Cinta Belum Usai

Cinta Belum Usai
Harapan Ibu


__ADS_3

Ibu Aisyah hanya bisa tersenyum melihat tatapan Indra pada Liana, Ibu Aisyah yakin kalau sang putra telah jatuh cinta pada Liana.


"Lia makin cantik ya Ndra, 7 tahun baru Ibu liat dia lagi." Ucap Ibu Aisyah pada sang putra yang masih memandangi Liana.


"Iyya, eh ... apaan sih bu." Indra yang tanpa sadar menjawab tiba-tiba salah tingkah. Bisa-bisanya sang Ibu menggodanya padahal keadaannya belum pulih.


"Kan ... kan ..." Bu Aisyah semakin menggoda sang putra.


"Asal Ibu tau, Liana itu milik dokter g*nj*n itu yang sudah Ibu anggap anak sendiri."


"Dimas dan Liana?"


"Ibu gak usah banyak pikiran dulu, nanti kita bahas setelah Ibu membaik yah." Ucap Indra mengalihkan pembicaraan Ia tak ingin terluka terlalu jauh, mengingat Dimas dan Liana.


Dimas yang mendapat kabar bahwa Ibu Aisyah masuk RS segera menyusul setelah menutup tempat praktiknya.


"Ibu ... Ibu gak papa?" Dimas yang baru datang dengan wajah paniknya menghampiri Ibu Aisyah yang baru saja dipindahkan di ruang rawatnya. Indra yang meliahat adegan Dimas dan sang ibu hanya menatap dengan malas dan memilih duduk pada sofa sambil menyaksikan betapa lebaynya dokter itu.


"Ibu gak papa bang." Kali ini Nindi yang angkat bicara. "Ibu baru saja tertidur setelah minum obat."


Dimas yang mendengar jawaban Nindi merasa agak lega. Dimas kemudian duduk pada kursi di samping bed milik bu Aisyah.


Indra yang merasa lelah memilih keluar untuk mencari ketenangan dan menghirup banyak oksigen, Ia memilih mencari udara segar di taman RS.


Indra pun mendudukkan bobotnya pada kursi panjang, menghirup udara dan bersandar seolah melepas beban yang cukup berat. Liana yang sedang duduk di ruang jaga melihat Indra dari jauh ada rasa yang tak bisa Liana ungkapkan.


Ingin rasanya Ia menemani disaat Indra terpuruk namun harus Ia tahan, keadaan tak lagi sama seperti dahulu disaat hanya dia tempat Indra menumpahkan keluh kesahnya, bercerita tentang masalah yang Ia hadapi, membantunya mencari solusi dan jalan keluar.


"Ndra." Tepukan pada bahunya membuat Ia membuka mata, rupanya Dimas yang kini sudah duduk tepat didebelahnya.


"Hmmm." Balasnya dengan malas.


"Kenapa gak nelpon kalau Ibu drop lagi?"


"Gak sempat."


"Kalau bukan Nindi aku gak tau kalau Ibu dirawat, kenapa? Hmmm ..."


"Aku belum bisa buat Ibu bahagia Mas." Matanya berkaca-kaca mengingat Ia belum bisa mewujudkan keinginan sang Ibu agar ia segera menikah.


"Belum buat Ibu bahagia? Terus pencapaian kamu sekarang, mapan dan sukses apa itu belum membuat Ibu bahagia?"


"Entahlah, Ibu mau aku segera menikah." Jawabnya frustasi, baru kali ini ia merasa sangat berantakan dan tak mampu mewujudkan keinginan sang ibu. Belum ada wanita yang pas untuk mengisi hatinya dan menjadi pendampingnya, menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.

__ADS_1


"Berjuanglah, Aku tau siapa wanita yang kau damba." Dimas seolah tau apa maksud dari ucapan dari Indra. Dimas tahu siapa wanita itu, seperinya kali ia harus berkorban demi sang sahabat.


"Sok tau."


"Aku tau Ndra, apa sih yang tidak aku tau dari kamu."


"Terserah."


"Cinta butuh perjuangan dan pengorbanan, jangan siksa dirimu hanya karena egomu." Dimas menasehati sang sahabat, entah itu nasehat yang ke berapa. Dimas mendekati Liana dengan tujuan ingin mempersatukan Liana dan Indra kembali namun usaha itu belum membuahkan hasil lantaran Indra dan Liana sama-sama menutup diri demi menjaga ego.


Liana terlalu takut menjatuhkan hati kembali ia takut akan kecewa untuk kedua kalinya juga Indra takut jika menjatuhkan hati pada Liana maka Liana akan terluka lagi.


