap Mc yang sontak juga membuyarkan lamunan Indra.
"Indra ... Indra ..." sorak- sorai para peserta reunian.
Indra dengan langkah gontai kembali naik ke panggung kemudian meraih gitar. Lagu cinta yang Indra nyanyikan seakan mengungkapkan isi hatinya pada seorang wanita.
Indra pun segera turun dari panggung, Ia melewati meja yang Liana dan para sahabatnya, seketika pandangan mereka beradu.
"Indra, ternyata dia masih suka parfum itu." Gumam Liana setelah kontak mata mereka terputus dan Indra berlalu dari hadapan Liana.
"Li... anda sehat?" ucap Maya membuyarkan lamunan Liana.
"Hah, kenapa ... kenapa.?" balas Liana salah tingkah.
"Kita sambut dokter tampan kita dokter Dimas, silahkan naik ke panggung." Ucap Mc, acara semakin meriah pasalnya si dokter tampan akan membawakan lagu.
"Terima kasih, saya gak mau menyanyi sendiri saya mau ditemani oleh gadis cantik." Ucap Dimas saat meraih microfon kemudian berjalan menuju dimana Liana dan sahabat duduk.
"Li..mauka kau menemani dokter tampan ini bernyanyi?" rayu Dimas sembari mengulurkan bunga pada Liana.
Rona diwajah Liana tak dapat Ia sembunyikan, pasalnya Dimas memang sering menggodanya di Rumah Sakit tempat mereka dulu bertugas namun setelah kontrak Dimas selesai di RS tersebut maka Dimas mengajukan untuk pindah ke RS milik sahabat Ayahnya.
"Huuuh," para peserta reunian menyoraki dokter tampan itu.
Dengan malu-malu Liana berdiri dan menerima bunga dari Dimas kemudian mengikuti langkah Dimas menuju panggung. Alunan musik menghanyutkan para pendengar juga tatapan cinta yang Dimas berikan pada Liana menambah kesan romantis. Sedangkan tatapan penuh cemburu itu tak dapat Indra sembunyikan.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, para peserta reunian itu mulai meningalkan tempat satu per satu, termasuk Liana dan para sahabat. Liana yang berencana pulang bersama Maya dan Indah pun berjalan menuju parkiran dimana mobil Maya berada.
"Liana ..." seseorang memanggil Liana, sontak Liana segera menoleh juga Maya dan Indah.
"Li, aku anter yah,"tawar pria itu.
Sebelum Liana angkat bicara Indah segera mengiakan ajakan pria tersebut. "Boleh ... boleh kok Mas."
Liana hanya melotot kan matanya kearah Indah, Ia tidak menyangka Indah membiarkannya bersama teman prianya.
"Siapa tau lo sama Dimas jodoh," bisik Indah kemudian mendorong Liana agar Ia segera berjalan ke arah Dimas.
Dengan tatapan memohon Liana berharap Maya sependapat dengannya, tidak mungkin ia pulang berduaan dengan lelaki ditengah malam begini. Bukannya berhasil Maya bahkan tak bereaksi sama sekali, bagaimana tidak Indah sejak tadi memberi isyarat pada Maya.
"Yuk keburu malam." Ajak Dimas pada Liana yang masih berdiri diantara sahabatnya.
Dengan langkah malas Liana mengekori langkah Dimas menuju dimana mobil milik sang dokter berada.
Indra pun melakukan panggilan telepon entah kepada siapa kemudian beranjak dari balik kemudi meninggalkan mobil miliknya dan bergegas menuju mobil milik Dimas dimana Liana berada. Belum sempat mendudukkan bobotnya suara bariton Indra mengagetkannya.
"Mas, aku ikut ban saya kempes." Ucapnya kemudian membuka pintu belakang dan mendudukkan bokongnya.
"Jalan, ngapain liat-liat." Perintah Indra pada sang sahabat. Dimas yang merasa heran dengan tingkah laku Indra pun segera duduk dibalik kemudi dan segera menjalankan mobilnya.
"Aroma-aroma kecemburuan," ucap Dimas dalam hati.
"Ndra, masih rumah yang lama kan?" Dimas memecah keheningan perjalanan pulang mereka.
"Hmmm ..." Indra hanya menjawab dengan dehemam, entah ia merasa gugup atau hanya berusaha cool didepan Liana.
"Anterin Liana dulu baru nganterin aku." Perintah Indra dari kursi belakang.
__ADS_1
Dimas yang mendengar perkataan Indra pun merasa heran dan tidak terima "Kamu pikir aku supir pribadi lu yang seenak jidat lu gitu nyuruh-nyuruh, rumah lu dah deket Ndra. Masa abis dari rumah Liana trus balik lagi ke rumah lu trus gua mesti putar balik lagi ke rumah."
"Sensi amat pak dokter," goda Indra.
"Gimana gua gak sensi Ndra lu gangguin waktu berdua gue sama Liana." Ucap Dimas sambil tersenyum, sepertinya Ia ingin membuat Indra semakin cemburu dan tidak tahan lagi berada dalam mobil Dimas.
"Ya udah turunin gue di depan sana!" ternyata ide Dimas untuk usil pada sahabatnya itu berhasil, entah mengapa Indra sensian kali ini.
Dimas pun berhenti tepat di depan pagar rumah milik orang tua Indra, dengan sangat berat hati Indra turun dari mobil milik Dimas. Ternyata rencana Dimas yang usil itu berhasil membuat Indra ngambek bak gadis yang lagi PMS.
Setelah Indra menutup pintu mobil Dimas pun tancap gas tanpa peduli dengan Indra. Dimas yang tengah cekikan membuat Liana menautkan alisnya penuh tanda tanya.
Indra yang kehilangan momen bersama Liana pun merasa kesal pasalnya Dimas tidak bisa Ia ajak kerja sama.
"Kenapa Mas, ada yang lucu?"
"Ada, si Indra yang lucu mirip anak kecil yang gak dapat uang jajan dari bokapnya." Dimas masih senyum-senyum sendiri.
"Anaeh, mana yang lucu?" Liana masih saja heran pada Dimas yang masih saja mesem-mesem sendiri.
"Lucu ajah pokoknya."
Setelah bertemu Liana di reunian rasa rindu itu semakin membuncah, Liana yang tampil dengan anggun dengan hijabnya diacara reunian tersebut membuat Indra jatuh cinta kembali pada Liana.
Sejak kelulusannya di universitas dan bisnis yang Indra rintis sejak jaman kuliah itu semakin berkembang ia mencoba mencari keberadaan Liana. Namun belum membuahkan hasil, sering kali Indra bertemu dengan Ayah Liana untuk membahas beberapa bisnis dan kerja sama yang mereka jalin, namun karena gensi tinggi yang Indra miliki membuatnya urung untuk mencari tahu tentang Liana.
Hinggah seorang teman memberi ide untuk reunian, dengan semangat Indra memberi dana dan hotel tempat reunian terlaksana adalah hotel milik Indra. Ia berharap dengan adanya reuni kesempatan untuk bertemu Liana sangat besar. Namun ia harus menelan pil pahit pasalnya sang sahabat Dimas juga mendekati Liana.
T.B.C
Mas Indra gensi ajah terus ntar mbak Liana diembat sama pak dokter loh...
__ADS_1