
Setelah berbicara dengan Arjuna, Vika berfikir apakah itu benar. Bahwa ayahnya telah berbuat sesuatu dengan Kakaknya, Rama?
Ia ingin memastikan bahwa ucapan Arjuna benar, tidak berbohong padanya. Dengan perasaan yang tidak menentu, Vika pun pergi dari kantor menuju rumah sakit dimana Rama di rawat. Ia ingin melihat sendiri semua bahwa Arjuna tidak lah berbohong.
Arjuna yang ada di lantai atas, melihat kepergian Vika dengan diam saat gadis itu dengan tergesa-gesa pergi menggunakan taksi.
Zay yang bersama dengannya juga ikut menatap kepergian Vika, merasa kasihan kepada gadis muda itu.
"Zay hubungi Tony, perintahkan dia untuk membahas tentang penyerangan Madison pada Rama. Aku ingin saat gadis itu sampai, ia mendengar semuanya, bahwa memang keluarganya lah yang membuat Rama celaka."
"Baik Tuan," jawab Zay mengangguk. Dan setelah itu ia mengirim pesan kepada Tony untuk melakukan perintah itu.
Tony yang mendapatkan pesan, hanya bisa menghela napas. Ia akan menjalankannya, karena ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan Rama. Maka dari itu lebih baik ia juga membuat Rama dan Vika saling menjauh, agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali.
"Maafkan saya tuan," batinnya meminta maaf kepada Rama karena menuruti perintah tuan besarnya, Arjuna.
Tony mencari cara agar pembahasannya bisa sampai pada penyerangan tadi. Perlahan pasti, akhirnya mereka berdua membahas saat Arvan menyerangnya tadi. Sedangkan Vika yabg baru sampai di rumah sakit langsung menuju kamar dimana Rama di rawat. Namun saat hendak membuka pintu, dirinya mendengar sesuatu yang menyakitkan, bahwa kenyataannya keluarganya lah yang membuat Rama terluka.
"Tidak! Tidak mungkin. Ini pasti bohong. Papa tidak mungkin melakukan itu," Vika terasa lemas, tubuhnya seakan tidak memiliki tenaga saat mendengar ayahnya memerintah Arvan untuk menyerang Rama saat menuju ke kantor. Air matanya luruh, dan setelah itu pergi, berlari meninggalkan rumah sakit dan pergi menuju kediaman Madison, ingin memperjelas semuanya.
Sedangkan Rama yang ada di kamar rawatnya tidak menyadari jika Vika mendengar semua pembicaraannya. Dan karena pembicaraan nya itu Ia tidak akan menyangka jika hari ini akan menjadi hari dimana ia tidak akan bertemu kembali dengan Vika.
.
.
Arjuna yang mendapatkan laporan dari orang suruhan yang membuntuti Vika tersenyum, saat tahu Vika tidak jadi menemui Rama. Dan itu sudah di pastikan, bahwa Vika mendengar pembicaraan mereka. "Bagus, ini lebih baik," ucapnya dan memutus panggilan, memasukkan kembali ponselnya dalam saku.
"Zay, perintahkan beberapa anak buah kita untuk menjaga Rama setelah ini. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi dengannya," perintahnya dan di angguki Zay.
"Baik tuan."
.
.
__ADS_1
.
Di kediaman Madison, Harry sedang duduk santai di ruang tamu sambil menunggu kedatangan putrinya, setelah mendapatkan informasi dari anak buahnya yang mengatakan jika Nona mudanya pergi menuju kekediaman Madison. Harry tahu pasti ada sesuatu sehingga putri nya kembali ke kediamannya. Dan mungkin saja ini tentang Rama yang di beri pelajaran oleh Arvan tadi pagi.
Harry akan menunggu kedatangan putri satu-satunya itu, mendengar apa yang akan di bicarakan nya. Sungguh, ia sudah tidak sabar bertemu dengan anaknya.
Cukup lama menunggu, kini Vika sampai di depan kediaman Madison. Turun dari Taksi dan berlari masuk ke kediaman keluarganya.
"Silahkan masuk nona, tuan sudah menunggu kedatangan anda," jelas seorang penjaga memberitahu.
"Papa menunggu ku. Apakah papa selama ini mengawasi ku?" batinnya bertanya-tanya dan masuk kedalam rumah.
