Cinta Belum Usai

Cinta Belum Usai
Bertemu


__ADS_3

Seperti hari biasa Liana kembali melaksanakan aktivitasnya di Rumah Sakit melayani para pasien yang datang yang berharap kesembuhan. Dengan telaten dan sabar Liana memberikan pelayanan pada seorang anak kecil yang terkena paku pada telapak kakinya.


"Gimana, gak sakit kan? Kamu hebat!" Puji Liana pada bocah lelaki tersebut.


"Iya tante Ryan gitu loh." Ucapnya bangga sambil menghapus sisa-sisa air matanya.


Setelah memasangkan perban Liana pun minta undur diri pada orang tua Ryan pasalnya IGD lagi ramai siang itu.


"Alhamdulillah, selesai." Ucap Liana menghempaskan bobotnya pada kursi, hari ini hari yang cukup melelahkan.


"Li.. makan siang dimana?" Salah seorang teman perawat menghampiri Liana.


"Belum tau nih, kayaknya aku makan di rumah ajah deh sudah jam pulang juga." Balasnya kemudian merapikan buku-buku pada meja perawat.


Ting ...ting ... sebuah notifikasi pesan singkat masuk pada aplikasi hijau miliknya.


[Dimas : Li gue jemput yah, kita makan diluar ]


Sejenak Liana mempertimbangkan


[Liana: Boleh deh]


Dimas yang mendapat pesan dari Liana segera meluncur ke RS tempat Liana berdinas dengan semangat yang menggebu. Setelah pindah dari RS tetsebut baru kali ini Dimas dan Liana kembali bertukar pesan dan hubungan mereka boleh dikata kembali dekat setelah berpisah 6 bulan yang lalu.


"Yuk.. "Tidak membutuhkan waktu yang lama mobil milik Dimas pun berhenti tepat di depan Liana.


Liana segera masuk ke dalam mobil milik Dimas dan mereka pun segera menuju cafe tidak jauh dari RS, cafe tersebut merupakan cafe favorit mereka dulu.

__ADS_1


Cafe yang kelihatan cukup lengah karena jam makan siang sudah lewat 2 jam yang lalu. Indra yang baru saja keluar dari meeting room setelah bertemu dengan seorang klien memicingkan matanya kemudian menghampiri meja Dimas juga Liana.


"Ekhmmm.." Indra berdehem kemudian ikut duduk disebelah Dimas tepat berhadapan dengan Liana sesekali Ia mencuri-curi pandang pada Liana yang sedang menikmati makan siangnya yang sedikit terlambat itu.


"Dasar pengganggu." Gerutu Dimas namun masih bisa terdengar oleh Indra.


Indra yang melihat kekesalan Dimas pun hanya tersenyum dan seolah-olah tidak mau tau dengan suasana hati Dimas. Sedangkan Liana yang merasa ada aura yang berbeda diantara keduanya hanya menggelengkan kepalanya.


"Kok pada diam-diaman padahal sejak tadi kalian lagi seru ngobrolnya, dilanjutin dong." Indra dengan santainya membuka suara, ia tidak tahu kalau orang yang duduk disebelahnya sedang kesal.


"Yah gimana mau ngobrol ya Li, kalau disini ada nyamuk besar." Sindir Dimas pada Indra yang seakan tak tau diri itu mengganggu makan siang Dimas dan Liana.


Sebetulnya Indra masih ada meeting dengan klien 15 menit lagi namun karena mobil kliennya terjebak macet membuatnya harus menunggu lebih lama lagi dan sialnya setelah keluar dari privat room mata Indra tanpa sengaja melihat Dimas dan Liana sedang tertawa entah sedang membahas apa. Gejolak cemburu itu mengantarkannya duduk dengan tanpa tahu malu diantara Dimas dan Liana.


"Ya udah anggap saja saya nyamuk yang tidak mendengar apa-apa." Lanjutnya lagi dengan nada kesalnya berharap Liana angkat bicara.


Perdebatan mereka harus segera berakhir ketika ponsel milik Indra berdering, tidak cukup lama Indra menjawab pesan itu kemudian beranjak dari meja Dimas dan hanya pamit melalui isyarat saja.


