
Vika yang melihat kepergian Papanya hanya bisa menangis. Apalagi saat mendengar ancaman papa nya yang tidak main-main.
"Apa yang harus ku lakukan?" gumamnya dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Jujur saja Vika sungguh bingung. Jika dirinya tetap bersikukuh bersama dan bertemu dengan Rama, maka Rama lah yang akan menjadi sasaran kemarahan papanya. Tapi jika tidak, sungguh ia tidak bisa meninggalkan Rama dalam hidupnya.
Kenapa kedua orang tua mereka masing-masing menginginkan mereka berpisah? Apa masalahnya? Musuh. Tapi sejak kapan keduanya itu bermusuhan? Vika benar-benar tidak mengerti.
Vika pun beranjak dari tempatnya, pergi menuju kamarnya untuk menenangkan dirinya yang sedang sedih.
Harry yang melihat dari kejauhan hanya bisa menghela nafas, "Maafkan papa. Tapi semua ini demi kebaikan mu," gumamnya keluar dari rumah, memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi putrinya agar tidak kabur dari rumah.
"Jangan sampai kalian lengah. Apapun itu, aku ingin kalian menjaga nya. Dan jangan biarkan dia kabur dari rumah," perintahnya dan di angguki anak buahnya.
"Baik tuan," jawab mereka kompak.
Setelah memberi perintah itu, Harry pergi bersama asistennya ke perusahaan. Ia mempercayakan putrinya di jaga oleh beberapa anak buahnya. Ia yakin anak buahnya pasti akan menjaganya dengan baik.
.
.
Beberapa hari kemudian, Rama telah pulih dan kini menjalani hari-harinya seperti biasa. Beberapa hari ini ia terus menghubungi Vika
Namun setiap kali dia menghubungi, nomor Vika selalu saja tidak aktif dan itu sangat membuatnya kesal.
Setiap kali ia meminta Tony untuk membawa Vika kepadanya, Tony selalu beralasan jika Vika di kantor sedang sibuk dan banyak pekerjaan, sehingga Vika tidak bisa menemui dirinya. Namun entah kenapa Rama merasa aneh. Apakah sesibuk itu kah di kantornya saat ini? Sungguh aneh, pikirnya.
Saat ini Rama sedang bersiap untuk berangkat kekantor dengan di temani oleh Tony dan beberapa pengawal. Rama yang melihat beberapa pengawal itu merasa risih. Tapi ia tetap saja tidak bisa menolak, karena semua itu adalah perintah mutlak dari Ayahnya.
__ADS_1
"Silahkan Tuan Muda," seorang pengawal membukakan pintu mobil, mempersilahkan Rama untuk segera masuk.
Rama masuk dan duduk di mobil, merasa muak dengan perlakuan itu. Dirinya sudah besar. Walaupun ia adalah seorang Tuan Muda, tapi tidak juga harus seperti itu. Menurutnya itu sungguh sangat berlebihan.
Tony yang melihat Tuannya sudah masuk, langsung menyalakan mobil dan melajukan nya menuju kantor. Rama yang duduk belakang sibuk dengan ponselnya, mencoba menghubungi Vika. Sedangkan Tony yang melihat dari kaca hanya diam, tidak berani mengatakan jika Vika sudah tidak ada di kantor sejak beberapa hari lalu.
"Kemana kamu? Kenapa nomor mu tidak aktif?" gumamnya sambil melihat layar ponsel yang terdapat nama sayang.
"Ton, kenapa nomor ponselnya tidak pernah aktif? Apa kamu tahu?"
"Em, saya tidak tahu tuan," jawabnya jujur jika dia memang tidak tahu kenapa Vika tidak mengaktifkan nomor ponselnya.
"Apa kamu tidak pernah bertanya saat di kantor?"
"Saya tidak pernah bertemu dengan Nona Vika, tuan. Tidak mungkin saya selalu menemuinya dan menanyakan tentangnya, karena itu tidak baik untuk saya."
Rama diam, mengerti maksud Tony. Sebagai asisten CEO tidak mungkin Tony memperhatikan Vika, karyawan nya. Karena jika itu terjadi, pasti akan tersebar gosip yang akan membuat Vika menjadi bahan omongan karyawan sekantor.
