
Indra kembali berkutat dengan segala aktivitasnya, mengontrol hotel juga memantau beberapa restonya dari jauh. Namun raut wajah sendu Liana selalu mengganggu konsentrasinya, ia masih ragu padahal pertunangan itu tinggal beberapa hari lagi.
Indra meraup wajahnya dengan kasar lalu menjambak rambutnya frustasi penyesalan itu kembali menghantui, andai rasa itu tak pernah hadir diantara mereka dulu, andai ia membalas rasa Liana dulu, andai ia memperbaiki semuanya, namun itu hanya angan semata. Egois, dan tidak peka begitulah Indra.
Kita tidak pernah tahu takdir dan jodoh begitu juga dengan Indra, sejak dulu kedua orang tua mereka memang berniat menjodohkan putra-putrinya, namun mereka tidak ingin memaksakan kehendak.
Melihat kedekatan Indra dan Liana sejak mereka duduk dibangku sekolah membuat orang tua mereka yakin bahwa diantara persahabatan itu ada cinta. Jadi mereka urung untuk melakukan perjodohan toh mereka saling mencintai.
Namun keegoisan Indra membuat Liana menjauh, menutup diri juga menutup komunikasi hinggah mereka sama-sama dewasa lalu perjodohan itu membuat mereka kembali dalam kubangan masa lalu.
Ting ... sebuah pesan masuk pada ponsel pintar milik Indra. Ia hanya melirik sebentar lalu mengabaikannya.
Ponsel itu kembali berbunyi, disana tertulis nama Dimas. Ia menarik napas sebentar kemudian meraih benda itu lalu menggeser icon berwarna hijau kemudian menempelkan benda itu ditelinganya.
"Hmm ... iya."
...........
"15 menit lagi."
Selesai dengan teleponnya Indra pun beranjak dari duduknya merapikan sedikit kemeja juga penampilannya, menyambar kunci mobil lalu pergi meninggalkan kantornya menuju cafe. Disana ketiga sahabatnya sudah menunggu, Dimas, Bagas juga Hendra.
Setibanya di cafe Indra langsung menghempaskan bobotnya pada kursi kosong tepat disebelah Hendra. Mereka pun membahas rencana launching beberapa menu baru di masing-masing resto.
"Bagaimana kalau kita palnning liburan pekan ini?" Bagas memberi ide. Sudah lama memang mereka tidak liburan dan merefresh otaknya dari kemelut bisnis.
Indra lantas menghentikan aktivitasnya dihadapan laptop miliknya mendengar ide yang Bagas utarakan. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.
"Gimana Ndra?"
"Mmm pekan ini ada acara keluarga," balasnya.
"Gua bisa," ucap Dimas.
"Gak seru dong! ya sudah kita cari waktu sampai Indra biasa," Hendra menimpali.
"Boleh ... boleh ... tapi jangan kelamaan keburu perut istriku makin besar," ucap Bagas.
"Sip lah," balas Hendra.
Setelah pembahasan bisnis selesai mereka pun menikmati makan siang sesekali bercanda dan mengenang kembali kisah mereka dijaman kuliah.
"Maaf om terlambat," ucap seseorang. Mereka pun langsung menghentikan tawa dan beralih pada sumber suara.
"Eh, Om silahkan duduk," ucap Bagas mempersilahkan pak Santoso untuk duduk.
"Terima kasih, Om terasa muda kembali duduk diantara kalian berempat," ucapnya yang diakhiri kekehan kecil.
"Om bisa ajah," Hendra menimpali.
Mereka pun tertawa bersama, kedekatan mereka sangat baik bahkan mereka seperti sahabat.
__ADS_1
Meskipun usia pak Santoso sudah memasuki kepala 5 namun jiwa mudanya masih membara bahkan jika ia bersama keempat pemuda tersebut ia mampu berbaur. Mereka berlima larut dalam pembahasan bisnis, jiwa bisnis pak Santoso sepertinya menular pada keempat pemuda tersebut.
"Oh iyya om, kami berencana liburan dalam waktu dekat ini," ucap Bagas.
"Oh yaa? kapan?"
"Yah, kami mau sih pekan ini tapi Indra nggak bisa bergabung om."
"Oh," Pak Santoso hanya ber oh ria.
"Bagaimana persiapan lamaranmu?" ucap pak Santoso sambil menepuk bahu Indra.
Indra yang mendapat tapukan dari pak Santoso mengalihkan fokusnya dari benda pipih yang sejak tadi berada dalam genggamannya. Ketiga sahabatnya yang mendengar pertanyaan pak Santoso menatapnya seolah menginterupsi sebuah penjelasan.
"Eh ... mmm ... Alhamdulillah sudah 90 persen yah," balasnya dengan gugup.
"Alhamdulillah kalau seperti itu, ya sudah Ayah pamit pulang," ucapnya sambil melirik arloji yang melingkar pada pergelangan tangannya. "Ada yang kesal kalau Ayah terlambat pulang," lanjutnya, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Indra pada sahabatnya. Pak Santoso memberi ruang pada Indra untuk memberi penjelasan.
Setelah pak Santoso menghilang dibalik pintu ketiga sahabat Indra pun mulai menatap seolah meminta penjelasan.
"Kami dijodohkan." Ketiga sahabatnya pun saling pandang.
"Buahahahaha," Mereka bertiga pun sontak tertawa.