"Dasar datang gak dijemput pulang gak diantar." Ucap Dimas menatap punggung kokoh milik Indra.


Kadang cinta membuat sesorang terlihat bodoh dan konyol begitu dengan Indra,cintanya pada Liana yang masih tersimpan rapi dalam relung hati, cinta yang terlambat. Begitu pula dengan Liana meskipun cinta itu telah lama dan tak terbalas oleh Indra tapi cinta itu masih tertutup rapat meskipun sorot mata tak dapat membohongi siapa pun yang melihatnya.


Sebulan sudah stelah pertemuannya dengan Dimas dan Liana di cafe Indra masih menjaga jarak dengan sahabatnya Dimas padahal tidak seperti biasanya Indra melakukan hal tersebut. Mungkin Indra masih saja kesal Ia selangkah lebih cepat dari si dokter tampan itu. Soal pesona Dimas memang tak kalah jauh dari Indra, tapi soal materi Indra lebih diatas Dimas.


Liana yang merupakan putri tunggal dari pengusaha ternama di ibukota. Besar harapan orang tuanya pada Liana untuk terjun ke dunia bisnis namun Liana berkeras ingin menjadi seorang perawat yang bisa menolong dan merawat siapa pun yang membutuhkan.


Hari ini Liana kebagian tugas malam, setelah memeriksa kelengkapan dan laporan jaga di IGD Liana berjalan untuk memeriksa pasien yang masih dirawat untuk observasi di IGD. Di bad paling ujung Liana menangkap sosok pria yang tengah memeluk sesorang yang tengah berbaring dengan bahu terguncang. Liana semakin mendekat untuk memastikan keadaan pasien dan pria tersebut.

__ADS_1


"Maaf mas, ada yang bisa saya bantu?" Ucap Liana menawarkan bantuannya pada pria tersebut.


Mendengar suara tersebut pria itu mendongkak tatapan keduanya beradu cukup lama.


"Li ... Liana?" Ucap pria itu, setelah bertahun lamanya pria itu menyebut nama itu kembali.


"In ... Indra?" Begitu pula dengan Liana.


Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing, bibir mereka seakan kaku untuk kembali berbicara.


"Tante." Liana segera memecah ketegangan dengan menyapa Ibu Aisyah yang sejak tadi menatap Liana dengan heran.


"Ini Lia tante." Ucap Liana sambil menyalami Ibu Aisyah.


"Pantes tante merasa pangling, makin dewasa dan cantik saja Li." Balas Ibu Aisyah.


"Tante bisa ajah, bagaimana keadaan tante?" Liana merasa heran pasalnya Ibu Aisyah kelihatan baik-baik saja justru apa yang membuat Indra sangat sedih dan menangis seperti itu.


"Alhamdulillah tante gak papa Li, Indra saja yang panikan." Balasnya dengan senyum menatap kearah sang putra.


Indra yang merasa khawatir terhadap keadaan sang Ibu tidak dapat menahan kesedihannya pasalnya harta yang Ia miliki saat ini adalah sang ibu setelah kepargian sang ayah 4 tahun yang lalu dengan sakit jantung yang dideritanya. Indra panik setelah mendapat telepon dari sang adik yang mengatakan bahwa sang Ibu pingsan dan harus dilarikan ke Rumah Sakit. Indra takut kejadian 4 tahun lalu akan terulang lagi, belum sempat ia mewujudkan keinginan sang ibu yang ingin menimang cucu dari Indra. Melihat ibunya berbaring lemah membuatnya tak mampu menahan air mata.


"Ya sudah tante sebentar lagi tante akan kami pindahkan ke ruang rawat agar tante bisa istirahat dengan baik, Lia tinggal dulu." Pamit Liana pada Ibu Aisyah.


"Terima kasih nak." Balas Ibu Aisyah. Liana pun berlalu dari hadapan Indra sedangkan Indra hanya menatap punggung Liana yang berjalan menjauh dari bed Ibu Aisyah.


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2