
"Aku adalah bait bait kata itu.
Tertulis indah dalam selembar kertas putih kusut itu.
Aku adalah bait bait kata itu.
Dalam kertas kusut tak menarik itu.
Aku adalah bait bait kata itu.
Menyimpan rasa namun tak tersampaikan."
Demikian sajak berjudul Tak tersampaikan yang diungkapkan Pijei.
Dalam suasana larut dalam sedih. Pijei menulis bait bait puisi sebagai ungkapan perasaannya. Tidak ada sahabat yang mengetahui kekecewaan yang dirasakannya. Saat bersama sahabatnya ia tak pernah memperlihatkan nuansa nuansa kekecewaan. Selalu senyuman ia perlihatkan seolah tidak terjadi apa apa.
Sepanjang hari Pijei memikirkan, mengapa kenyataan sepahit itu harus ia rasakan. Sunggu batin Pijei sangat terluka. Pijei selalu bersajak setiap kali mengingat kejadian yang ditimpahnya.
"Jika mengiklaskan merupakan bagian dari cinta. Lalu mengapa aku tidak begitu ikhlas, melihatnya dengan orang lain. Apakah yang kumiliki bukanlah Cinta. Sehingga tidak begitu ikhlas. Atau mungkin teguran Tuhan. Karena aku begitu berharap pada manusia bukan padanya."
Setiap kali Pijei bersajak. Pijei semakin mengerti bahwa tidak seharusnya ia terlarut dalam kecewa dan sedih begitu lama. Kerena harapan tidak digantungkan pada manusia, melaikan pada sang pencipta.
__ADS_1
Melihat kenyataan yang begitu pahit. Hingga membuat dirinya begitu kecewa dan sedih. Namun tidak menghilangkan perasaan cintanya terhadap Inayah. Karena cintanya jauh begitu besar dari kecewa serta sedih yang dirasakan.
Beberapa pekan telah Pijei lalui tanpa melihat ataupun berkomunikasi dengan Inayah. Saat waktu luang Pijei menepih dalam suasana rumah yang begitu sepih. Belajar lebih mendewasakan diri serta mengikhlaskan.
"Perna saya berkata, hati ini Independen (tak terikat dengan siapapun). Namun saat ini aku sadar itu tidaklah benar. Hati ini telah terikat. Yah terikat, aku mencintainya kerena Tuhan ku" batin Pijei
Menyadari bahwa perasaan yang dimilikinya merupakan titipan Tuhan. Pijei bangkit dari keterpurukan karena rasa Kecewa dan sedih. Die berpikir Jika Tuhan berkehendak maka mereka berdua akan bersatu cepat atau lambat.
Selama Pijei dalam masa keterpurukan, rupanya Inayah menunggu kabar darinya. Akan tetapi Pijei tidak mengetahui itu. Pijei masih mencintai Inayah, namun dia tidak bisa menghubungi Inayah ataupun melihatnya karena masih terbayang bayang wajah lelaki yang bersama Inayah di waktu itu. Dia hanya berharap semoga Inayah lebih dulu menghubunginya.
Di pagi hari yang sejuk dengan ditemani suara kicauan burung burung. Seolah harapannya didengarkan oleh Tuhan. Saat itu terdengar dering suara telpon dari Inayah. Dia pun mengangkat telpon dengan perasaan bimbang.
"Hallo kak" ucap Inayah
"Tidak ada apa apa kak. Hanya saja saya tidak tidak pernah melihat kakak beberapa pekan ini" Ucap Inayah
"Kakak sekarang apa kabar?" Lanjut Inayah
"Kabar saya baik adik. Adik sendiri bagaimana?" jawab Pijei
"Aku juga baik kak" jawab Inayah
__ADS_1
Tidak ada angin tidak ada hujan. Tiba tiba Badai pemikiran untuk mempertanyakan siapa laki laki yang bersama Inayah di tempo hari, muncul dikepala Pijei.
"Dek, saya pernah melihat adik diparkiran kampus bersama laki laki. Pacarnya yah?" Tanya Pijei
"Bukan kak. Dia teman sekolah saya saat di kampung. Hanya kebetulan sekarang dia berada disini" jawab Inayah
"Begitu yah dek. Saya kira pacarnya hehehe" ucap Pijei dengan tertawa bahagia
"Kakak kenapa berpikir seperti itu?" tanya Inayah
"Tidak kenapa kenapa. Hanya Iseng saja adik" jawab Pijei menyembunyikan maksud sebenarnya.
"iya kak. Kakak Aku tutup yah kak telponnya. By by kak" ucap Inayah
"Iya by by dek" jawab Pijei
Mendengar ucapan Inayah bahwa laki laki yang bersamanya ditempo hari, bukanlah kekasihnya. Membuat Pijei sangat bahagia. Rupanya apa yang dia lihat tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan. Inayah belum memiliki kekasih.
Mengetahui semua itu, keyakinan Pijei mekembali tumbuh. Bahwa Inayah akan dipersatukan dengannya melalui skenario Tuhan yang terkadang tidak disadarinya.
Hubungan Pijei dan Inayah kembali membaik. Serta semakin menumbuhkan Cinta diantara mereka. Akan tetapi satu sama lain saling menutupi perasaan itu.
__ADS_1
"Tidak ada kesiasiaan jika sesuatu disandarkan pada Tuhan. Karena Tuhan yang maha mengetahui apa yang terbaik bagi umatnya."