
Orang yang mengintai Vika dan Rama langsung pergi menuju kediaman Madison. Ia bernama Arvan, orang kepercayaan Harry Madison.
Setelah sampai, Arvan langsung menemui tuannya yang sedang menunggu kedatangan nya.
"Tuan," sapa Arvan dan di angguki Harry.
"Duduklah," perintahnya dan di angguki Arvan. "Katakan," perintahnya meminta penjelasan apa yang di dapatkan Arvan.
"Baik tuan," jawabnya dan memulai menjelaskannya. "Saya mengintai nona sampai di tempat tinggalnya. Nona tinggal di sebuah kontrakan kecil sedikit jauh dari perusahaan Arendra. Nona saat ini sedang bersama dengan Rama Arendra dan dari yang saya lihat, nona sepertinya memiliki suatu hubungan dengan CEO muda itu," jelas Arvan sambil memberikan bukti Foto yang di ambilnya saat mengintai mereka berdua.
Harry yang mendengar mengepalkan tangan, marah dengan apa yang di lakukan putrinya. Tangannya perlahan bergerak, mengambil beberapa foto yang di berikan Arvan di atas meja.
Matanya menyalang marah dengan apa yang di lihatnya. Putrinya sedang berpulang dengan berciuman dengan Rama Arendra.
"Dasar bajingan itu! Beraninya dia menyentuh putri ku," marahnya dan membuang foto itu. Dadanya naik turun dengan nafas memburu karena tidak bisa mengontrol emosinya. "Ar, buat pelajaran pada pria itu. Aku tidak terima putri ku di sentuh oleh bajingan dari keluarga Arendra," perintahnya dan di angguki Arvan.
"Baik tuan," jawabnya dengan cepat.
.
.
Sedangkan di kediaman Arendra, Arjuna sedang duduk menunggu kedatangan putranya. Ia ingin meminta penjelasan dengan apa yang di laporkan anak buahnya, tentang kedekatannya dengan seorang gadis karyawan di perusahanya.
Rama yang baru masuk tidak menyadari jika ayah nya sedang menunggu kedatangannya, hingga suara yang sangat di kenalnya menghentikan langkahnya.
"Baru pulang?" tanya Arjuna sambil menyesap kopi yang masih mengepul
Rama yang mendengar langsung berbalik, menghadap ayahnya dengan wajah dingin, tanpa menjawab pertanyaan itu. Arjuna yang hafal akan sifat itu, tidak terlalu mempermasalahkan, "Pergilah, bersihkan tubuh mu. Ayah menunggu mu di ruang kerja," ucap Arjuna berdiri dan pergi meninggalkan Rama yang masih memberikan tatapan dinginnya.
Rama tahu pasti ada sesuatu yang akan di tanyakan oleh ayahnya. Entah apa, ia akan tahu nanti. "Cih! Apa yang ingin di bicarakan pria tua itu? Mengganggu saja," kesalnya dan pergi menuju kamarnya.
__ADS_1
.
.
Setelah beberapa menit membersihkan diri, Rama pergi menuju ruang kerja ayahnya.
Ckleek...
Pintu di buka oleh Rama, terlihat Arjuna duduk di sofa dengan menyesap rokoknya. Rama yang melihat tentu saja tahu jika ayahnya pasti memiliki banyak pikiran.
Perlahan Rama masuk dan menghampiri Arjuna. Sedangkan Arjuna yang melihat kedatangan putranya langsung mematikan rokoknya.
"Kenapa tidak di lanjutkan?" tanyanya duduk di depan Arjuna.
Arjuna yang mendengar hanya diam, menatap putranya yang sudah dewasa. Dan ia pun balik bertanya, "Apa ini?" tanyanya melempar foto di meja. Sebuah foto dimana Rama sedang menggandeng Vika di perusahaan.
Rama hanya melirik sekilas foto itu, dan menyandarkan tubuhnya sambil menyilangkan kaki, menatap ayah nya.
Rama tahu pasti ayahnya sudah mencari tahu siapa Vika itu, yang tak lain adalah putri dari musuh keluarganya.
Arjuna yang mendengar ancaman itu tentu saja marah. Apa-apaan putranya itu! Berani nya mengancamnya hanya karena wanita dari anak musuhnya.
