Cinta Diantara Perselisihan Dua Keluarga (Cinta Rama Dan Vika)

Cinta Diantara Perselisihan Dua Keluarga (Cinta Rama Dan Vika)
BAB 19. Supir Pribadi


__ADS_3

Setelah beberapa tes di lakukan dan dengan mudah di selesaikan oleh Rama, kini Rama kembali ketempat duduknya. Menunggu semua peserta lainnya selesai.


Setelah menunggu cukup lama, kini akhirnya tiba saatnya pengumuman siapa yang akan di terima menjadi supir pribadi Vika Madison. Semuanya duduk dengan tenang saat Harry Madison berdiri di depan mereka dengan di temani asistennya.


Harry menatap mereka semuanya. Ia akan mengumumkan siapa yang di terima oleh putrinya, karena yang memegang kendali penerimaan itu ada Vika, bukan dirinya. Baginya asalkan putrinya mau memilih itu sudah cukup, dan untuk selanjutnya, ia sendiri yang akan mengaturnya.


Dari sekian peserta yang akan di pilih hanyalah satu orang yang akan di terimanya. Namun itu semua tidak membuat para peserta menyerah untuk mendaftar, karena yang di lihat mereka adalah gaji yang akan di terima nantinya. Tapi tidak untuk Rama yang hanya menginginkan bisa bertemu dengan Vika. Baginya gaji bukanlah masalah, menurutnya melihat senyum manis Vika itu adalah suatu yang lebih berharga dari pada uang. Biasa, jangan di tanya, karena dirinya juga anak seorang konglomerat. Jadi untuk masalah uang dia tidak terlalu memikirkannya.


Harry mengambil data milik seseorang yang di pilih oleh putrinya, menatap foto di data itu. Dan setelah itu mengumumkan siapa yang di terima.


"Bara Valencio," ucapnya keras menyebut nama orang yang telah di terima.


Semua orang saling pandang, mencari nama yang di sebutnya. Salah seorang yang memiliki nama itu berdiri, membuat semua orang menatapnya.


"Silahkan maju ke depan," perintah Asisten Harry meminta Bara Valencio untuk segera maju menerima seragam yang akan di gunakan untuk menjaga Vika saat di luar.


Bara Valencio atau bisa di sebut Rama Arendra maju kedepan dengan langkah wibawanya. Dari cara jalan dan aura yang di milikinya membuat semua orang tidak percaya bahwa pria yang seperti culun itu memiliki aura sekuat itu. Seolah aura kuat itu tidak pantas saat bersatu dengan wajah yang jadul itu, berkumis tipis dan di lengkapi kacamata yang bertengger di hidungnya.


Harry yang melihat sebenarnya sedikit tidak percaya dengan pilihan putrinya. Namun agar putrinya tidak murung dengan dirinya akibat kekangan-nya untuk menjauh dari Rama, akhirnya dia menerima pria di depannya dengan terpaksa.


Tapi tanpa sepengetahuan Harry, sebenarnya pria itu adalah pria yang dimintanya untuk di jauhi oleh putrinya, Rama Arendra.


Rama berdiri di depan Harry, mengambil pakaian kerja yang di berikan oleh nya. Dalam hati, ia tersenyum akhirnya dirinya bisa selalu dekat dengan Vika.


Harry yang menyerahkan pakaian itu meminta nya untuk menemui nya setelah ini. Ia ingin berbicara hal penting dengannya.


"Setelah ini ikut dengan ku. Ada sesuatu hal yang ingin ku bicarakan dengan mu," perintahnya dan di angguki Rama.


"Baik, tuan."


.


.

__ADS_1


Setelah membubarkan para peserta yang tidak terpilih, kini Rama pergi ke ruang kerja Harry bersama dengan Asistennya Harry.


Disana Harry menunggu kedatangannya sambil menyesap kopi panasnya. Dan saat mendengar pintu di ketuk, ia memerintahkan nya untuk segera masuk.


Asistennya Harry dan Rama masuk keruang itu dan menuju dimana Harry berada. Berdiri di depannya dengan Rama melirik sebentar, setelah itu menunduk, tidak ingin Harry curiga dengannya.


"Duduklah," perintahnya dan di angguki keduanya.


Keduanya pun duduk, dan setelah itu Harry memulai pembicaraannya.


"Namamu Bara bukan?" tanyanya


"Benar tuan," jawab Rama tegas.


