
"Li ... tunggu!" Indra menahan langkah Liana, ia pun segera menghentikan langkahnya.
"Duduk dulu, sepertinya kita perlu bicara sebentar," ucap Indra kemudian.
Liana hanya patuh pada kata yang Indra ucapkan, ia pun kembali duduk dihadapan Indra.
"Bukan cuma kamu yang shok dengan permintaan ayah tapi aku juga Li."
"Lalu?"
"Setidaknya kita jadi anak yang berbakti pada orang tua."
"Entahlah!" matanya mulai berkaca-kaca ia tidak menyangka permintaan sang ayah membuatnya dilema.
"Ya sudah, nanti kita fikirkan dengan kepala dingin ini menyangkut keputusan masa depan," ucap Indra kemudian, ia juga bingung harus berbuat apa saat ini fikirannya tiba-tiba blank.
Mereka berdua pun beranjak dari cafe tersebut, mereka pulang dengan hati yang kacau.
"Assalamualaikum," Liana masuk ke dalam rumah dengan wajah yang lesu.
"Waalaikumsalam, kusut amat neng," ucap Ibu yang baru saja membuka pintu untuk putrinya.
"Mungkin Lia lelah bu," balasnya.
"Ya sudah, istirahat gih!"
Liana pun berlalu dari hadapan sang pelita hati menuju kamar, belum saatnya untuk berbagi cerita pada sang ibu perihal permintaan sang ayah. Setelah membersihkan tubuhnya Liana menghempaskan badannya diatas kasur empuk miliknya, tidur merupakan cara untuk melupakan sedikit kemelut yang ia alami. Mungkin setelah bangun nanti pikirannya kembali jernih.
"Li ... Lia ..." ketukan pintu membangunkan Liana dari tidurnya. Ia pun mengumpulkan nyawa sebelum beranjak dari tempat tidurnya.
"Iya bu," ucapnya kemudian berjalan mendekati pintu.
"Ayah ingin bicara sebentar, temui dia di taman belakang!"
"Lia siap-siap dulu bu," Liana sudah tahu apa yang ingin dibicarakan sang ayah.
Liana mengayunkan langkahnya menuju taman belakang tempat dimana sang ayah menghabiskan waktu senggangnya ketika berada di rumah. Bercengkrama dengan keluarga sambil menikmati teh dan cemilan. Meskipun sang ayah orang yang sangat sibuk namun ia tidak pernah mengabaikan kehangatan keluarganya.
"Duduk!" titah sang Ayah.
Liana pun mendudukkan bobotnya pada bangku panjang disebelah sang ayah.
"Ayah tau ini berat Li, tapi Ayah ingin yang terbaik untuk gadis kecil Ayah ini," ia pun terkekeh diakhir kalimat sambil menjawil hidung sang putri.
__ADS_1
"Ayah tidak ingin memaksakan kehendak tapi Ayah harap kamu bisa mempertimbangkan dengan bijak," pak Santoso mengusap ujung matanya yang mulai berkaca-kaca.
Sedangkan Liana hanya menunduk dan diam, jika sang ayah sudah melakukan permintaan seperti itu susah bagi Liana untuk menolaknya.
"Putri kecil Ayah sudah dewasa saat ini, Ayah tau keputusanmu pasti yang terbaik. Ayah sudah kenal sangat lama dengan Indra dia sosok yang baik, pekerja keras, ramah dan sepertinya penyayang."
"Beri Lia waktu Ayah."
"Iya sayang, berdoa minta petunjuk sang pencipta, sang pemilik cinta yang sesungguhnya."
"Baik Yah, Lia tau ini demi kebaikan untuk Lia."
"Jangan terlalu difikirkan, katanya Indra akan menunggu sampai kamu akan menerimanya,"
Setelah pembicaraan mereka selesai Ibu Maya datang membawa teh hangat juga beberapa cemilan untuk sang suami dan Liana putrinya.
"Ayo diminum," ucapnya sambil meletakkan cangkir teh di atas meja kemudian duduk disebelah Liana.
"Ibu ... " Liana memeluk sang ibu yang sudah duduk disebelahnya, karena hanya dengan memeluk sang ibu sedikit gundah hatinya akan terobati.
Hari telah berganti namun Liana belum bisa memberi keputusan perihal perjodohan itu. Ibu Aisyah yang mendengar kabar jika pak Santoso sudah menerima permintaannya untuk menjodohkan putranya dengan Liana merasa sangat senang.
