Cinta Belum Usai

Cinta Belum Usai
Membaik


__ADS_3

Hari ke tiga perawatan Ibu Aisyah di RS, keadaannya pun semakin membaik, ia pun sudah diizinkan pulang oleh dokter yang menanganinya.


Sejak dirawat Liana lah yang menemani Ibu Aisyah saat Indra ke kantor dan Nindi yang masih kuliah. Sesekali Dimas datang menemani Liana untuk menjaga Ibu Aisyah.


Melihat interaksi antara Liana dan Dimas ibu Aisyah yakin jika Liana masih menutup hati pada dokter tampan itu, ini berarti putranya Indra memiliki peluang untuk mendekati Liana. Seperti janjinya pada Indra ia akan membantu sang putra.


Selesai meninjau kinerja karyawannya di hotel Indra segera bergegas menuju rumah sakit sang ibu dirawat, hari ini jadwal sang ibu pulang ke rumah, ada rasa bahagia yang begitu terpancar diwajah Indra saat perjalanan menuju rumah sakit.


Liana dan Nindi sudah mengemasi barang yang akan dibawa pulang. Ibu Aisya sudah nampak lebih segar dengan gamis dan jilbab panjangnya, akhirnya ia akan menghirup udara diluar rumah sakit lagi setelah 3 hari bergelut dengan obat-obatan dan infus ditangan.


"Ibu udah segaran?" Tanya Liana pada ibu Aisyah yang masih duduk di bed rawatnya menunggu jemputan dari putranya.


"Alhamdulillah nak, Ibu udah makin seger rasanya."


"Alhamdulillah kalau gitu bu, lain kali ibu harus jaga makan agar tensi darah ibu gak naik lagi."


"Iya suster akan ibu ingat, ibu seneng banget punya perawat pribadi syukur-syukur bisa jadi mantu," ucap ibu Aisyah menimpali pesan Liana.


Liana yang mendengar perkataan ibu Aisyah hanya tersenyum dengan pipi yang merona, entah bahagia atau malu.


"Ah ... ibu ngomong apa sih, liatkan kak Lia merona," goda Nindi yang melihat ekspresi Liana saat itu.


Obrolan mereka terhenti saat Indra muncul dari balik pintu, Indra merasa heran kenapa ketiga wanita beda generasi itu tiba-tiba bungkam saat ia masuk ke dalam ruangan dan mereka hanya sesekali melempar senyum satu sama lain.


"Kayaknya saya masuk diwaktu yang kurang tepat deh."


"Emang, main nyelonong saja," ucap Nindi seolah lagi kesal dengan sang kakak.


"Kalian lagi bahas kakak kan?" ucap Indra dengan pedenya.


"Pede amat lu, siapa sih?" balas Nindi dengan tatapan mengejek.


"Jujur ajah, iya kan bu? Kalian lagi gosipin saya untung saya cepet datang," Indra mencari pembelaan sang Ibu.


"Gak ada yang ngegosip," jawab ibu Aisyah, sontak wajah Indra terlihat kesal.

__ADS_1


Liana yang melihat ekspresi wajah kesal Indra hanya tersenyum.


"Ya sudah, kapan pulangnya kalau kalian hanya berdebat," Ibu Aisyah sudah tidak sabar meninggalkan ruang rawatnya.


"Terima kasih ya Li, udah mau jagain ibu selama kami semua sibuk," ucap Indra pada Liana sebelum Ia masuk ke dalam mobilnya. Ia sangat bersyukur selama ibunya dirawat hubungannya dengan Liana semakin baik, sudah tidak ada lagi aksi diam-diam seperti 7 tahun yang lalu.


Meskipun masih ada kecanggungan namun itu merupakan sebuah kemajuan, bahkan mereka sering bertukar pesan bertanya tentang kemajuan kesehatan sang Ibu saat Ia sedang sibuk di kantor dan belum sempat menjenguk sang ibu.


"Iyya sama-sama, kan sekalian saya kerja kan juga dibantuin sama Dimas," ucap Liana.


"Ya sudah saya pamit dulu," Indra pun masuk ke dalam mobil dan duduk dibalik kemudi.


"Ibu pulang dulu ya Li, sering-sering telpon ibu yah atau jalan ke rumah," ucap Ibu Aisyah yang sudah duduk disebelah Indra, ia pun melambaikan tangan sering mobil yang Indra kendarai melaju meninggalkan lobi rumah sakit.


Indra mengacak rambutnya frustasi saat membaca laporan penghasilan dari restorannya di kota M, ada masalah yang semakin lama semakin tak teratasi. Penampilannya cukup berantakan saat itu, bagaimana tidak sudah seminggu ini ia belum menemukan siapa pelakunya. Managernya pun sudah ia peringatkan berkali-kali agar mencari karyawan resto yang dengan berani membuat masalah namun tetap saja masalah tersebut belum menemui titik terang.


