
Rama sudah membaca data diri Vika hingga dia tahu siapa wanita di depannya ini, yang tak lain adalah karyawan di bagian keuangan di perusahaannya.
Rama yang melihat foto di data itu entah mengapa ia teringat dengan seseorang. Entah itu benar atau tidak, ia meminta Tony langsung untuk menyelidiki siapa Vika ini. Dan semoga saja apa yang di pikirkan nya benar, bahwa gadis di depannya adalah adik angkatnya yang selama ini ia cari.
Vika yang kini ada di depan Rama menatap tidak senang dengan bos nya itu.
"Maaf tuan. Sebenarnya saya di perintah datang kemari untuk apa?" tanya Vika yang tidak ingin berlama-lama di ruangan itu.
Rama menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan itu. Sebenarnya ia juga bingung, ia hanya ingin memberikan pelajaran kepada gadis di depannya. Namun saat melihat wajah itu entah kenapa ia sangat tidak tega, dan malah ingin bersama.
Rama diam, berpikir mencari alasan untuk menjawab pertanyaan itu. "Ehem, duduklah dulu," perintahnya dengan dirinya yang sudah duduk terlebih dahulu di sofa sambil menyilangkan kakinya, menatap Vika. Namun Vika hanya diam, tidak bergeming dari tempatnya. Rama yang melihat menaikkan alisnya, "Kenapa tidak duduk?" tanya nya dan berdiri menghampiri Vika, menarik kembali pinggang itu dalam pelukannya.
"Apa yang anda lakukan?" ronta nya mencoba lepas dari pelukan itu. Namun Rama malah menatap Vika, mengelus pipi itu dengan jarinya. Vika yang merasakan elusan itu menatap dengan diam, dan dengan wajah bingung. Tiba-tiba ponsel yang berada di sakunya bergetar dan membuat Rama langsung melepas pelukan itu, mengangkat ponselnya yang ternyata panggilan dari Tony.
"Bagaimana?" tanya Rama ingin tahu tentang siapa Vika sebenarnya.
"Nona Vika ternyata adalah putri dari keluarga Madison, tuan," jelas Tony.
"Madison," gumamnya dengan menoleh ke arah Vika.
"Benar, tuan. Dan itu berarti Nona Vika adalah putri dari musuh keluarga Arendra." jelas Tony dan membuat Rama diam, dan menghela napas.
"Hah, lalu yang lainnya apa sudah kau dapatkan?"
"Masih menunggu tuan. Dan semoga saja sebentar lagi informasi itu sampai."
"Baiklah, kalau begitu aku tutup dulu." Namun sebelum itu di tutup, pesan masuk di email Tony dari anak buahnya.
"Tunggu tuan."
__ADS_1
"Ada apa?"
"Anak buah yang saya perintahkan mencari informasi sudah mengirimkan informasinya tuan."
"Katakan!" Perintahnya dan Tony pun mejelaskan semuanya dan itu membuat Rama terkejut, karena ternyata dugaan nya benar bahwa Vika adalah adiknya yang ia tinggal waktu itu.
"Hah, jadi dia benar-benar ___. Aku sungguh tidak menyangka jika akan bertemu dengannya disini," batinnya dan menatap Vika dengan senyuman.
Rama memutus panggilannya dan kembali menghampiri Vika dan memeluknya dengan erat.
"Lepas tuan! Apa yang anda lakukan? Kenapa anda memeluk saya lagi?"
"Diamlah! Aku sedang ingin memeluk mu, adik ku," jawab Rama membuat Vika bingung. Adik, pikirnya. Apa maksudnya? Vika bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Mungkinkah bosnya ini sedang merindukan adiknya?
"Maksud anda apa tuan? Jika anda merindukan adiknya, hubungi dia dan minta dia datang kemari," ucap Vika mencoba melepas pelukan itu. Namun Rama malah semakin mempererat.
"Tuan!" kesal Vika dan akhrinya Rama melepas pelukannya dan kini menangkup wajah Vika, menatapnya dengan kerinduan.
"Saya mengenal anda. Anda adalah bos saya," jawab Vika membuat Rama gemas. Ia mencubit hidung mancung itu.
