Cinta Belum Usai

Cinta Belum Usai
Abang


__ADS_3

Indra menghempaskan bobotnya diatas kasur empuk miliknya setelah membersihkan diri. Lelah dan bahagia menjadi satu. Selepas acara lamaran yang dilanjutkan dengan acara makan malam pak Santoso sang calon mertua mengajaknya untuk ngobrol hinggah mereka tidak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Setelah mengantar sang calon mertua ia pun kembali ke rumah.


Indra tidak menyangka jika ia akan berada ditahap ini, meskipun melalui perjodohan. Ia juga tidak menyangka jika Liana menerima perjodohan ini dari melihat cara Liana memberinya perhatian sejak makan malam dan menyediakan makanan kesukaannya.


Senyumnya tak kunjung pudar, rasa kantuknya hilang begitu saja padahal di hotel tadi ia sudah tak dapat menahannya. Mengingat kembali bagaimana Liana tersenyum, tidak seperti saat pertama kali mengetahui tentang perjodohan mereka jangankan untuk tersenyum, menatap dirinya pun Liana seolah ogah.


Matahari menampakkan dirinya malu-malu dari ufuk, cuaca pagi ini cukup dingin setelah semalam diguyur hujan. Indra yang bisa memejamkan mata dipukul 2 dini hari harus berjibaku melawan kantuk untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Sebentar lagi ia akan menjadi imam untuk sang istri.


"Kakak!" pekik Nindi tepat di telinganya yang sontak mengganggu mimpi indahnya. Rasanya baru saja ia memejamkan mata namun si adik bawelnya datang membangunkannya. Ia lupa mengunci pintu semalam.


"Apa sih dek," ucapnya yang masih mengumpulkan setengah nyawanya. "Kakak capek," Ia baru tersadar jika ia tidur diatas sajadahnya selepas sholat tadi.


"Gak lapar? Ini sudah jam 10 pagi," ucap Nindi, ia merasa heran pada kakaknya. Tidak biasanya Indra tertidur diatas sajadah meski lelah sekalipun.


"Bentar lagi Nin, kakak mandi dulu," Indra bangkit dari duduknya kemudian melangkah menuju kamar mandi. Sedangkan Nindi melenggang meninggalkan kamar milik sang kakak.


Meskipun mereka sangat menjaga privasi satu sama lain tidak boleh masuk ke kamar tanpa izin dari pemilik, tapi karena Nindi merasa kakaknya tak kunjung bangun maka ia memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar sang kakak.


-


-


-


Liana membolak-balik lembar pemantauan pasiennya, fikirannya tak lagi tertuju pada lembaran dihadapannya itu tapi hanya tertuju pada bagaimana bisa ia mempersiapkan pernikahannya yang tinggal 2 minggu lagi. Komunikasinya dengan sang calon suami juga tidak begitu baik, masih ada kecanggungan diantaranya. Pernikahan ala princess sesuai impiannya harus terwujud, pernikahan bak di negri dongeng, gaun putih nan indah juga dekorasi yang mewah.


"Huuufffttt". Liana menghembuskan nafas begitu kasar, sepertinya kali ini ia harus mengalahkan egonya, ia harus bertukar pendapat dengan Indra. Persiapan pernikahan telah diserahkan sepenuhnya pada kedua mempelai.


Liana pun meraih benda pipih dari dalam tasnya ia berniat menghubungi sang calon suami mencoba berbagi ide tentang konsep pernikahannya, ia mencoba berdamai dengan hatinya. Indra memanglah jodoh yang dikirim Tuhan untuknya meskipun hatinya pernah terluka karena pria tersebut, sekuat apa pun ia menolak jika sudah menjadi takdir dari sang pencipta kita hanya bisa pasrah dan menjalani semua yang telah ditakdirkan.


[Bisa bertemu di cafe biasa?] Liana bernafas lega pasalnya Indra lebih dulu mengirim pesan.


[Bisa, setelah jam pulang] balasnya, kemudian meletakkan benda pipih miliknya lalu menyelesaikan semua pekerjaannya agar ia bisa pulang tepat awaktu.


