
Hari berganti, tanpa terasa pernikahan mereka tinggal seminggu lagi. Karena kesibukan mereka berdua mau tak mau orang tua mereka harus turun tangan.
Setelah pertemuan mereka tempo hari Indra harus berangkat ke kota S meninjau langsung pembangunan hotel dan restonya, sedangkan Liana masih disibukkan dengan pekerjaannya di RS. Mau tak mau Nindi harus ikut andil menemani sang calon kakak ipar.
"Hari ini kita kemana lagi kak?" tanya Nindi saat Liana duduk tepat di kursi penumpang sebelahnya.
"Kita ke butik fiting gaun trus kita lanjut liat gedung dan catring tapi kita makan dulu Nin, mbak lapar."
"Dasar yah kak Indra mau nikah tapi malah keluar kota dan ngebiarin mbak ngurus ini itu sendiri, apa mbak nggak lelah?" Nindi merasa heran dengan sang kakak yang gila kerja bahkan menjelang pernikahannya ia masih sibuk.
"Mau diapa Nin," Liana menghela napas kemudian menyandarkan badannya pada kursi dan memejamkan mata. Untung sang supir pribadi sangat sabar, entah kali ini tip apa yang diberikan dari sang kakak.
"Mbak, katanya mau makan udah nyampe nih," ucap Nindi sambil mengoyang tubuh Liana.
"Oh ... " Liana pun membuka mata, memperbaiki posisi duduknya kemudian merapikan sedikit penampilannya.
"Mbak ... "
"Hmmmm ..."
"Gimana perasaan mbak sama kak Indra."
"Uhuuk..." Liana tersedak dengan air liurnya sendiri ia tidak menyangka jika Nindi akan bertanya seperti itu.
"Mbak gak tau Nin," ucapnya pelan.
Mereka pun makan dalam diam bergelut dengan pikiran masing-masing.
"Komunikasi dengan kak Indra baik kan kak?" Nindi kembali bertanya, jika tidak kepo dengan orang-orang tercintanya maka Nindi tidak akan diam begitu saja.
"Baik, tiap waktu nanya kabar, udah makan."
"Kak Indra romantis gak?"
"Ntah lah ...nyebelin iyya Nin."
"Hahaha ... Nindi bahagia mbak akhirnya kak Indra nemuin kebahagiaannya, selama kak Liana menjauh dan putus dengan mantan jaman SMAnya itu kak Indra gak pernah dekat lagi dengan wanita manapun."
__ADS_1
"Masa?" Liana merasa tidak percaya dengan apa yang Nindi bicarakan.
"Ada sih, kak Indra pernah dekat dengan teman kuliahnya tapi gak sampai pacaran karena belum apa-apa udah ditolak sama orang tua wanita itu," Lanjut Nindi.
"Oh..." Liana hanya ber oh ria mendengar masa lalu sang calon suami.
Setelah selesai dengan makan siangnya mereka pun menuju butik langganan sang calon mertua. Disana wanita yang sangat berarti bagi Indra juga Nindi telah menunggu bahkan entah berapa kali melakukan panggilan telepon.
"Maaf ma, mama harus nunggu lama deh," ucap Liana pada wanita paruh baya yang masih terlihat cantik meskipun usianya tak lagi muda.
"Gak papa, ayok!" ucap wanita itu sambil menggandeng tangan Liana menuju ruang ganti.
Kini Liana sedang berganti pakaian dibantu oleh pegawai butik, Indra yang baru saja tiba dari kota S langsung menuju butik. Titah sang mama lebih dari segalanya padahal masih ada pekerjaan yang menunggunya di Ibukota.
Liana pun keluar dari ruang ganti mengenakan gaun berwarna putih dengan taburan mutiara yang nampak indah. Ada sepasang mata yang tak lagi berkedip menatapnya.
"Iler tuh!" goda Nindi pada sang kakak.
"Apaan sih," balasnya sambil mengacak jilbab sang adik. "cantik," lirihnya pelan.
"Gimana Ndra?" tanya sang mama pada putranya.
"Gaunnya kak!" Nindi menimpali dari belakang.
Indra hanya memberi isyarat jempol juga denga senyum lebar miliknya. Ia masih tidak menyangka jika ia akan disandingkan dengan gadis itu.
Setelah selesai dengan gaun dan kebaya yang akan mereka pakai saat akad dan juga resepsi Liana dan Nindi pun kini berada di hotel milik Indra yang akan mereka pakai untuk acara bahagiannya, sedangkan sang mama sudah mulai lelah jadi ia minta pulang diantar oleh supir kantor.
Sejak di butik tadi Nindi juga merengek untuk pulang bersama sang mama namun Liana memohon agar ia tetap menemaninya.
