
Happy Reading ^^
-----------------------------------------------------
Author POV
“Hai Tira, perkenalkan aku sahabat orang yang bucin padamu, Dafa.” Kata Dafa.
“Ya! Kau!” Kata Harry.
“Salam kenal, aku tira. Terima kasih sudah menolongku dan merepotkanmu.” Kata Tira dengan senyum.
“Tidak masalah. Sebaiknya kamu tidak berpikir macam-macam dulu dan banyak istirahat.” Kata Dafa.
“Baik, aku akan melakukannya.” Kata Tira.
“Oiya, jagakan bucin ini untukku. Aku harus kembali ke rumah sakit.” Kata Dafa.
“Aku tidak bucin K*****t\, pergi saja kau” Kata Harry.
“Haha, jangan marah terus kau Ry. Selamat bersenang-senang untuk kalian” Kata Dafa sambil melambaikan tangan.
Akhirnya Dafa pergi untuk bekerja. Aku heran dengan nada bicara Tira yang sangat ramah. Tapi tidak untukku.
“Kamu sangat ramah dengan Dafa sedangkan denganku tidak saat pertama bertemu.” Kata Harry.
“Memang benar kata Dafa, kamu bucin padaku. Kenapa bisa?” Kata Tira.
“Jangan mengalihkan pembicaraan Tira.”
“Oke, mungkin aku belum memiliki perasaan padamu tapi mau tidak mau aku harus menerimamu jadi suamiku bulan depan. Aku akan bercerita bagaimana diriku sebenarnya.”
“Kupastikan kau akan mencintaiku sayang”
“Jangan mengatahan hal seperti itu, aku tidak terbiasa.”
“Anggap ini latihan sebelum kamu jadi istriku.”
__ADS_1
“Apa kamu benar- benar suka padaku? Apa yang kamu sukai dariku?”
“Aku sudah mencintaimu sejak pertama kali bertemu di kolam taman. Apa yang menarik padamu? Bisa dibilang semua, dari ujung rambut hingga ujung kaki.”
“Aku tidak ingat pernah bermain di kolam taman.”
“Tak apa, lagian itu sudah sangat lama.”
“Baiklah.”
-00-
Tira dan Harry makin akrab, paling tidak menerima keberadaan satu sama lain. Setelah makan malam, Tira dan Harry menuju kamar masing-masing. Mereka ingin menjaga kepercayaan sebelum pernikahan. Tapi saat malam terdengar tangisan dari kamar Tira. Harry memutuskan untuk memeriksa apa yang terjadi.
“Tira? Apa yang kamu lakukan?” Kata Harry sambil memeriksa punggung tangan Tira yang terkena serpihan kaca.
“Aku sudah melakukan kesalahan. Aku harus mempertanggung jawabkannya.” Kata Tira yang masih menangis.
“Tapi bukan seperti ini, ini akan menyakitimu.” Kata Harry sambil memeluk Tira.
Tira pasrah dipeluk oleh Harry. Baru pertama ada seseorang yang menenangkannya saat seperti ini. Setelah tenang, Harry mengambil kotak obat. Beruntung luka dari serpihan kaca tidak dalam, tinggal menunggu beberapa hari hingga sembuh. Tira kembali sesenggukan dalam pelukan Harry.
“Baiklah, terima kasih.”
Tira naik ke tempat tidurnya, sedangkan Harry duduk di samping tempat tidur sambil memegang tangan Tira.
“Emm, bisakah aku memeluk lenganmu?” Kata Tira pelan berusaha menyembunyikan wajahnya.
“Apa? Aku tidak mendengarmu sayang?” Goda Harry. Wanitanya sangat imut jika seperti ini.
“Bolehkah aku meminjam lenganmu?”
“Jika kamu minta untuk ditemani tidur katakan saja, aku selalu siap.”
Harry berbaring di samping Tira, sedangkan tira mulai meringkuk ke pelukan Harry. Harry tersenyum, rasanya senang keberadaanya diterima Tira. Tira juga merasa nyaman atas sikap Harry. Mereka tertidur hingga pagi menjelang.
Harry meninggalkan Tira untuk bersiap ke kantor. Sudah 3 hari dia tidak memeriksa keadaan perusahaannya. Tapi dia juga penasaran apa yang Tira sembunyikan. Akhirnya dia menunggu Tira hingga bangun dan sarapan bersama. Keadaan Tira juga lebih baik dari tadi malam walau tangannya masih nyeri akibat luka yang belum tertutup.
__ADS_1
“Sini aku suapi.”
“nggak mau, aku bisa makan sendiri. Tanganku yang lain masih bisa dipakai.”
“Benarkah? Lihat saja berapa lama kamu akan melakukannya.”
Sendok dengan isinya sudah berhasil dipegang Tira, tinggal memasukkan ke dalam mulut. Memang bisa Tira melakukannya tapi banyak makanan yang tersisa di sekitar mulutnya. Harry tertawa melihatnya. Harry membersihkan sisa makanan yang menempel di muka tira lalu mengambil mangkuk sarapan Tira.
“Masih mengelak?”
“Tadi kan baru percobaan pertama, nanti juga akan terbiasa. Berikan mangkukku.”
“Cobalah terima keberadaanku, kamu memerlukanku. Aku akan menyuapimu, oke?”
“Aku bisa sendiri” Kata Tira sedikit cemberut.
“Biarkan aku menyuapimu hingga tanganmu sembuh, mengerti?”
Ragu-ragu Tira mengangguk. Harry merasa selangkah demi selangkah telah membuka hati Tira untuknya. Dia tidak akan mensia-siakan kesempatan yang ada. Setelah sarapan selesai, Harry bersiap ke kantornya. Namun ujung pakaiannya ditahan oleh Tira.
“Aku ke kantor sebentar, bisa kamu melepaskanku?”
“Hanya sebentar?”
“Iya, aku janji cepat pulang jika sudah selesai.”
“Temani aku, aku takut sendiri.”
“Nanti saat aku pulang, oke? Ada bibi Sari dan anaknya. Kau bisa meminta bantuannya.”
“Baiklah”
Harry mengelus rambut Tira pelan. Harry berjalan lalu masuk ke mobil. Tidak lupa dia melambaikan tangan ke Tira.
-----------------------------------------------------
Penasaran kelanjutannya?
__ADS_1
Jangan lupa vote dan Love karyaku
Jika ada saran bisa tulis di comment yaa ^^ aku menantikan masukan dari kalian <3<3