Rintik hujan malam itu seolah mewakili suasana hati Indra, ia menatap rintik demi rintik yang jatuh membasahi bumi dibalik tirai kamar tempat sang Ibu dirawat. Ada rasa yang tak bisa ia ungkap, ada cinta yang tak mampu ia gapai, ada rindu yang tak terbalas.


"Indra ..." Panggil Ibu Aisyah pada sang putra, saat matanya terbuka ia melihat sang putra sedang termenung.


Indra yang mendengar panggilan sang ibu langsung mendekat "Ada yang bisa Indra bantu?"


Ibu Aisyah hanya menggelengkan kepalanya.


"Apa yang membuatmu kurang kerjaan seperti tadi, menghitung rintik hujan." Ucap bu Aisyah kemudian.


Indra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu "Maksud Ibu?"


"Maaf bu Indra belum bisa seperti yang ibu mau."


"Ibu tidak pernah minta yang aneh Ndra, ibu cuma ingin kamu segera menikah."


"Maksud Indra seperti itu bu."


"Bagaimana dengan Liana?"


"Mak..maksud Ibu?" Indra paham apa yang diinginkan sang ibu, tapi akankah hal itu dapat terwujud.


"Biar ibu yang bantu, dasar lemah." Ucap Ibu Aisyah sambil memukul lengan sang putra. "Sampai kapan kamu harus begini Ndra, laki-laki memang harus berjuang, jangan egois."


"Terserah ibu lah, Indra istirahat dulu. Kalau ibu butuh panggil Indra saja."


"Kalau kamu gak dengar ibu panggil calon menantu Ibu saja." Sepertinya menggoda Indra akan menjadi hobby baru Ibu Aisyah.


"Jangan terlalu berharap bu." Ucap Indra setelah Ia membatingkan tubuhnya pada sofa di ruang rawat sang ibu.


"Kan katanya Liana dekat sama Dimas ya otomatis Liana calon menantu ibu kan?" Ucapnya dengan senyum penuh arti.

__ADS_1


"Asal ibu senang."


Pagi yang cerah setelah semalam diguyur hujan Indra yang masih setia bergelung dibalik selimut meskipun badannya sedikit kurang nyaman karena hanya tuduran di sofa.


"Aduh kakak, bagaimana jodohnya dibawa orang kalau jam segini baru bangun, tadi tuh kak Liana ke sini tau nggak jengukin ibu, mungkin saja sekarang makin illfeel sama kakak liat kakak tiduran mangap." Nindi yang melihat kakaknya baru membuka mata padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi sudah di berondong kata-kata yang kurang sedap.


"Terserah, cinta itu tak bersyarat."


"Au ahh."


"Sudah-sudah, setelah kakak kamu subuhan dia tidur lagi. Mungkin dia lelah." Ibu Aisyah melerai keduanya, Ia merasa heran mereka sudah dewasa tapi masih saja sering beradu mulut. Si adik yang cerewet dan si kakak yang tidak mau kalah.


"Tuh kan, kakak itu gak mungkin tiduran kalau gak lelah Nin."


"Ya sudah cuci muka gih, tadi kak Liana bawa bubur ayam kesukaan kakak sama roti panggang."


"Yang bener dek?" Ucapnya tak percaya dengan apa yang dikatakan sang adik.


"Bener lah."


Setelah cuci muka dan gosok gigi Indra dengan cepat meraih kotak bubur ayam yang Liana bawa tadi dan kembali menghempaskan bobotnya di sofa, Indra menikmati bubur ayam itu dengan lahap.


"Doyan apa lapar?" Dimas tiba-tiba datang dan ikut menghempaskan bobotnya pada sofa disebelah Indra.


"Dua-duanya."


"Gimana gak doyan bang, itu bubur kak Liana yang bawa." Nindi gemas melihat sang kakak makan dengan lahapnya.


"Yang bener, gak bagi-bagi." Dimas seolah tak percaya.


"Bener bang."


"Pantes makannya lahap, makannya pake cinta Nin."


"Ini bukan soal lahap atau cintanya Dim sejak siang saya belum makan apa-apa lantaran panik, sampai sini paham?"


"Gak dan gak mau paham." Ucap Dimas.


"Terserah!"


Sedangkan Ibu Aisya yang melihat perdebatan ketiganya pun hanya menggelengkan kepala, Ia begitu senang dan bahagai meskipun sering berdebat namun mereka saling menguatkan.


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2