
Keesokan hari nya. Arvan yang di perintahkan oleh Harry untuk memberikan pelajaran kepada Rama, langsung menuju tempat tujuan. Menghadang pria muda itu saat hendak pergi ke kantor.
Arvan sudah menyelidiki jika Rama sering berangkat sendiri ke kantor tanpa ada orang yang mendampinginya. Dan itu membuat Arvan mempermudah rencananya untuk memberikan pelajaran kepada putra keluarga Arendra.
"Jangan membuat ku mendengar kegagalan. Lakukan dengan benar. Buat pria itu menyesal karena berani mendekati putri ku," perintah Harry yang di ingat Arvan.
Arvan dan anak buahnya sudah berdiri di tengah jalan sepi, menunggu kedatangan Rama, sambil memegang senjata di tangan mereka masing-masing.
"Lakukan dengan baik. Dan jangan buat dia mati. Cukup beri dia pelajaran saja," perintahnya pada anak buah nya.
"Baik bos," jawab Anak buah Arvan mengangguk.
Cukup lama mereka menunggu, akhirnya yang mereka tunggu pun datang juga. Rama yang sedang mengendarai mobilnya, mengerutkan kening, saat melihat beberapa orang berhenti di tengah jalan. "Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka berhenti seenaknya di jalan umum seperti itu?" gumamnya semakin dekat dengan kelompok Arvan.
Namun saat cukup dekat, Rama merasa was-was saat melihat mereka semua memgang senjata. "Sialan! Mungkinkah mereka berniat membunuh ku?" batinnya yang melihat mereka mulai siap setelah kedatangan nya.
Rama menghentikan mobilnya tepat di depan mereka. Arvan dan anak buah nya langsung berjalan menghampiri Rama. Rama yang melihat itu perlahan tangan nya mencari sesuatu yang di sembunyikan di balik kursi, sebuah pistol yang menjadi kesayangannya.
Namun baru saja Rama memegang senjatanya, kaca depan mobilnya di pukul oleh anak buah Arvan hingga pecah.
Prang.....
Pecahan kaca itu berhamburan, hingga mengenainya. Rama yang melihat tentu saja marah, matanya menatap tajam. Niat membunuh bangkit, dan dengan cepat ia keluar dari mobilnya, mendorong pintu mobil dan menedang satu pria yang mencoba memaksa membuka pintu mobil miliknya.
__ADS_1
Satu tendangan berhasil menjatuhkan seseorang itu. Arvan dan anak buahnya yang melihat hanya diam, melihat kekuatan Rama yang ternyata cukup kuat hingga membuat pria yang di rendangnya langsung pingsan.
"Ternyata kau memang pentas di sebut putra dari keluarga Arendra," ucap Arvan langsung mendapatkan tatapan tidak senang dari Rama.
"Siapa kalian? Kenapa kalian mengentikan perjalanan ku?" tanya Rama tidak mengenal siapa Arvan.
"Ternyata kau tidak mengenal ku tuan Rama Arendra, tidak seperti ayah mu yang dengan mudah mengenali kami," jawab Arvan tanpa menejelaskan bahwa dirinya adalah anak buah keluarga Madison.
Rama semakin mengerutkan kening, bertanya-tanya tentang siapa mereka. Cukup lama berpikir, akhirnya Rama tahu siapa orang yang menghadangnya itu.
"Mau apa kalian menghadang ku? Jika kalian ingin membunuh ku, tak akan ku biarkan. Malah sebaliknya, kalianlah yang akan ku bunuh," ucap Rama dengan nada dingin.
Arvan yang mendengar tertawa. Apalagi melihat keberanian Rama yang sangat yakin dapat membunuh nya.
"Hahaha .....Percaya diri sekali kau! Tapi aku suka," ucapnya dan memberi tanda kepada anak buahnya untuk segera maju, memberikan pelajaran kepada Rama.
Pertarungan pun terjadi. Rama yang sendiri kini di keroyok oleh beberapa orang. Sedangkan Arvan hanya berdiri, menatap mereka bertarung dengan menyandarkan tubuhnya di mobil. ia tidak ikut bertarung, karena menurutnya anak buahnya sudah cukup untuk memberikan pelajaran pada Rama karena berani menyentuh nona mudanya.
