
Tiga hari setelah mendapat telepon dari Ibunya, Pijei kembali beraktifitas bersama sahabatnya. Berdiskusi, Kuliah dan kadang juga berolahraga bersama.
Hingga pada malam hari mereka masih saja berdiskusi dalam markas yang tidak begitu besar, dengan sisi ruangan dipenuhi oleh benda benda yang tidak lagi berguna. Waktu itu Bintang duduk bersama Nur, sedangkan Aare, Angker, Fire dan Pijei duduk melingkar bersama.
Malam itu mereka mendiskusikan materi yang berjudul "Hakikat Cinta". Dalam diskusi yang mulai terlihat alot dengan saling membantah argument satu sama lain. Pijei pun berbicara, berharap dapat merasionalkan pemikiran sahabatnya dengan apa yang akan dia katakan.
"Cintah adalah perasaan kasih dan sayang, yang datangnya dari sang pencipta (Tuhan Yang Maha Esa). Karena Cinta berasal dari sang pencipta maka ia memiliki Fitrah atau sifat yang suci. Dengan Fitrah atau sifat yang suci maka cinta akan berwujud baik dalam orientasinya. Jadi jika ada yang mengatakan dia mencintai seseorang. kemudian mengajaknya dalam keburukan. Seperti berpelukan, berciuman dan bahkan yang lebih dari itu serta lainnya yang dilarang oleh Tuhan. Maka dapat dipertanyakan apakah itu cinta atau bukan. karena cinta memiliki sifat suci maka bertentangan dengan sifat sifat keburukan." ucap Pijei
Mendengar ucapan Pijei Diskusi pun dihentikan dan Sahabatnya seolah diterpa kebingungan. Mereka berpikir apakah yang terjadi hari ini dilingkungan sekitar bukanlah Cinta akan tetapi hanyalah Nafsu semata. Tidak terkecuali Nur ia juga memikirkan hubungan nya dengan Bintang.
"Apakah Bintang benar benar mencintai ku?" Batin Nur dengan memandangi wajah Bintang
Melihat wajah Nur yang seolah memikirkan sesuatu, Bintang bergegas mengelus-elus kepala nya dan tersenyum kemudian berkata "Kamu sedang memikirkan apa Nur, sampai melihat aku seperti itu?"
__ADS_1
"Tidak ada apa apa Bintang, Kamu tambah ganteng" jawab Nur dengan tertawa
Melihat Tidak adanya kelanjutan diskusi. Satu persatu dari mereka semua, mulai meninggalkan Markas. Ucapan Pijei sunggu membuat mereka berpikir.
Keesokan harinya. Pijei berangkat kekampus begitu cepat. Berbeda dengan hari biasanya. Rupaya ia telah berjanji akan menjemput Inayah di pagi itu. sehingga membuatnya berangkat lebih cepat.
Sesampainya Pijei di Rumah Inayah. ia langsung menelpon memberi tahu Inayah. bahwa dirinya telah berada dihalaman depan Rumah Inayah.
"Iya kak. saya segera keluar, tunggu sebentar yah kak" jawab Inayah
"Inayah Seandainya kamu tau bahwa saya mencintai mu, mungkin tidak akan begitu berat saya menyimpan perasaan ini" Batin Pijei dengan melihat Inayah
Mereka pun berangkat menuju kampus. dalam perjalanan Pijei bercerita serta menanyakan banyak hal pada Inayah. Sehingga perjalanan mereka di penuhi tawa. Karena Pijei pandai mencairkan suasana.
__ADS_1
"Jika dengan mencintai mu dalam diam, dapat melihat mu bahagia serta tidak menciptakan jarak pemisah. Biarkan aku selalu dalam posisi itu hingga tiba waktu yang tepat, Akan saya ungkapkan perasaan ini dengan kalimat Saya terima nikahnya" Batin Pijei
Setelah usai mengantar Inayah. Pijei langsung bergegas pulang kerumahnya. Sesampainya dirumah, Pijei tanpa mengganti pakaiannya dia langsung berbaring. tiba tiba ia pun tertidur.
"Pijei... Pijei... ingat dirimu dimasa lalu, ada cita cita yang ingin kau gapai. Ingatlah pesan orang tua mu. Semua adalah amanah yang dititipkan padamu. Jangan kecewakan mereka. ingatlah banyak keluarga yang mengatakan kamu bodoh dimasa lalu jangan lupakan itu." Ucap seorang kakek tua dalam mimpi Pijei
Pijei terbangun dalam keadaan terkejut setelah mengalami mimpi tersebut. dia merasa mimpi itu sangatlah nyata.
"Apakah karena saya mendekati Inayah. sehingga aku mengalami mimpi itu. mungkinkah ini teguran agar saya mengingat perkataan ibu harus sekolah baik baik" ucap Pijei dalam keadaan kaget
Semenjak hari itu. Bayangan bayangan tentang mimpinya, selalu hadir saat keramaian ataupun sepi. Pijei begitu dilema setiapkali bayangan itu hadir. seolah kepala nya mau pecah mencoba menghilangkan apa yang terjadi.
"Tuhan bayangan itu adalah Cita cita ku dan Inayah juga bagian dari cita cita ku. Biarkanlah ku gapai keduanya secara bersamaan. tanpa harus menghadirkan cita cita lama sebagai bayangan yang menghantui. seolah tidak menginginkan Cita cita baru di gapai bersama sama" Batin Pijei
__ADS_1