"Apa kamu gila? Kau tahu siapa dia bukan? Beraninya kau bersamanya," bentak Arjuna dengan nada tinggi.
Rama yang mendengar bentakan itu tentu saja tidak senang. Ia mengepalkan tangan, menatap permusuhan kepada ayahnya. Ia berdiri menatap tajam pria baya itu.
"Apa masalahnya jika aku memiliki hubungan dengannya? Hubungan kami tidak ada sangkut pautnya dengan permusuhan kalian. Jadi jangan pernah melarang atau mengusik hubungan kami," jawab Rama dengan nada tak kalah tinggi.
Arjuna yang mendengar nada tinggi itu juga semakin emosi. Selain mengatahui putra nya memiliki hubungan dengan anak musuhnya, kini Rama berani menaikkan nada bicaranya di depannya. Dan itu semakin membuatnya marah.
"Berani nya kau menaikkan nada bicara mu!" marahnya menatap sengit.
__ADS_1
Sedangkan Istri Arjuna yang tak sengaja lewat depan ruang kerja suaminya, terkejut saat mendengar nada tinggi itu. "Apa yang terjadi?" batinnya bertanya-tanya tentang keributan itu. Ia mendekati ruangan itu, ingin tahu apa yang terjadi.
Saat dirinya mencuri dengar, ternyata suaminya sedang ribut dengan putra nya. "Kenapa mereka ribut terus? Apa mereka tidak lelah?" batinnya pusing dengan dua pria beda usia itu. Selalu ribut, ribut dan ribut.
Dan akhirnya Meliana pun mengetuk pintu untuk menghentikan pertengkaran ayah dan anak itu. Yah, walaupun Rama bukanlah putra kandungnya, tapi Meliana selalu menyayangi Rama layaknya putranya sendiri.
Saat dirinya masuk, ia terkejut karena melihat Rama yang mendapatkan pukulan dari suaminya. Dengan cepat ia berlari ke arah Rama yang kini terjatuh ke lantai dengan mengelap sudut bibirnya yang robek karena pukulan kuat ayahnya.
"Pa, apa yang papa lakukan? Kenapa memukul Rama seperti ini?" Meliana mencoba membantu Rama. Namun Rama tidak menerima pertolongan itu, ia malah menepis tangan itu hingga membuat Meliana terjatuh di samping nya.
Arjuna yang melihat menjadi semakin marah, ia tidak terima rama memperlakukan Meliana sepeti itu. "Apa yang kau lakukan?" bentak Arjuna dengan suara keras.
Meliana yang tidak ingin melihat mereka kembali bertengkar, mencoba menahan suaminya agar tidak marah kepada Rama tentang perlakukan putra nya itu padanya.
Sedangkan Rama tidak peduli dengan semuanya, ia keluar dan membanting pintu itu dengan keras. Hingga membuat kakeknya yang berada di bawah mendengar itu semua.
"Ada apa lagi dengan mereka?" gumamnya tahu apa yang terjadi. Pasti ayah dan anak itu kembali bertengkar.
Sedangkan Arjuna yang melihat kepergian putranya yang susah di atur itu, duduk dengan mengusap wajahnya kasar. Pusing menghadapi putra satu-satunya itu.
Meliana hendak berbicara. Namun sebelum kata itu terucap dari bibirnya, Arjuna lebih dulu berbicara. "Jangan mengatakan apapun."
"Tapi pa, sampai kapan kalian akan seperti ini? Apakah kalian tidak lelah? Mama yang mendengar saja lelah, pa. Mama ingin kalian akur tanpa adanya keributan. Mama mohon pa, jangan keras padanya. Turuti kemauan nya. Mungkin itu jalan satu-satunya untuk merubahnya," Meliana menitikkan air mata. Sungguh di tidak sanggup melihat pertengkaran itu setiap hari. Ia sangat menyayangi mereka berdua, namun tetap saja ia tidak bisa melakukan apapun untuk keduanya.
Arjuna yang mendengar malah meninggalkan istrinya, tidak memperdulikan permintaan itu. Sungguh keduanya sama-sama keras, dan itu benar-benar membuat Meliana sedih.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.