Tepat pukul 2 siang Liana sudah bersiap untuk pulang, semua berkas-berkas telah ia rapikan. Tinggal menunggu teman yang akan menggantikan shiftnya di IGD.

__ADS_1


"Tumben pulang cepet?" Tere sang parner shift merasa heran tumben Liana jam 2 sudah berkemas untuk pulang.


"Hmmm ... aku ada janji dengan seseorang," balasnya.


"Ciyee..."


"Apaan sih!" Pipi chubby miliknya pun merona.


"Kalau mau berangkat kamu duluan ajah, biar aku yang nunggu petugas shift siang buat operan jaga."


"Gak enak loh re," ucapnya sambil sesekali melirik arloji miliknya.


Setelah menunggu sekitar beberapa menit petugas yang akan menggantikan shiftnya pun datang. Setelah mereka melakukan operan jaga, Liana pun bergegas meraih tas dan berjalan menuju parkiran dimana taksi online pesanannya menunggu. Ia takut Indra menunggu terlalu lama.


-


-


"Maaf, kamu nunggu lama yah," ucap Liana ketika ia sudah tiba didekat meja dimana Indra duduk.


Liana pun duduk di kursi tepat dihadapan Indra, ada rasa canggung diantara keduanya.


"Pesan makan dulu!" ucap Indra sambil menyodorkan buku menu.


Liana pun meraih buku menu yang diberikan oleh Indra lalu memesan makanan untuk mengisi perutnya yang sejak tadi sudah berdemo untuk diisi.


"Dek, bantu abang, ajari abang. Abang ingin pernikahan ini langgeng hingga kita menua."


"A ... abang," Liana berucap dengan lirih. Ia merasa aneh dengan panggilan itu.


Meskipun pelan tapi Indra bisa mendengar apa yang Liana ucapkan barusan.


"Biar kita bisa saling belajar, belajar saling menerima syukur jika kita bisa saling mencintai," ucap Indra sembari tersenyum.


"Terserah kamu," balas Liana sengit.

__ADS_1


"Abang, calon suami ini loh!"


"Iyya ... Abang!" Indra menggulum senyum mendengar Liana memanggilnya dengan sebutan abang, sungguh manis.


"Kata ayah persiapan pernikahan 100% diserahkan ke kita berdua."


"Iyya, makanya aku bingung harus mulai dari mana sedangkan waktu kita hanya 2 minggu."


"Makanya abang ajak bertemu hari ini."


"Modus," ucap Liana pelan.


"Ngomong apa barusan hmm, kedengaran loh." Ingin rasanya Indra menyentil jidat wanita yang duduk dihadapannya itu, sama seperti yang biasa ia lakukan dulu jika Liana membuatnya gemas.


"Nggak ada."


"Yakin?"


"Ya sudah, pusing nih. Kalau gak ada yang perlu dibahas lagi aku pulang ajah," ucap Liana kesal.


"Eh ... ngambek?" Indra semakin gemas untuk menggoda Liana.


"Nggak!" kilahnya.


"Ya sudah, maaf abang hanya bercanda biar gak tegang."


Mereka pun larut dalam pembahasan persiapan pernikahan mereka, ada rasa lega dan bahagia. Ketegangan dan kecanggungan diantara keduanya mulai mencair, mungkin ini maksud dari sang ayah melibatkan keduanya untuk persiapan pernikahan.


Indra berusaha mencairkan suasana juga memberikan kenyamanan saat berdiskusi pada sang wanita pujaan yang tak lama lagi akan berstatus istri. Indra sangat berharap penantian cintanya tidaklah sia-sia, Liana segera membalas perasaannya ia tahu butuh waktu yang entah sampai kapan.


Meskipun mereka kadang terlibat perdebatan-perdebatan kecil namun kerja sama mereka cukup kompak bahkan menyita banyak perhatian dari pengunjung cafe. Bahkan kadang Liana memukul lengan Indra dengan balpoin yang ia pegang.


"Cukup?" tanya Indra pada Liana kala ia membaca list yang harus mereka lakukan selama sepekan terakhir.


"Itu ajah dulu nanti kita nanya Ayah, Ibu juga Mama." Indra merasa beruntung dijodohkan dengan wanita dihadapannya itu, pembawaan yang tenang juga dewasa.

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2