"Kalian yah, udah mau nikah masih ajah saling cuek gak saling nyapa terus kalian hanya tatap-tatap," cerocos Nindi pada kakak.
"Terus kami harus ngapain Nin, kan belum halal," jelas Indra pada sang adik. "Kalau udah halal kan beda lagi, ya kan dek?" ucap Indra asal yang sontak mendapat tatapan tajam dari Liana.
"Au ah ... ," ucap Liana kemudian berlalu dari hadapan Indra juga Nindi, ia malu menampakkan pipinya yang memerah karena ucapan Indra tadi. Liana tidak habis fikir jika Indra akan berkata seperti itu.
"Suka dengan konsepnya?"
__ADS_1
"Iyya, lebih elegant."
"Undangan?"
"Alhamdulillah, sudah rampung udah dihendel Ayah, Dimas dan Bagas. Sebagian mama juga Ibu, tinggal teman-teman aku sih," jelas Liana sambil mengecek kembali daftar yang sudah ia dan Indra sepakati tempo hari.
"Makasih ya dek, abang minta maaf karena gak bisa nemenin ada pekerjaan mendadak."
"Gak papa, lagian ada Nindi yang nemenin."
"Pulang yuk ... cape nih! bukan aku yang mau nikah tapi kok aku yg sibuk yah," Sepertinya Nindi sudah mengeluarkan jurus jitu untuk menagih upah dari sang kakak. Sedangkan Indra yang paham akan maksud dari ucapan Nindi lantas mengutak- atik ponsel miliknya.
Kedua bola mata Nindi melotot saat membaca sebuah pesan yang menujukkan nominal transferan dari sang kakak dua kali lipat dari kesepakatan yang hanya menjanjikan ponsel keluaran terbaru.
"Mmm mba sama kak Indra duluan ajah baliknya Nindi ada janji sama teman mendadak," ucapnya sambil memamerkan giginya. "Aku naik taksi online saja," lanjutya sembari menyerahkan kunci mobil miliknya pada sang kakak.
"Bye ... nikmati waktu berduanya kan besok udah dipingit," ucapnya lagi seraya meninggalkan kedua pasangan itu yang hanya menatapnya heran.
Setelah Nindi menghilang dari balik pintu ballroom hotel Liana menatap Indra seolah mencari jawaban, sedangkan Indra hanya mengangkat bahu seolah ia tidak tahu padahal itu semua berasal dari transferannya ke Nindi 15 menit yang lalu.
"Gak mampir dulu?" tawar Liana pada Indra saat mobil yang Indra bawa berhenti tepat di depan gerbang rumah milik Liana.
"Abang masih ada kerjaan, minggu depan abang mampir deh," ucapnya sembari tersenyum penuh arti.
Liana hanya memutar bola mata malas kemudian beranjak turun dari mobil. "Abang hafalin ijab kabulnya baik-baik jangan bikin malu dan jangan kerja mulu," ucap Liana sebelum menutup pintu mobil. Sedangkan Indra hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, ia tidak habis pikir jika Liana mampu membalasnya dan membuatnya skakmat.
Liana memasuki pagar setelah mobil yang Indra bawa melaju meninggalkan blok komplek perumahan yang Liana huni selama kurang lebih 25 tahun itu.
"Assalamualaikum," ucapnya saat memasuki pintu utama namun tidak ada jabawan padahal pintu terbuka lebar. "Kok sepi?" Liana berjalan menyisir semua sudut- sudut ruangan mencari keberadaan sang ibu.
"Iya bu, alhamdulillah ... semoga berjalan lancar ya bu. Sepertinya apa yang kita khawatirkan selama ini baik-baik saja." Liana menghentikan langkahnya saat pendengarannya menangkap suara sang ibu yang sedang mengobrol dari arah taman belakang.
"Mereka itu sangat manis kalau lagi malu-malu," Liana kembali menajamkan pendengarannya. "Saya nggak nyangka loh bu kalau Lia mau menerima Indra dengan baik sedangkan saya tau kalau mereka itu merenggang sejak lama." Rupanya sang ibu sedang ngobrol dengan sang calon mertua.
"Namanya juga takdir bu ...."
"Semoga saja Liana bisa mendampingi Indra hinggah maut memisahkan mereka, saat saya pergi nanti Indra tidak terlalu terpuruk juga Nindi. Liana wanita yang sangat Indra cintai, selama ini Indra menutup mata dan hatinya pada wanita lain." Mata Liana berkaca-kaca mendengar perkataan sang mama mertua.
__ADS_1
"Kok mama ngomong gitu, apa mama menderita penyakit serius?" Liana bertanya-tanya dalam hatinya. Ia pun meninggalkan tempat dimana ia berdiri, ia tidak sanggup lagi mendengar begitu banyak rahasia yang ia tidak ketahui selama ini.
T.B.C