Cinta Belum Usai

Cinta Belum Usai
Perjodohan


__ADS_3

"Ini apa Li?" tanya Indra pada Liana saat Liana menyodorkan sebuah undangan pernikahan, sejam yang lalu Indra menerima telepon dari Liana dan mengajaknya untuk bertemu di sebuah cafe tak jauh dari kantor Indra.


"I ... ini undangan, maksudnya apa Li?" Indra pun terbata saat menerima undangan berwarna merah maroon yang dihiasi pita emas dari Liana. Indra pun membukanya dan membaca secara seksama, disana tertulis nama Liana juga Dimas.


Tiba-tiba matanya berembun, jantungnya berpacu dengan cepat bagaima tidak wanita yang ia damba menjadi pendamping hidupnya ternyata akan segera menikah.


"Hai Ndra, hai sayang," suara bariton Dimas membuatnya dengan segera mendongkak tanpa sengaja butiran yang dari tadi tertahan akhirnya tumpah juga. Dimas menghempaskan bobotnya tepat dihadapannya berdampingan dengan Liana.


Wajah keduanya tampak berseri dengan senyum terkembang, berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan saat ini. Keping-keping hati yang retak itu hancur berserakan, seakan dunianya terasa runtuh.


"Datang ya Ndra ..." Ucap Dimas kemudian.


"Iya, saya usahakan," balasnya singkat.


"Kalau begitu kami pamit pulang dulu," kini Liana yang berucap dengan wajah berseri, senyum kebahagiaan yang terpancar disana.


Mereka berdua pun berlalu dari hadapan Indra hinggah hilang dibalik pintu.


Beberapa hari kemudian setelah pertemuan mereka di cafe, acara pernikahan Liana dan Dimas pun berlangsung sangat mewah disebuah hotel.


"SAH." Suara para saksi saling bersahutan, senyum kebahagiaan yang terpancar dari keduanya yang telah resmi menjadi suami istri itu. Indra hanya mampu menyaksikan acara sakral sang pujaan dan juga sahabatnya dari jauh, rasanya Ia tidak sanggup melihatnya.


Ia luruh ke lantai pijakannya terasa lemah dan tak berdaya. Penyesalan kini menghantuinya, ia pernah menolak cinta Liana dulu semasa mereka masih duduk di bangku SMA, mengabaikannya dan hingga kini saat penyesalan itu datang Liana telah bersama orang lain, saat cinta itu kembali tumbuh saat pertemuan pertama mereka di reunian tempo hari.


Aaaaaaaaagggggghhhhhhh ... Indra mengacak rambutnya frutasi, kecewa, hancur dan disaat yang bersamaan sebuah guncangan pada tubuhnya.


15 menit yang lalu tanpa sengaja Nindi melewati kamar sang kakak yang tidak tertutup rapat itu, saat akan berlalu dari sana Nindi mendengar sang kakak berteriak seakan mengalami frustasi berat. Nindi mencoba untuk mengintip sedikit cela itu ia takut terjadi hal yang tidak-tidak pada sang tumpuan hidup. Namun saat itu Indra sedang memejamkan mata, ia pun memberanikan diri mengguncang tubuh sang kakak.

__ADS_1


"Kakak kenapa teriak-teriak?" ucap Nindi saat ia melihat Indra sudah membuka mata.


Nafasnya memburu, airmata dipelupuk dan keringat kecil membasahi pelipis, rupanya itu hanya mimpi. Ada rasa syukur dihati Indra namun mimpi itu seperti nyata baginya.


"Kakak mimpi buruk yah?" Nindi kembali bertanya saat tidak ada respon dari Indra. "Makanya jangan tidur magrib." Nindi kembali mengoceh.


"Cerewet!" ucap Indra kemudian bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan Nindi yang melihat tingkah laku sang kakak hanya menggeleng kemudian pergi meninggalkan kamar Indra.


Indra yang berada di kamar mandi pun masih merenungi mimpinya rasa sakit dan kecewa itu terasa nyata, rasa takut kehilangan Liana kembali semakin kuat meskipun saat ini Liana belum mampu ia gapai, hati gadis itu masih mengeras. Ia takut jika mimpi itu akan menjadi nyata, semakin ia menampik bahwa mimpi itu hanya bunga tidur semakin ia takut akan kehilangan.


Indra mengguyur tubuhnya dengan air dingin berharap pikiran dan hatinya juga ikut dingin, 30 menit pun berlalu Indra keluar dengan wajah yang sedikit segar meski rasa takut itu masih menghantuinya.


