
POV Liana
Entah fakta apa lagi yang baru saja aku dengar dari pembicaraan ibu juga mama. Selama ini saya enggan dan tidak mau tau dengan apa yang terjadi tentang Indra, yah Indra lesmana prawira pria yang telah menghancurkan hatiku meskipun aku tau itu hanya cinta monyet. Cinta gadis yang beranjak remaja. Ternyata selama ini kedua orang tua kami bersahabat dan telah membuat perjodohan tanpa aku ketahui sama sekali.
"Lia ..." Suara ibu juga ketukan pintu membuyarkan lamunanku.
"Iya bu ..." sahutku dari dalam kamar.
"Makan malamnya sudah siap!" Astagfirullah ternyata jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tanpa ku sadari begitu lama larut dalam pikiranku sendiri.
"Iya bu ... Lia siap-siap dulu," ucapku kemudian bangun, merapikan piama yang ku kenakan kemudian menyambar jilbab instan lalu mengenakannya.
Selama 3 bulan terakhir ini aku harus mengenakan hijab saat keluar kamar karena kadang kala ada Indra atau Dimas yang datang menemui ayah. Dan ternyata bertahun-tahun lamanya ayah sudah menjadi parner bisnis dengan Indra dan baru aku ketahui sejak perjodohan itu.
Juga Dimas pernah datang menemui ayah untuk melamarku namun ayah tolak dengan dalih aku sudah dijodohkan dengan anak rekan bisnisnya.
Lamaran itu baru ku ketahui saat mendengar obrolan ayah juga Dimas saat acara lamaranku dengan Indra. Kecewa, wanita mana yang bisa menolak pesona dokter tampan itu termasuk aku. Aku tau perasaan Dimas karena kami pernah dekat saat Dimas tugas di RS dimana aku bertugas. Dimas yang mengisi keosongan hatiku menjadi penghibur juga penyejuk jiwa yang hampa.
"Bagaimana dengan persiapannya?" Ayah bertanya saat kami menyudahi makan malam kami.
"Alhamdulillah sudah 90% yah," balasku.
"Terima kasih, Ayah bahagia akhirnya kamu akan menikah. Gadis kecil Ayah sudah dewasa," Ayah berucap dengan mata yang berkaca-kaca. Ayah cinta pertama seorang anak perempuan termasuk aku.
"Sama-sama, seharusnya Lia yang berterima kasih sudah membesarkan Lia dengan segenap hati, fasilitas tanpa kurang satu pun." Air mata ini lolos begitu saja.
"Ayah harap kamu bisa mencintai dan menghormati Indra, Indra laki-laki yang baik, sopan, bertanggung jawab juga pekerja keras."
"Iya Ayah, Lia tahu apapun keputusan Ayah dan Ibu itu yang terbaik untuk Lia."
"Ya sudah kamu istirahat, jangan sampai stress menjelang pernikahanmu."
"Baik Ayah, Lia ke kamar dulu." Aku pun beranjak dari ruang makan menuju kamar rasa lelah dan perut kenyang membuatku ingin segera menuju alam mimpi. Lelah setelah seharian bekerja kemudian kesana- kemari mempersiapkan pernikahan.
Mengingat tentang pernikahan kadang aku merasa ini sebuah lelucon, memang Indra laki-laki yang ku harapkan dulu lalu dengan mudahnya mematahkan hatiku dan tiba-tiba ayah memberi tahu bawha kami dijodohkan dari dulu. Ayah dan papanya Indra merupakan rekan bisnis dan semenjak papanya meninggal dunia dialah yang melanjutkan bisnis sang papa dibantu oleh ayah.
-
-
-
__ADS_1
Matahari pagi mengintip lewat celah jendela, seusai shalat tadi aku kembali menarik selimut dan tenggelam kealam mimpi. Mulai hari ini hinggah 2 minggu kedepan aku akan menikmati libur yang sangat membosankan.
Rasanya ingin sekali menikmati hari libur ini dengan jalan-jalan atau apalah namun katanya calon pengantin harus menjalani masa pingit dan tidak diperbolehkan untuk ke mana-mana.
[Mbak, jalan yuk!] Baru saja memikirkan tentang jalan-jalan dan Nindi mengirim pesan melalui aplikasi hijauku.
[Gimana yah? Mbak kan lg dipingit] Balasku segera pada Nindi.
[Nyalon ajah boleh kan?] Sepertinya itu yang sangat ku butuhkan saat ini pijat relaksasi.
[Boleh, mbak siap-siap dulu] aku pun bergegas bersiap, mengenakan stelan kemeja dan celana bahan kemudian mengenakan jilbab instan senada. Tak lupa dengan tas dan dompet.
[Duduk yang manis dan tunggu, biar nindi yang jemput] setelah membaca pesan Nindi aku pun menemui Ayah dan Ibu di taman belakang yang sedang menikmati teh hangat dan beberapa cemilan.
"Bukannya hari ini libur?" Ibu yang melihat ku dari arah dapur langsung bertanya.
"Nindi ngajak ke salon bu," jawabku. "Lia pamit yah bu."
"Lets go tuan putri!" setelah menunggu selama 15 menit akhirnya Nindi pun datang.
"Ayo," ucapku setelah duduk disamping supir pribadi, ah begini rasanya punya saudara perempuan yang sefrekuensi.
"Tada!" Nindi mengangkat sebuah kartu kredit.
"Maksudnya? aku gak ngerti."
"Ini hasil gue nadah sama bang Indra."
"Astaga Nindi," aku hanya bisa berucap dalam hati.
"Gak usah shok gitu deh mbak," cerocosnya lagi saat aku hanya memilih diam dan hanya ku balas dengan mengangkat bahu.
Rupanya Nindi membawaku ke salon yang cukup terkenal dengan perawatan juga spanya, desain yang cukup mewah dan harga yang ditawarkan sedikit fantastis. Ini kali pertama aku menginjakkan kaki disini. Sering sih ke tempat spa namun tak semewah dan semahal tempat spa yang konon katanya ini tempat langganan Nindi.
"Sist beri spa yang terbaik untuk mbakku yang cantik ini," ucap Nindi pada salah satu pelayan, sepertinya Nindi sudah akrab dengan pemilik dan beberapa pelayan.
"Mbak, mari ikut saya," ucapan pelayan, aku pun mengekorinya menuju sebuah ruangan spa.
Pelayan di spa ini tidak main-main, ini pengalaman pertamaku melakukan perawatan mahal. Aku pun memejamkan mata menikmati pijatan demi pijatan yang pelayan spa berikan, aroma lavender seakan mendominasi ruangan yang kutempati ini.
"Seger kan mbak?" tanya Nindi saat kami baru saja menyelesaikan biaya administrasi.
__ADS_1
"Seger, tapi tagihannya juga seger Nin" kekehku.
"Santai, kan dibayarin," balasnya.
"Santai gimana? itu menghabiskan gajiku 2 bulan sekali perawatan," gumamku dalam hati.
Pantas saja gadis yang bersamaku saat ini sangat mulus tanpa cacat ternyata biaya sekali perawatannya tidak main-main.
"Laper, cari makan dulu yuk!" ajaknya saat aku baru saja mendudukkan bobotku pada kursi penumpang di sebelahnya.Aku hanya mengangguk tanda setuju.
"Mbak bisa seafood kan?" tanyanya ditengah perjalanan kami dan hanya ku iakan dengan anggukan.
Mobil yang Nindi kendarai pun berhenti tepat di depan sebuah restoran yang menawarkan macam-macam hidangan seafood. Kami pun berjalan beriringan memasuki resto tersebut.
Restoran dengan desain yang sangat cantik dan elegant, tempat ini sangat nyaman dan adem dengan warna hijaunya, rasanya aku jatuh cinta dengan tempat ini meskipun ini kali pertamanya ke sini.
"Aku gak tau loh Nin kalau disini ada restotan yang bikin adem gini," ucapku saat kami sudah mendudukkan bobot diatas kursi kayu dengan meja bundarnya.
"Masa sih?" ucap Nindi seakan heran dengan apa yang baru saja aku ucapkan.
"Hmmm," balasku dengan mata yang masih menelisik setiap sudut-sudut ruangan dari tempat dimana aku duduk. "Mbak suka desain apalagi warnanya," ucapku lagi.
"Sesuai dengan namanya green seafood, disini specialnya semuanya pakek sambel ijo," jelas Nindi seolah paham dengan restoran ini.
Kami pun memesan beberapa makanan spesial dari restoran ini setelah Nindi menjelaskan beberapa menu.
"Pemilik resto ini masih muda loh mbak," jelasnya lagi.
"Masa sih, salut banget loh."
"Hmm ... trus menu di sini selain enak juga pas di kantong para mahasiswa."
Aku pun memperhatikan sekeliling ternyata disekitar sini ada sebuah universitas ternama.
"Inspiratif banget." Aku pun masih terkagum-kagum dengan fakta tentang restoran ini.
"Iya lah dan sebentar lagi anda akan menjadi nyonya dari pemilik resto ini."
"HAH!"
"Gak usah kaget gitu mbak, apalagi pake pasang ekspresi shock gitu. Kan calon suami mbak seorang pengusaha resto dan hotel jadi kalau hanya untuk membayar biaya nyalon kita tadi gak seberapa, dan itu semua bang Indra lakukan demi membahagiakan dan memanjakan serta memberikan kehidupan yang layak untuk wanita yang ia cintai sejak duduk dibangku SMA."
__ADS_1
Aku pun tercengang dengan fakta yang diceritakan oleh Nindi barusan dan rasa lapar pun seakan menguap entah kemana.
T.B.C