Cinta Diantara Perselisihan Dua Keluarga (Cinta Rama Dan Vika)

Cinta Diantara Perselisihan Dua Keluarga (Cinta Rama Dan Vika)
BAB 8, Kembalinya Rama Di Keluarga Arendra.


__ADS_3

Keesokan harinya, Arjuna dan Zay bersiap untuk menjemput Rama kembali ke kediaman Arendra. Rama yang tidak tahu hari ini akan menjadi hari terakhirnya dirinya bersama dengan Vika begitu santai menikmati waktunya dengan adik angkatnya itu.


"Dik, kakak pergi cari makan dulu. Kamu tunggulah kakak disini," ucap Rama mengelus kepala Vika. Vika hanya mengangguk dan tersenyum.


Setelah berpamitan kepada Vika, Rama pun pergi mencari makanan untuk sarapannya. Namun saat tak jauh dari tempat tinggal nya berada, Arjuna dan Zay turun dari mobil menghampirinya. Rama yang melihat diam, menatap tidak senang kepada dua orang yang beberapa hari ini hadir dalam hidupnya.


Arjuna yang melihat tatapan itu menghela napas, ia tahu akan seperti ini. Tapi apa boleh buat, ia harus membawa putranya ke kekeluarga nya karena Rama adalah penerus ahli waris setelahnya dari keluarga Arendra.


Arjuna mendekati Rama dan berjongkok di depan anak laki-lakinya. "Aku adalah ayah mu. Hasil tes DNA mengatakan bahwa kamu adalah putra ku yang selama ini aku cari. Kamu pasti mengerti maksud ku, karena aku yakin kamu anak yang cerdas," ucap Arjuna tidak perlu menjelaskan panjang lebar, karena ia yakin putranya pasti tahu maksud yang di katakan nya.


Benar saja, Rama tahu apa yang di katakan Arjuna, bahwa dirinya adalah putra dari pria tampan yang ada di depannya.


"Lalu kemana saja anda selama ini?" Tanya Rama dengan nada dingin.


"Akan ku jelaskan saat kita sampai di rumah," Jawab Arjuna membuat Rama mengerutkan kening. Rumah? Apa maksudnya? Apakah dirinya akan pergi bersama pria yang menjadi ayahnya ini? Rama terus berpikir dalam benaknya.


Arjuna yang melihat Rama sepertinya berpikir tentang apa yang di katakan nya, langsung berkata lagi. "Aku akan membawa mu kerumah ku, ke kediaman Arendra. Tapi tidak dengan gadis kecil itu," ia menjelaskan bahwa dirinya tidak akan membawa Vika bersama dengan nya. 


Rama yang mendengar tentu saja tidak suka, karena Vika tidak akan ikut dengannya. Jika Vika tidak ikut, bagaimana dengan nasib adik angkatnya itu. Pastinya dia akan sendirian dan kesepian.


"Tidak! Aku tidak akan ikut dengan mu jika Vika tidak ikut bersama ku," jawab Rama cepat membuat Arjuna kembali menghela napas. Ia tahu akan seperti ini. Tapi bagaimana juga ia tetap tidak akan membawa Vika. 


"Keputusan ku tidak bisa di buat. Kamu adalah anak ku sedangkan dia bukan. Jadi jangan harap membuat kesepakatan dengan ku. Zay bawa tuan muda mu," perintahnya dan langsung di angguki Zay. Menggendong paksa Rama dan membawanya ke dalam mobil.


"Lepaskan aku!" Teriak nya saat Zay membawanya paska. Rama memukul dan menggigit, namun Zay hanya diam. Baginya gigitan dan pukulan itu tidaklah terasa di tubuhnya.


Arjuna dan Zay tidak memperdulikan teriakan Rama yang terus memintanya untuk turun. Namun Zay dan Arjuna tidak memperdulikan, dan menjalankan mobilnya pergi meninggalkan tempat itu dan kembali ke kediaman Arendra.


Sedangkan Vika yang di tinggal terus menunggu kedatangan kakaknya hingga malam hari tanpa tahu bahwa kakaknya tidak akan pernah kembali ke tempat itu. Lama menunggu Vika pun menangis dan mencari keberadaan kakaknya takut terjadi sesuatu dengan Rama. Namun cukup lama sampai kakinya lelah, Vika tetap tidak menemukan keberadaan Rama.


"Kakak…!!" Teriak Vika dengan kencang sambil berderai airmata.


Namun tiba-tiba datang sekelompok pria berbaju hitam menghampirinya dan membawanya secara paksa. Dan setelah itu keduanya tidak pernah bertemu hingga beberapa tahun lamanya.


.

__ADS_1


.


.


