Cinta Belum Usai

Cinta Belum Usai
Keputusan


__ADS_3

Tak henti-hentinya Dimas menertawakan kondisi sang sahabat, belum juga berjuang tapi sudah menyerah begitu saja.


"Aku jadi ragu Ndra, kalau kamu betul-betul cinta sama Liana atau hanya ingin menebus rasa bersalah saja," ucapnya kemudian.


"Jangan sok tau," Indra menatapnya sinis.


"Sudah-sudah, kesini kita tujuannya menghibur bukan malah meledek," ucap Bagas menengahi.


"Bukan meledek tapi memberi motivasi," sanggah Dimas. "Kalau kamu menyerah biar aku saja yang melanjutkan perjuanganmu," ucapnya kemudian.


Tuk ... tiba-tiba sebuah bolpoin mendarat di keningnya, Dimas menguspnya pelan. Rupanya ia telah membangunkan singa tidur.


Bagas dan Hendra yang melihat adegan tersebut hanya menggelengkan kepalanya.


"Rasakan!" Kali ini Hendra yang angkat bicara.


Dimas yang ingin membalas perbuatan Indra tiba-tiba berhenti saat Indra memberi kode untuk diam karena poselnya berdering, rupanya telepon dari pak Santoso.


"Iya Ayah.


.........................


"Baiklah, Indra menyusul." Wajahnya terlihat sendu saat telepon dari ayah Liana berakhir.


"Ayah ngomong apa?" tanya Dimas kepo.


"Rahasia."


"Ck." Dimas berdecak kesal.


Pukul 8 tepat Indra sudah tiba di kediaman milik pak Santoso, ibu Aisyah sudah di sana sejak sore juga Nindi. Mereka berencana makan malam bersama, sudah lama sejak kepergian mendiang ayah Indra baru kali ini mereka berkumpul lagi.


"Selamat malam, maaf Indra terlambat," ucapnya saat menghampiri pak Santoso dan mencium tangannya takzim.


"Gak papa nak, ayo kita bergabung di taman belakang," ajaknya sambil merangkul bahu sang calon menantu, ada gurat bahagia terpancar di wajahnya.


Acara makan malam yang dirangkaikan dengan pembahasan perjodohan Liana juga Indra, dimana mereka akan mendengar keputusan Liana langsung meskipun Liana sudah memberitahu sang ayah, ibu juga ibu Aisyah soal jawaban yang ia berikan.


"Gimana Ndra dengan bisnis yang di kota M?" tanya pak Santoso saat mereka telah selesai makan malam. Para ibu juga Liana dan Nindi menyiapkan makanan penutup.


"Alhamdulillah, aman Yah," balas Indra.

__ADS_1


"Syukurlah."


Mereka kini tengah berkumpul di ruang keluarga, sejak tadi Indra memilih banyak diam sesekali ia mencuri pandang pada Liana yang juga memilih diam.


"Begini Bu Aisyah juga Indra, tadi siang putri saya Liana telah memberi jawaban soal keinginan kita tempo hari," ucap pak Santoso memulai pembicaraan dengan serius.


"Liana menyerahkan sepenuhnya keputusan ini pada Ayah, Ayah sudah meyakinkan Liana," lanjutnya, rona bahagia di wajahnya tak dapat ia sembunyikan.


Indra tak menyangka atas apa yang ia dengar malam itu, tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Acara lamaran dan pertunangan akan kita laksanakan minggu depan," putusnya kemudian.


Sontak Indra kaget dengan apa yang pak Santoso putuskan, ia menatap Liana mencari jawaban atau pun penolakan namun Liana hanya menundukkan kepalanya. Indra takut jika Liana merasa terpaksa menerima perjodohan ini.


"Ada yang mau dibicarakan lagi?" tanya pak Santoso kemudian.


"Indra ingin bicara berdua dengan Liana yah," ucap Indra kenudian.


"Silahkan," Pak Santoso memberi izin.


Indra pun berdiri berjalan menuju taman belakang, Liana pun menyusul Indra.


"Kak ingat kalian belum halal," teriak Nindi yang sontak mendapat cubitan dari sang ibu.


"Kalau kamu terpaksa kenapa menerima?"


Liana hanya bungkam.


"Saya tidak mau nantinya ada penyesalan, pernikahan dan rumah tangga bukan hal yang main-main," lanjut Indra.


"Tidak ada ada yang main-main, mungkin ini saatnya saya menjadi anak yang berbakti."