"Kisah yang lucu," ucap Dimas.
Tuk ... sebatang kentang goreng mendarat tepat di jidat milik Dimas.
"Santai Ndra kita hanya kaget," Hendra menengahi.
"Ck," Indra hanya berdecak kesal.
"Besok malam kalian saya undang ke acara lamaran saya dan Liana di hotel A," lanjut Indra kemudian beranjak dari duduknya. "Saya pamit," ucapnya kemudian meninggalkan ketiga sahabatnya.
Indra mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, jalan raya sore itu cukup padat.
"Liana?" gumamnya, saat penglihatannya menangkap sosok yang begitu ia kenal sedang berdiri tak jauh dari lampu merah tempat ia berhenti.
Segera ia menginjak gas saat lampu berubah hijau, ia tak ingin kehilangan jejak gadis itu. Dengan langkah panjang ia pun menghampiri Liana setelah ia memarkirkan mobilnya tak jauh dari tempat Liana berdiri.
"Li ... Liana!" Gadis berhijab itu mendongkak saat mendengar suara yang menggil namanya mengalihkan fokusnya dari benda pipih di tangannya.
"In ... Indra," ucapnya sedikit terbata.
"Ngapain berdiri di sini?"
"Lagi nunggu taksi online."
"Ya sudah, ikut saya ajah," ajak Indra. "Taksinya dibatalkan saja!"
"Kasian, udah menuju sini kok cuma katanya lagi terjebak macet."
__ADS_1
Indra melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya "ini sudah sore Li, saya yakin taksi yang kamu pesan masih jauh! batalkan saja!"
"Baiklah!" Liana pun mengalah dan mengikuti saran Indra. Setelah membatalkan taksi yang ia tunggu sejak 30 menit tadi, ia pun berjalan mengekori Indra menuju mobil.
Tidak ada obrolan, hanya keheningan. Sesekali Indra melirik gadis berhijab disebelahnya. Sedangkan Liana hanya fokus pada jalan yang ia lewati.
Hinggah mobil yang Indra kemudikan berhenti tepat di depan pagar rumah milik Liana.
"Terima kasih! mampir dulu?"
"Sama-sama, lain kali saja saya pamit dulu," ucap Indra kemudian melajukan kereta besinya meninggalkan kediaman Liana.
---------------------------------------------------
Liana tertunduk sambil meremas ujung kebaya yang ia kenakan, detak jantungnya berpacu cepat. Rasa gugup tiba-tiba menghampiri, tatapan pria yang duduk dihadapannya pun tak lepas dari aktivitasnya saat ini. Pria dengan balutan kemeja batik serasi dengan gaun yang ia kenakan tak hentinya memandang ke arahnya.
Ada rasa kagum dan juga bahagia tergambar pada wajah Indra, meskipun sesekali Dimas menyenggol lengannya namun ia tak peduli. Hingga kesepakatan dan tanggal pernikahan pun telah ditetapkan.
"Bagaimana dengan nak Indra apa ada yang perlu ditambahkan?" ucap pak Santoso yang sontak mengalihkan pandangan Indra pada Liana.
"Gak ada Yah," balasnya kemudian. Padahal sejak tadi fokusnya pada Liana saja.
"Kalau seperti itu acara pernikahan kita tetapkan dua minggu kedepan," putus pak Santoso.
Indra yang mendengar keputusan itu sontak kaget, ia pun memberi tatapan penuh tanya pada sang ibu yang hanya dibalas senyuman bahagia.
"Liatin kak Lia mulu, gak ngerti kan?" ledek Nindi yang duduk tepat dibelakangnya.
Setelah semua diputuskan kedua keluarga pun makan malam bersama, meskipun acara lamaran hanya dihadiri keluarga terdekat dan sahabat Indra namun acara cukup meriah.
"Boleh ngobrol sebentar?" Melihat Liana tengah duduk sendiri Indra pun menghampiri. Sejak tadi Indra berharap mendapat kesempatan itu.
"Boleh," balasnya.
"Maaf karena hanya pesta lamaran seperti ini yang saya adakan, mungkin ini diluar harapanmu."
"Gak papa, ini juga sudah lebih dari cukup."
"Terima kasih atas pengertiannya."
"Iya, mau makan apa? a ... aku ambil makanan dulu," ucap Liana kemudian berdiri dari duduknya menuju meja dimana makanan dan beberapa minuman telah tertata rapi.
'Aku?' Indra bergumam, kemudian senyum terbit dari bibirnya.
"Segini cukup kan?" ucap Liana sambil meletakkan sepiring makanan dihadapan Indra dan juga sepiring untuknya, disusul eorang pelayan membawa 2 gelas minuman.
Indra hanya membalas dengan sebuah anggukan dan mereka pun makan dalam hening.
"Hmm ... hmm ... dunia serasa milik berdua dan kami disini hanya ngontrak," ucap Nindi kemudian menghempaskan bobotnya pada kursi disebelah Liana disusul Dimas yang juga duduk disebelah Indra sambil menaik turunkan alisnya.
"Ck ... dasar pengganggu," Indra hanya bisa berdecak kesal melihat kelakuan adik dan juga sahabatnya itu. Bagaimana tidak kesal baru saja Indra menikmati makan malamnya yang disiapkan sang calon istri.
__ADS_1
T.B.C