Rama terus melawan, menendang, dan memukul. Hampir semua anak buah Arvan terkena pukulannya. Namun saat dirinya hampir saja menang, Arvan yang melihat tidak memberikan kemenangan itu jatuh di tangan Rama, ia menembak Rama di bagian kaki sehingga Rama tidak bisa berkutik dan menjadi lemah.
Saat melihat Rama lemah karena merasakan sakit, anak buah Arvan tidak menyia-nyiakan hal itu. Mereka memukul, membalas pukulan Rama dan akhirnya Rama di buat babak belur oleh anak buah Arvan.
Arvan yang melihat tersenyum, ia membuang rokoknya yang tadi di sedapnya. Dan berjalan ke arah Rama yang tergeletak tak berdaya.
__ADS_1
Arvan duduk, berjongkok di depan Rama yang tergeletak di jalan. Memandang dengan remeh. "Bukankah sebelumnya kau akan membunuh kami semua? Tapi sepertinya ini terbalik, aku lah yang membuat mu babak belur, Tuan Rama Arendra terhormat," Ucap Arvan.
Rama benar-benar marah, menatap tajam arvan. "Jika kau tidak curang, aku pasti sudah membunuh mu," jawab Rama yang tidak bisa melakukan apa-apa karena tubuhnya di tahan oleh anak buah Arvan.
"Oh, benarkah aku curang? Tapi aku merasa tidak. Bagi ku asalkan bisa menang, semuanya tidaklah masalah," jawab Arvan semakin membuat Rama marah.
"Dasar bajingan! Sebenarnya apa mau mu?" tanyanya ingin tahu kenapa Arvan, anak buah Harry Madison tiba-tiba membuat pergerakan menjatuhkan nya.
"Aku akan mengatakan nya. Tapi setelah aku mengatakan ini, ku harap kau mematuhinya. Jika kau masih melanggarnya, kami keluarga Madison tidak akan segan akan membunuh mu," ancam Arvan dengan nada dingin, tidak main main dengan ucapannya. "Jauhi nona muda. Dan pernah berani mendekatinya," perintah Arvan membuat Rama diam. Jadi benar itu lah masalahnya, tentang Vika yang dekat dengannya. Ternyata apa yang di khawatir kan secepat itu terjadi. Keluarga Madison benar-benar tidak mengendurkan pengawasannya.
"Ku harap kau mematuhi perintah ku. Karena jika sampai kau masih mendekati nona muda, tuan tidak akan segan untuk memerintahkan anak buahnya menghancurkan mu. Karena bagaimanapun kamu berusaha untuk mendapatkan nya semua itu hanyalah mimpi, kalian tidak akan bersama," jelas Arvan menekankan kata bahwa mereka tidak akan bisa bersatu karena keluarga mereka adalah musuh bebuyutan.
Setelah mengatakan itu, Arvan dan anak buahnya pergi. Meninggalkan Rama yang tergeletak di jalanan dengan tubuh penuh luka. Dengan perlahan, Rama mengambil ponselnya yang ada di saku celana nya, menghubungi Tony asistennya untuk menjemputnya.
Asisten Tony yang memang sedari tadi menunggunya di kantor langsung bergegas pergi saat mendengar suara lemah tuannya. Ia pergi menuju tempat yang di beritahukan Rama.
Cukup lama Rama menunggu, Tony pun sampai di mana Rama saat ini berada. Tony yang melihat ke adaan tuannya tentu saja terkejut dan dengan cepat, ia langsung membawa tuannya pergi kerumah sakit untuk segera memberikan pengobatan.
Tony juga menghubungi Arjuna bahwa Rama mengalami penyerangan saat di perjalanan menuju kantor. Arjuna yang mendengar juga langsung menuju rumah sakit, menjenguk anaknya. Yah, walaupun Arjuna sering marah dan nampak tidak peduli, sebenarnya Arjuna sangat menyayangi putra nya itu. Sehingga saat tahu Rama terluka, dengan cepat Arjuna langsung pergi, ingin tahu keadaan putra satu-satunya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung