
Setelah mengatahui satu sama lain, bahwa mereka adik kakak saat kecil. Rama seringkali meminta Vika untuk menemuinya, hingga membuat banyak karyawan bertanya-tanya tentang hubungan mereka.
"Kalian tahu tidak, beberapa hari ini Vika sering di minta asisten Tony datang ke ruangan bos?" ucap seorang karyawan yang tidak senang terhadap Vika. "Menurut kalian Vika datang ke ruangan si bos ngapain ya? Mungkinkah Vika merayu bos dan menawarkan tubuh nya itu hingga membuat bos kesemsem?"
"Aku tidak tahu. Tapi jika Vika sering datang untuk merayu bos, sepertinya tidak mungkin deh. Vika sepertinya tidak seperti itu," jawab Karyawan lainnya.
"Ish, kau ini. Kan kamu tidak tahu dia merayu atau tidak. La wong kamu saja tidak melihatnya. Tapi jika menurut ku, dia pasti merayu dengan tubuh nya itu," kesal nya iri dengan Vika.
Beberapa karyawan yang ada di tempat itu, mendengarkan apa yang di katakan rekannya hanya diam, dengan saling pandang. Tidak mengerti dengan jalan pikiran temannya itu. Menurutnya, jika Vika menggoda bos nya dan bosnya tergoda oleh rayuan Vika, menurutnya itu bukan urusan mereka. Karena itu hak mereka saling mau atau tidaknya.
Mereka hanya mendengarkan ocehan temannya yang sepertinya sensi dengan Vika, dan hanya menimpali yang perlu saja. Tidak terlalu memperdulikan ucapan-ucapan yang akan semakin membuat panas telinga.
Sedangkan di ruangan Rama. Rama memeluk adiknya kayaknya seorang kekasih. Entah kenapa ia bertingkah seperti itu, namun Vika yang di perlakukan seperti itu hanya diam, tidak menolak sama sekali karena menurutnya itu sangatlah nyaman.
"Kak," panggil Vika dengan pelan dan dengan suara syahdu.
"Em, apa?" tanya Rama yang masih menikmati wangi tubuh Vika.
"Apakah tidak apa-apa kita saling bertemu di kantor? Aku takut, para karyawan yang melihat aku sering datang kesini berkata yang tidak-tidak," jelas Vika mengelus kepala Rama yang ada di bahunya.
"Biarkan saja, tidak usah pedulikan apa yang akan mereka katakan," jawab Rama dan membuat Vika diam. Jika Rama sudah berkata, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kakak ingin bertanya pada mu, kenapa kamu tidak tinggal di keluarga Madison dan malah mengontrak?" tanya Rama ingin tahu.
"Aku tidak suka saja berada di rumah itu, rumah yang selalu mengekangku. Aku ingin bebas, menjalani kehidupan seperti yang ku inginkan. Bekerja dengan kemampuan ku tanpa adanya ikut campur dari keluarga Madison," jelas Vika membuat Rama diam, berpikir. Bukankah itu akan menjadi masalah untuk adiknya ini? Dan Rama yakin keluarga Madison tidak hanya diam saja, pasti mereka juga mengawasi putri mereka itu.
__ADS_1
"Apa mereka tidak mencari mu setelah kamu pergi?"
"Tidak. Mereka sama sekali tidak mencari ku. Karena saat aku pergi, aku pamit ke keluar negeri untu berlibur," jawab Vika terkekeh, mengingat kebohongannya yang di setujui oleh ayahnya.
Rama yang mendengar mencubit hidung itu, gemas dengan adik cantiknya itu. "Dasar nakal. Tapi kamu harus berhati-hati, aku yakin mereka pasti telah mengetahui jika kamu tidak berada di luar negri. Dan mungkin saja ayah mu meminta anak buahnya mencari keberadaan mu," jelas Rama dan di angguki Vika.
