
Gadis yang menabrak itu berdiri menatapnya dengan berani tanpa rasa takut. Rama yang melihat tentu saja hanya diam, memperhatikan wajah cantik di depannya.
"Siapa kau?" Tanya Rama dengan pandangan dingin.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang jelas aku tidak akan meminta maaf pada mu, dasar pria kutub," jawab gadis itu begitu berani tanpa tahu siapa yang ada di depannya.
"Apa kau bilang? Pria kutub. Berani sekali kau!" ucap Rama malah membuat Vika melotot, mendatang pria di depannya.
"Kamu pikir aku takut? Cih! Aku tidak takut sama sekali dengan mu."
"Kau!" Kesalnya ingin sekali mencekik leher wanita di depannya. Namun saat mengingat dirinya di perusahan. Rama menahannya.
Gadis itu yang melihat Rama tidak berani padanya menatap remeh. Dan dengan cepat ia mengambil berkas-berkas yang terjatuh di lantai dan setelah itu meninggalkan Rama yang terus menatap nya. Setelah gadis itu menghilang dari pandangannya, Rama berkata. "Apa kau mengenalnya?" Tanya nya pada Tony yang ada di sampingnya.
"Saya tidak mengenalnya tuan. Mungkin dia karyawan baru, oleh sebab itu dia tidak mengenal anda dan sangat berani dengan anda. Saya akan mencari tahu siapa dia," jawab Tony dan di angguki Rama.
Keduanya pun pergi ke lift untuk menuju lantai dimana ruangan mereka berada. Sedangkan di ruangan yang berbeda, gadis yang menabrak Rama itu menceritakan semuanya kepada teman setimnya.
"Apa! Coba sebutkan ciri-cirinya?" Vera, gadis satu tim dengan gadis yang menabrak Rama itu ingin tahu siapa pria yang di tabrak oleh temannya itu.
Gadis itu berpikir, membayangkan wajah serta postur tubuh Rama. "Em, dia tampan. Tinggi dan juga memiliki tubuh yang sangat bagus. Dia hanya bersama satu orang. Dan orang yang bersama nya juga tak kalah tampan dari orang yang ku tabrak tadi," jelas Gadis bernama Vika.
Vera yang mendengar berpikir, membayangkan siapa pria itu. Lama berpikir tiba-tiba ia teringat dengan bos mereka. "Tidak! Oh tuhan, oh Tuhan, oh Tuhan. Semoga saja bukan, semoga saja bukan," ucapnya dengan khawatir.
Vika yang melihat kegelisahan temannya hanya menatap dengan bingung. "Hei, ada apa?"
"Aduh bisa gawat jika itu benar presdir," takut nya tentang apa yang akan terjadi dengan temannya.
"Presdir?" Gumam Vika yang tidak mengetahui wajah dari CEO perusahaan dia bekerja.
"Kau tidak tahu seperti apa wajah CEO kita?" Tanya Vera dan Vika hanya menggeleng, karena jujur dia belum tahu seperti apa wajah pemilik perusahaan dimana dia bekerja.
"Aku tidak tahu," jawab Vika dan membuat Vera menghela napas.
"Hah," Vera mengambil ponselnya dan mencari di internet nama Rama Arendra, setelah itu muncul gambar pebisnis muda dari keluarga Arendra. Vera pun menunjukkan gambar itu pada Vika, bertanya apakah pria yang ada di gambar yang dia tabrak. "Apakah ini orangnya?"
__ADS_1
Vika melihat gambar itu dan setelah itu mengangguk, benar pria yang ada di foto itu lah orang nya. Vera yang melihat anggukan itu tentu saja langsung syok. "Ya Tuhan. Kau benar-benar akan mendapatkan masalah Vik."
"Masalah, kenapa?"
"Pria itu, pria itu adalah CEO kita," jawab Vera membuat Vika langsung lemas.
"Kau tidak bohong kan?"
"Buat apa aku berbohong. Bersiaplah dengan penderitaan mu."
"Tidak..!!!"
Rekan satu tim yang mendengar Vika berteriak langsung menatap ke arahnya. "Tidak bisakah kau diam? Ini waktu nya bekerja, bukan mengobrol. Jika sampai ketua tim kita tahu, habislah kalian," ucap seorang dari mereka.
Vika dan Vera yang mendengar langsung diam. Namun belum hati mereka lega, tiba tiba ketua tim mereka datang, mengatakan jika Vika harus datang ke ruangan Presdir mereka.
"Vika, saya diperintahkan oleh Asisten Tony untuk memberitahukan kepada mu agar kamu datang ke ruangan presdir."