Malam semakin larut namun matanya tak mampu terpejam padahal ia sudah merasakan kantuk, Ia hanya dapat berguling ke kiri dan ke kanan. Karena merasa tidak berhasil memejamkan matanya ia pun beranjak membuka pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon.


Ia menghempaskan bobotnya pada kursi, meskipun dingin udara malam yang menusuk, Indra mendekap tubuhnya sendiri menatap bintang yang kerlap kerlip diatas sana. Kegundahan hatinya belum juga redah.


"Kalau anaknya menutup pintu kenapa tidak saya dekati ayahnya?" ucapnya dengan senyum mengembang.


Ide itu cukup cemerlang menurutnya, yah mendekati ayahnya mungkin akan memberikan jalan yang mulus. Sejak dulu Indra menjalin bisnis dengan ayah Liana bahkan Indra banyak belajar bisnis dari ayah Liana kedekatan mereka bak seorang ayah dan anak, anak menantu maksudnya.


Pucuk dicinta ulam pun tiba begitulah mungkin pepatah untuk Indra pagi ini, baru semalam ia memikirkan hal itu dan pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke kantor Indra mendapat pesan dari ayah Liana untuk bertemu di tempat biasa saat jam makan siang ada hal penting yang perlu dibicarakan.


Senyum terkembang dari sudut bibir milik Indra sepanjang perjalanan pagi ini, ia seakan melupakan mimpi buruknya semalam.


Tiba jam makan siang Indra sudah tiba di cafe lebih awal dari jam yang dijanjikan sebelumnya ia terlalu bersemangat.


"Sudah lama Ndra?" ucap pak Santoso ayah dari Liana. "Tumben tepat waktu," Ledeknya kemudian.

__ADS_1


"Lagi nggak sibuk yah." Ucapnya lalu berdiri dan menyalami sang calon ayah mertua dengan hormat.


"Duduk gih!" titah pak Santoso kemudian.


"Iya yah."


Mereka pun mengobrol ringan dan membahas perihal bisnis Indra yang bermasalah di kota M. Bisnis yang Indra kembangkan di kota M merupakan bisnis kerja samanya dengan pak Santoso karena pak Santoso berasal dari kota M, banyak teman dan juga relasinya di sana jadi sangat mumpuni untuk membangun bisnis di kota tersebut.


"Maaf Lia terlambat yah tadi banyak pasien," ucap Liana yang baru saja datang, Indra yang sibuk dengan pikirannya sendiri sontak mengalihkan perhatiannya pada suara yang sangat ia kenal, suara yang membuat hatinya bergetar.


"Gak papa, Ayah juga baru sampai." Balas sang Ayah.


Mereka pun mengobrol sambil menikmati makan siang, Liana sesekali menimpali obrolan kedua pebisnis beda generasi itu. Ia banyak diam kali ini karena ia tidak mengerti dengan bisnis sedangkan sang Ayah sangat bersemangat jika berbicara tentang bisnis meskipun usianya kini tak muda lagi.


"Oh iya, maksud ayah ngajak bertemu, ayah ingin membicarakan hal yang sangat penting." Ucap ayah Santoso saat mereka menyudahi makan siangnya. Ia menatap Liana juga Indra bergantian.


"Semoga Ayah tidak salah, Ayah ingin menjodohkan kalian!" ucapan ayah Santoso membuat Liana tercengang, Indra yang sedang minum pun terbatuk-batuk tersedak minuman yang sedang Ia teguk.


"Maaf ayah tidak bermaksud ..." Ucap ayah Santoso menyesali perkataannya.


Mereka berdua pun bungkam dengan pikiran masing-masing, Indra dengan pikiran dan hati yang sangat bahagia rupanya ia tidak perlu bekerja keras mendekati ayah juga Liana sedangkan Liana ia tidak menyangka ayahnya berpikir seperti itu. Bagaimana jadinya jika ia harus berjodoh dengan orang yang ia hindari selama ini, hudup dengan orang yang menghancurkan hatinya dulu, orang yang mengabaikan rasanya.


Bukannya Liana dendam tapi ia belum bisa menerima dan luka itu seakan terbuka kembali saat pertemuannya kembali dengan Indra.


"Ayah kasi kalian waktu untuk berfikir dan memutuskan, ayah harap kalian bisa memenuhi permintaan ayah!" ucap ayah Santoso kemudian berdiri dari duduknya. "Ayah pergi dulu masih ada urusan di kantor."


Mereka berdua pun hanya mengangguki ucapan ayah Santoso mereka berdua seakan kehilangan kata-kata. Setelah kepergian sang ayah, Liana pun berdiri dari duduknya.

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2