"Aku tidak tahu kenapa putri ku bisa memilih mu yang cupu ini? Padahal peserta lainnya ada yang lebih baik dari mu. Tapi sudahlah, ini sudah keputusan putri ku, jadi aku hanya bisa menerimanya," hinanya memandang remeh.


Rama tidak membantah karena memang kenyataannya penampilannya saat ini memanglah cupu. Dan ia tidak akan perduli semua orang menghinanya saat ini, baginya menyembunyikan identitasnya saat ini lebih penting dari segalanya demi bisa bertemu dengan Vika.


"Baik tuan." jawabnya tanpa ragu, membuat Harry senang.


Harry pun menjelaskan semuanya, dari mulai tidak boleh mencintai putri nya dan sampai dimana putrinya tidak boleh bertemu sedikit pun dengan Rama. Dan jika sampai Rama/Bara membiarkan Vika bertemu dengan Rama, maka Harry tidak akan segan memberikan hukuman padanya.


Namun sialnya untuk Harry, semua larangan itu malah akan selalu di langgar oleh Rama, karena Rama akan selalu bersama dengan Vika nantinya.


Dalam hati Rama tertawa dengan penjelasan itu, sungguh bodoh pikirnya. Tapi tidak apa, ia akan menikmati semuanya dengan hati-hati.


.


.


Keesokan harinya, Rama bersiap untuk bekerja menjadi supir pribadi Vika. Ia berdandan seperti kemaren di kantor dengan di bantu oleh Tony.


"Tuan, selamat karena anda akhirnya akan selalu bersama dengan Nona Vika. Namun apakah ini akan baik-baik saja? Bagaimana dengan perusahaan jika anda tidak ada?" tanyanya sebenarnya tidak suka melihat tuannya menjadi supir, dan akan membuatnya menjadi lebih repot di kantor, mengurus semua pekerjaan tuannya.

__ADS_1


"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Dan untuk perusahaan, bukankah ada kamu. Jadi selamat bekerja. Aku percayakan semuanya pada mu," jawabnya tanpa merasa bersalah akan membuat lelah Asisten Tony.


Tony hanya bisa menghela nafas. Sungguh nasib yang tidak berpihak padanya untuk mendapatkan hari libur. Hanya bisa mendapatkan kesibukan terus menerus.


"Baik tuan," jawabnya dengan terpaksa.


Rama yang melihat hanya terkekeh kecil, ia tahu Tony sedikit keberatan. Namun apa boleh buat. Demi cintanya dia harus berjuang untuk terus bersama dengan Vika.


.


.


Setelah selesai, Rama pergi dari kantor dengan mobil kemaren yang di bawanya ke kediaman Madison. Di dalam mobil, Rama mengganti pakaiannya dengan pakaian yang di berikan Harry kemaren. Dan setelah itu, melajukan mobilnya menuju kediaman Madison untuk menjemput Vika, kekasihnya.


Beberapa menit perjalanan akhirnya Rama sampai di kediaman Madison. Ia turun dari mobil dan di sambut oleh kekasihnya yang saat ini bersedekap sambil menatap nya tajam.


"Kamu terlambat, tuan baru," ucapnya kesal karena harus menunggu lama.


Rama yang gemas sebenarnya ingin sekali mencubit pipi itu. Namun saat mengingat dirinya sedang menyamar, ia urungkan niatnya. Rama akan mengatakan jika waktunya sudah tepat untuk mengatakan jika dia adalah kakaknya.


"Maafkan saya nona, membuat anda menunggu lama," jawab nya dan di abaikan sambil matanya menatap mobil yang di kendarai Rama tadi.


"Apakah kita akan akan keluar dengan mobil itu?" tunjuknya pada mobil murahan Rama.


Rama menoleh, melihat mobil nya. "Sepertinya tidak nona, saya akan meminta mobil kepada asisten tuan untuk membawa anda jalan-jalan."


"Tidak perlu," jawabnya cepat. "Ini lebih baik. Kita akan membawa mobil ini saja. Apakah kamu keberatan?"


"Tidak nona. Jika nona ingin menaiki mobil ini tanpa rasa malu, saya akan membawa anda jalan-jalan,"


"Kenapa harus malu? Bagi ku mobil itu sama saja. Asalkan bisa berjalan tidak masalah," jawabnya dan berjalan menuju mobil.


Rama yang melihat langsung mengikuti, membukakan pintu untuk Vika. Dan setelah itu membawanya ke tempat yang di tunjukkan kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2