"Yang ku tanyakan bukan itu. Melainkan kenal dalam hal lain, bukan bos dan karyawan," jelas Rama dan benar-benar membuat Vika bertambah bingung.
Melihat tatapan bingung Vika, Rama menghela napasnya, "Apakah sakit mu sudah sembuh?" tanya Rama membuat Vika menatap penuh selidik. Pasalnya, hanya Rama dan anggota keluarga yang tahu bahwa dirinya memiliki penyakit.
"Siapa anda?" Tanya Vika membuat Rama terkekeh.
"Apa kamu tidak tahu siapa nama ku? Bukankah tadi kamu sudah mengatakan siapa nama ku? Kenapa sekarang lupa lagi?"
"Saya tahu nama anda. Namun yang saya tanya siapa anda yang bisa mengetahui bahwa saya memiliki penyakit?"
__ADS_1
"Tebak lah. Menurut mu siapa saja yang mengetahui jika kamu sakit," jawab Rama malah memberi teka-teki.
"Jangan membuat ku kesal tuan," Vika benar-benar sudah muak berada di ruangan itu. Apalagi saat bersama dengan bos yang menurutnya tidak jelas itu.
Rama tersenyum. Setelah itu mengangkat dagu Vika, menatapnya dengan senyum manisnya. "Aku kakak mu, Rama. Kakak yang dulu berjanji melindungi mu dan menjaga mu, namun mengingkari," jelas Rama sedih.
Vika yang mendengar diam, menatap Rama sungguh-sungguh. Mencerna apa yang di katakan Rama. "Kakak!"
"Ya, aku kakak mu. Kakak yang meninggalkan mu dulu sendirian di bangunan jelek itu yang pamit pergi untuk mencari makanan, namun tidak kunjung kembali," jelas Rama langsung membuat Vika menangis, dan langsung memeluk erat tubuh orang yang sangat ia rindukan.
"Kakak, kemana saja kakak selama ini? Vika merindukan mu," tangis Vika dalam pelukan Rama dan Rama semakin memeluknya dengan erat mendengar tangis Vika yang menyayat hati nya.
"Maafkan kakak, maafkan kakak," hanya itu lah yang bisa Rama ucapkan, meminta maaf kepada adiknya yang dulu ia tinggal karena Arjuna yang membawanya paksa tanpa berpamitan kepada Vika.
Cukup lama keduanya mencurahkan kerinduan, Rama membawa Vika duduk di kursi. Ia ingin tahu kenapa Vika bisa menjadi putri dari keluarga Madison. Keluarga yang menjadi musuh bebuyutan keluarganya.
"Jangan menangis, kakak sudah ada disini. Dan kakak tidak akan meninggalkan mu lagi seperti waktu itu. Kakak berjanji akan ada untuk mu walaupun ada yang menghalangi," jelas Rama mengusap air mata di pipi Vika dan menyelipkan anak rambut di belakang telinga.
"Benarkah kakak tidak akan meninggalkan ku lagi?" tanya Vika dan di angguki Rama, "Janji."
"Ya, kakak janji. Kakak tidak akan meninggalkan mu lagi," tarik nya tubuh itu dalam pelukannya. "Sekarang katakan kenapa kamu bisa menjadi putri dari keluarga Madison?" tanya Rama yang ingin tahu kejelasannya. Karena jika ia tidak tahu dan tidak hati-hati akan membuat dirinya repot nantinya. Ia tidak ingin kedua keluarga tahu akan dirinya dekat dengan Vika, karena ia tidak mau dirinya akan berjauhan kembali dengan Vika.
"Kakak tahu aku putri dari keluarga Madison?" tanya Vika dan di angguki Rama.
"Ya, aku tahu. Saat tadi pagi kamu menabrak ku dan berani berbicara seperti itu, aku langsung meminta asisten ku untuk membawakan data diri mu. Namun semuanya tidak lengkap dan akhirnya aku meminta Tony untuk mencari tahu siapa kamu," jelasnya dan membuat Vika kagum.
"Sebegitu cepatnyakah?" tanya Vika dan di balas senyuman yang sangat manis, hingga membuat Vika yang menatapnya sempat terpesona dengan wajah tampan kakaknya. "Tampan sekali," gumamnya dalam hati.
.
__ADS_1
.
Bersambung