Dengan pandangan langsung menatap sofa. Ia yakin papa nya pasti sedang ada disana, menunggu kedatangannya.
Dengan berjalan pelan, Vika menuju dimana ayahnya berada.
"Baru pulang?" tanya Harry santai sambil menyesap teh nya.
Vika duduk, menatap ayahnya dan mengangguk.
"Apa kamu tidak merindukan papa mu, sampai baru pulang sekarang?"
"Rindu," jawabnya lirih. "Pa," panggilnya menatap wajah Harry yang sudah mulai menua.
Hm....
Vika memutar otaknya, bingung mau memulai darimana pembicaraan nya.
"Papa sehat?" tanya nya basa-basi.
"Tentu saja sehat. Hanya saja hati papa yang rasanya tidak sehat, sakit," jawabnya membaut Vika langsung mengerti maksud ayahnya.
Vika langsung berdiri, menghampiri ayahnya, duduk di sampingnya sambil menyandarkan kepalanya di lengan. "Maafkan Vika pa, maafkan Vika."
"Memang apa salah mu sampai kamu meminta maaf seperti itu?"
__ADS_1
.......Vika tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala. "Pa, Vika tahu Vika salah. Pergi meninggalkan rumah dan membohongi Papa. Tapi Vika melakukan itu ada alasannya," jelasnya langsung di jawab cepat oleh Harry.
"Alasan karena ingin bersama dengan Rama Arendra itu?"
Vika mendongak, menatap wajah Harry. "Apa selama ini papa tahu aku dengan nya?"
"Tentu saja papa tahu. Apa yang tidak papa ketahui. Dari mulai kamu membohongi Papa pergi ke luar negeri, tapi kenyataannya kamu tetap di kota ini. Dan memiliki hubungan dengan CEO muda itu, semua Papa ketahui. Tidak ada yang bisa kamu sembunyikan dari papa. Dan sialnya kenapa putri Papa satu-satunya memiliki ini memiliki hubungan dengan pria itu, putra dari keluarga musuh kita," jelasnya membaut Vika mengerutkan kening.
"Musuh? Maksudnya apa?"
"Apa kamu tahu apa yang sudah papa lakukan pada pria mu itu?"
"Maksud papa, papa yang melakukan itu. Membuat Kak Rama terluka?" tanyanya ingin memastikan, sebenarnya ia sungguh tidak percaya jika papa nya yang melakukan itu.
"Tentu saja, siapa lagi jika bukan papa. Dia sudah sangat berani menyentuh dan mendekati putri ku. Dan itu tidak akan ku biarkan," jawabnya dan langsung membuat Vika terkejut, tidak percaya.
Vika menggelengkan kepala, tidak percaya bahwa papanya benar-benar melakukan itu pada kakaknya. Jadi benar yang dia dengar, bahwa Arvan melakukan itu atas perintah papanya.
"Kenapa pa? Kenapa papa melakukan itu?" tatap nya meminta penjelasan.
"Dia tidak pantas untuk mu."
"Tidak pantas? Dari mananya dia tidak pantas untuk ku. Dia baik, seorang CEO dari perusahaan besar. Bukankah itu sudah pantas bersanding dengan ku, dan apalagi____"
"Cukup! Papa tidak mau mendengar anak dari laki-laki sialan itu. Mulai sekarang papa harap jangan pernah berani bertemu dengannya. Jika sampai kamu berani bertemu, papa tidak akan segan membunuh nya," ancamnya kesal mendengar nama putra dari Arjuna.
"Pa, papa tidak bisa seperti itu. Kenapa papa melarang ku dengan kak Rama? Apa masalahnya? Vika sungguh tidak mengerti. Padahal kak Rama adalah orang baik, dan penyayang. Vika hanya ingin bersamanya," jawabnya berani membantah.
"Cukup Vika! Papa melakukan itu untuk kebaikan mu. Papa tidak ingin kamu terlibat dengan permasalahan papa. Jadi jangan pernah sekalipun membantah perintah papa. Jika sampai itu terjadi, kamu akan tahu akibatnya. Dan bersiaplah melihat mayatnya di depan mata mu," marahnya dan pergi meninggalkan Vika yang menangis.
Sungguh miris sekali. Baru saja beberapa hari bertemu dan bersama, kini dirinya harus kembali berpisah.
.
.
__ADS_1
Bersambung