Rama melihat ke arah luar jendela, melihat jalanan yang ia lewati sambil menopang kepalanya. Dan sesekali ia menghela nafas dengan berat.
Cukup lama berkendara, akhirnya mereka sampai di kantor. Beberapa pengawal itu membukakan pintu untuk Rama, dan setelah itu Rama memerintahkan mereka untuk pergi meninggalkan dengan Asisten Tony. Semuanya mengangguk dan pergi, memantau Rama dari jarak yang sedikit jauh.
Rama masuk dengan diikuti oleh Tony di belakangnya. Tujuan pertamanya bukannya ke ruangannya, melainkan langsung ke ruangan Vika. Ia ingin memastikan bahwa Vika ada dan baik-baik saja.
Namun saat dirinya sampai di ruangan Vika, tempat kerja itu kosong, tidak ada Vika sama sekali. Rekan tim yang melihat Rama datang langsung memberi salam, tapi Rama tidak memperdulikannya. Yang saat ini ada dalam pikirannya, kemana Vika sekarang?
"Kemana Vika? Kenapa tidak ada?" tanyanya pada mereka semua yang ada di ruangan itu.
Semuanya saling lirik, dan salah satu di antara mereka akhirnya menjawab. "Maaf tuan, beberapa hari ini Vika tidak pernah masuk ke kantor. Saya sudah menghubungi nya, namun nomor nya tidak pernah aktif. Dan itu membuat kami tidak tahu kemana dan kenapa Vika tidak masuk," jelasnya yang memang tidak mengetahui .
__ADS_1
Rama yang mendengar diam, berpikir kemana Vika saat ini. Temannya juga tidak tahu kemana Vika sekarang. Dirinya pun juga tidak tahu karena nomor ponselnya tidak aktif. Argh, sungguh membuatnya pusing.
"Lanjutkan pekerjaan kalian," perintah nya dan pergi dari ruangan itu.
Rama terus berpikir kemana Vika saat ini. Sampai dirinya berada di ruangan nya, Rama terus memikirkan kemana Vika berada.
"Ton, perintahkan anak buah mu untuk mencari keberadaan Vika. Aku takut terjadi sesuatu dengannya."
"Baik tuan," jawabnya mematuhi.
Tony pun langsung menghubungi seseorang, memberikan perintah untuk mencari tahu kemana Vika saat ini. Cukup lama menunggu, seseorang itu mengabarkan jika Vika kembali kekediaman Madison sejak Rama di rawat di rumah sakit.
"Tuan, saat ini Nona Vika berada di kekediaman Madison. Mungkin Tuan Harry telah menemukan keberadaan Nona Vika, sehingga membawa nya kembali kekediaman Madison."
Rama yang mendengar Vika kembali kekediaman Madison, kini mengerti kenapa nomor ponsel Vika tidak pernah aktif. Dan itu sudah di pastikan, pasti itu semua karena ulah Harry Madison itu. Merampas ponsel itu dari tangan Vika agar tidak bisa di hubungi olehnya.
"Mungkinkah Harry mengatahui hubungan ini?" gumamnya berfikir. Jika itu terjadi, akan susah untuk mereka bersama. Karena jelas pasti Harry akan melarang Vika bersamanya.
"Sialan! Kenapa secepat ini?" kesalnya sambil memukul meja.
Brak...
"Apa yang harus ku lakukan?" pikirnya mengusap wajahnya dengan kasar.
Disini dia di jaga oleh ayahnya, sudah jelas apapun yang akan di lakukan nya pasti akan di awasi oleh mereka, dan sudah di pastikan semuanya akan di laporan kepada Arjuna. Sedangkan Jika dia nekat untuk menemui Vika, pasti Harry tidak akan membiarkan dirinya untuk bertemu dengan Vika. Sampai itu terjadi, dengan cepat dua keluarga pasti akan bertarung. Dan itu sama sekali tidak ia inginkan.
Rama pun mencoba berfikir untuk mencari cara agar dirinya bisa bertemu dengan Vika tanpa membuat Harry dan Arjuna tahu.
.
__ADS_1
.
Bersambung