Vika dan Vera yang mendengar saling pandang. Bukankah ini terlalu cepat? Pikir mereka bersama. Dengan malas dan takut Vika pun akhirnya menuju ruangan Rama Arendra. Yah walaupun sebelumnya ia bertanya apakah bisa menolak atau tidak. Namun semuanya sia-sia karena perintah Presdir tidak dapat di tolak.
Huh….beberapa kali Vika menghela nafas untuk membuang semua kegugupannya. "Semoga saja Presdir itu tidak galak," gumamnya sepanjang jalan menuju ruangan Presdir.
Ia berdiri di depan pintu dengan diam, tanpa mengetuk pintu itu. Tony yang keluar dari ruangannya melihat gadis berdiri di depan ruangan tuannya langsung menghampiri.
"Apa anda nona Vika?" Tanya Tony membuat Vika kaget karena tiba-tiba ada seseorang di sampingnya.
Dengan tangan mengelus dada karena kaget, Vika menatap pria di depannya, pria yang tak lain ia jumpai tadi pagi. "Mati aku. Benarkah pria ini CEO nya," batinnya dengan mata menatap Tony.
Tony yang di tatap seperti itu mengerutkan kening. "Nona Vika, apa anda baik-baik saja?"
"Ah, apa? Ah, iya," jawab nya tidak terlalu mendengar pertanyaan itu. Tony yang melihat kegugupan Vika tersenyum kecil sampai-sampai Vika tidak menyadarinya.
"Silahkan masuk nona, tuan sudah menunggu anda," ucap Tony membukakan pintu.
"Eh, bukankah kamu___?"
__ADS_1
"Bukan, nona. Saya asisten Tuan Rama, Tony," ucapnya memperkenalkan diri.
"Sial! Jadi bukan ini orang nya. Aku kira dia," batinnya dan perlahan masuk.
"Anda tenang saja, tuan adalah orang yang baik," ucap Tony tahu kekhawatiran Vika. Vika yang mendengar menatap tidak senang. Namun kembali ia menghela napas saat dirinya sudah masuk. Dan kini menutup pintu. Berabil badan dan berjalan menuju Rama berada yang sedang duduk di kursi kebesarannya menunggu kedatangan Vika.
Rama menatap Vika dengan dingin, apalagi saat mengingat begitu beraninya Vika padanya. "Berdiri yang benar, dan angkat wajah mu," perintahnya saat Vika menunduk dengan tangan yang di remas, gelisah.
"Sialan! Kenapa aku harus berurusan dengan pria ini?" Batinnya merutuki kebodohannya pagi ini.
"Apa kamu tuli sehingga tidak mendengar perintah ku?"
Mendengar itu dengan cepat Vika mendongak, menatap Rama dengan pandangan sengit. "Aku tidak tuli wahai tuan penguasa," kesal nya hanya bisa dalam hati.
Rama yang melihat wajah itu, wajah yang sebenarnya sangat kesal tersenyum menyeringai. "Heh, kamu pikir kamu bisa berani lagi pada ku setelah tahu siapa aku. Akan ku buat kau menyesal karena berani menantang ku gadis cerewet," batinnya memiliki niat yang tidak baik.
"Apa kau tahu siapa aku?" Tanya Rama ingin tahu apakah gadis itu tahu siapa dirinya.
"Tahu tuan."
"Katakan," perintahnya membuat Vika kesal setengah mati.
"Hah. Anda adalah CEO Arenda Group, Tuan Rama Arendra," jawab Vika dengan nada di perjelas, takut Rama memintanya untuk mengulang lagi jika dirinya hanya menjawab dengan pelan.
"Bagus kalau kau tahu. Lalu jika kau tahu siapa aku, kenapa kau sangat berani dengan ku," ucap Rama berdiri dan menghampiri Vika, menyentuh dagu itu hingga membuat Vika mendongak menatap pria tampan di depannya.
"Maaf, tapi sebelumnya saya tidak tahu siapa anda. Jadi jangan salahkan saya berani dengan anda," jawab Vika berani dan menepis tangan Rama yang berada di dagunya.
Mendengar itu, Rama tertawa. "Hahaha….kau bekerja di perusahaan ku, tapi kau tidak tahu seperti apa wajah ku, konyol sekali. Kau pikir aku percaya hm…" cengkram nya lagi memperkuat.
"Lepaskan saya," pintanya saat lengan itu memeluk pinggangnya.
"Kami pikir aku akan melepaskan mu?" Ucap Rama mendekatkan wajahnya. Vika yang melihat tentu saja terkejut, pikirnya Rama ingin menciumnya.
"Dasar mesum!" Dorongnya pada dada itu agar dirinya lepas dari dekapan Rama.
__ADS_1
Rama yang melihat tertawa keras, sungguh suatu hiburan dengan adanya Vika.
Bersambung