
Arjuna telah sampai di rumah sakit. Dan Rama pun juga telah selesai di obati.
Arjuna berdiri di samping Rama yang sedang berbaring, menatap putranya yang tubuhnya sebagian di perban karena luka yang di deritanya.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Arjuna.
Rama yang melihat ayahnya datang menjenguknya, hanya menatap diam. Apalagi saat mendapat pertanyaan itu, Rama tidak langsung menjawabnya.
Arjuna yang melihat sikap acuh Rama menghela nafas, pusing dengan putranya itu. "Apa kamu tidak dengar aku bertanya apa?" tanyanya sudah sedikit emosi.
Tony yang ada di ruangan itu langsung menghampiri tuan besarnya, mencoba meredakan amarah Arjuna yang mulai muncul.
"Tuan, saya akan menjelaskannya. Untuk saat ini tuan muda pasti sedang malas berbicara sehingga tidak menjawab pertanyaan anda. Anda tahu sendiri bahwa bibir tuan muda sedang terluka," ucap Tony mencoba membuat Arjuna mengerti.
Arjuna yang mendengar langsung menatap Rama, mamastikan apa benar atau tidak. Karena sedari tadi ia tidak terlalu memperhatikan luka di wajah putranya, ia hanya melihat luka di bagian tubuhnya.
"Hah, baiklah. Katakan. Aku yakin kau pasti tahu," perintahnya mencoba mengerti keadaan Rama.
"Baik, tuan," jawab Tony dan mulai menjelaskan semuanya. Ia mengatakan apa yang di katakan Rama padanya, bahwa yang melakukan itu adalah keluarga Madison.
Arjuna yang mendengar tentu saja tidak terima. Tangan nya mengepal dengan erat, marah dengan keluarga Madison.
"Beraninya mereka!" geramnya karena Harry sepertinya ingin memulai peperangan dua keluarga.
Arjuna menatap Rama. Ia berpikir, pasti Harry memulai semuanya karena putranya mendekati putri mereka. Jika saja Rama tidak memulai, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
"Bukankah sudah ku katakan, jauhi wanita itu. Inilah akibatnya jika kamu terus ngotot. Untuk saat ini mungkin kamu masih di buat babak belur, tapi tidak selanjutnya. Mungkin nyawa mu lah yang akan menjadi taruhan," ucap Arjuna menatap putra nya yang menurut nya sangat bodoh.
"Aku hanya sial saja. Tapi tidak untuk selanjutnya," jawab Rama masih kekeh tidak akan meninggalkan Vika.
Arjuna yang mendengar jawaban itu, hanya bisa menghela nafas. Lelah membuat Rama mengerti.
"Terserah! Tapi ingat, keluarga Madison bukanlah keluarga sembarangan. Mereka bisa membunuh mu kapan saja," jelas Arjuna.
"Bukankah keluarga kita juga bukan keluarga sembarangan? Jika memang mereka lebih kuat, bukankah keluarga Arendra sudah hilang dari dulu?"
__ADS_1
Arjuna tidak menjawab, ia sangat malas membahas keluarga Madison. "Mulai saat ini ayah akan tetap memantau mu. Di mana pun kamu berada, akan ada yang menjaga mu. Tidak ada penolakan," ucap Arjuna tidak mau di bantah lagi. Ia tidak ingin kehilangan anak laki-laki satu-satunya, penerus keluarga Arendra.
Setelah itu Arjuna pergi, tanpa menghiraukan Rama yang kesal dengan peraturan itu. "Aku bukan anak kecil lagi. Tapi kenapa dia terus mengekang ku dan menganggap ku layaknya seorang pria yang tidak dapat berbuat apa-apa," kesalnya mengepalkan tangan.
Tony yang berada di samping Rama hanya bisa diam. Tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak ingin jika berkata akan membuatnya menjadi salah. Jadi lebih baik ia diam dan itu akan membuatnya lebih aman.
.
.
Sedangkan di perusahaan Arendra, Vika sangat gelisah karena tidak melihat Rama datang ke kantor. Entah kenapa perasaannya tidak enak, memikirkan Rama yang tidak-tidak.
"Kemana dia? Kenapa tidak datang di kantor?" batinnya sambil menatap ponselnya, menunggu Rama menghubunginya.
Namun dari pagi Rama sama sekali tidak menghubunginya, dan itu membuatnya semakin khawatir.
"Mungkinkah dia sakit?" gumamnya lirih.
Vika pun akhirnya mencoba menghubungi Rama. Namun sebelum ia menekan tombol panggil, seorang pria baya memanggilnya.