Dua puluh tahun kemudian (20 tahun)


Seorang pria yang sangat tampan dengan wajah dinginnya turun dari tangga menuju meja makan, dimana keluarganya telah menunggu nya untuk sarapan.


"Selamat pagi opa," sapa pria tampan itu, yang tak lain adalah Rama Arendra yang kini sudah berumur 28 tahun. 


Rama tidak menyapa ayahnya, Arjuna. Karena baginya ayahnya itu adalah orang yang telah membuat kehidupannya suram setelah pergi meninggalkan Vika yang entah dimana saat ini.


Rama terus mencari keberadaan Vika, namun sampai saat ini belum menemukan keberadaan adik angkat nya itu. Entah kapan, ia berharap secepatnya bisa bertemu dengan adiknya itu.


"Kamu tidak menyapa ayah mu?" Tanya Javier Arendra, tuan besar keluarga arendra.


Semuanya yang ada di meja makan menatap Rama, ingin mendengar Rama menyapa Arjuna. Selama Rama dibawa ke keluarga Arendra, Rama seakan menganggap Arjuna musuhnya. Entah kenapa ia sangat membenci ayahnya itu. Namun Arjuna tidak peduli dengan sikap putranya itu, karena baginya Rama berada di sampingnya itu sudahlah cukup.


Adik tiri Rama yang juga melihat menyentuh tangan kakaknya, karena selama ini ia juga belum pernah mendengar kakaknya menyapa ayah mereka.


Rama menoleh ke arah adiknya yang bernama, Batharia Arendra. Ia tersenyum dan mengelus tangan yang memegangnya. 


"Makanlah. Setelah itu kakak akan mengantarkan mu kuliah," alihnya tidak ingin memperpanjang.


Batharia yang mendengar hanya bisa mengangguk, tidak ingin memaksa kakak yang dia sayangi.


Semuanya akhirnya melanjutkan sarapan tanpa meminta lebih. Ia tahu sifat Rama yang keras seperti tuan Javier, karena itu mereka tidak berani memaksanya.


Setelah sarapan selesai, semuanya pun menjalankan aktivitas mereka masing-masing. Rama pergi bersama Batharia, mengantarkannya ke kampus.


""Kuliah yang bener. Jangan main-main," ingatkannya pada adik kesayangannya itu. Walaupun Batharia adiknya tapi beda ibu, Rama begitu menyayanginya. Tidak memiliki pemikiran benci atau apa. Malah sebaliknya ia sangat menjaga adik perempuannya dan harus ia jaga sepenuh hati. 


"Baik kakak ku sayang," jawabnya dan mencium pipi Rama. Rama hanya mengusap rambut Batharia dengan gemas, membuat rambut itu sedikit berantakan. 


Batharia yang melihat rambutnya tidak rapi lagi, mendengus dengan bibir cemberut. "Kakak!" 

__ADS_1


"Hahaha, jangan cemberut seperti itu. Cantiknya nanti hilang," cubitnya pada hidung mancung Batharia. "Sudah masuk sana. Nanti terlambat." Batharia mengangguk dan setelah itu pergi masuk.


Rama yang melihat adiknya sudah masuk ke kampus ia pun melajukan mobilnya ke perusahan. Setelah beberapa menit perjalan, Rama akhirnya sampai di perusahaan Arendra Group. 


Rama turun dari mobil dan di sambut oleh asistennya, Tony. 


"Silahkan tuan," buka Tony pada pintu mobil. Rama mengangguk dan setelah itu berjalan masuk ke dalam kantornya. Namun saat dirinya berjalan, tiba-tiba ada seorang gadis yang menabraknya.


Bruk…


Gadis itu terjatuh tepat di depan Rama yang tidak bergeming walaupun telah di tabrak. Rama hanya diam, berdiri dengan mata menatap gadis itu dengan datar.


Tony yang berada di belakang Rama langsung dengan cepat membantu gadis itu berdiri, ia takut tuan mudanya akan marah karena gadis itu berani menabrak bos kejam itu.


"Apa kau tidak punya mata?" Tanya Arjuna dengan nada dingin.


Gadis yang menabrak itu kini berdiri di depan Rama, menatap tidak suka dengan pertanyaan yang di berikan Rama. 


"Saya punya mata tuan. Ini…" tunjuknya pada kedua matanya. "Mata saya bahkan ada dua. Jadi jangan tanya saya punya mata atau tidak," kesalnya dengan pria yang ada di depannya. 


Rama yang mendengar tentu saja bingung. Ia mengerutkan kening. Kenapa wanita itu marah-marah? Apa salah ia bertanya seperti itu karena gadis itu berani menabraknya? Pikirnya sungguh bingung.


.


.


.


Bersambung


 


  


 

__ADS_1


__ADS_2