
Ini adalah karya pertamaku. kuharap kalian suka.
Happy Reading ^^
-----------------------------------------------------
Jatuh cinta memang cepat, tapi apakah siap menerima kekurangannya?
Author POV
Suatu sore yang dingin karena sehabis hujan tidak ada yang aneh. Gadis itu meringkuk di atas kasurnya. Entah apa yang dipikirkannya, dia menarik selimutnya hingga menutupi badannya. Dia tidak tidur. Dia hanya tidak ingin memikirkan sesuatu yang akan membuatnya keluar dari lamunannya.
Sudah 3 jam Tira, gadis berperawakan kurus, di atas kasur itu. Sebenarnya dia ingin tidur, namun ada hal yang selalu menganggunya.
“Tira! Cepat turun kebawah!” ucap yuni, ibu Tira.
Tira POV
Aku meregangkan tubuhku untuk mendapatkan tempat yang bagus untuk tidur. Senyamannya tempat ini tidak akan membuatku ke alam mimpi. Aku selalu memikirkan hal itu. Aku sudah jengah dengan itu, namun tidak bisa kuhapus.
“Tira! Cepat turun kebawah!”
Sudah terdengar alaram kan? Huft, waktunya menemuinya. Bukannya aku tidak menghargai dia sebagai ibuku, namun sejak aku masuk sekolah dia selalu menjadi hal yang kuhindari. Apalagi dengan cara memanggilku. Tapi selama aku tinggal di rumah yang sama dengannya aku harus menunjukkan sifat ‘berbaktiku’.
__ADS_1
Aku akan menceritakan sedikit tentangku. Athenia Tira Nugraha nama lengkapku. Umurku 22 tahun dan baru saja lulus dari salah satu universitas. Bisa ditebak aku anak dari pengusaha sukses Bagas Nugraha, walau akhir-akhir ini perusahaan ayah sedang kritis. Kehidupanku terbilang lebih dari cukup. Dan ibuku Yuni Nugraha, merupakan ibu tiri. Ibu kandungku sudah meninggalkanku sejak aku 3 tahun. Sebenarnya aku akrab dengan ibuku yang sekarang, namun tetap saja beberapa hal yang aku harus tahan sehingga predikat anak baik tetap disematkan di diriku.
Balik lagi, aku sudah di depan ibuku yang sedang menikmati buah.
“Iya bu, ada apa memanggilku?” tanyaku dengan tenang.
“Nanti malam bersiaplah untuk keluar. Tidak ada alas an untuk menolak.” Jawab ibuku.
“Memangnya apa hak ku untuk menolak itu.” Jawabku dengan santai.
“Apa ibu pernah mengajarkanmu menggunakan kata-kata tersebut? Jawab dengan benar!” kata ibu dengan penuh penekanan, jangan lupa pisau dapur yang mengarah ke arahku.
“Baik bu, aku akan siap-siap nanti malam.”
“Iya bu” sambil meninggalkannya untuk naik ke atas.
Aku bukan gadis polos yang tidak tau rencana ibuku. Bukan rencana pembunuhan atau semacamnya. Ku akui ibuku memang baik. Saking baiknya dia selalu memikirkan ayahku. Ibuku selalu membanggakan perusahaan ayah ke teman-temannya. Hingga saat perusahaan di ambang bangkrut. Sepertinya dia tertekan sampai melakukan segala cara agar bisa mengembalikan keadaan. Cara klassik, perjodohan.
Pertemuan nanti siapa lagi yang akan dipertemukan denganku. Aku sudah ingin tak berpikir apapun untuk saat ini. Segera aku mandi dan berdandan sederhana. Paling tidak aku harus melakukannya demi ayah.
Pukul 8 malam, aku ayah dan ibuku sudah sampai di salah satu restoran di sebuah hotel. Aku sudah duduk manis di meja tengah ruang tersebut. Mungkin ruang ini sudah disewa, karena aku tak melihat pelanggan lain diruang ini.
Author POV
__ADS_1
Sepasang suami istri dan anak lelakinya masuk ke restoran tersebut dengan tenang. Segera duduk di arah seberang keluarga Nugraha. Mereka adalah keluarga Wijaya. Tuan Wijaya menggandeng istrinya Nyonya Fina Wijaya diikuti Harry Wijaya (29 tahun) anak tunggal mereka.
Tuan Wijaya menyapa dengan ramah. Dia juga mengingatkan untuk tidak memanggilnya tuan. Ayah dari tira pun menyetujuinya. Setelah makan malam, mereka mulai membicarakan inti dari pertemuan itu.
“Baik Pak Bagas, seperti proposal yang sebelumnya telah saya terima apakah ini sejenis acara perjodohan?” Tanya Tuan Wijaya.
“Tidak pak. Untuk mengembalikan keadaan perusahaan, saya harus meminjam dana yang terbilang besar. Maka dari itu saya titipkan putri saya pada Anda.” Jawab Pak Bagas.
“Bukankah ini seperti menjual putri Anda?” Kata Tuan Wijaya dengan sarkas.
“Tidak ada maksud saya untuk menjual putri saya. Jika Anda mengijinkan menikahkan putra Anda dengan putri saya bukankah lebih bagus?” Kata Pak Bagas meyakinkan.
“Bagaimana Van?” Tanya Tuan Wijaya pada Harry.
“Aku setuju” Kata Harry.
-----------------------------------------------------
Penasaran kelanjutannya?
Jangan lupa vote dan Love karyaku
Jika ada saran bisa tulis di comment yaa ^^ aku menantikan masukan dari kalian <3 <3
__ADS_1