Saat ini Arjuna datang ke perusahaan karena putra nya tidak bisa hadir. Dan itu membuat dirinya memiliki kesempatan untuk bertemu Vika, putri dari Harry Madison.
Vika yang tidak mengenal siapa pria baya di depannya, menatap penuh tanya. Zay yang di tatap seperti itu akhirnya mengatakan siapa dirinya. "Saya Zay, asisten Tuan Arjuna, ayah Tuan Rama," jelasnya dan langsung membuat Vika mengangguk mengerti.
Vika pun akhirnya pergi, mengikuti Zay dari belakang, menuju ruangan Rama berada.
Dengan jantung yang berdetak tak karuan, gugup karena akan bertemu degan Ayah dari kakaknya. Entah kenapa Vika memiliki pikiran yang tidak-tidak. Takut jika Arjuna begitu menyeramkan seperti ayahnya.
"Semoga saja ayah kakak tidak semengerikan Papa," batinnya berdoa.
Setelah sampai di depan ruangan Rama, Zay membuka pintu dan mempersilahkan Vika untuk masuk. Karena tuannya sudah menunggu kedatangan wanita cantik di sampingnya.
"Silahkan nona," ucap nya mempersilahkan masuk. Vika mengangguk, dan dengan langkah ragu akhirnya Vika masuk keruangan yang biasanya sering ia datangi itu.
Pandangannya melihat sekeliling ruangan itu. Jantungnya seakan berhenti saat matanya melihat seorang pria baya duduk santai di sofa, menyesap rokok sambil menyilangkan kakinya. "Apakah itu ayah kakak?" pikirnya bertanya-tanya saat melihat wajah yang tidak seperti apa yang di bayangkan nya, garang dan mengerikan.
__ADS_1
"Kemari-lah," perintahnya meminta Vika untuk mendekat.
Dengan langkah pelan, Vika berjalan menghampiri Arjuna. "Duduklah," perintahnya lagi dan langsung membuat Vika duduk, menuruti perintah itu sambil matanya terus menatap Arjuna.
Arjuna yang di tatap seperti itu, mematikan rokoknya. Dan balas menatap Vika.
"Nama mu Vika bukan?" tanyanya dan di angguki Vika. Vika nampak gugup, ia meremas kedua tangannya. Entah apa yang ingin di bicarakan Arjuna, tapi menurutnya itu bukanlah hal baik.
Arjuna yang melihat kegugupan gadis manis di depannya, hanya acuh. Tidak peduli dengan itu semua. Intinya saat ini, ia akan berbicara tentang niatnya.
"Jauhi Rama," perintahnya dan langsung membuat Vika terkejut. Jauhi? Apa maksudnya?
Vika menatap Arjuna, meminta penjelasan. "Maskudnya apa Tuan? Saya tidak mengerti," jawabnya membuat Arjuna sangat malas dengan kepura-puraannya Vika.
"Tidak perlu ku jelaskan, aku yakin kamu tahu maksud ku Nona Vika. Jauhi Rama," ulangnya lagi
membuat Vika yang semula menganggap itu candaan ternyata sebenarnya adalah sungguhan. "Aku tahu kamu memiliki hubungan dengan putra ku. Jadi ku minta, jauhi dia. Jika kalian masih memiliki hubungan, maka Rama lah yang akan menanggung akibat dari kegilaan orang tua mu," jelasnya membuat Vika tidak mengerti.
Vika yang bingung akhirnya bertanya, "Maksud anda apa tuan? Saya sungguh tidak mengerti. Dan apa maksudnya dengan orang tua saya?"
"Jangan pura pura bodoh. Karena ayah mu, kini anak ku berada di rumah sakit," jelas Arjuna membuat Vika terkejut.
"Tidak mungkin. Tidak mungkin papa melakukan itu pada kak Rama. Anda pasti berbohong," ucap Vika tidak percaya.
"Terserah kau percaya atau tidak. Tapi yang jelas, jika kau tidak ingin Rama kenapa-napa, jauhi dia." tekannya lagi meminta Vika menjauh dari Rama, agar putranya tidak terseret dalam masalah dirinya dan Harry.
Tapi jika Harry masih saja mengganggu putranya, Arjuna tidak akan tinggal diam. Sebenarnya Arjuna sudah malas dengan perselisihan dua keluarga ini, karena menurutnya itu hanya akan membuat mereka merugi. Tapi jika keluarga Madison membuat kekacauan lagi, apa boleh buat. Arjuna akan meladeni mereka.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1