
Indra meletakkan ponsel pintarnya setelah melakukan panggilan video dengan Dimas juga Nindi, Maya dan Indah yang tengah menemani Liana di ruang rawatnya, kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Rencananya siang ini Indra akan ke restoran untuk meninjau para karyawan sekaligus makan siang disana, berhubung hari ini restorannya launching menu baru. Hanya butuh waktu 15 menit jarak tempuh dari rumah yang ia sewa selama di kota M menuju restoran miliknya menggunakan taksi online ataupun angkutan umum.
Dengan tampilan seadanya Indra memasuki restoran dan berjalan menuju ruangan khusus yang dulunya milik sang manager yang telah berkhianat itu. Sebelum meninjau restoran ia ingin mengisi perutnya dulu, setelah memesan makan siangnya Indra pun menghempaskan bobotnya pada kursi di dalam ruangan tersebut.
Tok ...tok ... suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Indra dari komputer miliknya.
"Masuk!" Titahnya setelah fokusnya kembali pada komputer dihadapannya.
Seorang pelayan pria masuk dengan membawa nampan yang berisi makanan yang Indra minta tadi.
"Maaf pak, ini makan siang yang bapak pesan tadi," ucap pelayan resto tersebut.
"Oh iyya, letakkan di sini saja!" ucap Indra sambil menggeser beberapa berkas.
"Saya permisi dulu pak." Pamit pelayan tersebut setelah meletakkan makan siang milik Indra di atas meja.
"Iyya, terima kasih."
Indra pun meninggalkan pekerjaanya kemudian beralih pada piring yang berisi makanan yang seolah memanggilnya untuk segera disantap
Setelah memeriksa beberapa berkas tentang para karyawan restonya juga bagaimana kerja dan dedikasinya Indra telah memutuskan siapa yang akan ia beri tanggung jawab sebagai manager.
Setelah semuanya rampung Indra akan berencana pulang ke Ibu kota, kasian Bagas yang harus pontang - panting sendiri disana sedangkan Hendri sudah menetap di kota S menghendel hotel cabang yang ada disana.
Sedangkan Dimas yang tidak ingin ambil pusing dan terjun langsung ia hanya mengandalkan ketiga sahabatnya itu. Berkat suntikan dana dari si dokter itu usaha mereka semakin berkembang sehingga bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah yang nyatanya membuat kehidupan mereka semakin membaik di usia mereka yang tergolong masih muda.
Meeting pun telah selesai dan jabatan manager baru pun telah di tetapkan, ada kelegaan sendiri bagi Indra karena ia masih mampu memperjuangkan resto tersebut hinggah bisa bangkit dari ambang kebangkrutan akibat ulah orang yang tidak bertanggung jawab yang bisa membuat karyawan dan pelayan yang menggantungkan nasib pada resto tersebut kehilangan mata pencharian, yang sebagian besar karyawan di resto tersebut berstatus mahasiswa yang merantau dari beberapa kota.
"Saya harap kalian bisa bekerja sama dan pak Andi saya titip resto, kelola dengan baik, beri pelayanan yang terbaik," ucap Indra pada manager dan juga para karyawan sebelum ia meninggalkan resto tersebut untuk bertolak ke Ibu kota.
__ADS_1
"Siap pak." Ucap pak Andi, sebelumnya pak Andi adalah seorang chef di resto tersebut namun karena dedikasi dan kerja kerasnya yang membuat Indra memberikan jabatan baru pada pria yang ditaksir berumur sekitar 40 tahunan.
"Oke, terima kasih mohon bantuan dari rekan-rekan semua untuk kemajuan restoran ini dan mohon di ingatkan kalau saya ada kesalahan," ujar pak Andi kemudian.
Setelah semua urusan terselesaikan Indra merencanakan untuk kembali ke ibukota, selain rindu pada rumah, ibu dan juga Nindi, Indra juga merindukan senyum malu-malu dan wajah jutek milik Liana.
Bruukk ...
Saat Indra baru saja keluar dari ruangannya tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seseorang.
"Maaf ... maaf saya tidak sengaja!" ucap Indra pada seorang wanita yang ia tabrak sehingga membuat wanita tersebut hilang keseimbangan.
Wanita itu pun segera berdiri dan membersihkan pakaianya yang sedikit berdebu akibat menyentuh lantai.
"Makanya kalau jalan hati-hati!" ucap wanita tersebut, wanita dengan penampilan yang elegan, kekinian, dan modis namun tidak terbuka. Parasnya yang ayu dengan bola mata bulat.
"Yunia?" ucap Indra saat ia melihat siapa wanita yang ia tabrak barusan.
"Indra!" Wanita itu tidak kalah kagetnya saat melihat siapa yang ia tabrak.
"Yah seperti kamu lihat sekarang."
"Ngapain di sini Ndra?"
"Sekedar jalan-jalan saja."
"Duduk dulu gih, kita ngobrol dulu gitu." Ajak Yunia kemudian berjalan menuju mejanya tadi sebelum ke toilet dan mengalami sedikit insiden tabrakan dengan Indra.
Dengan langkah berat Indra mengikuti langkah Yunia, apa salahnya mereka sedikit berbincang mengenang masa kuliah dulu atau sekedar reuni rasa yang pernah hadir diantara mereka.
"Sendiri saja Yu?" Indra berusaha memecah kecanggungan.
__ADS_1
"Hmmm."
"Suami kamu mana?"
"Ada." Seketika raut wajah cantik itu berubah menjadi sendu. "Kamu sendiri ngapain di sini?"
"Lagi meninjau usaha."
"Ohh gitu."
"Kalau kamu sendiri?"
"Yah.. lagi nyari udara segar ajah, ya udah Ndra saya pulang dulu, kita bertemu lain waktu. Nomermu masih yang lama kan?"
"Hmm."
Yunira pun meninggalkan cafe dan Indra yang masih menatap punggung Yunira hinggah hilang dibalik pintu, yah Yunira wanita yang pernah mengisi hatinya di zaman kuliah dulu namun takdir yang memisahkan mereka saat Yunira membawa Indra kehadapan orang tuanya, bukannya disambut dengan baik namun penolakanlah yang Indra dapatkan karena Yunia telah dijodohkan oleh orang tuanya.
Perjodohan bisnis tepatnya, Yunia yang notabene anak tunggal harus menuruti keinginan sang ayah dan menerima perjodohan itu yang membuatnya harus mengakhiri hubungannya dengan Indra.
Yunia sosok gadis yang lemah lembut, cerdas dan pantang menyerah juga pembawaan yang dewasa. Gadis yang sederhana meskipun berasal dari keluarga yang berada, sopan juga dermawan. Siapa pun yang mengenal sosoknya pasti akan jatuh cinta.
Teringat akan masa dekat dengan Yunia dulu, Yunia yang mampu menggantikan sosok Liana saat itu. Saat hati itu kembali terpatahkan dengan perjodohan Yunia, Indra kembali menutup hati hinggah saat ia bertemu lagi dengan Liana diacara reunian sekolahnya bibit-bibit cinta itu mulai tumbuh tanpa permisi.
Indra beranjak dari duduknya membuyarkan lamunan tentang Yunia sekarang fokusnya pulang dan berjuang meraih hati Liana.
Jam menunjukkan pukul 5 sore Indra baru saja tiba di rumah dan disambut oleh sang ibu juga Nindi, hampir 2 bulan Indra diluar kota membuat kedua wanita yang berharga di sisinya itu merindu.
Indra langsung menuju kamarnya setelah berbincang-bincang sejenak dengan sang ibu dan juga Nindi perihat restorannya di kota M sambil menikmati teh hangat dan juga cemilan.
Indra menghempaskan badannya pada kasur empuk di kamarnya merenggangkan otot-otot tubuhnya yang lelah, ia harus berjuang menjadi tulang punggung setelah kepergian sang ayah, meskipun meninggalkan gaji dari pensiunan tapi itu hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari sedangkan Nindi harus mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.
__ADS_1
Berkat kerja kerasnyalah Indra mampu merubah hidupnya dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Sayangnya kisah asmaranya belum sesukses bisnisnya, ia masih saja betah sendiri.
T.B.C