"Jangan menyakiti diri Li, jadi anak yang berbakti bukan seperti ini."


"Bukannya kamu bahagia?"


"Saya tidak mau hidup dengan pernikahan yang penuh tekanan, itu saja."


"Tidak ada yang tertekan, saya yakin pilihan orang tua pasti yang terbaik," ucapnya kemudian.


"Apa kamu yakin? hidup dengan orang yang tidak kita cintai sama saja dengan menyiksa diri Li," Indra berusaha meyakinkan keputusan Liana.

__ADS_1


"Pikirkan baik-baik Li, saya tidak mau nantinya ada penyesalan. Memang saya bahagia akhirnya kamu bisa menerima saya tapi bukan kerena terpaksa."


Liana hanya tertunduk bulir bening yang sejak tadi ia tahan akhirnya lolos juga, ia mencoba berdamai dengan hatinya yang dulu sakit karena Indra. Ia tak menyangka jika takdirnya seperti ini, bertemu kembali dengan sahabatnya yang pernah membuatnya terluka yang pernah membuatnya tidak percaya dengan cinta bahkan kini ia dihadapkan dengan perjodohan dengan pria itu.


Mereka berdua larut dalam keheningan, Liana masih saja terisak ia belum bisa menentukan hatinya namun ia sadar bahwa ia satu-satunya harapan orang tuanya. Demi kebahagiaan mereka ia rela berbuat apa saja.


"Kita jalani saja skenario itu, cinta bisa tumbuh perlahan. Jangan sampai kita merusak kebahagian mereka," ucap Liana kemudian.


"Sudah saya katakan tadi, saya tidak ingin menjalani pernikahan yang terpaksa Li, jika memang kamu merasa sungkan dengan ayah biar saya saja yang ngomong dengan ayah."


"Jangan Ndra, kamu liat sendiri kan wajah berseri mereka, saya tidak mau merusaknya."


"Kamu salah Li, lebih baik kita jujur sekarang daripada nantinya banyak luka dan air mata."


"Apa salahnya kita jalani dulu, beri saya waktu," ucap Liana kemudian beranjak dari duduknya.


"Tunggu dulu!" cegah Indra.


"Apa cinta yang dulu sudah tidak ada lagi Li," tanya Indra lirih.


"Hahahaha, cinta? cinta yang mana? sudah saya kubur bersama luka itu, jadi saya harap kamu tidak mencari dan mengungkitnya lagi!"


"Lia, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud membuatmu terluka, saya tidak ingin merusak persahabatan kita, saya juga cinta dan sayang sama kamu lebih dari segalanya tapi persahabatan itu akan hancur jika cinta itu ada di sana."


"Tapi ternyata saya salah," lirihnya kemudian. "Saya minta maaf."


Liana pun segera pergi dari hadapan Indra airmatanya tak mampu ia bendung lagi, ia tak lagi menghiarukan mata yang menatapnya heran. Ayah dan Ibunya masih berada di ruang keluarga juga ibu Aisyah juga Nindi. Dari arah taman Indra berjalan gontai seperti tidak terjadi apa-apa.


"Maaf, Indra pamit pulang," ucapnya kemudian meninggalkan kediaman pak Santoso dengan keadaan yang sangat kacau.


Indra melepar kunci mobilnya asal kemudian menghempaskan tubuhnya pada kasur, ia metap langit-langit ia tidak menyangka sama sekali jika ia dan Liana terjebak dalam perjodohan. Memang Indra mengharapkan suatu saat ia bisa memperbaiki hubungannya dengan Liana dan menjadikan Liana satu-satunya wanita dalam hidupnya. Namun belum sempat memperbaiki semuanya tiba-tiba saja mereka dijodohkan dan bahkan meminta mereka untuk segera menikah.


Indra tidak bisa membayangkan hidup berdua dengan Liana tanpa cinta bahkan tembok penghalang yang Liana bangun belum sempat ia robohkan. Kemana ia harus membawa pernikahannya kelak, ia tidak mungkin mengecewakan orang tua yang menaruh harapan lebih pada mereka.


Sedangkan pak santoso yang menghawatirkan putrinya meminta pada sang istri untuk mengecek keadaan Liana.


"Lia, ini Ibu."


"Lia ingin sendiri bu," balasnya.


"Baiklah," Ibu Maya pun meninggalkan kamar Liana.

__ADS_1


Liana pun luruh ke lantai dan menangis sejadi-jadinya.


T.B.C


__ADS_2