
Seperti mendapat lampu hijau dari Liana, Indra semakin bersemangat untuk mendapatkan hati wanita berhijab itu. Setelah mengantar Liana, Indra kembali melajukan mobilnya menuju kantor senyumnya tak kunjung pudar.
"Tumben cerah bos," ucap Bagas ketika Indra baru saja masuk kedalam ruangannya.
Ia tidak sadar jika ada seseorang yang memperhatikannya sejak tadi.
Indra hanya mengangkat bahu lalu memberikan senyum tipis pada Bagas kemudian menghempasakan bobotnya pada sofa dekat Bagas duduk.
Bagas menempelkan telapak tangannya pada dahi Indra "Nggak demam," gumamnya lagi yang masih bisa didengar oleh Indra.
"Kamu pikir saya sakit?" ucap Indra merasa tidak terima dengan apa yang Bagas katakan.
Bagas hanya tersenyum kemudian mengalihkan pembicaraannya mengenai bisnis yang akan ia rintis lagi.
Sesuai dengan kesepakatan kedua keluarga bahwa lamaran akan mereka adakan pada hari sabtu, itu berarti tinggal 3 hari lagi waktu untuk mempersiapkan segala kebutuhan.
"Ndra ini udah H-3 tapi cincin belum kamu pesan?" ucap bu Aisyah saat ia memeriksa beberapa persiapan untuk acara lamaran.
Indra hanya mendesah pelan saat mendengar ocehan sang ibu, tubuhnya terasa sangat lelah hari ini. Seusai makan malam denga ibu juga adiknya, Indra memilih duduk di ruang keluarga memperhatikan kesibukan sang ibu mengatur segala persiapan lamaran. Nampak sang ibu begitu antusias juga raut kebahagiaan terpancar diwajahnya yang sudah berkeriput itu.
"Iya bu, besok Indra temenin deh buat nyari cincinnya," ucap Indra kemudian.
"Kenapa sama Ibu? ajak Liana!" titahnya.
Lagi-lagi Indra mendesah kemudian menyugar rambutnya frustasi. Indra tidak tahu harus berbuat apa jika bersama Liana, kaku atau terlihat konyol.
"Ngapain liatin saya?" ucap Nindi saat ia sadar bahwa Indra sedang menatapnya, meskipun ia sedang sibuk dengan poselnya.
"Nggak, yang mau nikah siapa?" ucapnya lagi seakan ia tahu dengan maksud Indra.
"Ya sudah" ucap Indra kemudian beranjak dari duduknya.
"Iya deh, besok aku temenin mbak Lia", Nindi sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya meskipun itu hanya ancaman dari Indra semata.
"Adik pintar," ucap Indra kemudian mengacak rambut sang adik.
Ibu Aisyah hanya bisa tersenyum menyaksikan keduanya, mereka adalah semangat hidupnya. Ia tidak menyangka sebentar lagi ia akan mengantarkan putra sulungnya menuju kehidupan berumah tangga. Rasanya baru kemarin ia bermain dengan Indra kecil mengasihi juga menimangnya. Segera ia mengusap pinggir matanya yang mulai berair, bukan air mata kesedihan tapi air mata haru bahagia.
Cuaca pagi yang sangat cerah, sejak pukul 8 pagi Indra sudah mematut dirinya didepan kaca. Kemeja maroon yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih, juga celana jeans dan sepatu kets hitam melengkapi penampilannya.
Bak anak remaja yang sedang jatuh cinta, ia ingin menampilkan penampilan terbaiknya pada pujaan hatinya. Setelah merasa cukup dengan penampilannya, ia pun segera menyambar kunci mobil kemudian melangkah menuruni tangga sembari bersiul.
"Berangkat," titahnya pada Nindi yang baru saja meraih selembar roti.
"Sarapan dulu," ucap ibu Aisyah pada putranya.
__ADS_1
"Indra sarapan diluar saja bu," ucapnya sembari meraih tangan sang ibu kemudian menciumnya takzim.
"Nindi juga pamit bu."
Indra pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalan yang sedikit padat, sedangkan Nindi masih fokus pada roti coklatnya.
"Kita jemput Liana dulu," ucap Indra pada Nindi yang seolah paham dengan ekspresi wajah Nindi.
"Yah jadi obat nyamuk lagi," desahnya pelan.
"Siapa suruh jomblo," ledek Indra.