Sepertinya, kali ini ia sendiri yang akan turun tangan mengunjungi restorannya di kota M dan menyelesaikan sendiri masalah tersebut. Kini kecurigaannya ada pada sang manager yang seakan menutupi semua.


Ia akan berangkat ke kota M bersama sang sahabat Bagas yang juga merupakan orang yang Ia percaya mengelola beberapa usahanya itu. Indra memiliki 3 orang sahabat sejak jaman kuliah yang juga parnernya dalam membangun usahanya, Bagas, Hendra juga dokter Dimas.


"Jadi berangkat Ndra?" Ibu Aisyah tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar Indra.


"Insya Allah bu, sepertinya Indra akan turun tangan sendiri," balasnya sambil mengemasi barang-barangnya ke dalam koper.


"Kamu berapa lama di sana?"


"Gak tahu juga bu, kalau semuanya sudah teratasi Indra akan segera kembali."


"Ya sudah kamu baik-baik disana."


"Insya Allah bu, doakan Indra supaya bisa menghendel semuanya."


"Iyya, doa Ibu selalu nak," ucap wanita paruh baya itu berkaca-kaca.


Sudah seminggu Indra dan Bagas dikota M, pelaku penggelapan dana resto sudah ditemukan ternyata sang manager sendiri yang melakukannya. Indra sangat bersyukur karena belum terlalu banyak kerugian.

__ADS_1


Hubungannya dengan Liana pun semakin baik namun ia belum bisa meraih hati wanita tersebut, Liana masih menutup diri dari yang namanya cinta. Tapi Indra sudah merasa lega karena ia bisa berkomunikasi kembali dengan Liana meskipun tak seperti jaman putih abu-abu mereka.


Sangat sulit mengembalikan sesuatu yang sudah retak seperti juga dengan hati Liana, kesalahan yang membuatnya harus tersakiti, kesalahan karena menjatuhkan hati pada sang sahabat. Karena mereka tidak ingin merusak persahabatan akhirnya mereka memilih mendiamkan perasaan masing-masing.


Bukannya mempertahankan persabatan mereka malah saling berjauhan dan menutup diri. Tidak mudah bagi Liana membuka hati lagi meskipun banyak yang datang.


Dengan usaha yang terbilang cukup keras karena Indra harus melawan egonya memperbaiki segalanya meskipun tidak seperti dulu lagi, tapi setidaknya ia sudah bisa berkomunikasi lagi. Tujuannya sekarang bukan lagi memperbaiki persahabatan tapi memperbaiki cinta yang tertunda itu, memperbaiki kembali cinta yang belum usai itu.


Saat ini bukan lagi persahabatan tapi bagaimana cara Indra meraih hati Liana dan menjadi pendampingnya kelak meskipun ada bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan. Bukan lagi saatnya bermain-main dengan hati usia mereka sudah cukup matang untuk membina sebuah keluarga.


Sudah sebulan Indra bergelut dengan bisnisnya di kota M, belum ada yang bisa Ia percaya untuk menghendelnya sedangkan Bagas harus kembali ke Ibu kota karena banyak kerjaan yang menunggunya disana. Ia juga tak ingin egois terhadap sang sahabat jika Bagas yang harus menghendelnya di kota M karena Bagas sudah memiliki keluarga kecil dan sang istri sedang hamil muda.


Bahkan keberangkatannya ke kota M penuh dengan drama dari sang istri yang tidak ingin ditinggal terlalu lama oleh Bagas sedangkan dokter tidak mengizinkannya melakukan penerbangan dulu. Jadi mau tak mau Bagas harus segera pulang.


Ting ... sebuah pesan masuk di posel pintar milik Indra. Segera ia meraih benda pipih puluhan juta itu dan membuka applikasi perpesanan berwarna hijau itu. Sejam yang lalu ia mengirim pesan pada Liana, meskipun hanya sekedar pesan basa-basi.


Indra berdecak kesal saat melihat pesan yang masuk ternyata dari sang sahabat Dimas.


[Dimas : Liana lagi dirawat]


Kini kekesalannya pada Dimas menguap, ingin rasanya ia kembali secepatnya melihat keadaan Liana.


[Indra : serius Mas]


Dimas yang melihat pesan Indra hanya berdecak kesal.


[Dimas : Kamu mau berapa rius? 10? Atau 100]


Indra tak lagi membalas ocehan Dimas melalui pesan, dengan segera ia melakukan panggilan video berharap Ia bisa melihat keadaan Liana langsung meskipun terhalang jarak.


T.B.C


Mohon maaf jika ada kekurangan


Mohon dikoreksi 🙏

__ADS_1


__ADS_2