"Bagaimana Ndra, apa Liana sudah memberi jawaban?" tanya Ibu Aisyah pada sang putra yang sedang menikmati sarapannya.
"Indra sudah tahu jawabannya dari sikap Liana pada Indra, tapi mengapa Ibu datang pada ayah Liana dan meminta kami dijodohkan?"
"Sebenarnya waktu itu Ibu dan pak Santoso juga Ibu Maya tidak sengaja bertemu di restoran dan kami bicara cukup lama, sampai kami membahas putra putri kami. Terbesitlah ide untuk menjodohkan kalian, itu saja," jelas Ibu Aisyah pada putranya.
"Bukannya Ibu tidak terlalu kenal dengan mereka?"
"Ibu Maya itu masih kerabat dengan mendiang ayahmu, sedangkan pak Santoso teman Ayahmu jaman sekolah dulu."
"Ohh ..." Indra hanya ber oh ria dengan jawaban sang Ibu.
"Ini takdir Ndra, sejak dulu dimana Liana sering ke rumah Ibu dan mendiang ayahmu sudah tau siapa Liana dan sejak itu ayahmu ingin suatu saat nanti kalian bisa berjodoh tapi ayahmu pergi terlalu cepat sebelum mewujudkan keinginannya," Ibu Aisyah mulai berkaca-kaca.
Indra yang mendengar cerita sang ibu tidak menyangka jika rasa Liana yang pernah abaiakan akan jadi seperti ini, mungkinkah ini sebuah balasan untuknya rasanya kini yang tak terbalas oleh Liana. Kini ia tahu bagaimana rasa Liana dulu, jika ia tidak mengatas namakan persahabatan mungkin kisah itu tak sepelik ini.
Dering telepon menghentikan aktivitas Liana yang sedang mengisi lembar perawatan milik pasiennya, ia pun segera meraih benda pipih itu. Disana tertulis nama ibu Aisyah dengan segera ia menggeser icon berwarna hijau dan menempelkan benda itu pada telinganya. Rupanya ibu Aisyah mengajak Liana untuk makan siang bersama.
Setelah menerima telepon Liana pun membereskan beberapa berkas-berkas yang masih berserakan juga bersiap-siap untuk pulang.
"Ibu ... maaf Lia telat," ucap Liana pada ibu Aisyah yang sejak tadi menunggunya.
__ADS_1
"Gak papa Ibu juga baru sampai kok, kita makan dulu yuk, Ibu sudah pesan makanan."
"Iya bu."
"Oh iya Li bagaimana dengan permintaan ayahmu?"
"Lia juga bingung bu, maaf Lia belum bisa beri jawaban,"
"Iya, Ibu mengerti nak, Ibu juga tidak pernah memaksa dan mendesak."
"Lia tau bu, tapi Lia masih dilema," ucapnya sendu.
"Sejak dulu Ibu dan juga Ayah kamu memang berencana menjodohkan kalian, tapi kami tidak mau memaksakan kehendak," jelas Ibu Aisyah.
"Lia tau bu, setiap orang tua pasti ingin yang terbaik tapi Liana belum bisa jadi yang terbaik."
Seperti hari-hari biasa Liana disibukkan dengan aktivitasnya di Rumah sakit karena dengan menyibukkan diri Liana tidak terlalu terbebani dengan perjodohan itu. Ia belum bisa menentukan pilihan antara menolak atau menerima. Jika menolak maka ia akan mengecewakan orang tuanya juga ibu Aisyah, jika menerima hatinya belum siap.
Indra tidak berharap terlalu banyak dari keputusan Liana, ia tahu keputusan apa yang akan Liana berikan. Ia harus siap menelan pil pahit dengan penolakan Liana terhadapnya, saat ini ia sudah pasrah.
"Bengong saja Ndra," Bagas tiba-tiba masuk, sejak tadi ia mengetuk pintu namun belum juga ada respon dari pemilk ruangan.
Mendengar suara Bagas, Indra pun membuyarkan lamunannya tentang Liana.
"Ada apa?"
"Nggak ada, sensi amat."
"Nggak ada yang sensi, bisa nggak sebelum masuk ketuk dulu."
"Sudah, tapi gak ada jawaban."
Tidak berselang lama Dimas dan Hendra pun masuk ke ruangan Indra.
"Kejutan!" ucap mereka bersamaan.
"Ck!" Indra hanya bisa berdecak kesal.
"Kusut amat, ditolak?"
"Hmmm ..."
Ketiga sahabatnya pun saling berpandangan, baru kali ini Indra terlihat berantakan.
__ADS_1
T.B.C