Cinta Diantara Perselisihan Dua Keluarga (Cinta Rama Dan Vika)

Cinta Diantara Perselisihan Dua Keluarga (Cinta Rama Dan Vika)
BAB 20. Mengenali


__ADS_3

Setelah Vika masuk kedalam mobilnya, Rama pun juga masuk, melajukan mobil nya menuju tempat yang akan di datangi oleh Vika.


Vika menatap keluar jendela, sambil menopang kepalanya. "Siapa nama mu?" tanya nya lupa dengan orang pilihannya.


"Bara nona," jawabannya dengan nama samaran.


"Bara," gumamnya harus mengingat nama supir barunya. "Kamu tinggal jauh dari rumah?"


"Sedikit nona."


"Dengan siapa?"


"Sendiri nona. Saya tinggal sendirian di kontrakan."


"Tidak memiliki keluarga?" tanya lagi ingin tahu banyak.


"Tidak," jawabnya berbohong. Namun dalam hati ia meminta maaf kepada keluarga nya yang masih hidup. "Maafkan Rama yang lancang, mengatakan kalian tidak ada."


"Oh benarkah?" tanyanya terkejut dan di angguki oleh Rama, mengatakan bahwa itu benar.


.


.


Setelah beberapa menit perjalanan, kini mereka berdua sampai di sebuah kafe, dimana teman-teman Vika sedang menunggunya.


"Maaf membuat kalian menunggu lama," sapa Vika yang baru datang.

__ADS_1


"No problem," jawab di antara mereka. Dan Vika pun duduk bergabung dengan mereka.


Sedangkan Rama mengikutinya, berdiri di samping Vika. Teman Vika yang melihat menatap Rama, dan bertanya siapa pria di sampingnya ini kepada Vika, "Siapa dia?"


"Oh, dia supir baru ku," jawab Vika tidak peduli.


"Supir baru?" gumam mereka saling pandang. Pikirnya kenapa seorang supir mengikuti Vika sampai masuk kedalam? Bukankah hanya perlu menjaga mobil dan menunggunya di luar? Pertanyaan memenuhi otak mereka meminta penjelasan kepada Vika.


"Dia orang suruhan papa ku. Dan kalian pasti tahu alasan dia ada di samping ku," jelasnya dan di angguki mereka semua. Semuanya tahu seperti apa ayah Vika, sampai membuat mereka semua enggan untuk menemui Vika, apalagi di rumahnya. Sungguh Harry Madison sangat menyeramkan, pikir mereka.


Vika yang tidak ingin temannya risih melihat adanya Rama, akhirnya Vika meminta Rama duduk di samping mejanya. ia tidak ingin karena adanya Rama yang mengawasinya, membuat teman-temannya merasa enggan dan tidak nyaman.


Rama yang tahu itu mengangguk, duduk, sambil matanya terus menatap Vika tanpa sepengatahuan wanita itu. Ia sungguh tidak bisa mengalihkan pandangannya, ingin terus menatap dan menatap wanita pujaannya.


Cukup lama menunggu para gadis mengobrol, kini Vika dan lainnya selesai juga dengan pertemuan mereka yang membicarakan hal yang tidak berfaedah. Rama yang menunggu cukup lama merasa bosan, entah apa yang di bicarakan para gadis, membuat nya benar-benar kesal.


Vika yang kini sudah berada di dalam mobil menyandarkan tubuhnya di kursi, lelah karena hampir seharian berbincang dengan teman gadisnya.


"Tentu saja. Tapi aku masing ingin jalan-jalan. Sekarang hantarkan aku ke mall, aku ingin nonton disana," perintahnya sambil memejamkan mata dengan kepala yang disandarkan.


Sebenarnya Vika tidak ingin pulang, oleh sebab itu ia mengajak Rama untuk mengantarkan nya menonton film di bioskop.


.


.


Sesampainya di Mall, Vika menarik tangan Rama untuk mengikutinya. Mengajaknya menonton bioskop bersama. Rama yang di seret hanya bisa menurut. Namun dalam hati ia begitu senang karena bisa bersama dengan Vika nantinya.

__ADS_1


Sedangkan anak buah Harry yang sebenarnya mengikuti mereka secara diam-diam hanya bisa diam, melihat mereka yang pergi menuju tempat bioskop. Karena mereka tidak mungkin melarang atau menghentikan nona mudanya bersama dengan Rama.


Setelah Vika membeli tiket menonton untuk dua orang, Vika menarik kembali tangan itu. Sebelum itu Vika menyerahkan pop corn di tangannya pada Rama, dan Rama pun menerimanya dengan senang hati.


Mereka berdua masuk dan mencari tempat duduk yang pas untuk mereka menonton film yang akan di putar nanti. Sambil matanya melihat sekeliling, dan merasa aman, Vika langsung memeluk tubuh itu dengan erat.


Rama yang melihat Vika tiba-tiba memeluk tubuhnya tentu saja terkejut. Tapi sebelum ia bertanya, Vika lebih dulu berbicara, "Jangan kakak pikir aku tidak akan mengenal mu. Aku sangat mengenal mu, kakak ku tersayang."


Mendengar itu, Rama terkejut karena Vika ternyata mengenalinya. Tapi kenapa saat tadi pagi mereka bertemu Vika tidak langsung mengatakan nya kalau dia tahu siapa dirinya? Sungguh nakal sekali, pikirnya.


"Kamu tahu? Bagaimana bisa?" tanya nya penasaran. Apakah penyamarannya sangat payah? Tapi menurut nya sangat baik. Ia yakin tidak akan ada yang mengenali nya. Tapi ternyata ia salah, Vika dengan mudah mengenalinya. Apakah mungkin Harry juga tahu penyamarannya? Rama berpikir keras berharap Harry tidak mengenalinya seperti Vika.


"Tentu saja aku tahu. Dari postur tubuh dan parfum serta pandangan mu, membuat ku mudah mengenali mu. Maka nya waktu itu aku memilih mu, kak."


"Lalu jika kamu tahu ini aku, kenapa tadi pagi____"


"Aku memang melakukan itu, karena ayah menempatkan beberapa anak buahnya tetap mengawasi ku. Asal kakak tahu, saat ini mereka juga masih mengawasi kita. Mengikuti kita di Mall ini," jelasnya dan membuat Rama terkejut. Sungguh Harry benar-benar tidak bisa melepaskan putrinya, walaupun sudah ada dia bersama nya.


"Papa mu benar-benar menyayangi mu," ucap Rama membuat Vika terkekeh.


"Ya, dia memang menyayangi ku. Namun untuk masalah dengan dirimu, dia benar-benar tidak mengizinkan ku untuk bersama mu."


"Kita akan berusaha, membuat mereka harus menerima hubungan kita," jelasnya sambil memeluk tubuh itu penuh cinta.


Film yang akan di tonton pun kini telah di putar. Namun itu tidak membuat mereka menonton film itu. Mereka berdua malah sibuk dengan perasan hati mereka, menikmati kebersamaan nya. Saling berpelukan dan berciuman tanpa peduli jika ada yang melihatnya nanti. Beruntung mereka duduk di kursi paling belakang dan ujung, membuat tidak banyak penonton yang memerhatikan kegiatan mereka.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2