Sore hari, Rama menunggu Vika di depan perusahaan untuk mengantarkan nya pulang ke kontrakan. Vika sempat menolak, namun Rama yang tidak bisa di bantah akhirnya membuat Vika mau tidak mau menyetujui perintah itu. Dan kini Vika telah berada di dalam mobil yang sama dengan Rama dan juga Tony sebagai sopirnya.
"Ton, mampir dulu ke restoran," perintahnya dan langsung membuat Vika menoleh, menatap Rama.
"Kenapa harus mampir ke restoran? Aku ingin segera pulang dan beristirahat," jelas Vika yang ingin segera pulang.
"Kamu belum makan. Kita mampir dulu untuk makan, dan setelah itu kakak akan mengantarkan mu pulang."
"Tidak ada tapi-tapian. Atau kakak malah tidak akan memulangkan mu," ancam nya membuat Vika cemberut. Selalu saja seperti itu, mengancam dan mengancam tanpa bisa menolak.
"Baiklah," pasrah nya membuat Rama tersenyum, mengusap kepala itu dengan gemas.
"Ini baru gadis ku."
Setelah sampai di restoran, Rama membawa Vika kesuatu ruangan VIP di restoran itu untuk makan malam. Namun saat mereka Melawati para pengunjung restoran, salah seorang dari mereka melihat keberadaan Vika yang sangat di kenalnya.
"Bukankah itu Nona Vika?" gumam orang itu memastikan bahwa itu benar-benar Nona mudanya.
Setelah memastikan bahwa benar-benar nona mudanya, orang itu langsung menghubungi tuannya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Harry Madison, ayah Vika, saat mendapatkan panggilan dari salah satu anak buahnya.
"Tuan, saya baru saja melihat nona muda di restoran bersama dengan seorang pria," jelas Orang itu membuat Harry tidak percaya.
"Jangan berbicara sembarangan. Kamu tahu akibatnya jika berani berbohong pada ku bukan?"
"Saya tidak berbohong tuan. Saya benar-benar melihat nona muda saat ini. Dan sepertinya apa yang di katakan nona muda saat itu, ingin berlibur di luar negri hanyalah kebohongan belaka," jelas orang itu membuat Harry mengepalkan tangan. Pikirnya jika itu benar, bukankah putrinya sudah sangat berani kepadanya, berani berbohong hanya ingin pergi dari kediaman Madison.
"Berani sekali gadis nakal itu. Ikuti dia jika kamu benar-benar melihatnya, kirim buktinya jika dia tidak meninggalkan kota ini," perintah Harry yang kesal dengan kelakuan putri nya yang susah di atur itu. Entah apa yang di carinya sehingga pergi dari kediaman Madison.
"Baik tuan," jawab orang itu dan memutus panggilan dan mulai mengikuti kemana nona muda nya akan pergi.
Cukup lama menunggu, Vika dan Rama akhirnya keluar juga. Dan saat orang itu melihat siapa yang bersama dengan nona mudanya, ia sungguh terkejut. Karena yang saat ini ia lihat adalah putra dari musuh keluarga Madison, Rama Arendra.
"Bukankah itu Rama Arendra? Kenapa nona muda bisa bersama dengan pemuda itu? Ada hubungan apa nona dengan putra dari Arjuna itu?" gumam orang itu bertanya-tanya tentang hungungan nona mudanya dan Rama Arendra.
Orang itu memotret mereka berdua dan mengirimkannya kepada tuannya, bahwa nona mudanya memiliki hubungan dengan putra dari musuhnya. Harry yang melihat foto itu langsung membanting ponselnya, marah dengan apa yang di lihatnya.
"Kenapa anak itu bisa bersama dengan putra pria sialan itu?" marah nya dengan wajah memerah, dan mengepalkan tangan. Sungguh ia tidak mengerti kenapa bisa putri nya dekat dengan CEO Arendra itu. Atau mungkin ini rencana dari Arjuna untuk menjatuhkan dirinya lewat putri nya itu, pikrinya. Dan jika itu benar, ia tidak akan segan-segan untuk menghancurkan keluarga Arendra apapun caranya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1