"Jadi Nindi boleh punya pacar dong."
"Nggak! sekolah yang bener," ucap Indra mengultimatum.
"Ck," Nindi hanya berdecak kesal, ia paham dengan kekhawatiran sang kakak yang tidak mengizinkannya untuk dekat dengan lawan jenis.
Setibanya di rumah Liana, Nindi bergegas turun. Indra yang melihat kelakuan sang adik hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Pak Jalan!" ucap Nindi saat memasuki mobil dan menghempaskan bobotnya tepat disebelah Indra.
Indra mengalihkan fokusnya dari benda pipih miliknya menatap Nindi penuh tanya.
"Tuh!" Nindi hanya memberi isyarat lewat ujung matanya.
Indra tidak merespon sama sekali, ia kembali menjalankan mobil menuju pusat perbelanjaan.
"Mbak sepertinya ini cantik deh," ucap Nindi, entah ini sudah cincin yang keberapa yang Liana dan Indra coba namun belum ada yang pas bagi Nindi.
"Saya mau yang biasa saja tapi elegant mbak," Kini Indra yang mengambil alih.
Para pegawai toko pun mengeluarkan beberapa pasang cincin yang sesuai dengan permintaan Indra dari etalase.
"Li, pilih salah satu yang kamu suka!" titah Indra pada Liana.
Liana pun menuruti perkataan Indra, ia memilih salah satu cincin dengan desain yang sangat simpel namun elegant.
"Yakin?" Indra kembali bertanya pada Liana. Sedangkan Liana hanya mengangguk pelan tanda mengiakan pilihannya setelah mencoba dan ternyata sudah pas dan sangat cantik.
"Yang ini saja mbak," ucap Indra sambil menyodorkan kartu miliknya.
"Makan dulu yuk, lapar nih", rengek Nindi pada sang kakak bak seorang anak kecil yang minta permen.
Mereka pun berjalan menuju restoran untuk mengisi perut yang sejak tadi minta untuk diisi.
__ADS_1
"Mbak."
"Iyya."
"Bahagia nggak?" Pertanyaan Nindi membuat Liana terbatuk- batuk.
"Minum dulu," ucap Indra kemudian menyodorkan botol air minum. Liana meraih pemberian Indra dan meneguknya hinggah menyisahkan setengah. Liana tidak menyangka jika Nindi melontarkan pertanyaan yang bisa membuatnya sedikit kurang nyaman.
"Maaf ... maaf," ucap Nindi merasa bersalah.
"Gak papa."
Mereka kembali menikmati sarapan yang sedikit kesiangan itu dalam diam. Sejak peristiwa tadi Nindi memilih bungkam.
"Mba, Nindi duluan yah ada tugas dari kampus yang harus selesai hari ini," ucap Nindi kemudian beranjak dari tempat duduknya. Nindi sengaja memberi ruang pada pasangan yang masih dalam proses pendekatan itu, ia merasa risih jika harus lama-lama berada diantara mereka.
Indra hanya menatap dengan heran adiknya itu, pasalnya kuliah Nindi sedang libur.
"Maafin pertanyaan Nindi tadi yah, maklum lah dia sangat antusias bisa punya kakak perempuan," ucap Indra memecah keheningan.
"Gak papa kok, saya maklum."
"Terima kasih."
"Untuk?"
"Untuk kesempatan itu, terima kasih."
Liana hanya tersenyum menanggapi perkataan Indra.
"Maaf telah mengecewakanmu," ucap Indra kala ia mengingat kembali masa dimana ia menolak cinta Liana.
"Iyya," balas Liana.
"Jujur saya tidak bermaksud."
"Itu masa lalu Ndra."
"Tapi Li."
"Kalau sudah selesai, saya pamit," ucap Liana kemudian berdiri dari duduknya, hatinya begitu sakit kala mengingat hal tersebut. Dimana ia harus mengubur rasa malunya demi mengungkapkan isi hatinya pada Indra didepan umum, di depan teman-temannya. Namun penolakan yang ia dapatkan.
Liana mencoba menerima perjodohan itu namun Indra mengorek kembali luka yang sudah ia tutup rapat. Liana semakin ragu dengan pernikahannya kelak jika masih hidup dalam bayangan masa lalu.
Indra hanya memandang punggung Liana yang semakin menjauh, penyesalan itu kembali menghampiri.
__ADS_1
T.B.C